
Andy hanya mengedikkan bahu tanpa berdosa “Tidak mau tinggal ya sudah” ucapnya enteng hingga kemudian sesuatu terjadi.
Plakkk!
Harlina menampar Andy dengan tangan tuanya. Meski tidak merasakan apapun, namun jelas Andy malu
“Oma…”
“Oma mengira kamu sudah menjadi pria sejati. Tapi ternyata tidak! Kamu tidak lebih dari seorang pengecut, Andy!”
Tak ingin berlama di tempat ini, Anita segera berbalik badan dan ingin segera melarikan diri. Namun dirinya tidak memiliki akses untuk keluar masuk. Gadis itu akhirnya menundukkan tubuhnya dan menangis saat Harlina masih melakukan negosiasi dengan cucunya.
“Ibu…”lirih Anita yang mungkin menyesal telah menerima perjanjian itu, Kehamilan yang menyiksa ditambah harus tinggal dengan pria yang begitu menorehkan trauma luar biasa dalam dirinya.
Anita memeluk dirinya sendiri masih dengan gemetar, Bahkan Ibu kandungnya sendiri belum pernah menyentuh tubuhnya dengan kekerasan, namun semenjak insiden kesalahan culik terjadi, nestapa demi nestapa seolah menjadi makanan sehari-hari.
Hingga sebuah langkah terhenti kini mendekatinya.
Anita seperti menggigil ketakutan. Tidak pernah ia merasa setrauma ini dalam hidupnya. Kebencian dan dendam namun tak bisa berbuat apapun.
Harlina menyaksikan pilu dari ambang pintu melihat perlakuan Andy pada Anita sampai membuatnya terkena beban mental seperti itu.
Sementara Andy menunduk mendekati Anita yang menggeleng cepat begitu melihatnya “Maaf sudah membuatmu trauma. Kita akan tetap tinggal satu atap, dan mulai saat ini juga kita pindah rumah”
“”Oma, tolong jangan tinggalkan saya!” mohon Anita menggelayut lengan Harlina saat wanita tua itu akan meninggalkannya berdua dengan Andy hari ini.
Sebuah rumah mewah yang tak kalah bagus kini dibeli Andy dengan mudahnya. Tak sulit bagi seorang pengusaha otomotif terkemuka untuk membeli sebuah hunian layaknya membeli makanan.
Harlina mengerti keadaan dan ketakutan Anita saat ini, namun biar bagaimana, dia harus mengajarkan Andy bagaimana bertanggungjawab terhadap keluarga.
“Anita, sayang. Oma pasti akan sering menjenguk kalian. Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi Oma. Di sini ada Bi Umi yang bisa bantu kamu. Oma juga sudah bicara dengan Andy, dia tidak akan menyakiti kamu”
Anita kini hanya bisa pasrah, ia tidak mungkin memaksa Harlina untuk menurutinya.Bahkan Harlina menolak tegas saat Anita ingin tinggal di rumah kontrakannya saja, toh mereka hanya terikat pernikahan sementara.
“Andy, kemarilah” panggil Harlina kini pada cucunya yang masih bersikap datar dan seperti robot yang dikendalikan dengan remote oleh neneknya.
Wanita itu meraih pergelangan tangan Andy lalu menempelkannya ke pucuk tangan Anita yang langsung ditarik keras oleh Anita yang kemudian menyembunyikan tangannya.
“Janji sama oma. Kamu akan menjaga anak dan istri kamu. Belajar saling menerima. Begitu juga Anita, pelan-pelan maafkan Andy, sayang. Kalian akan hidup selamanya, Sudah, sudah. Oma tidak akan ceramah panjang lebar, sudah sore. Besok oma jenguk kalian lagi”
“Baik oma” jawab Andy singkat.
“Bi Umi” panggil Harlina kini pada wanita yang menjadi saksi hidup kekejaman Andy pada Anita yang sangat tidak menyangkan bahwa majikannya itu akan menikahi gadis ini.
“Tolong perhatikan semua kebutuhan Anita. Nanti saya kirim daftarnya. Apapun yang Nyonya Andy butuhkan segera berikan”
Anita tampak resah saat Harlina menyebut dirinya sebagai Nyonya Andy yang membuat telinganya sungguh gatal.
Andy kini mengantar neneknya pulang saat Anita kemudian langsung memeluk wanita paruh baya itu.
“Tolong saya, Bi! Saya tidak mau tinggal dengan dia, tolong” lirih Anita lagi-lagi menumpahkan air matanya.
“Dimana Anita?” Tanya Andy sekembalinya mengantar nenek pulang.
Bi Umi hanya menjawab dengan jarinya menunjuk kamar lain yang sudah digunakan Anita sebagai tempat tinggalnya di sini.
Andy sendiri kini sangat susah mencerna kehidupannya. Semua terjadi begitu cepat dan Andy pun tidak bisa memaksakan perasaannya karena dirinya juga tidak mencintai Anita.
Anita tengah menata barang-barangnya dilemari kamar saat Andy tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
“Hahh!” pekik Anita refleks saat membalikkan badan dan meilhat Andy sudah berdiri di ambang pintu dengan sikap arogansinya yang mengintimidasi meski ia hanya berdiri dengan jarak yang jauh darinya.
“kenapa tinggal di sini? Apa yang harus aku jawab ke oma nanti kalau beliau tahu?”
Anita mencoba menguatkan jiwa dan raganya menghadapi Andy yang kaku dan begitu arogan. Ia tidak bisa selamanya ketakutan. Saat ini ia lebih takut kehilangan bayinya daripada yang lain. Takut kehilangan bukan lantaran sayang, namun takut berimbas pada pengobatan sang ibu yang tidak bisa dijangkaunya saat ini.
“Tahu juga memangnya kenapa? Toh pernikahan ini juga cuma apa?”
“Cuma apa katamu?”
Deg!
Anita yang memunggungi suaminya itu merasa janggal dengan pertanyaan balik Andy yang belum bergeser dari tempatnya berdiri.
“Kamu cuma menginginkan anak ini, kan? Ya sudah, aku juga tidak ingin apapun. Yang penting kita sudah tinggal satu atap, selesai”
Andy memicing ke arah Anita yang bahkan tak melihat wajahnya dan sibuk sendiri meletakkan bajunya dilemari.
“Hehh! Sesimpel itu,ya? Terserah kamu!” ucap Andy cuek lalu pergi ke kamarnya sendiri.
“Dasar pria brengsek!” racau Anita lirih saat dirasa Andy sudah pergi darinya.
Meski beberapa kali Andy menunjukkan perhatiannya, namun Anita tidak goyang. Pria itu hanya melakukannya semata untuk membuat neneknya senang. Setidaknya itu yang di pikiran Anita saat ini.
Matahari baru saja tenggelam di hari pertama pernikahan mereka. Anita mulai merindukan ibunya hingga dia mengurung dirinya di kamar, Dikirimkan pesan untuk ibunya saat ini. Setidaknya hanya ini yang bisa Anita lakukan untuk berkomunikasi dengan Ibunya yang jauh di sana.
“Anita sudah makan, bi?” Tanya Andy yang hari ini terpaksa libur bekerja lalu menghabiskan sorenya dengan berolahraga diruang gym pribadinya.
“Baru saya bikinkan makan malam sesuai daftar dari Nyonya besar, Tuan muda. Apa saya panggilkan Nyonya ke sini?”
“Tidak perlu, Kalau dia tidak ingin keluar, antar saja ke kamarnya”
Bi Umi segera mengangguk lalu mengantar satu nampan berisi makanan sehat yang komposisi menunya sudah diatur secara khusus oleh Harlina. Tak lama ponsel Andy berdering dengan nama sang nenek yang sudah pasti akan memantau secara live.
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Kira-kira apakah apa gerangan yang akan dipantau oleh Harlina?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned