One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 21



“Bapak, Ibu, lihat. Itu ada yang bulat kecil seperti ada sesuatu di dalamnya, Itu calon bayinya, dia berenang didalam sini. Belum ada bentuknya. tapi kalau dilihat dari ukuran dan beratnya., dia tumbuh sehat lho”


Andy tertegun. ia mencoba mencerna ucapan dokter yang seperti menuntun otaknya untuk mengartikan layar hitam di depannya.


“Anak?” batin Andy terus mengulang satu kata itu. Apa itu anak, bahkan sebuah pernikahan saja belum pernah ia bayangkan. Namun semua telah terjadi dan kini ia harus menambah kosakata dalam kamus hidupnya, Ya, Andy bahkan tidak pernah terpikir bagaimana ia nanti akan menjadi orang tua di hari ke depan.


“Apa dia hidup?” Tanya Andy refleks begitu saja meluncur dari bibirnya hingga membuat Harlina menahan nafas barang sejenak.


Anita tetap saja membuang wajahnya tak ingin melihat atau mendengar soal kehamilannya saat ini. Harlina pun sedih melihat sikap Anita yang belum menginginkan calon anaknya.


“Tentu, Bapak. Dia calon buah cinta bapak dan ibu. Dia akan tumbih bersama cinta kedua orangtuanya di dalam rahim ibu, Selamat ya bapak dan ibu akan menjadi orangtua yang hebat!”


Jlebb!


Seperti ada senjata besar yang menghantam sanubari Andy saat ini melihat hanya ada tampilan gambar yang jelas bergerak seolah menari di depannya, Sesuatu yang tumbuh hidup begitu nyata dan akan memanggilnya ‘ayah’ suatu hari nanti,


Tiba-tiba Andy membuang nafasnya kasar, bibirnya kini kelu. Entah siapa yang menggerakkan tangannya kini mencari sebuah genggaman untuk menghangatkan tubuhnya yang dingin.


Andy meraih jari Anita tanpa melihatnya. Pandangannya masih tertuju pada layar monitor, meski penjelasan dokter sudah tidak seberapa masuk di telinganya. Sesuatu yang ajaib kini dilihatnya seksama. Sesuatu yang tak sengaja ia buat namun bisa tumbuh dan akan menjadi anaknya kelak.


Merasakan ada sesuatu yang menggenggam jarinya lumayan erat, Anita mendongakkan kepalanya, ternyata Andy yang kini begitu tercengang tak sadar.


Namun bukannya luluh, Anita malah menyeringai tak suka, ia berusaha menarik tangannya namun Andy masih menahannya kuat, Andy makin kuat meremas jemari Anita dan memasukkan buku-buku jari mereka.


“Itu….anak kita!”


Setelah selesai melakukan pemeriksaan kandungan, mereka pun kembali ke rumah.


“Oma, boleh saya langsung masuk kamar?” Anita mengusap kedua lengan atasnya sendiri lantaran merasa entah kedinginan atau seperti meriang,


Harlina mengangguk lalu mengecup pipi cucu menantunya “Jaga kesehatan dan tidak usah banyak bergerak. Makan yang rutin seperti biasanya meski dimuntahkan tidak apa” pesan Harlina singkat lalu Anita langsung menuju ke kamarnya.


Berada di kendaraan sungguh membuat perut Anita terguncang tak enak. Semua organ dalamnya terasa tak karuan, Ia memilih menenggelamkan diri dibalik selimut tebal.


“Andy, mulai hari ini tolong kamu lebih banyak perhatikan istrimu. Ada banyak obat dan vitamin yang perlu rutin dia minum dan tidak boleh terlewat. Kamu bertugas mengingatkan. Tidak usah ikut terpancing emosi saat Anita menolakmu, Ingat, dia seperti itu juga karena siapa?”


“Kalau dia tidak ingin melihat Andy bagaimana, Oma?”


Harlina mengutas senyum penuh keibuan “Apa kamu pria yang pantang menyerah, Andy? Wanita akan luluh jika pria terus memberikan sentuhan kasih sayang, Oma pulang dulu, tidak usah di antar”


Andy membanting raganya di sofa ruang tamu saat Harlina sudah menghilang dari pandangannya. Pikirannya seolah dipaksa melaksanakan sesuatu yang dirinya tidak bisa mencernanya.


Tiba-tiba menikah dan tiba-tiba pula akan memiliki seorang anak. Kehidupan apa yang dilakoni Andy selama ini jauh dari dua bayangan itu. Pria itu seperti berada di tengah hutan belantara yang buta akan apapun.


“Silahkan tehnya, Tuan Muda”


Andy yang dari tadi memijat pelipisnya melirik Bi Umi yang membawa baki dengan beberapa makanan.


“Mau ke kamar Anita, Bi?”


“Iya, Tuan, Makan siang Tuan Andy sudah siap di meja makan”


Bi Umi mengangguk lalu bergegas memasuki kamar Anita dan meletakkan makan siang itu di atas meja kecil samping tempat tidur.


Melihat Anita yang tertidur di balik selimutnya, Bi Umi jadi tidak tega mambangunkannya. Ia paham betul bisa tertidur pulas adalah anugerah terbesar bagi ibu hamil yang sering sulit menemukan dunia mimpinya.


“Maaf, Tuan Muda,. Nyonya sedang tidur. bibi tidak tega membangunkan”


“Biarkan saja dulu” jawab Andy kini menikmati makan siangnya yang sangat telat. Terlebih lagi tadi pagi ia bahkan belum sempat sarapan.


Baru saja Andy akan berganti pakaian karena Harlina melarang Andy pergi ke kantor, ponselnya berdering,


“Ckk! Apalagi, sihh!” decak Andy lama-lama kesal karena Harlina tidak membiarkannya tenang sedikit saja.


“Apa lagi, Oma?”


“Anita sudah makan dan minum obat?”


“Dia tidur, Omaaaa” jawab Andy memanjangkan nama neneknya di akhir kata. Pria itu sampai menarik dasinya kasar untuk melampiaskan kesalnya.


“Dibangunkan, Andy. Anita tidak boleh telat makan dan minum vitaminnya. Nanti kalau sudah makan baru bisa tidur lagi. Bangunkan dia, Andy!”


Andy membanting ponselnya ke kasur dan membiarkan suara neneknya mengoceh sendiri. Padahal dia juga belum sampai dirumahnya,


Berganti pakaian biasa, Andy melirik panggilannya baru berakhir. Dihubunginya kemudian nomor Jimmy yang tidak pernah jauh darinya meski saat ini tidak terlihat di depan matanya.


“Halo, Jimmy. Pekerjaan beberapa hari bawa ke sini saja. Saya kerja dari rumah hari ini. beberapa pertemuan biar wakil saja yang handle. saya pantau dari online meeting”


Menjadi pimpinan tertinggi tidak hanya satu perusahaan membuat Andy tidak bisa tenang menjalani harinya meski sedang berada di rumah, Bertahun-tahun merintis usaha, baru kali ini Andy merasakan libur di siang hari.


Baru teringat ia memilik tugas membangunkan Anita, ponsel Andy berdering dari nomor yang entah berapa lama tidak menghias layar ponselnya.


Sebuah nama yang bahkan Andy lupa kalau masih memilikinya di dunia ini, Pria itu sebenarnya ragu untuk menerima, namun biar bagaimana ada sebuah naluri yang mendorongnya untuk menggeser layarnya ke atas. Tanpa bersuara apalagi menyapa, Andy hanya menempelkan ponsel ke telinganya.


“Halo, Andy. Bagaimana kabar anak mama?”


Andy menelan salivanya susah payah dengan benjolan dilehernya yang bergerak menurun dan urat leher yang ketarik kaku.


“Ada apa?” jawab Andy datar begitu pula dengan pandangannya.


“Kamu baik-baik saja kan Sayang? Mama baru saja mencari mu di rumah tapi tidak ada. Di Perusahaan jejak mama sudah kamu hapus akses ke sana. mama merindukanmu ,Andy. Mama…ingin kita berbaikan”


“Tidak usah basa basi. Asal tahu Andy masih hidup, tidak perlu bertanya apapun!”


Bagaimana kelanjutan cerita ini?


Apa yang terjadi antara Andy dengan ibunya?


Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned