
“Opa ini kok seperti mau menjodohkan Andy dengan wanita lain, Apa maksudnya?”
Keesokan paginya…
“Apa? Kecelakaan? Itu kan pesawatnya Andy !” pekik Herlina dengan tubuh gemetar saat melihat berita yang menghebohkan pagi ini di siaran nasional.
Sebuah pesawat jet pribadi dari Sulawesi menuju Jakarta jatuh dan terbakar diperairan dekat Kalimantan,
Dengan tangan gemetar pula Harlina menghubungi nomor cucunya namun tidak ada tanggapan, Menghubungi nomor Jimmy juga sama.
Sementara opa Hardi yang tak kalah kaget meminta sang asisten menghubungi siapa saja yang terlibat dalam urusan bisnis cucunya di sana. Memegangi dadanya yang nyeri, Hardianto tak bisa berbuat apapun ditubuhnya yang terlalu tua.
Sejenak suasana kediaman Hardianto Santoso mencekam dengan kedatangan dua dokter dan pengacara untuk mengurusi dua orang tua yang langsung terganggu kesehatannya mendengar berita yang belum terkonfirmasi kebenarannya.
“Halo, Bi Umi. Tolong jauhkan Anita dari berita apapun hari ini, Pesawat Andy mengalami kecelakaan.”
“Tuan muda Andy kecelakaan?” ulang bi Umi dengan suara keras sampai mengelus dadanya sampai tidak sadar dibelakangnya ada sosok Anita yang berdiri mematung dengan hembusan napas yang tersengal.
Entah apa yang harus Anita rasakan saat ini. Meski ia sangat membenci sosok Andy yang kejam dan arogan, namun mendengar Andy kecelakaan seperti ini ia tetap manusia biasa yang merasa hampa.
Bi Umi membalikkan badan dan begitu kaget dengan keberadaan Anita yang tanpa suara dan tanpa ekspresi sama sekali.
“Nyo_nya muda?”
“K-kecelakaan? Andy kecelakaan?” Tanya Anita terbata
Harusnya dia senang Andy mungkin mendapat balasan dari perbuatan kejinya. Namun mengingat sesuatu yang buruk di pikirannya, untuk pertama kali Anita kini mengelus perutnya.
Apa yang ia rasakan saat ini? Mengapa ada sesuatu yang sakit di sudut terkecil hatinya?
Anita membanting tubuhnya di sofa dengan perasaan tidak karuan, tenggorokannya tiba-tiba tercekat.
“Nyonya muda, Nyonya besar berpesan agar saya menjauhkan berita apapun, maaf”
Anita menggeleng kecil. Nuraninya sebagai manusia biasa tetap berjalan “saya harus apa, Bi?”
Bi Umi pun menggeleng tak mengerti “Kita tunggu kabar saja, Nyonya. Apa nyonya merasa tidak enak badan?”
“Saya tidak apa!”
**
“Jimmy cepat hubungi opa atau siapapun di rumah. Kembalikan se-kondusif mungkin. Biar saja berita beredar. Biar mereka menganggap saya mati!” perintah Andy pada asisten setianya.
Mendarat di bandara dengan selamat, Andy yang mengenakan jaket, topi dan kacamata hitam itu kini berjalan biasa saja meski ia nampak waspada.
Melewati ruang crisis center dimana pusat kendali berita insiden penerbangan ada di sana, Andy jelas menyapu banyak sekali wartawan yang berkumpul memenuhi depan ruangan itu.
Ia segera berjalan cepat menaiki taksi apa saja yang lewat. Sementara ia berpencar dengan Jimmy yang langsung meluncur ke rumah kakek neneknya.
“Halo, bagaimana hasil sementara?”
Andy mendengarkan dengan seksama penjelasan dari salah satu tim penggerak dilapangan soal dugaan sabotase yang menimpa pesawat pribadinya hingga bisa mengalami kerusakan dan hingga akhirnya terjatuh saat mengudara.
“Apa?Hehh! Sudah kuduga. Tetap awasi. saya minta tim khusus untuk memperketat pengamanan”
Andy menurunkan pelan ponsel yang menempel di pipi kanannya saat ini. Meski mengenakan kacamata hitam untuk menutupi wajahnya namun pandangannya juga nampak menggelap.
“Brengsekkk! Sudah lama tidak muncul aku pikir sudah mati! Ternyata malah bikin gara-gara, awas saja!” geram pria itu lalu meminta supir taksi mengantarnya ke suatu tempat.
**
“Kamu tidak sedang berbohong, kan Jimmy?” Tanya Harlina dengan suara lemas.
“Maaf sudah membuat Tuan besar dan Nyonya menjadi sakit. Kejadiannya memang begitu cepat dan untung saja Tuan Muda mengambil keputusan yang tepat untuk menaiki pesawat komersil saat kembali”
“Lalu dimana Andy sekarang? Hubungi dia, Saya tidak yakin kalau kamu tidak bohong, Jimmy”
“Maaf, tuan muda membawa ponsel saya. beliau sedang apa perlu saat ini”
Jimmy segera menyingkir membiarkan kedua orang tua itu beristirahat setelah mendapat penanganan dokter keluarga dengan berita itu.
Hardianto sendiri kini termenung di kursi tunggal dengan bantalan super empuk di atasnya.
Membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada cucunya sungguh tak bisa di terima otak pria tua itu kini.
Andy yang sudah digadang menjadi satu-satunya ahli waris kini harus berhadapan dengan bahaya. Opa Hardi sungguh cemas dan khawatir dengan bahaya yang menimpa Andy.
“Tuan Hardi…” Arvan, pengacara pribadi Hardianto kini mengambil sebuah kursi untuk didekatkan kepada pria tua yang sedang duduk termenung “apakah Tuan Andy benar selamat”
Hardianto mengangguk lega meski tak ditampakkan dalam gurat wajah yang sudah penuh kerut. “Apa ada bau Abraham di sana?” tebaknya kemudian.
Dan sialnya Arvan mengiyakan hingga membuat Hardi makin murka meski ia belum mampu menggerakkan tubuhnya yang masih lemas setelah dadanya terasa sesak sekali.
“Sudah membunuh kakaknya, sekarang Andy pula yang jadi sasaran. Kenapa tidak dia saja yang mati! Terkutuk aku punya anak seperti itu!”
“Sabar, Tuan besar. Tim lapangan masih terus melakukan pencarian dan penelusuran. Tuan Andy juga rupanya membiarkan berita meluas agar bisa mengintai pergerakan Tuan Abraham selanjutnya”
“Apa indikasinya?” Hardi melirik Arvan yang penuh dengan spekulasi dan pemikiran yang sering tepat sasaran. Pria itu sudah siap dengan banyak berkas ditangannya.
“Masih hal yang sama. Penerima manfaat asuransi Tuan Andy masih atas nama nyonya Yeni”
“Ubah segera!” perintah Hardi tidak akan memberi celah untuk anak bungsunya yang sudah membuat hidupnya gagal sebagai orang tua.
Arvan mengangguk dan sudah paham apa yang akan ia lakukan.”Baik segera akan dilaksanakan”
“Abraham sepertinya sudah terhimpit. Bisa-bisa suatu saat nanti aku yang jadi sasarannya. Asetku masih berapa banyak yang belum aku ganti nama?”
“Masih banyak, Tuan Besar”
“Hehh, menunggu anak Andy lahir masih lama sekali”
“Kita bisa mengalihkan sementara atas nama Nyonya Anita. Dengan begitu keberadaan asset Tuan tidak akan mudah terbaca oleh Tuan Abraham.”
Hardianto melirik tajam ke arah Arvan yang memberikan ide gila namun tidak ada jalan lain. Andy makin dalam bahaya jika dia memberikan semua asset miliknya atas nama cucunya itu.
“Opa, mau sampai kapan seperti ini?” Harlina tetiba muncul di dekat kedua pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Meski Abraham jelas merupakan sumber kekacauan, namun sebagai seorang ibu ia tak ingin keluarganya terpecah belah seperti ini.
“Oma, mengapa bangun? Istirahat lagi. Andy sudah tidak apa”
“Andy dalam bahaya tapi Opa malah membuat situasi semakin membahayakan. Kita tidak bisa seperti ini terus, lebih baik lebih cepat oma akan umumkan pernikahan Andy secepatnya!”
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Apakah Hardi akan mengalihkan sementara atas nama Anita dan setuju dengan rencana Harlina?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned