
“Kenapa ke sini, Oma?”
“Gara-gara ini!” Harlina sampai melempar ponselnya sendiri yang masih menyala ke arah cucunya “Gara-gara kamu, Anita jadi trauma dan ketakutan. Kamu sudah merusak anak orang yang tidak tahu apa-apa, Andy?”
Andy memungut ponsel yang menayangkan file video yang masih tersimpan di dalam ponsel milik neneknya. Andy sendiri tak mengerti setan apa yang merasukinya saat itu,
Begitu tersinggung luar biasa terhadap mulut gadis muda seperti Ratih hingga membuatnya seperti kerasukan saat menyiksa Anita tanpa ampun.
“Kamu harus meminta maaf pada istrimu! Trauma seperti itu sulit disembuhkan jika bukan dari kamu yang berubah!” ketus Harlina memberi ultimatum keras pada cucunya.
Andy kini tertunduk bertumpu pada kedua lengannya. Dipandangi lantai rumah sakit meski pandangannya tak fokus kemanapun.
“Meski kamu belum bisa mencintai dia, setidaknya beri sedikit empati mu. di dalam tubuhnya sekarang ada calon anak kalian. Anita begitu trauma setiap kali serangan kehamilannya datang. Dia selalu teringat penyiksaan yang kamu lakukan, Andy”
Andy masih bergeming, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini,
“Andy, oma tidak pernah mengajarkan kamu kekerasan bukan?” Harlina mulai mengulurkan tangannya menggenggam jemari Andy dengan tangannya yang berlapis kulit berkerut tanda usia yang tidak lagi muda “Meski opa sangat keras padamu. namun oma selalu memberi kasih sayang untukmu kan, Nak?”
Andy mengangkat wajahnya melihat wajah teduh sang nenek yang diakuinya mampu mengembalikan dirinya sebagai anak yang tak kekurangan kasih sayang pasca dirinya terpisah dari orangtuanya.
Beberapa saat kemudian, Andy mengangguk pelan lalu mengecup pucuk tangan neneknya yang menggantikan posisi ibunya saat ini, “Terima kasih, Oma”
Andy segera berdiri dan melongok ke ruang konsultasi dimana Anita masih berdua saja dengan seorang dokter spesialis penyakit jiwa. Pria itu sedikit menjinjitkan kakinya demi melihat Anita yang kini menangis kala bicara berdua dengan dokter,
Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas ada nama Andy didalamnya,
“Apa masih lama, Oma?”
“Memangnya kamu mau kemana? Kamu mau masuk juga untuk menyembuhkan trauma mu yang tidak sembuh-sembuh itu?”
Andy jelas menggeleng tak minat. Meski ia juga memiliki trauma yang tak kalah terpendam di masa lalunya namun untuk bertemu dengan dokter spesialis kejiwaan sudah menjadi hal yang membosankan untuknya.
“Masih ada pekerjaan yang—“
“Oma meminta kamu libur, Andy!” sembur Harlina tak akan pernah bisa dibantah oleh pria gila kerja itu.
Alhasil kini Andy hanya bisa meminta asistennya membawakan computer tablet sembari menunggu Anita yang tengah melakukan konseling. Menggeser duduknya lebih menjauh dari tempat neneknya berada, Dave kini terlihat melakukan panggilan entah dengan siapa.
Harlina sampai geleng kepala melihat Andy sudah bekerja tanpa mengenal waktu dan tempat. Dilihatnya Andy yang menaikkan volume suaranya hingga membentak dan mengumpat dalam panggilan teleponnya. Separuh dunia seakan berada di kedua pundak pria tiga puluh tahun itu sekarang.
Hari hampir siang saat Anita kemudian keluar dari ruangan dokter dan langsung disambut oleh Harlina yang mengelus kedua pipinya.
“Bagaimana perasaanmu, Anita? sudah lebih tenang?”
Anita mengangguk saja meski perasaaannya masih tak karuan. Demi menghargai Harlina yang sudah begitu baik padanya. Anita kini mengutas senyum meski tak ingin.
“Sekarang kita periksa ke dokter kandungan, ya”
“Tidak, Oma!” cegah Anita gelisah, Ia tidak siap, tak akan pernah siap. Anita bahkan ingin melupakan bahwa dirinya tengah hamil akibat perbuatan dengan pria yang ingin sekali dilempar sejauh mungkin dari hidupnya.
Meski tak dipungkiri fisik Andy begitu sempurna, namun luka hatinya sepertinya tidak akan bisa terobati sampai kapanpun. Anita tidak akan bisa mencintai kehamilannya.
“Andy, ayo kita geser ke dokter kandungan. Makin cepat lebih baik dan kita bisa langsung pulang. Kasihan anak dan istrimu sudah lapar"
“Oma….” lirih Anita setengah memohon. namun wanita tua itu tak mengindahkan dan menggamit lengan Anita menuntun ke poli kandungan.
“Silahkan, Wahh ini calon orangtua barunya”
“Langsung saja di USG, kami agak buru-buru soalnya sudah siang” pinta Harlina tentu saja langsung dituruti.
“Silahkan berbaring, Ibu….”
“Anita” jawab Anita pelan.
Disebuah bed agak tinggi kini Anita mau tidak mau berbaring karena Harlina pun tidak mau ketinggalan untuk masuk keruang pemeriksaan.
“Bapak silahkan disamping ibu” tunjuk perawat pada Andy yang kagok dan terpaksa pula menggeser posisinya di samping Anita.
Anita langsung membuang muka saat Andy berdiri di sisi kirinya. Harlina yang memilih duduk di depan meja dokter itu merasakan perasaan Anita saat ini.
Sebuah selimut sudah ditutupka ke bagian bawah tubuh Anita. Perawat juga sigap memasang alat pengukur tekanan darah di lengan Anita sembari mengukur nadinya.
“Tekanan darahnya rendah, dok” ucap perawat lalu menarik baju atasan Anita untuk dibuka bagian perutnya.
Sontak Anita langsung menahannya lantaran malu, terlebih ada Andy yang bisa saja melihat meski mereka sudah menikah.
“Tidak apa, Anita. Semua baik-baik saja” hibur Harlina yang menyunggingkan senyumnya geli melihat Anita malu-malu.
Sebuah gel dingin dioleskan ke perut bagian bawah Anita yang terbuka. Dokter kandungan bersiap di posisinya dengan alat transducer di tangannya.
“Sudah siap diperiksa ya, Ibu. Silahkan melihat dilayar monitor” ucap dokter setelah menyalakan dan mengatur beberapa tombol hingga menunjukkan warna hitam pekat dilayar.
Anita yang masih membuang muka tak berminat melihatnya. Baginya anak ini adalah sumber kesakitannya. Jika tidak mengingat ia harus menukarnya dengan kesehatan sang ibu, Anita mungkin sudah menggugurkan kandungan ini dan membuang memorinya tentang Andy jauh ke lautan.
“Kalau boleh tahu, hari pertama datang bulan terakhir tanggal berapa?”
“Saya tidak ingat!” jawab Anita pelan namun setengah ketus.
Dokter hanya tersenyum sabar lalu menggerakan alat transducer dengan sedikit agar mengeras ke perut bawah Anita.
“Awhh!” desisnya kaget.
Layar monitor langsung berubah warna dengan pantulan cahaya membentuk bulatan agak putih terang namun masih agar samar.
Andy yang belum pernah tahu pun memicing dan tak berminat pula. Ia lantas mengeluarkan ponselnya hingga menarik perhatian Harlina.
“Andy….” Harlina menggeleng pelan lalu mengangkat dagunya menunjuk ke layar monitor, Andy pun menurut dan memasukkan kembali ponselnya.
“Yap. Ini dia” pekik dokter girang saat menemukan posisi janin Anita.
“Bapak, Ibu, lihat. Itu ada yang bulat kecil seperti ada sesuatu di dalamnya, Itu calon bayinya, dia berenang didalam sini. Belum ada bentuknya. tapi kalau dilihat dari ukuran dan beratnya., dia tumbuh sehat lho”
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Bagaimana reaksi Andy dan Anita setelah memeriksa kandungan?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned