One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 43



Anita merasakan ada sebuah rantai yang sangat besar yang menjerat tubuhnya hingga untuk bernafas pun Anita kesulitan.


“Tolong aku, Andy!” ucap Anita hanya berani dalam hatinya yang perih. Wanita itu tak ingin mengingkari apapun, namun saat Andy mendekapnya seperti ini ingin sekali Anita berteriak dan mengungkapkan


semuanya.


“Nanti aku minta asisten opa untuk mengecek di sana”


“Jangan!” tolak Anita hingga kemudian tubuhnya bergetar.


Andy kembali menggambar sesuatu yang mengganjal dalam diri istrinya. Hingga kemudian ia berhasil meyakinkan Anita bahwa ia akan mengecek kondisi ibunya lewat Jimmy, asistennya sendiri.


Dan saat ini Anita yang segalanya serba sensitif itu sudah berhasil tidur kembali di atas tempat tidurnya, bersama Andy yang masih sibuk menghubungi Jimmy meski di tengah malam.


“Halo, Jimmy. Cek kondisi ibu Anita di Singapura. Hubungkan dengan salah satu perawat di sana”


Andy menoleh saat melihat Anita yang menyingkap selimut lalu menurunkan tubuhnya.


“Anita mau kemana?” Tanya Andy tiba-tiba khawatir Anita akan pergi.


‘Buang Air!”


Andy mentertawakan dirinya sendiri yang hanya dengan pergerakan Anita saja sudah membuatnya takut jika wanita itu akan pergi mala mini. Pria itu masih menghisap rokok di balkon saat melihat Anita sudah keluar kamar mandi dan kembali naik ke tempat tidurnya dengan nuansa kamar yang begitu maskulin.


“Kamu tidak tidur?’ Tanya Anita sampai membuat Andy hampir tersedak asap rokoknya sendiri.


“Sedikit lagi” Andy mengacungkan rokoknya lalu tersenyum singkat.


“Asap rokok tidak begitu bagus buat calon anakmu, Andy. Menjauhlah kalau ingin anak ini tetap tumbuh sehat di perutku tanpa asap rokok disekitarnya.”


Andy tertegun. Dan beberapa detik kemudian mematikan paksa ujung rokok itu lalu mengibaskan tangannya ke udara seolah membuang asapnya agar segera terbang menjauh.


“Apa separah itu, Anita?” Andy menutup pintu balkon lali mengikuti Anita yang kemudian menenggelamkan dirinya di bawah selimut.


“Tanya saja sama oma!” sungut Anita makin menenggelamkan kepalanya saat Andy mendekatinya. “Kamu bau, Andy!’ tolak Anita tak peduli dianggap melunjak karena Andy sudah baik padanya saat ini.


Andy sendiri kemudian mengangkat ujung bajunya untuk dihirup dan lengannya yang ternyata bau asap rokok padahal dia baru saja mandi malam ini.


Terpaksa Andy kembali mandi dan berganti pakaian. DIlihatnya Anita yang menghilang dibalik selimut miliknya. Tak ingin tidur dengan posisi yang tidak nyaman seperti kemarin, Andy memberanikan diri pelan-pelan ke tempat tidur di samping Anita berada.


Baru saja dia membuka ujung selimut, Anita sudah menyembulkan kepalanya dan memperlihatkan wajah super ganas.


“Ssstt!” desis Andy sebelum Anita menyemburnya lebih dahulu “Aku tidur di sini,ya? Boleh,ya? Janji tidak akan macam-macam”


Anita masih menunjukkan raut sadisnya saat Andy kemudian mengangkat tangan Anita dan mengarahkan ke perutnya lalu Andy menumpukkan tangannya ke atasnya.


“Kata oma anak ini akan nyaman jika tidur dengan ayahnya. Kamu ingat, kan? Tidurlah, aku janji bisa tidur tanpa merubah posisi sampai pagi”


“Aku…tidak terbiasa, Andy” Anita jelas gugup saat ini.


Betapa Andy yang baru saja mandi itu menguarkan aroma yang begitu segar dan menenangkan. Meski raganya sering tidak sinkron untuk menarik tangannya saat Andy menariknya kembali. Tangan mereka bertaut kini, begitu dingin tapi entah mengapa terasa menghangatkan.


“Tolong terima niatku untuk berubah, Anita”


**


Prankkk!


Suara benda yang menghantam lalu pecah dengan keras membuat Anita kaget lalu membuka pintu kamar.


“Buanggsaat kalian! Ngurus begini saja tidak becus!” murka Andy pada beberapa orang di ruang tamu dengan mengumpat kata-kata yang begitu kasar.


Brankkk!


Suara benda pecah kembali terdengar sampai membuat Anita memerosotkan dirinya ke ke dinding lalu membungkam telinganya.


Baru saja semalam Anita lega bahwa Andy berjanji untuk berubah. Namun nyatanya pagi ini dia sudah kembali menunjukkan kekejamannya kembali.


Anita yang tidak terbiasa melihat hal ini. Kekejian yang ditunjukkan Andy jelas kembali membuka luka yang susah payah coba wanita itu sembuhkan.


“Nyonya!”


Bi Umi yang sempat melihat Anita membuka pintu itu lantas merangkul tubuh Anita yang meringkuk gemetar.


“Ada apa itu, Bi?”


“Tidak apa, Nyonya…Tuan muda hanya sedang marah dengan bawahannya. Tidak perlu didengarkan. Bibi buatkan susu hangat dulu, ya”


“Saya takut, Bi”


Bi Umi pun hanya bisa mendesah pasrah. Ia sendiri pun tak bisa mencegah ataupun menghentikan amarah seorang Andy jika amarah sudah menyerangnya. Akhirnya Bi Umi meminta Anita berdiam di teras balkon saja untuk menikmati udara pagi agar telinganya tak lagi mendengar apapun dari arah dalam rumah.


Bi Umi nampak membisikkan sesuatu pada Jimmy, namun pria itu malah mengedikkan bahu lalu menggeleng. Jimmy pun yang setia mengikutinya kemanapun tidak berani berbuat apapun saat Andy sedang murka.


“Nyonya, silahkan susu hangatnya”


“Terima kasih, Bi. Apa mereka sudah pergi? Saya ingin ke kamar ganti baju”


“Sudah, Nyonya, Tapi masih ada petugas housekeeping sedang membersihkan di depan. Mau saya ambilkan baju dibawa ke sini?”


“Tidak perlu, Bi, Saya kan sudah bilang tidak perlu melayani seperti itu. saya tidak terbiasa” Anita malah menggamit tangan Bi Umi yang bulat lalu mengayunkannya perlahan.


Keberadaan wanita itu di tempat ini cukup membuatnya mengobati kerinduan akan kehadiran sang ibu di sisinya.


“Bibi senang, Nyonya bisa berada di kamar ini bersama Tuan Muda. Semoga ke depannya semakin membaik”


Anita hanya menunduk tanpa menyahut. Ada sebuah doa dari seorang ibu seperti Bi Umi yang sudah seperti orang tua bagi Andy yang saat mengharapkan pernikahannya dengan Andy akan berkembang ke hal yang baik di masa depan.


Sedang Anita sendiri sama sekali tidak ada gambaran apapun kesana. Ia tetap harus tahu diri bahwa keberadaannya di sisi Andy hanya sementara.


Tangan bulat Bi Umi mengelus perut Anita yang masih rata “Pagi ini tidak ada Morning Sickness? Bibi belum mendengar Nyonya muda muntah”


Anita juga menggeleng heran. Sudah dua hari ini ia seperti merdeka dari serangan pagi yang membuat lehernya panas “Iya juga Bi, saya tadi tidak muntah seperti biasanya nya. Apa memang sudah selesai ya, Bi?”


“Memangnya sudah berapa minggu,Nyonya? Biasanya tiga bulan pertama itu yang paling sulit, setelah menginjak bulan ke empat baru sedikit mereda”


“Baru sebelas minggu, Bi”


Bi Umi lantas tersenyum dengan wajah keibuannya “Mau tahu mengapa?”


Anita hanya mengedikkan bahunya cuek.


“Karena anak ini tahu dan nyaman sedang bersama dan di dekat kedua orang tuanya”


Bagaimana kelanjutan cerita nya?


Nantikan di bab selanjutnya yaah…..


...Tetap dukung dengan ikuti bab selanjutnya......


...salam hangat...