One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 66



Alina masih berusaha menenangkan suaminya yang terlampau emosi karena Anna tak mengindahkan peringatannya.


“Maafkan papa, ma.Apa papa terlalu keras dengan Anna?”


Alina menggeleng dan memahami sifat putrinya yang harus mendapatkan apapun keinginannya, “Tidak apa, Anna memang salah, Papa sudah menjadi ayah yang baik bagi Anna selama ini, Terima kasih. kalau saja papa tidak hadir dalam hidup kami…”


“Stt, sudah, sudah. Tidak perlu dibahas lagi, Papa tulus menyayangi Anna, Sekarang mama urus saja dia, suruh konsen ke karirnya saja, Jangan menyinggung Andy lagi, dia sudah menjadi suami orang”


**


“Apa, tidak sadar lagi? Separah apa?” Andy menggerakkan bola matanya ke kanan dan kiri untuk mencerna informasi yang didapatkan dari Jimmy, asistennya.


Pria itu baru saja pulang dan tengah melonggarkan dasi dan kancing kemejanya di kamar saat Jimmy tetiba memberinya kabar dari Singapura bahwa kondisi Dewi semakin memburuk.


“Begini, tetap pantau kondisinya dan minta dokter disana melakukan yang terbaik. Tidak peduli ada yang menghadang, sikat saja!”


Andy masih menghadap kearah lemari bajunya yang terbuka sembari mendengar suara Jimmy dari seberang panggilan.


“Masalah Anita, biar saya yang urus, tidak usah buka suara apapun. Iya, Anita harus tetap tahu kalau ibunya baik-baik saja di sana”


Andy menutup panggilannya lalu mengambil satu buah baju ganti dari dalam lemari lalu menutupnya kembali.


“Astaga, Anita!” Andy terperanjat bukan main saat melihat Anita yang entah sejak kapan berdiri dibelakangnya dengan wajah memerah saat ini “Anita, ka-kamu..ada perlu apa?”


Belum juga wanita itu menjawab, Anita sudah menumpahkan air matanya “Jadi ibuku di sana tidak baik-baik saja? Kenapa kamu menyembunyikannya, Andy?”


Andy jelas tergagap karena Anita ternyata mendengar obrolannya ditelepon tadi “Bu-bukan begitu maksudku, Anita, Aku sudah meminta tim medis yang disana melakukan tindakan terbaik, Kita doakan saja dari sini ya”


Andy mengusap wajah Anita yang basah namun Anita malah makin terguncang. Mendengar apapun soal ibunya, perasaan Anita tidak bisa tegar. Hanya sang ibu alasannya hidup saat ini, Hanya sang ibu yang membuat Anita harus kuat hidup dalam tekanan seperti ini.


“Tolong bawa aku menemui ibuku, tolong” mohon Anita dengan suara lirih saat Andy memeluknya.


Anita sadar permintaannya ini sudah diluar jalur perjanjiannya. Namun Anita tidak bisa hanya duduk diam, Wanita itu pikir pengobatan diluar negeri adalah yang terbaik dan semua yang berobat di sana pasti akan mengalami kesembuhan.


“Anita, kondisi kehamilanmu masih rawan untuk bepergian, Sabar sedikit ya. bulan depan setelah periksa lagi akan aku usahakan”


Mendengar janji Andy padanya, Anita makin terguncang dalam pelukannya, “ Tenangkan diri dulu, aku hubungi Jimmy lagi setelah ini untuk meminta kabar”


Anita pun mengangguk patuh saat Andy memintanya duduk di sofa. Sementara Andy keluar memanggil Bi Umi meminta minuman hangat untuk Anita sementara dirinya kemudian memasuki kamar mandi.


Sekeluarnya dari kamar mandi, Anita sudah tidak ada lagi di kamarnya, sementara minuman yang dibuatkan Bi Umi masih utuh.


“Anita, kemana Bi?’ Tanya Andy pada Bi Umi dari ruang makan


“Tapi bibi lihat masuk ke kamarnya, Tuan”


Andy segera melangkah cepat memasuki kamar Anita, dan benar saja, Baru memasuki ambang pintu, Andy mendapati Anita duduk menunduk di tepi tempat tidur.


“Anita, kenapa? Perutmu sakit?”


Anita nampak mengernyit memegangi perutnya dengan mengatur napasnya sebisa mungkin setelah kembali memuntahkan isi perutnya barusan.


“Kita ke rumah sakit sekarang!”


“Tidak, tidak! Aku tidak apa!”


“Tidak apa bagaimana”


Anita menahan tangan Andy yang ingin membopongnya, Ia masih berusaha mengatur napasnya dengan memejam sejenak untuk mengembalikan emosinya.


“Tidak apa, Aku….hanya terlampau emosional saja, Maaf, lain kali aku akan mengatur emosiku” janji Anita yang lekas menyadari bahwa ia tidak boleh terlalu bersedih bagaimanapun kondisinya karena kandungannya akan langsung bereaksi saat ia terlampau sedih seperti saat ini.


“Maafkan aku, Anita, Karena aku, kamu banyak menanggung sakit seperti ini”


Anita menggeleng tak ingin Andy terus menyalahkan dirinya sendiri, Toh semuanya sudah terjadi dan harus tetap dijalani.


Bi Umi memasuki kamar Anita membawakan ponsel Andy yang berdering sekaligus membawa minuman untuk Anita yang belum sempat dia sentuh.


“Iya, oma” Andy kini duduk pula di samping Anita yang sedang meminum air lemon madu buatan bi Umi.


“Andy, keluarlah, Oma sebentar lagi sampai. Oma bawa beberapa makanan untuk Anita”


“Tumben tidak masuk, oma”


“Oma buru-buru, Opamu ini mau ada acara sebentar lagi, cepat ya”


Andy mematikan panggilannya saat Anita akan merebahkan dirinya “Oma mau ke sini bawa makanan untuk kamu, aku ambil dulu, Oma tidak mampir soalnya” ucap Andy lalu segera berdiri.


“Andy, aku ikut!”


Andy pun mengangguk lalu meraih jemari Anita untuk kembali bangun, Berdua kini menuju pintu keluar, Andy pun tak melepas genggaman tangan Anita hingga membuat tubuh Anita menghangat.


Betapa sentuhan Andy saat ini selalu mampu membuatnya tenang meski Anita harus kembali berperang melawan logikanya sendiri.


Sesampainya di pintu keluar, mereka berdua lalu keluar ke area drop off kendaraan dengan pemandangan air mancur di bundaran tempat kendaraan berhenti sementara di gedung ini.


Sebuah kendaraan sedan klasik terhenti tepat didepan Andy yang berdiri bersama Anita. Anita langsung menyunggingkan senyum lebar mengetahui Harlina datang meski tidak mampir ke tempat mereka.


Namun senyum Anita hanya bertahan sesaat kala kaca mobil terbuka dan langsung menampilkan sosok Hardianto yang menatapnya tajam dan mengerikan, Anita sontak merubah raut wajahnya.


“Anita! Ikut turun juga!” pekik Harlina girang mengetahui Anita menyambutnya, Wanita tua itu malah ikut turun dari mobil dengan banyak barang di tangannya.


“Oma dari mana bawa banyak tas seperti itu?”


“Belanja! Oma sengaja membeli banyak makanan khusus untuk Anita” Dengan sukacita Harlina memberikan tumpukan paperbag pada Anita yang malah melempar pandangannya pada Hardi yang duduk manis di mobilnya dengan wajah dingin.


“Untuk Andy?”


“Kamu tidak usah!” Harlina sampai menepuk telapak tanga cucunya saat Andy pun meminta jatah pada neneknya “Oh ya Andy, ada yang oma ingin bicarakan sama kamu. Kesini sebentar” Harlina lantas menggamit lengan cucunya sedikit menepi.


Sementara Anita yang berdiri canggung dengan membawa banyak barang ditangannya, Kesempatan ini pun tak disia-siakan oleh opa Hardi yang kemudian turun dari mobilnya lalu menghampiri Anita yang jelas ketakutan.


“Sudah mendengar kabar soal ibumu di sana?”


Deghh!


Jantung Anita tetiba berdegub kencang.


“Begitulah akibatnya setiap kali kamu melampaui batasanmu di sini, Jangan lagi berulah atau kalau tidak ibumu yang –“


Anita lantas mendongak dengan rahang yang menggertak, bibirnya sudah bergetar hebat.


“Kalau ibu saya ada apa-apa di sana, saya juga tidak bisa menjamin anak ini akan baik-baik saja setelah ini!”


...Bagaimana kelanjutan ceritanya?...


...Bagaimana reaksi Opa Hardi setelah mendapat jawaban dari Anita?...


...Nantikan di bab selanjutnya…tetap dukung othor yah..salam hangat selalu...