
Andy menutup panggilannya dengan kasar hingga membuat Yeni Sasmita terjingkat, Wanita paruh baya itu tampak merenungi keadaannya.
“Bagaimana?”
Yeni menggeleng pesimis
“Sepi sekali, Jimmy juga tidak terlihat wara wiri. Apa Andy pindah rumah?” Abraham hanya bisa menyisir gedung ini dari tempat parkir karena tidak memiliki akses untuk bisa sembarang masuk.
Yeni lagi-lagi hanya bisa mengendikkan bahunya “Dia masih menutup hatinya”
“Dasar keras kepala. sama seperti Lukman”
“Jangan menyebut anakku seperti itu! Dia juga begitu karena apa? Kamu juga harusnya bercermin!” sahut Yeni tidak terima lalu melirik tajam ke arah pria berkumis yang menjadi kemudi di sampingnya.
Abraham kemudian mengangkat kedua tangan mengalah “Apa dia tinggal ditempat mama, ya?” gumam Abraham memutar bola mata ke atas dan berpikir keras.
Kedua tangannya masih memeluk setir bundar yang menjadi tumpuan tubuhnya saat ini, Memantau pergerakan Andy sedari pagi, nyatanya mereka tidak mendapatkan apapun.
“Kenapa kamu tidak membujuk mamamu saja? Urusanmu kan dengan mereka. bukan dengan anakku!”
Abraham menyipitkan mata ke istrinya yang tertunduk resah “Kamu ini mendadak bodoh atau bagaimana? Jelas-jelas si tua Bangka itu sudah tidak menginginkanku, Maka jalan satu-satunya tinggal Andy yang menjadi robot mereka harus kita dapatkan. Mengerti!”
Yeni jelas mendengus makin kesal. Meski dirinya sudah lama melepaskan anak satu-satunya demi mengikuti suami barunya ini, namu biar bagaimana dia tetap seorang ibu yang tidak ingin anaknya disakiti.
“Sudah tahu butuh, mengapa kamu tidak melakukan pendekatan pada Andy sejak dulu? Sekarang hatinya sudah tertutup pada kita dan kamu mau seenaknya saja memanfaatkan dia!”
**
Andy memasuki kamar Anita yang masih meringkuk di tempat tidurnya menutupi tubuhnya sampai sebagian kepala. Dilihatnya makanan yang belum tersentuh dan sudah dingin.
Meletakkan tubuhnya duduk ditepi tempat tidur, Andy memandangi intens wajah Anita yang pucat. Meski tak dipungkiri Anita memiliki wajah yang cantik meski ia tidak pernah merawat diri layaknya Ratih yang gemar ber make up tebal.
“Ada hubungan apa kamu sama dia? Mengapa kalian begitu mirip?”
Belum pernah berbicara dari hati ke hati dengan istrinya, Andy bahkan belum mengenal silsilah keluarga istrinya itu.
“Tapi tidak mungkin. Keluarga Susanto begitu glamor, sedang kamu…” Andy menggeleng sendiri dengan pemikirannya yang mungkin saja ngawur.
Mengingat lagi apa yang sudah dia perbuat terhadapnya waktu itu, timbul sebuah rasa penyesalan dalam hatinya.
“Maafkan aku, Maaf sudah membuatmu seperti ini” gumam Andy iba lalu mengulurkan jemarinya mengelus pipi kiri Anita hinggan membuat pergerakan pada wanita itu.
“Jangan, tolong!” pekiknya refleks terbangun dan menggerakkan tubuhnya kaget.
“Te-tenang, ini aku, Maaf, aku tidak tahu bagaimana membangunkanmu” Andy mengangkat kedua telapak tangannya meminta Anita tidak keburu emosi saat melihatnya.
“Ngapain kamu di sini!” Anita refleks menarik ujung selimutnya untuk dicengkeram di depan tubuhnya.
“Emm, makanlah dulu, ada obat dan vitamin juga di sana”
“Pergi!” usir Anita tak peduli tempat ini adalah milik Andy seorang. Wajahnya langsung memerah menahan isak yang akan ia keluarkan begitu saja di hadapan pria yang menyandang status sebagai suaminya itu.
“Oke. oke Aku pergi. Tapi makan dulu sebelum oma nanti menghubungi kembali untuk memastikan kamu sudah makan apa tidak”
“Maafkan aku” Andy segera berdiri menjauh namun membawa baki makanan mendekat agar Anita bisa langsung melahap makanannya. DIbukanya penutup makanan yang langsung menunjukkan aroma tim ikan plus sayur yang sudah dingin,
Namun dugaan Andy salah. Semakin Anita menghirup aroma makanan. tenggorokannya seakan langsung tertutup. Rasa mualnya kembali datang hingga Anita kemudian membungkam mulut dan hidungnya.
“Kenapa?” Tanya Andy bingung saat Anita menggeleng cepat dan mengibaskan tangan memintanya menjauh.
“Bawa pergi!”
**
“Kejutan” pekik Harlina ceria seraya mengibarkan selembar kertas ditangannya “Gimana kabar cucu dan cicit oma?” Harlina langsung mengelus perut Anita dengan gembira, namun tidak untuk wanita itu yang mematung dengan rahang bergetar.
Harlina tidak datang sendiri. Ada sepasang mata yang menyorotnya tajam bak sinar laser yang bahkan mampu memotong besi dengan sekali tembak. Anita segera mundur saat Hardianto, pria tua itu nyelonong masuk ke kamar Anita lalu menyisir sekitar. Hardi mengangguk pelan lalu melirik Anita seolah mengisyaratkan kepuasan bahwa wanita itu tidak tinggal satu kamar dengan cucunya.
“Kenapa, opa? Heran, ya kedua cucu kita ini tidak tinggal satu kamar. Anita kemari lah”
Harlina menyahut pergelangan tangan Anita untuk duduk bersama di sofa ruang tengah “Hari ini Andy dinas luar satu atau dua hari, sudah tahu?”
Anita menggeleng pelan. Untuk apa juga dia tahu kalau apa yang Andy perbuat juga tidak ada efek apapun dalam hidupnya. Konsep pernikahan dan rumah tangga yang normal masih belum ada dalam pemikiran Anita, hari-hari dilaluinya dengan mengurung diri dikamar saja.
“Nah, untuk itu selama Andy tidak ada, oma dan opa yang akan menemanimu di sini”
Degh!
Anita langsung melirik takut ke arah opa Hardi yang meski sudah berusia lanjut namun aura dinginnya lebih mengintimidasi dari yang Andy miliki.
Baru saja Anita senang mengetahui satu atau dua hari ia tidak akan bisa melihat wajah Andy yang selalu membuatnya mual, namun kini ia harus waspada dengan kedatangan pria tua itu yang tak lain pasti akan memberika peringatan lain untuknya.
“Emm, Anita tidak apa kok oma, Ada Bi Umi yang menemani” kilah Anita menghalau debar ketakutannya.
“Obat dan vitamin dari dokter sudah kamu minum rutin? Apa kandunganmu tidak ada masalah?” Tanya Hardi tanpa basa basi lebih memastikan kondisi calon penerus kerajaan bisnis Andy di masa depan.
“Ishh! Opa ini, Mana mungkin tidak rutin, oma selalu memantau meski hanya lewat telepon, Mana mungkin juga Andy membiarkan anak dan istrinya tidak sehat, Bukan begitu, Anita?”
Anita kembali mengangguk dalam dekapan oma Harlina.
“Owh ya , Anita. Kami ada hadiah buat kamu, Ini….” Harlina memberika selembar amplop putih berlogo sebuah travel agen ke tangan Anita “Paket bulan madu untuk kedua cucu oma, Maaf,ya kalau Andy masih harus bekerja di saat kalian seharusnya pergi berbulan madu”
Harlina menyikap helaian rambut Anita ke belakang telinga. Wanita itu senang memiliki cucu menantu yang begitu penurut di tengah rasa benci dan traumanya pada sosok Andy.
“Anita masih mabuk perjalanan, mana mungkin hadiah dari Oma dipakai dalam waktu dekat, Ngasih kado itu seperti opa yang konkret”
Anita mendelik waspada saat entah dengan maksud apa Hardianto berucap baik untuknya.
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Apa yang akan diberikan Hardianto kepada Anita?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned