One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 29



“Bi Umi. antar ke balkon saja ya”


Andy menyeret tangan Anita berjalan menuju ke area terbuka


“Hati-hati Tuan Muda, Nyonya kan lagi hamil!” pesan Bi Umi mengeraskan suaranya hingga membuat Andy serasa terpukul lalu menjeda langkahnya.


“Owh, maaf. Aku selalu lupa”


“Aku bisa jalan sendiri!”


Dan mereka berdua kini berada di teras balkon dengan pemandangan gedung pencakar langit di pagi hari yang mengguratkan sinar matahari menyinari lurus ke arah mereka.


Bagaikan tengah berjemur di pantai dengan sinar pagi yang menyehatkan. Anita kini menikmati sepotong roti bakarnya dengan lahap dan tanpa bersuara.


Suasana yang begitu canggung namun Anita tak peduli, Ia menganggap tidak ada siapapun didekatnya.


Menjadi ibu hamil membuatnya cepat lapar hingga mengigit roti bakarnya hanya dengan tiga kali gigitan dan sudah habis, Tak lupa obat dan vitamin yang harus dia minum sudah diletakkan satu porsi sekali minum.


Andy yang memperhatikan Anita begitu lahap akhirnya mengulurkan roti miliknya yang sengaja belum dia makan menunggu Anita jika ia kekurangan dalam porsi makannya, Sialnya Anita menggeleng, entah karena gengsi atau memang sudah kenyang.


“Mau kemana?” Tanya Andy saat Anita akan pergi membawa piring dan gelas kotornya.


Bi Umi yang melihatnya langsung berjalan cepat mengambil piring itu dari tangan majikannya.


“Anita, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kita bisa bicara disana”


Anita jelas mengerutkan wajahnya waspada, Bayangan Andy akan menyekap dan menyiksanya kembali muncul.


“Kenapa? Kamu berpikir aku akan melakukan apa? Kalau tidak yakin aku ajak Bi Umi sekalian”


Dan jadilah mereka pergi berempat dengan supir dan Bi Umi yang duduk di samping kemudi. Sementara Anita yang setia mengenakan masker untuk menutup hidungnya itu duduk canggung berdampingan dengan Andy yang memasang wajah murung.


Hampir satu jam membelah jalan pagi kota itu dengan segala kepadatannya lalu menaiki jalan bebas hambatan keluar dari area kota. Sampai di sebuah area parkir, Anita yang sedari tadi menahan mual kini lega dan membuka maskernya untuk menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya.


Namun pandangannya seketika heran, Terlebih lagi saat Andy turun dan membukakan pintu mobil untuknya.


“Makam?” Tanya Anita melihat ke sekeliling, Ya, ia tak salah melihat Andy memang mengajaknya memasuki kawasan pemakaman elit yang berada di perbatasan kota.


Dari areanya saja sudah bisa dipastikan bukan sembarangan orang yang dimakamkan ditempat yang lebih mirip lapangan golf dengan kontur tanah berbukit-bukit ketimbang area pemakaman.


Andy mengulurkan tangan untuk menggandeng istrinya namun Anita menolak dan menyembunyikan tangannya.


Akhirnya Andy berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Anita dan Bi Umi dibelakangnya. Di sebuah area pemakaman pribadi dengan rumput hijau terawatt kini Andy berhenti kemudian tertunduk mengelus batu nisan berwarna putih.


Sebuah nama yang belum pernah ia dengar sebelumnya tertera di nisan berbahan marmer itu.


Lukma Bin Hardianto Santoso. Anita membulatkan matanya saat membaca nama Opa Hardi di sana.


Andy mendongak ke arah Anita “Anita, kenalin, ini makam papaku!”


“Di sini anginnya lumayan kencang” ucap Andy lantas menempelkan jaketnya ke punggung Anita yang duduk disampingnya namun tidak ada komunikasi di antara mereka setelah sekian lama hanya duduk diam.


Anita sendiri pun tak ingin membuka pembicaraan saat Andy hanya melihat dengan nanar makam ayahnya yang pergi dua puluh tahun yang lalu. Sementara Bi Umi dan supir memilih ke mobil dan membiarkan kedua pasang suami istri itu menghabiskan waktu mereka berdua dan mengurai perasaan masing-masing.


“Anita, sebelumnya…aku ingin minta maaf” Andy akhirnya memulai ucapannya setelah sekian lama mereka hanya diam dengan Anita yang sengaja duduk mengambil jarak dengannya.


“Kamu boleh marah dan tidak akan memaafkan ku, Aku memang seperti binatang saat menyiksamu saat itu” Andy menghela nafas tertahan “ Aku selalu tidak bisa mengendalikan diri saat emosi sudah menyerang ku, Maafkan aku, Anita”


Anita tidak merespon. Ia terlalu sibuk memutar memori yang membuatnya sungguh ingin mati jika tidak mengingat kondisi sang ibu.


“Waktu itu kamu sampai pendarahan, jujur aku takut saat itu—“


“Cukup, jangan diingatkan lagi” bentak Anita emosi dengan wajah memerah, Ia menyingkap jaket milik Andy yang cukup memberinya kehangatan lalu turun dari dudukan panjang di tepi makam.


“Anita, tolong! maafkan aku…hanya ingin kita bicara” Andy segera mencegah Anita dengan memegangi kedua pundaknya lalu memintanya kembali duduk “Katakan, apa yang harus aku perbuat untuk menebus kesalahanku padamu”


Anita kini menaikkan kelopak matanya menatap pria yang masih menunduk mendekatkan wajah padanya.


“Andai, waktu itu aku tidak menculik mu, mungkin kamu tidak akan tersiksa seperti ini. AKu tahu seribu maaf pun tak akan pernah bisa menggantikan semuanya, Tolong katakan Anita, Aku harus bagaimana?”


“Kamu harus seperti apa aku tidak peduli!” sembur Anita lantas membuang muka dan kalau bisa dirinya menghilang saja dari hadapan pria ini.


Andy pun mengangguk dan mengalah dengan kembali duduk disamping istri yang membencinya saat ini.


“Sejujurnya, apa dan bagaimana pernikahan itu aku juga tidak pernah jelas. Aku menikahi mu demi anak itu. Aku yang berbuat dan aku harus tanggungjawab”


“Aku tahu!” ketus Anita masih membuang pandangannya ke arah perbukitan hijau yang bagi siapa saja pasti mengira tempat ini adalah hamparan lapangan golf yang indah.


“Aku sudah salah kira waktu itu, Dendamku pada Ratih sungguh membutakanku, Kamu…begitu mirip dengan….ah,sudahlah” Andy mengusap kasar wajahnya mengingat kecerobohannya waktu itu dengan wajah permohonan dari Anita yang tak diindahkannya.


“Hehh!” Anita menaikkan salah satu sudut bibirnya seolah menertawai nasibnya kini yang harus menanggung kehamilan yang tak diinginkannya. Kehamilan yang membuatnya sakit melebihi siksaan Andy terhadapnya waktu itu.


“Andai saat itu kamu berhasil menyakiti dia, dan dia sekarang berada di posisiku saat ini, Apa kamu masih mau menikahinya? Menikahi wanita yang kamu benci, Andy?”


“Anita tolong jangan cecar aku dengan pertanyaan yang tidak akan pernah bisa aku jawab” giliran Andy yang kini membuang wajahnya gugup. Ia pun tak bisa membayangkan bagaimana Ratih akan tersenyum bangga karena berhasil menjadi istrinya.


“Itu karena kamu terlalu sibuk dengan egomu sendiri tanpa memikirkan orang lain!” bentak Anita tak tahan lagi untuk mengeluarkan volume suaranya yang menyerakkan tenggorokannya.


Anita pun mengusap wajahnya kini lalu mengatur nafasnya agar perutnya tidak bergejolak.


“Kamu lihat makam ini, Anita? Dia papa kandungku, yang tidak pernah memberikan contoh bagaimana bentuk pernikahan yang baik, Kalau kamu melihat aku selalu mimpi buruk, itu karena mereka, orangtuaku sendiri”


Anita kini tertegun. Bagaimana seorang anak bisa menyalahkan orang tuanya sendiri atas apa yang terjadi saat ini.


Bagaimana kelanjutan ceritanya?


Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned