
“Anita, jangan mengunci diri, Nanti aku kembali dan tidur di sini juga”
Anita tak menjawab, ia memilih pura-pura memejam.
“Anita, boleh aku..ucapkan selamat malam ke…emm…anak kita?”
Tak mendapat jawaban, Andy masih berusaha meminta ijin, Ia tahu Anita belum terlelap meski matanya terpejam.
Awalnya, tangan kanan Andy yang terulur ke arah perut Anita lalu mengecupinya sekali. Pria itu kemudian menggeser kepalanya mendekati wajah Anita yang memejam.
“Boleh aku memberi ucapan selamat malam juga buat kamu, Anita?”
Anita tetiba membuka matanya karena merasakan hembusan nafas Andy yang menderu di wajahnya.
Cup!
Andy sudah mendaratkan ciumannya ke kening Anita hingga wanita itu melebarkan matanya dan nafasnya sampai berhenti sekian detik.
“Selamat malam, tidurlah. Aku ke bawah dulu”
Anita masih tertegun, Bahkan untuk menggerakan matanya saja tidak. Andy menciumnya dengan pikiran sadar dan tanpa emosi meski hanya dikeningnya saja. Beda sekali saat Andy menciumnya di sirkuit ketika Andy tengah diliputi amarah yang memuncak.
Keesokan harinya, mereka pun pulang dengan Andy yang langsung mengemasi barang-barangnya, Anita hanya melihat sekilas dan tidak berani bertanya apapun karena apa yang dilakukan Andy ini seperti sudah disetir oleh opa Hardi sedemikian rupa.
“Secepat ini?” batin Anita meracau. Bahkan kalaupun Andy jadi pergi dan seandainya Harlina memintanya tinggal dengan mereka, Anita secara terang-terangan akan menolak.
Setidaknya itu adalah langkah awal Anita agar bisa hidup tenang tanpa tekanan selama ia bertugas menjaga kandungannya.
”Anita, kemarilah”
Anita menurut saja saat sore ini Andy sudah siap dengan barang bawaannya tanpa Jimmy disampingnya.
Namun belum juga Andy bicara apapun, dering ponsel lebih dulu mengganggunya.
“Ya, opa. Andy masih siap-siap ini, Penerbangan satu jam lagi? Opa tidak perlu menunggu Andy datang. Anna biar saja dia berangkat dulu. Tidak apa, kami bisa bertemu di sana , kan?”
Andy menghembuskan napas dengan bibir yang diruncingkan untuk menghalau sesuatu dalam tubuhnya.
Telinga Anita terasa gatal setiap kali nama itu disebut. Bahkan Andy yang sangat penurut terhadap kakek neneknya itu tak melakukan penawaran apapun.
Hingga Anita makin tahu diri siapa dan bagaimana posisinya di sisi Andy Hardiputra ini.
“Aku akan keluar kota dalam waktu yang belum ditentukan” ucap Andy setelah panggilannya berakhir “Kamu dirumah sini saja dengan Bi Umi tidak apa, kan?”
Anita hanya mengangguk patuh tanpa ucapan apapun. Hingga kemudian Andy yang membawa satu koper ukuran lumayan besar itu kemduain menarik pelan tangannya menuju depan pintu masuk dan menengok agar bi Umi tak melihat mereka.
“Anita, kalau ada sesuatu cepat hubungi aku. Kalau malam kamu tidak bisa tidur, letakkan saja ponselmu di dekat perut dan aku akan bicara apa saja sampai kamu tertidur”
“Pergilah!” usir Anita tak ingin mendengar pesan Andy yang panjang lebar. Toh untuk apa juga Andy berpesan terlalu banyak untuknya.
Anita sudah akan bergeser saat Andy kini malah mengunci dirinya ke dinding, Kedua lengan Andy bahkan berada di kedua sisi Anita untuk mengunci wanita itu ke dinding.
Melihat wajah Anita yang sayu, Andy yang sudah rapi dengan parfum maskulinnya kini mendekatkan wajah mereka,
“Anita, bolehkah aku…”
Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Andy keburu mencium kening Anita.
Sampai kemudian sebuah dering ponsel Andy yang mengagetkan Anita dan segera menyadarkan Andy.
“Brengsekk!”
Andy menekan tombol silent untuk mengacuhkan panggilan itu.
“Maaf, mulai saat ini aku akan meminta izinmu agar aku tidak menyakitimu”
Anita mendorong tubuh Andy lalu beringsut memasuki kamar karena tidak percaya dengan apa yang telah Andy lakukan meski hanya dengan sebuah perhatian kecil.
Andy kemudian menghubungi Jimmy “Jimmy, alihkan penerbangan saya ke lain kota, saat ini juga!”
**
“Bi Umi, bisa minta tolong temani saya ambil paket?”
Anita mengecek ponselnya dan menunjukkan pengiriman paket untuk barang pesanannya sudah hampir sampai.
“Biar bibi saja yang ambil, Nyonya atau bibi hubungkan dengan security seperti biasanya”
“Jangan, Bi” Anita sudah mengangkat telapak tangannya saat Bi Umi sudah akan menghubungi security untuk mengantar paket seperti biasanya “Jadi merepotkan semuanya. Lagi pula biar saya juga ada jalan kaki tidak duduk saja di rumah”
Bi Umi yang jadi tidak enak sekarang. Nyonya mudanya ini banyak menolak apa saja yang sudah menjadi fasilitasnya sebagai seorang istri Andy Hardiputra. Anita pun tak ingin memanfaatkan situasi dengan bermanja ria menyuruh siapapun yang ada didekatnya.
Anita yang sudah memiliki akses penuh atas rumah ini kini lantas menggamit tangan Bi Umi untuk bersamanya mengambil paket “Pesan apa, Nyonya?”
“Biasa, bahan pakaian saja, Bi, Saya mana berani pesan yang lain, itu kan bukan uang saya”
Bi Umi lantas mendongak melihat sebuah ketulusan terpancar dari wajah polos Anita yang begitu menentramkan.
“Tuan Muda Andy beruntung memiliki istri seperti Nyonya” puji Bi Umi yang sangat tahu siapa saja deretan wanita yang pernah Andy bawa pulang.
Anita hanya menunduk dengan senyum getir.
“Beruntung dari mana, Bi, Buntung, iya. Kami mungkin sama-sama…sial” ucap Anita mengambang masih dengan kegetiran yang nyata ditampakkan di hadapan Bi Umi.
“Tidak Nyonya, Ada ini yang menyatukan tuan muda dan Nyonya Anita”
Bi Umi membawa tangannya mengelus perut Anita hingga wanita itu pun menunduk melihat ke arah dimana sebuah kehidupan hasil ketidaksadarannya berada. Anita mengakui masih belum bisa menumbuhkan perasaan apapun untuk janin yang akan dibawanya sampai beberapa bulan ke depan.
“Tidak perlu di sesali, Nyonya. Diluar sana banyak pasangan yang menginginkan kehadiran buah hati namun sangat sulit mendapatkannya. Percayalah anak ini nantinya yang akan menyatukan tuan muda dan Nyonya Anita”
“Bi Umi salah! Justru anak ini yang nantinya akan memisahkan kami, Bi” batin Anita coba berbesar hati dan menyiapkan dirinya saat setelah melahirkan nanti ia tak lagi bertemu wanita baik seperti Bi Umi ini.
Sesampainya di depan teras rumah, Anita yang sudah menunggu pesanannya datang kini berdiri sambil melihat hiruk pikuk sekitar. Sebuah pemandangan tersendiri bagi Anita yang mungkin bosan hanya melihat langit dan tembok dari satu sisi saja.
Sebuah trolley seperti untuk belanja kini sudah berada ditangan saat beberapa lembar kain dan perlengkapannya datang. Bi Umi langsung membantu memasukkannya ke dalam trolley.
Hingga kemudian mereka berbalik badan dan akan kembali memasuki rumah dan terdengar suara.
...Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...
...Tetap dukung othor yah dengan mengikuti cerita di bab selanjutnya….salam hangat selalu...