
Andy memasang wajah penuh meyakinkan saat menempelkan kepalanya di pundak Anita yang kemudian sedikit menggeser duduknya.
“Sore ini Anita mengukur untuk membuat baju Andy sama Bi Umi, Oma. Tapi kami tetap sama-sama”
Ucapan Andy yang datang sebagai dewa penolong cukup membuat Harlina lega.
“Syukurlah, Oma senang melihatnya. kalian berdua harus terus akur ya. Lihat Opa dan oma tetap awet dan rukun padahal sudah menikah lima puluh tahun lebih. Kalian juga harus seperti itu,ya”
“Iya,oma” Andy yang terus menjawab sementara Anita masih merasa risih dengan tingkah konyol Andy yang makin melesakkan tubuhnya.
“Oh ya Anita. Sabtu depan oma dan opa anniversary. Datang ke rumah ya sama Andy. Sekalian menginap di sini”
Duet maut Harlina dan cucunya nyatanya mampu membuat Anita gelagapan. Meski tak menjawab apapun, undangan Harlina adalah perintah yang harus dituruti oleh mereka.
‘Ngapain kamu di sini!” ketus Anita kini mendorong lengan Andy saat panggilan baru saja berakhir. Kini Anita malah berpikir akan memberi kado apa kedua orang tua itu.
“Kenapa sih, Anita? Masih marah?” Andy yang menumpukkan tubuh pada sikunya kini mendongak menatap Anita yang coba ia pahami kesensitifannya sebagai ibu hamil.
Bahkan Bi Umi pun sampai turun tangan untuk memberinya wejangan soal perasaan ibu hamil yang harus lebih dijaga.
Namun dasar Andy yang hampir tidak pernah memikirkan perasaan siapapun selain dirinya sendiri, kini pelan-pelan coba ia usahakan untuk berubah.
“Anita…?
“Andy, tolong biarkan aku sendiri malam ini” pinta Anita lantas menggeser tubuhnya sampai di ujung tempat tidur
“Kalau kamu tidak bisa tidur gimana?”
“Aku bukan anak kecil. Sudah, kembalilah ke kamarmu, Aku ingin sendiri malam ini”
Baru saja Anita memalingkan tubuhnya, Tiba-tiba perutnya bergejolak. Entah apa yang membuat ia merasa mual malam-malam. Anita sampai melompat turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.
“Hati-hati, Anita!”
Andy segera mengejar Anita yang malah mengunci pintu kamar mandi.
“Anita, kenapa dikunci?” Andy mengetuk dan memutar handle berkali-kali, Terdengar suara Anita yang muntah tak hanya sekali.
Andy menempelkan telinganya saat sudah tak terdengar suara apa-apa lagi. Ia malah khawatir dan kembali memanggil-manggil istrinya.
Ia kini mengunakan telapak tangannya kini untuk menggedor pintu. Tak sabar menunggu, Andy terpaksa mendobrak pintu dan benar saja, Anita sudah menunduk memegangi perutnya yang perih.
“Astaga, Anita!”
Andy langsung beringsut meraih lalu membopong tubuh Anita yang lemas keluar kamar mandi. Setelah menempatkannya ke atas ranjang, Andy segera keluar kamar dan memanggil Bi Umi untuk membuatkan minuman.
Anita sendiri kini memilih menarik selimutnya lalu menindih perutnya dengan bantal.
Bi Umi segera datang membawa lemon hangat dengan madu “Nyonya, silahkan minumnya”
Anita membangunkan tubuhnya disanggah oleh Andy di punggungnya “Sudah, Bi. Terima kasih.” Wanita itu hanya meminumnya setengah lalu kembali menutup wajahnya dengan guling. Hampir seluruh tubuh Anita tertutup saat ini.
Andy pun tak beranjak dari sisi Anita yang jelas-jelas tadi sudah mengusirnya “Anita, katakan mana yang sakit?”
Anita tak menjawab, ia masih sibuk mengembalikan tubuhnya ke mode normal. Ingin sekali ia marah dan membenci kehamilannya tiap sehabis muntah seperti ini.
Andy mengambil bantal yang menutup tubuh istrinya dan mengganti dengan tangannya di sana “Apa anak ini benar-benar kangen sama kita berdua,Anita? Saat kamu bilang ingin sendiri, dia langsung protes. Apa kamu juga merasakannya?”
“Andy, tolong—“
Anita membuka gulingnya namun Andy segera memotong ucapannya
“Sstt! sudah jangan protes. Malam ini aku temani di sini”
“Anita, apa kamu belum benar-benar memaafkanku?”
“siapalah aku, Andy. Meski aku mampu memaafkan tapi aku tidak bisa melupakan” lirih Anita dengan pandangan menerawang ke langit-langit kamar.
Seketika Andy merasa terhantam oleh perbuatannya sendiri yang jika dipikir-pikir memang sangat biadab terhadap istrinya saat itu.
“Tolong maafkan aku. Entah dengan cara apa aku bisa menebusnya. Aku tahu kamu begitu sakit”
Masih menumpukkan tangannya ke atas perut Anita, kini mengelus pelan telapak tangan Anita dengan jarinya.
“Hidupmu sudah berat jadi semakin berat karenaku, Anita. Sekarang harus menanggung kehamilan ini dengan segala siksaannya, maaf” sesal Andy tak berhenti menyalahkan dirinya atas sakit bertubi yang diderita seorang gadis tak bersalah seperti Anita saat ini.
“Aku terima, Aku pasrah. Mudah-mudahan setelah ini semuanya akan berakhir” desau Anita menahan gempuran perasaannya lalu mencoba memejam.
“Berakhir? Apa maksudnya berakhir? Anita?”
Anita tak menjawab saat Andy mencecarnya. Ia hanya terpejam berharap segera terbang ke alam mimpi.
Andy pun tak memaksa dan membiarkan Anita tertidur sementara dirinya masih meletakkan tangannya menjaga anak mereka agar tidak menyusahkan ibunya.
Keesokan harinya, Anita membuka mata dan merasakan di perutnya masih ada tangan Andy yang menempel menjaga anak mereka.
“Sudah bangun”
Anita sontak langsung menoleh cepat saat wajah Andy begitu dekat di sampingnya.
“Kamu tidak tidur?”
Andy menggeleng namun masih melempar senyum manisnya “Aku menjaga anak dan istriku”
Bagaimana tidak berdesir hati Anita saat Andy yang kejam itu rela terjaga hanya demi membuat dirinya nyaman semalaman.
Anita segera membangunkan tubuhnya merasa tidak enak hati terlebih melihat kantung mata Andy yang menghitam.
Mengatur nafasnya agar tidak mual karena langsung bangun, Anita kini membalikkan badannya ke tepi ranjang.
“Aku sudah bangun, maaf sudah membuatmu repot, Sekarang kamu tidurlah”
Merasa sungkan dengan suaminya, Anita kini menarik selimut untuk Andy tidur dikamarnya.
Tiba-tiba Andy menarik pergelangan tangannya lalu tersenyum pada Anita yang malah tertegun kala wajah mereka bertemu.
“Tolong bangunkan aku nanti jam delapan” pinta Andy yang langsung disusul anggukan Anita tanpa bersuara. Membiarkan Andy tertidur, kini Anita memilih mengungsi mandi di kamar mandi dan langsung menuju meja favoritnya.
Menyetel alarm jam delapan pagi yang artinya Andy hanya akan tidur selama dua jam saja. Anita kini berselancar ke dunia maya melakukan pencarian kado apa yang akan dia berikan untuk ulang tahun pernikahan kakek dan neneknya.
Berpikir untuk membuatkan mereka pakaian dari hasil tangannya, Anita kini mulai mencari inspirasi model baju untuk mereka. Setelah menemukan ide, Anita mulai mencoret di atas selembar kertas.
Tak lama Jimmy datang untuk menjemput atasannya, namun segera dihadang oleh Bi Umi yang sudah paham kondisinya. Alhasil pria itu kembali turun dan menunggu di bawah.
Belum juga alarm berbunyi Andy sudah muncul dari dalam kamar.
“Belum juga jam delapan”
Andy mengangguk tahu lalu menghampiri Anita yang kemudian menutup sketsa terbarunya.
...Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...
...Kira-kira seperti apa hasil rajutan baju dari Anita?...
...Nantikan di bab selanjutnya…....