
Anita hanya mengedikkan bahunya cuek.
“Karena anak ini tahu dan nyaman sedang bersama dan di dekat kedua orang tuanya”
Sementara itu..
Di Kantor Andy
“Ada apa, Jimmy! Kamu mau bikin saya tambah pusing!” Andy yang masih diliputi sisa amarah itu mendelik kasar saat Jimmy mengerem mendadak kendaraannya saat baru memasuki portal gedung perusahaannya.
“Nyonya Yeni, Tuan Muda” Jimmy menunjuk sosok wanita paruh baya yang berdiri tertunduk tidak bisa memasuki gedung ini karena akses sidik jarinya sudah dihapus oleh Andy sehingga tidak bisa memasuki perusahaan anaknya sendiri meski hanya di pos security.
“Mau ngapain lagi”
Yeni melihat kendaraan putra nya yang datang lalu menyunggingkan senyumnya “ Andy” Wanita itu melambaikan tangannya berharap sang putra melihatnya meski dari luar ia tak bisa melihat wajah siapapun yang ada di dalam.
Jimmy kemudian turun dan membukakan pintu untuk Yeni sesuai perintah Andy padanya. dan Yeni pun masuk dengan senang hati menyapa putra semata wayangnya.
Uluran tangan wanita itu bahkan diacuhkan oleh Andy yang memijit pelipisnya dengan tangan kiri.
“Lima menit!” tegas Andy saat mereka sudah berhenti di parkir eksekutif.
“Mama dengar kamu sudah menikah, Andy?”
Andy tidak menjawab. Ia masih sibuk merasakan kepalanya yang pusing setelah marah-marah.
“Selamat, Andy. semoga pernikahan kalian selalu diliputi kebahagiaan” ucap Yeni lalu meraih telapak tangan putranya namun lagi-lagi ditampiknya.
“Tidak seperti pernikahan mama!” sembur Andy hingga membuat Yeni mengangguk dan menunduk sadar diri, bahwa dirinya memang tak bisa memberikan sebuah contoh pernikahan yang baik untuk anaknya.
“Maafkan mama, Andy. Mungkin kesalahan mama seumur hidup tidak akan bisa kamu lupakan. Tapi mama ingin berbaikan denganmu, Nak. Kapan kamu kenalkan istrimu ke mama?”
“Tidak akan!”
Sesaat Yeni kembali bingung dengan sikap Andy yang masih terlampau kaku padanya.
“Lima menit!” Andy sudah menunjukkan waktu di tangannya.
“Andy tolong!”
Andy lantas keluar dari mobilnya saat kemudian Yeni pun mengikuti putranya yang akan memasuki lift.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan, Jimmy!” panggilnya pada Jimmy yang langsung paham untuk membawa Yeni pergi dari tempat yang sudah disterilkan dari sosok bernama Abraham dan Yeni Sasmita dari daftar orang dilarang masuk ke gedung ini.
Memasuki ruangannya, kepala Andy makin berdenyut nyeri setelah melihat wajah memelas ibunya yang telah ia usir dengan cara yang paling elegan menurutnya.
Memejamkan mata sejenak memutar kembali memori puluhan tahun yang lalu saat keluarga kecil Hardi masih diliputi kebahagiaan dengan Andy kecil pula yang begitu menyayangi ibunya. Namun kini semuanya berubah, entah andy harus membenci sang ibu dengan cara apa lagi.
“Permisi Tuan Muda, Kondisi Ibu Dewi sudah berangsur membaik, tapi tim lapangan tidak bisa mendekat. Ibu Dewi ternyata di jaga ketat”
Jimmy memasuki ruang atasannya yang masih menyandarkan lehernya ke sandaran kursi.
‘Oleh siapa?”
Jimmy terdiam sesaat dan nampak segan sampai Andy kemudian menegakkan duduknya dan mendongakkan ke arahnya.
“Orang-orang Tuan Besar berjaga di sana”
‘Untuk apa?” Andy jadi mengerutkan wajahnya. Namun karena kepalanya sedang pusing,ia tak seberapa menggubris.
Diambilnya obat yang bertahun lamanya ia konsumsi lalu meminum satu butir berharap sakit kepalanya segera mereda “Ada info apa lagi?”
“Informasi mengenai Irvian Winata, masih buram. Tim lapangan bahkan sudah mengorek data ke dinas kependudukan tapi belum menemukan apapun. Satu-satunya informasi harusnya dari Ibu Dewi”
Pintu ruang kerja Andy kemudian terketuk dari luar oleh sekretarisnya saat Jimmy sudah keluar dari sana.
“Permisi, Bapak Andy. Wakil Direktur perusahaan pemenang tender ingin bertemu”
“Langsung saja ke divisi legal!” jawab Andy yang sudah merasa tidak ada keperluan lagi dengan urusan tender yang bahkan belum ia ketahui siapa pemenangnya wakti itu “atau arahkan ke Wakil Presdir saja, kepala saya sedang pusing”
“Selamat pagi, Bapak Andy”
Andy yang baru saja membalikkan kursinya itu kembali berbalik “Anna? Jadi kamu pemenang tendernya kemarin?’
**
“Itu dia, Ikuti pelan dan jaga jarak!”
Ivan dengan mata tajamnya kini mengikuti kemana kendaraan Andy yang baru keluar dari perusahaannya. Di tengah ramainya jalanan perkotaan, pria paruh baya itu cukup kesulitan mengejar dari jarak aman agar targetnya tidak sampai mengetahui pergerakan dirinya.
‘Dia belok ke kanan. awas jangan sampai terhalang truk itu!” perintah Ivan pada supirnya saat matanya dengan awas tak ingin melepas pandangan ke arah manapun.
Akhirnya setelah mengekor dengan perjalanan hampir empat puluh lima menit, kendaraan Andy memasuki kawasan property mewah. Dan Ivan pun menghentikan kendaraannya di tepi jalan.
“Jadi dia tinggal di sini?” gumam Ivan dalam lamunannya “Kalau memang benar yang dinikahi itu adalah Anita, bagaimana ini? Lalu dimana Dewi?”
Ivan mengusap kasar wajahnya. Pikirannya bolak balik berputar dari masa lalu sampai masa depan yang belum terjadi “Bagaimana kalau Tuan Victor tahu lebih dahulu? Tapi apa berani dia sejauh itu, Andy kan sudah pernah menyentil dia sampai hampir tumbang, Hehh aku harus memanfaatkan Claire. DIa lebih bisa menaklukan anak itu ketimbang Victor yang cuma gede di badan!”
Sementara itu di rumah Andy.
“Nyonya, bibi kan gendut, nanti kainnya tidak muat”
Anita terkekeh saat menjulurkan meteran kain ke tubuh bulat Bi Umi “Kalau tidak muat nanti saya tambal dengan kain sprai,ya”
Anita malah tertawa sampai mengangkat lehernya membayangkan baju yang pertama kali ia coba jahit untuk Bi Umi itu harus tersambung dengan kain sprai”
Mencatat tiap senti meter ukuran tubuh Bi Umi, Anita kemudian mencoret coret lembar kertasnya dengan sketsa bagian calon pakaian untuk wanita itu, Selama berdiam diri di rumah, keberadaan Bi Umi sungguh menjadi hiburan tersendiri bagi Anita yang tidak pernah bosan karena ia menganggap wanita itu seperti ibunya sendiri.
“Nyonya sudah lama pinter bikin baju?”
“Gak pintar , Bi. Saya hanya pernah kuliah seni rupa saja, Tapi nggak sampai lulus”
“Mengapa tidak lulus?”
“Tidak ada biaya, Bi"
Bi Umi langsung tidak enak hati sudah sembarang bertanya seperti itu “Maaf, Nyonya muda”
“Tidak apa, Saya sudah punya cita-cita suatu saat nanti mau meneruskan kuliah kok”
Sambil terus mengukur lalu mencoret-coret jemari Anita begitu terampil setelah beberapa hari berkutat dengan dunianya itu.
“Setelah nanti melahirkan ya, Nyonya?”
“Iya, setelah Ibu sembuh juga, nanti saya balik kampung saja buat meneruskan kuliah di sana”
Degh!
Bi Umi nampak melongo. Begitupun Anita yang kemudian terkesiap karena bibirnya dengan sembarangan bicara saat ia memiliki orang yang dianggap nyaman untuk bercerita. Anita tiba-tiba gugup dan tergagap.
...Bagaimana kelanjutan cerita nya? ...
...Apakah Anita jadi pulang kampung atau tidak?...
...Nantikan di bab selanjutnya yaah….....