One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 50



Wanita itu lantas pergi karena tak memiliki alasan lagi berlama di kamar ini.


“Ngapain, Anita?”


Suara Andy dari belakang cukup membuat Anita Terkejut dan refleks menunjukkan kemeja yang ia letakkan


“Cuma naruh ba…Haahhh!”


Anita terperanjat begitu membalikkan tubuhnya melihat Andy yang baru keluar kamar mandi hanya mengenakan selembar handuk untuk menutup perut ke bawahnya.


Sedang tubuh bagian atas masih basah dan pria itu percaya diri saja menghampirinya saat ini. Aroma sabun mandi langsung memanjakan indra penciuman Anita yang seolah melayang.


Anita langsung tertunduk gugup. Ia lantas mundur saat Andy tiba-tiba mendekat.


“Aku…ehmm..aku keluar dulu, Permisi”


“Mau kemana?”


Tangan Andy yang basah memegang pergelangan tangan Anita yang semakin gemetar.


“Shh. mau balik ke kamarku lah! Kamu ganti baju sana!”


“Aku ganti baju di depan kamu juga tidak apa kan, Anita? Ada yang salah? Kita kan suami istri?”


“Andy!” sembur Anita makin salah tingkah hingga membuat Andy makin tersenyum nakal.


Anita menarik tangannya dan Andy membiarkan namun langsung membuka handuknya hingga Anita membelalak sekaligus memekik kuat.


“AAKHH!” Anita sontak menutup rapat matanya lalu berbalik badan dan menuju kamar.


Sementara Andy dengan cueknya memainkan handuknya untuk mengeringkan permukaan kulitnya.


“Anita..Anita! banyak wanita yang ingin berlomba dekat denganku, tapi kamu? Sudah digenggaman malah seperti ini” Andy malah mentertawakan kehidupannya sendiri saat ini “Dasar lucu!”


Sore hari Andy yang sudah keluar kamar dengan kemeja barunya dan dandanan super stylish namun terlihat santai. Wanita mana yang tidak terpikat dengan ketampanan seorang Casanova seperti Andy Hardiputra.


Bahkan diluar sana para wanita berebut untuk bisa merasakan hubungan dengan Andy yang juga seorang pembalap itu.


Namun dimata Anita yang tiba-tiba saja melenggang menjadi istrinya. Andy tak ubah menjadi seekor binatang keji yang arogan dan tidak berperasaan.


Andy melirik kotak kado yang sudah siap diatas meja lalu menghubungi Jimmy yang sudah siap standby dibawah.


“Cek sekitar. Awasi jika ada yang mencurigakan. Hadang segera jika ada yang mengikuti dari arah mana saja!”


“Memangnya siapa yang akan mengikuti kita, Andy?” Tanya Anita sedikit was-was.


Andy langsung berbalik badan dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Pandangannya langsung menyisir Anita dari atas hingga ke bawah.


Andy sampai tertegun mematung, Sehari-hari hanya melihat Anita dengan baju santainya, kini Andy menelan ludahnya dengan susah payah.


“Kenapa? Aku tidak pantas ya pakai baju mahal ini?” Anita pun menyisir tubuhnya sendiri.


“Cantik!” puji Andy meluncur mulus dari bibirnya yang masih terperangah dan terpesona


Anita yang dress semi santai biru langit sepanjang lutut dengan flat shoes berwarna senada itu kemudian menguncir rambutnya yang curly seperti ekor kuda.


Hamparan leher mulus langsung menjadi pemandangan indah dan Andy baru menyadari bahwa Anita memiliki tubuh yang proposional.


“Jadi berangkat apa tidak? Lama-lama kamu jadi batu kalau cuma berdiri seperti itu?”


Andy langsung terkesiap. Diambilnya kotak kado itu kemudian memposisikan lengannya agar Anita bisa menggandengnya.


Namun niatan Andy salah besar, Anita malah langsung berjalan mendahuluinya.


“Sialan, aku dicuekin! Awas kamu!”


Sampai ditempat parkir gedung. Anita langsung menutupi wajahnya dengan masker untuk menghalau aroma mobil yang entah mengapa masih menusuk hidungnya.


“Aman, Jimmy?”


Jimmy mengangkat jempolnya pada Andy yang duduk di seat belakang bersama Anita.


“Tidak ada” kilah Andy tak ingin membuat Anita mencemaskan apapun.


Sesampainya di kediaman Hardianto, Harlina langsung menyambut kedua cucunya. Terlebih lagi wanita itu kemudian mengelus perut Anita dengan bahagianya.


“Selamat ulang tahun, Oma. Semoga oma dan opa diberikan kesehatan dan umur panjang” ucap Anita mengandung sebuah ketulusan luar biasa. “Maaf, Anita tidak bisa memberi apa-apa, hanya ini”


Anita menyodorkan kotak kado yang langsung diterima Harlina.


“Anita buat kado ini sendiri Oma, sampai tidak tidur beberapa hari”


Anita langsung mendelik ke arah Andy yang begitu mulus mengadukan sesuatu ke Harlina."dasar pengadu"


“Terima kasih nak, Bagaimana kabar cucu dan cicit oma ini? Kalian sehat kan? Jaga kesehatan ya”


“Sehat, oma”


“Jadi hanya Anita dan kandungannya saja yang ditanya? Andy sudah tersingkir, nih?” dengus Andy melirik cemburu karena Harlina seperti tidak menganggap kedatangannya.


“Otomatis itu Andy, sayang. Posisimu akan langsung tergeser oleh Anita dan anak kalian” jawab Harlina malah membuat Andy makin tak dianggap “Ayo masuklah”


Andy berjalan memasuki rumah besar itu dengan menggamit pergelangan tangan istrinya yang malah berusaha menariknya.


“Jangan ditarik!” sembur Andy makin mengeratkan genggaman ke tangan Anita yang dingin.


Sesampainya di ruang tamu, suasana cukup meriah hingga membuat Andy mengerut heran.


“Lho katanya tidak mengundang siapapun?”


“Tau, tuh. Opa malah dari tadi bicara soal pekerjaan dengan mereka” jawab Harlina dengan setengah kesal.


Ternyata Anna dan keluarganya juga hadir dengan undangan khusus dari Hardianto.


“Happy Anniversary, Opa” ucap Andy setengah malas.


Pandangan Hardi langsung tertuju ke tautan tangan Andy ke Anita.


Sadar dirinya tengah disorot, Anita langsung menarik tangannya dan tertunduk sangat takut. Bahkan kakinya bergeser satu langkah mengambil jarak dengan suaminya sendiri.


“Baju kalian bagus, sepasang kembaran” bibir tua Hardianto juga langsung mengomentari pakaian keduanya yang nampak serasi.


Namun ditelinga Anita jelas menangkap sebuah ultimatum bahwa hubungan mereka malah berkembang dan Anita jelas mengabaikan peringatannya.


Awalnya Andy memanjangkan lengannya menarik Anita dalam dekapannya, namun Anita malah semakin tidak nyaman.


“Andy, duduklah kemari, Anna nanti yang akan memimpin langsung proyek di luar kota, dan sepertinya kamu juga harus turun tangan langsung untuk mengawasi ke sana, Benar kan Anna?”


Ucapan Hardi memang tidak seberapa diambil hati oleh Anita yang tidak tahu menahu soal pekerjaan suaminya.


“Mengapa harus Andy, Opa? DIpantau dari jauh juga tidak masalah”


“Proyek ini sangat penting, Andy, Kalian akan bersama-sama di sana selama hitungan bulan ke depan!”


Kemudian..


“Tuan Hardi, jadi ini cucu menantunya” Ayah Anna kini membuka obrolan saat Andy dan Anita kemudian mengambil duduk berdampingan di satu sofa saat Hardi semakin menatap tajam ke arah Anita.


Anita hanya mengangguk sambil terus tertunduk tak berani mengangkat wajahnya di depan semua yang membuatnya seperti siput kecil yang menenggelamkan kepada pada cangkangnya.


“Dari perusahaan grup mana? Almamater mana? Apa satu tempat kuliah dengan Andy?”


Opa Hardi lagi-lagi dibuat kehilangan muka saat ia tidak bisa menjawab tiap kali ada orang yang bertanya mengenai asal usul istri Andy yang terlanjur diumumkan secara masal oleh Harlina.


... Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...


...Apakah Andy akan membela istrinya sendiri?...


...Tetap dukung othor yah dengan mengikuti cerita di bab selanjutnya….salam hangat selalu...