One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 11



Harlina langsung membalikkan tubuhnya “Ada apa ini? Apa ada yang kalian sembunyikan dari oma, hemm? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Victor Susanto itu?”


Hardianto dan Andy tidak ada yang berani menjawab. Sampai kemudian ponsel Harlina berdering dari rumah sakit karena dirinya yang menanggung biaya pengobatan Anita selama di sana.


“Halo, iya, apa? Percobaan bunuh diri?”


“memang semirip apa dia dengan anaknya si Victor itu?” Tanya Hardianto kala bersama istrinya kini meluncur ke rumah sakit tempat Anita di rawat.


Harlina pun memicing mengingat lagi wajah Anita yang sempat dia panggil Ratih itu, lalu menatap tajam suaminya.


“Katakan, opa. Mengapa opa menyuruh cucu kita untuk melakukan tindakan bodoh seperti itu? Biar Andy yang menyelesaikan masalahnya sendiri, untuk apa Opa memberikan ide gila untuk menyiksa anak orang!”


“Hehh! Opa hanya mengajarkan Andy untuk meninggikan harga dirinya sebagai lelaki!”


“Tapi lihat akibatnya, Andy malah melampiaskan kemarahannya pada orang yang salah sampai seperti ini. lalu siapa juga yang repot? Kasihan gadis itu!” potong Harlina ikut emosi apalagi mengingat video yang sengaja direkam Andy dengan cerobohnya “Untung saja dia tidak menyerahkan video itu ke polisi!”


“Ya mana opa tahu kalau si Andy bakal salah culik. Lagian juga biar si Victor itu juga belajar menjaga mulut anaknya yang sudah kurang ajar!” Hardianto sampai mengetuk pangkal tongkatnya ke lantai mobil yang dinaikinya.


Harlina kini menggeleng tak paham maksud suaminya yang hanya menjadikan kelakuan Ratih sebagai alibi menyerang perusahaan Victor yang notabene menjadi saingan bisnisnya.


“Opa sudah tua, sudah jangan intervensi Andy lagi. Biar dia memutuskan apa yang perlu dia lakukan! Kecuali…untuk jodoh. Pekerjaan rumah kita tinggal itu saja ke Andy”


“Dan oma begitu saja mau menikahkan cucu kita dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya? Kalau hanya karena hamil bisa saja kita suruh Andy menghamili si Claire!”


“Hush! Mengapa malah mengajari Andy menabur benih kemana-mana!” kesal Harlina sampai menepuk paha suaminya dengan sewot. “Banyak wanita yang ingin dinikahi Andy, tapi belum tentu mereka mau hamil dan memberikan kita penerus. Apa lagi Claire itu model yang sangat menjaga bentuk tubuhnya”


Hardianto mengangguk dalam diam namun pikirannya terus berjalan “Emm. Oma Tolong belikan opa sesuatu di minimarket. Opa tidak bisa sedikit saja lapar sekarang”


Harlina mencebikkan bibirnya lalu meminta supir untuk menepi sebentar ke sebuah minimarket. perempuan tua itu kemudian turun sendiri untuk membeli sebungkus roti untuk suaminya.


sementara Hardianto kini menghubungi salah seorang anak buahnya tanpa sepengetahuan sang istri.


“Halo, cari tahu ada gadis bernama Anita di kamar 1106. iya, di National Hospital. secepatnya!”


“Lho. opa kenapa?” Tanya Harlina cemas sekembalinya dari minimarket dan mendapati suaminya terduduk lemas di seat mobilnya.


“Sepertinya opa tidak enak badan. kita putar balik saja”


“Hemmph!” Harlina kembali mencebik dengan keras kepala suaminya, “Tadi kan oma sudah bilang tidak usah ikut ke rumah sakit malah ngeyel! ya sudah, kita pulang saja!”


Sementara itu.


Disebuah ruangan terdengar suara “Tidak! hentikan!” pekik Andy tergagap dalam dunia mimpinya hingga kemudian terbangun dengan nafas terengah.


“Mimpi buruk lagi, Andy?” Harlina yang duduk di sofa tinggal menunggu dengan sabar hingga cucunya itu terbangun dengan sendirinya kini mengambil segelas air lalu memberikan pada Andy yang mengusap keringat dinginnya.


“Oma sudah lama berada disini?”


“Mengapa tidak tidur dirumah saja? apa enaknya tidur di kantor seperti ini?”


“Sampai kapan kamu ketergantungan dengan obat itu?”


“Sampai Andy bisa melarikan diri dari mimpi buruk!” Andy kembali merebahkan tubuhnya yang berat di sofa ruang kerjanya. bayangan demi bayangan yang selalu menghantuinya terus berputar dalam memorinya hingga trauma masa kecilnya seolah terus mengikutinya.


“Ikhlaskan dan lepaskan, Andy. Mulailah mencari kebahagiaan sejati, Bukan untuk kesenangan sesaat. Mereka itu tidak bisa mengobati luka hatimu”


Andy yang mencoba kembali memejam setelah meminum obat penenang itu malah risih dengan ucapan nenek nya yang membuat telinganya gatal.


“Oma bukannya tadi ke rumah sakit, ya? napa malah ke sini?”


Harlina yang sudah tua itu masih harus menambah porsi kesabarannya menghadapi dua orang lelaki berhati batu dalam hidupnya.


“Opamu mendadak tidak enak badan” Harlina kini melepas alas kaki yang masih terbawa Andy saat tidur “sudah makan? Oma bawa makanan. masih hangat”


Andy segera membangunkan tubuhnya melihat perhatian neneknya yang tidak kenal lelah mengasihinya meski usianya sudah berkepala tiga. Perlakuan lembut khas seorang ibu, Harlina dengan telaten menyiapkan makan untuk cucunya.


Andy mengangguk menikmati makanan yang telah disiapkan neneknya, Padahal raganya sedang lelah dan ingin memejam barang sedikit saja saat ini.


“Kamu tidak ingin tanya kondisi Anita saat ini, Andy?”


“Harus?”


Andy kini baru paham mengapa neneknya datang ke kantornya malam ini dan susah payah membawakannya makanan. Nafsu makannya langsung hilang karena sudah bisa ditebak akan kemana arah pembicaraan mereka.


“Apa oma mengajarkanmu menjadi pria tidak berperasaan? Anita mencoba menggugurkan kandungannya dengan meminum cairan pembersih lantai. Dia begitu frustrasi dengan kehamilannya”


Andy yang menghentikan kegiatan makannya lantas termenung dengan pandangan kosong “Lalu, dia jadi keguguran?”


“Andy! Kamu jangan keterlaluan! Dia jadi seperti ini juga karena siapa!”


Andy menyingkap selimut yang menutupi kakinya lalu berdiri menghindari kejaran neneknya yang mencecarnya tanpa dia merasa siap.


“Andy juga sudah membayar biaya pengobatan ibunya, Oma. Apa lagi?”


“Apa itu cukup? Beban mental seorang perempuan yang hamil di luar nikah itu tidak akan pernah terobati oleh apapun, Andy! Mati-matian dia bekerja demi kesembuhan ibunya. Lalu kalau hamil begini apa yang bisa dia lakukan? Kamu pikir menggugurkan kandungan itu tidak beresiko?”


Andy tidak lagi membantah dan memilih menghadapkan tubuhnya ke dinding kaca super besar di ruang kerjanya. Andy nampak bingung dan sedang berpikir karena sebenarnya dia takut dan trauma dengan pernikahan kedua orangtuanya dulu.


“Nikahi Anita, Andy. Anak itu adalah darah dagingmu. hasil perbuatanmu sendiri. Kamu mampu bertanggungjawab atas perusahaan sebesar ini. Tapi kamu terlalu kecil untuk bertanggungjawab terhadap satu orang gadis saja”


Andy kembali menggeleng cepat. Sebuah kata pernikahan terlalu traumatik di dalam kamus hidupnya. Bayangan pernikahan kedua orangtuanya yang kacau mau tidak mau kembali hadir. Harlina kini pun menghampiri cucunya dan memeluk kedua pundaknya “Kamu akan tahu apa itu bahagia dan tanggungjawab yang sebenarnya saat kamu memiliki keluarga, Andy”


Bagaimana kelanjutan cerita ini?


Apakah Andy akan bertanggungjawab menikahi Anita?


Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned