One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 57



“Apa kamu mencemaskan ku, Anita?”


Anita pun tak paham bagaimana perasaannya kini. Ia hanya mengendikkan bahu saat Andy mulai mendekatinya.


Dan hidung Anita jelas mengendus sesuatu seperti aroma cherry yang manis dari tubuh suaminya.


“Bukan!” tampik Anita sampai membuat Andy yang akan masuk kamar mandi jadi terdiam “Bau parfum perempuan!” ucap Anita cuek lalu membuak selimutnya dan menenggelamkan dirinya disana


“Owh, ini tadi…”


“Tidak usah dijelaskan, aku gak akan cemburu kok!” ucap Anita lalu memiringkan tubuhnya dengan perasaan yang sama sekali tak ia pahami.


Entah karena hormone kehamilannya yang sensitive atau apa, Anita bahkan saat ini tidak pernah bisa mengerti perasaannya sendiri. Otak, hati dan bibirnya seakan tidak pernah sinkron satu sama lain.


Andy kembali saat Anita malah sudah terlelap karena baru memejam setelah entah dorongan dari mana yang membuatnya berada diruang tamu dengan kegiatan yang tidak jelas hanya untuk memastikan bahwa Andy akan pulang malam ini.


Mengambil posisi tidur seperti biasa, Andy yang ikut tidur di kamar Anita itu kini meletakkan tangannya yang dingin ke rumah calon anak mereka yang hangat.


Merasakan perutnya yang berat, Anita kemudian memindahkan tangan Andy menyingkir dari tubuhnya


.


“Marah?”


Anita hanya menggeleng tanpa menjawab.


“Lalu? kenapa tanganku disingkirkan?’


“Tidurlah! Kamu lelah!”


Andy memegangi pundak Anita yang memunggunginya “Anita, Aku…ingin kita bicara dari hati ke hati, boleh, tidak?”


“Soal apa? Besok saja” tolak Anita berusah menghindari sebuah desiran yang selalu datang menyerang otaknya tiap kali Andy berada didekatnya.


Dan sialnya, Andy kini malah membawa tubuhnya untuk tidak lagi memberinya punggung, Anita berbalik kembali terlentang dengan tangan yang sudah diraih oleh Andy diatas pucuk tangannya.


“Anita, apa kamu..ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?” Andy masih berusaha bertanya dengan suara lirih dan selembut mungkin di malam mereka bersama dalam satu tempat tidur namun tak ada hubungan lebih jauh lagi.


“Soal?”


“Entahlah, aku sendiri bingung harus bertanya seperti apa. Kamu…ada keterkaitan apa dengan opa?”


Deghh!


“Ya, sudah kalau tidak mau cerita, tidak apa, aku tidak memaksa, Tidurlah”


Andy membenarkan posisi dan meminta istrinya itu kembali tidur. Melihat wajah Anita yang langsung tertekan, Andy malah tidak tega. Sementara Anita kini berusaha memejam saat Andy juga memposisikan tidur di sampingnya.


Anita pun kini memiringkan tubuhnya membelakangi Andy yang sudah melingkarkan lengan ke peruntnya,


Bibir Anita bergetar dengan hidung menghangat, namun tenggorokannya seakan tercekat meski Andy kini sudah menawarkan bantuan untuknya.


Namun lagi-lagi, Anita masih berusaha menarik mundur perasaannya saat otaknya kemudian meminta Anita tersadar dari dunia khayal yang tetap harus dilakoninya selama beberapa bulan ke depan.


Anita memejam erat saat air matanya tetiba keluar. Ia tak berani terisak meski ingin sekali menangis dengan keras.


“Anita, mau berjanji sesuatu padaku? suara Andy setengah berbisik berhembus hangat di tengkuknya saat ini.


Dan Anita jelas menggeleng, Ia sudah mengikrarkan diri tak ingi ada keterikatan apapun dengan Andy meski pria itu amat sangat bisa membantunya. Andy pun tidak memaksa, waktu sudah terlalu larut untuk mereka bicara saat ini. Andy tahu mungkin saat ini bukan waktu yang tepat.


Keesokan paginya, Andy yang sengaja bangun mendahului istrinya itu sudah berpakaian rapi dan tak ingin merepotkan Anita lagi pagi ini, Dengan tatapan tajam, Andy yang melihat bayangan dirinya sendiri di cermin itu kemudian mengangguk yakin.


“Lho, Andy..sudah kembali. Syukur kamu tidak terlalu lama meninggalkan Anita sendiri di rumah” sambut Harlina lega dengan kedatangan cucunya yang tadinya di khawatirkan akan pergi sampai berbulan lamanya.


Andy menyisir rumah tempat ia bertumbuh sejak usia sepuluh tahun hingga lulus sekolah menengah tinggi.


Nampak sang kakek berada di halaman samping rumah dengan cerutu ditangannya dan menikmati kicauan burung peliharaannya.


“Sudah sarapan, Andy? Anita gimana?”


“Anita baik, oma. Andy ada perlu sama opa”


Harlina kini nampak cemas melihat wajah Andy yang menggelap dan bicara sangat datar padanya.


Andy sendiri tanpa basa basi kemudian menghampiri opa Hardi yang mungkin sudah bisa membaca maksud kedatangannya.


“Kenapa kamu mengabaikan opa, Andy?”


Tak ingin menjawab pertanyaan konyol itu, Andy malah balik memutar pertanyaan.


“Mengapa opa memindahkan asset atas nama Anita?”


“Kamu tidak suka?”


Andy jelas menyipitkan mata melihat Hardianto yang begitu tenang hampir tanpa ekspresi.


“Untuk apa, Opa? Anita sudah menjadi tanggung jawab Andy saat ini. Apapun yang dia miliki harusnya berasal dari keringat Andy, bukan yang lain”


“Jadi kamu menganggap opa ini orang lain?” Hardianto masih tenang menghisap cerutunya lalu mengepulkan asapnya ke udara.


Andy masih mencoba menahan diri meski semuanya belum nampak terang, ia paham terlalu gegabah menemui sang kakek saat ini.


“Jika opa ada masalah dengan orang lain, tolong jangan libatkan Anita. Kalau pemindahan asset ini hanya akan membuat Anita dalam bahaya, Andy minta tolong batalkan. Anita tidak tahu apa-apa. Jangan sampai dia jadi pelampiasan siapapun yang bisa membahayakan dia nantinya”


“Kamu mulai menyelidikinya, Andy?” Tanpa melihat kearah cucunya, Hardianto pun tak kalah menggelap pandangannya. Bertahun membentuk pribadi Andy hingga kokoh seperti ini, bahkan Andy kini terlalu kuat untuk bisa menyerang dirinya sendiri.


“Opa sendiri kan yang meminta Andy untuk menikahinya? Jadi biarkan Andy mengatur keluarga kami sendiri” pungkas Andy lalu berdiri dan tak ingin berlama lagi.


Hardianto mematikan cerutunya dengan geram “Sudah berani mempengaruhi dan mengadu? Lihat saja!"


**


Di salah satu ruang gelap nan lembab, seorang pria paruh baya yang tengah meringkuk di sebuah sel kini mencengkram salah satu jeruji besi yang melintang didepannya.


“Anita Celine? Siapa lagi itu, Bisa-bisanya si tua Bangka itu bergerak cepat!”


“Istri Tuan Muda Andy, Tuan”


“Istri! Hehh!” Abraham menarik sudut bibirnya mencemooh “ Bisa juga Andy kawin, Aku pikir dia akan lemah seperti Bapaknya. Siapa istrinya itu? Kenapa bisa papa mengalihkan semua harta ke dia?”


Abraham menyeringai makin tak terima. Berpuluh tahun menerima perlakuan tak adil dari orang tuanya sendiri membuat pria itu makin memiliki dendam kusumat pada siapa saja yang membuat hidupnya menderita. Terlebih lagi Andy yang sudah membuatnya mendekam di balik jeruji besi ini.


“Informasi soal nona Anita ini tertutup, Tuan, Sepertinya tuan andy memblokade semua yang berhubungan dengan istrinya, Tapi desas desus uang beredar…nona Anita ini masih ada hubungannya dengan tuan Victor Susanto”


“Victor? Masih hidup dia?” Abraham melirik tajam kearah pengacara yang memberitahunya bahwa gugatan atas hak hibah itu kemungkinan ditolak lantaran semua harta Hardianto sudah beralih tangan ke orang lain.


…….


...Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...


...Tetap dukung othor yah dengan mengikuti cerita di bab selanjutnya….salam hangat selalu...