
Anita tak menjawab, ia hanya mengangguk patuh apapun yang diucapkan wanita tua itu. Dalam perjalanan, Anita mencoba memejam untuk menghalau rasa mualnya, namun bayangan Anton kini menghampirinya. Anita membuang nafasnya besar dan men sugesti dirinya untuk melupakan pria itu dan kembali fokus dengan tugasnya menjaga kehamilan ini sebaik mungkin.
Sesampainya diperusahaan, Anita yang kedua kalinya ke sini kemudian turun digandeng Harlina memasuki lift eksekutif yang tidak semua orang bisa memasukinya. Keluar dari pintu lift seorang petugas keamanan dan staf lain sudah menyambut mereka.
Anita yang masih belum melepas maskernya kini tertunduk malu bercampur gemetar. Gambarannya tentang bagaimana Andy saat bekerja sungguh tak pernah masuk dalam otaknya.
Sekretaris Andy sudah menginfokan bahwa atasannya sedang ada tamu, namun Harlina tidak peduli. Toh ini juga sudah memasuki jam istirahat, Harlina akhirnya nyelonong masuk saja membuka handle pintu ruangan.
“Kejutann!” seru Harlina memasukkan tubuhnya hingga sejurus kemudian ia terdiam mematung melihat pemandangan yang Anita sendiri juga pasti melihatnya “Andy! Anna! Sedang apa kalian!”
“Anna itu mewakili perusahaan orangtuanya yang akan ikut tender di kantor”
“Oohh” balas Anita datar saat mereka berdua kini sudah berada dalam satu kendaraan menuju kediaman mereka sore ini.
Anita yang sedang menumpukkan kepala pada telapak tangannya itu sedang tidak fokus pada Andy yang duduk di bangku kemudi. Pikirannya jelas melayang kemana-mana meski ia sudah berusaha menghilangkannya.
“Ternyata dia satu almamater denganku di Jepang, Beda jauh sih angkatannya tapi jurusan kami sama”
“Ohh” balas Anita sedikit tak minat dengan cerita suaminya.
Bahkan terhadap gadis muda dengan penampilan menarik bak bule benua Eropa itupun Anita masih datar-datar saja, meski Harlina lah yang emosi melihat Andy begitu dekat dengannya diruangan CEO dan hanya berdua saja.
Andy sampai senyum-senyum sendiri mengingat sang oma yang sangat murka saat mendapati Andy begitu akrab padahal mereka juga baru pertama bertemu.
“Terbiasa tinggal di luar, wajar kalau dia seperti itu, Oma terlalu berlebihan sampai mengusir Anna, padahal dia itu calon rekan kerjaku nantinya”
“Lebih dari itu juga tidak apa!” sahut Anita meski tidak dengan suara lantang, namun terdengar menusuk ditelinga Andy yang lantas sadar diri dengan kondisinya saat ini.
Andy tak lagi bicara, pandangannya lurus ke jalan raya saat mengemudikan kendaraannya sendiri bersama Anita yang tak lagi bengis terhadapnya.
“Kamu…sudah tidur dengan berapa wanita sebelum denganku, Andy?”
Raut wajah Andy tetiba berubah dari yang tadinya sedikit ceria lantas menautkan kedua alisnya.
“Mengapa?” Tanya balik Andy dengan suara dingin kali ini.
“Mengapa salah satu dari mereka tidak ada yang hamil?”
“Kamu menyesal?”
Anita mengedikkan bahunya. Bahkan sampai dengan saat ini Anita masih berharap semuanya adalah mimpi buruk. Meski Andy sudah bertanggungjawab atas dirinya, bahkan ibunya sebagai imbalannya, Anita tetap saja merasa tersiksa hidup dengan penuh kepalsuan seperti ini.
“Siapakah aku ini, Andy. Apa gunanya aku menyesal, Toh semuanya juga sudah terlanjur terjadi” Anita menghembuskan nafasnya besar lalu menarik tuas seat dan membanting punggungnya dengan keras ke sandaran kursi yang sudah di posisi setengah tidur.
“Anita….” Andy mulai tak fokus kali ini. Dari ucapan wanita itu jelas menyiratkan sesuatu yang tertahan di dalam diri Anita dan yang tak bisa diungkapkan dengan gamblang “Kamu tidak enak badan?”
“sedikit” jawab Anita lalu mencoba memejam saja daripada terus berbicara
**
“Tidak bisa dibiarkan! Sampai kapan mereka akan seperti ini. Pernikahan itu kan tidak main-main!” gerutu Harlina bersungut berjalan cepat sesampainya di rumah.
“Pulang-pulang bawa belanjaan banyak tapi masih saja mengomel!” sindir opa Hardi seraya menghisap cerutunya melihat sang istri yang bukannya menyapa malah main jalan lurus tanpa melihatnya.
Harlina dengan sepatunya kemudian mengerem langkahnya kemudian membalikkan badan menghadap suaminya.
“Opa, sampai kapan kita harus merahasiakan pernikahan Andy? Apa kata dunia nanti kalau mereka bilang tiba-tiba Andy punya anak dengan siapa?”
“Anita tidak sengaja bertemu dengan teman lamanya tadi. Siapa yang tahu dulu mereka berpacaran , lalu cucumu seenaknya bermesraan dengan Anna diruang kerjanya. Apa itu pantas?”
“Mereka masih muda”
“Tapi mereka itu calon orang tua! Opa ini gimana,sih!” sungut Harlina lantas pergi dan tak ingin berdebat lagi dengan suaminya.
Melihat istrinya yang sewot, Hardi lantas tersenyum licik dengan ujung cerutu di bibirnya.
“Hehh! Siapa juga yang mau punya cucu menantu yang bukan dari golongan siapa-siapa? Keluarganya juga gak jelas! Bikin malu saja!” gerutu Hardianto kemudian memanggil asistennya untuk menghubungkan ke ponsel seseorang.
“Halo, bagaimana? Ohh. sudah kekantor rupanya. Bagaimana Andy? Jelas, siapa dulu dong opanya”
Hardianto kemudian terkekeh persisi popeye si pelaut dengan giginya yang tak lengkap lagi dan sebuah cerutu yang mengepul di bibirnya “Owhh, pasti Andy itu semua apa kata saya. Pasti, pasti Perusahaan Anda akan memenangkan tender, tenang saja”
Sementara di salah satu sudut taman belakang rumah, Harlina kini duduk menghadap ke sebuah kamera yang sudah diatur mendadak oleh asisten pribadinya. Tanpa sebuah teks, ia bicara dengan tegas bahkan tanpa salah sedikitpun.
“Bagaimana? Ada yang kurang pas?”
Sang asisten memutar lagi video yang baru saat direkam lalu mengangguk yakin.
“Tolong atur kan sebagus mungkin dan tambahkan foto dan video Andy dengan porsi yang pas. Saya tidak mau bertele-tele ataupun terlihat lebay. Setelah jadi kirim ke saya dulu, Segera. jangan lama-lama!”
“Baik, Nyonya Besar”
Harlina lantas mengangkat kedua alisnya melihat suaminya dari kejauhan “Kita lihat kamu masih bisa apa. Dasar tua tidak tahu tobat!”
**
Sesampainya di rumah mereka, Anita yang tadinya mengeluh tidak enak badan memilih segera mandi lalu duduk di sudut favoritnya kini.
Menggambar sketsa semi sketsa seperti ini memang healing tersendiri baginya. Anita seolah melupakan kegetiran hidupnya.
Namun kali ini ia sepertinya salah sasaran.
Menggambar sketsa malah mengingatkannya pada saat kuliah dulu. Lebih parahnya lagi ia teringat pada sosok Anton yang bahkan pernah ia buatkan sketsa gaun pernikahan mereka di masa depan.
“Maafkan aku Anton, Mudah-mudahan kamu berjodoh dengan wanita yang lebih baik, bukan yang kotor sepertiku” batin Anita kemudian membanting pensilnya dengan kasar lalu meletakkan kepalanya dengan lemas di atas meja.
Andy yang baru keluar dari kamarnya lantas memperhatikan Anita yang terkulai di mejanya. Dengan langkah tenang, Andy lantas mendekat dan mendapati beberapa kertas dengan gambar desain baju yang lumayan detail juga.
“Lumayan”
“Hahh!” Anita terjingkat mendengar suara Andy di atas kepalanya, lalu mengangkat kembali badannya duduk dengan tegak.
“Kamu jago gambar, kenapa dulu putus kuliah?” kata Andy.
“Karena…..”
Bagaimana kelanjutan kisah ini?
Kira-kira apa jawaban dari Anita?
Nantikan di bab selanjutnya…….