One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 47



“Andy, boleh aku tanya sesuatu?”


“Tanya saja”


“Eumm, boleh aku pakai kartu kreditnya? Aku ingin beli bahan kain untuk kado oma sama opa. Aku ingin buatkan mereka pakaian”


Andy kini malah tertawa sendiri karena Anita sampai harus meminta ijin hanya untuk memakai kartu kredit pemberiannya.


“Kenapa harus online? Beli saja langsung, aku antar. Kamu tidak keluar sama sekali dari tempat ini”


Saat Anita belum sempat menjawab, ponsel Andy berdering dari Jimmy yang menghubunginya dari lantai bawah.


“Apa Jimmy? Saya baru bangun. Apa? “ Bola mata Andy nampak bergerak ke kanan kiri mencerna entah apa sampai dahinya berkerut. “Brengsek! Beraninya bermain denganku! Tutup semua akses informasi. Lakukan penjagaan ketat di sekitar gedung ini!” perintah Andy lalu mengakhiri panggilannya.


Anita langsung berdiri takut meski Andy mulai mengumpat meski bukan padanya.


“Ehh, Anita. Kamu beli online saja, atas namaku. Jangan pakai namamu, oke. Kalau ingin keluar dari sini, harus bersamaku. Mengerti?”


**


Disebuah lorong lounge bar VVIP room, langkah tegap Andy dengan pandangan lurus serius dan yakin menuju sebuah ruangan dengan penerangan temaram.


Beberapa pria duduk di kursi tinggi dengan ditemani beberapa wanita.


“Lain waktu kalau ingin bermain dengan Andy Hardiputra lebih cantik lagi” Andy menyahut sebuah gelas yang dipegang oleh Victor, meminum isinya lalu membanting dengan keras ke atas permukaan meja bar.


Victor jelas terperangah dan mendongak dengan kedatangan Andy yang tiba-tiba ditempat yang dijaga ketat oleh petugas keamanan ini.


“Mengapa anda mengawasi istri saya! Informasi apa yang anda cari, hemm?”


Andy sudah mengangkat dagu dengan jumawa saat Victor yang sudah setengah mabuk itu kemudian ikut berdiri.


“Ratih sakit sejak Tuan Andy mengumumkan pernikahan. Dia sakit hati, terlebih lagi banyak yang menteror nya karena dikira sangat mirip dengan istri anda”


“Lalu Anda tidak terima? Heh picik!’ Andy sampau membanting tinjunya ke atas meja “Ratih itu sakit bukan urusan saya. Awas saja sampai menyentuh istri saya barang seujung rambut saja. Anda sudah saya peringatkan sebelumnya, jangan coba bermain lagi!” tunjuk Andy tepat di depan wajah Victor.


Masih basah dalam pikiran Victor bahwa Andy baru-baru ini sudah berhasil membuat salah satu perusahaannya berada di ujung tanduk akibat perbuatan Ratih yang menghina Andy kala itu.


Namun demi kesehatan mental Ratih yang sangat disayanginya, Victor rela melakukan hal yang beresiko jika Andy tahu kalau dia sedang menyelidiki asal usul Anita.


“Kalau saya tidak boleh mencari tahu siapa istri Anda, sekarang katakan siapa dia?”


“Siapa istri saya itu bukan urusan keluarga Susanto! Sebaiknya fokus saja mendidik Ratih menjadi anak yang tidak memiliki sifat iri dengki seperti orang tuanya!”


Tak ingin mengotori tangannya, Andy akhirnya berbalik badan, namun baru saja melangkah ia melupaka sesuatu “Oh ya, saya lupa. Anda kan bukan orangtuanya!”


Jlebb!


Victor tertegun, matanya membelalak namun belum berani mengangkat wajah karena Andy baru saja berlalu.


Diambilnya segelas minuman lalu meneguknya kasar ‘Sombong sekali” gumamnya dengan pandangan entah kemana “Ternyata dia sudah lebih dulu menyelidikiku, brengsek!”


**


Sementara ditempat lain, Anita sedang disibukkan dengan proses pembuatan pakaian untuk menyambut acara ulang tahun pernikahan oma dan opa.


Menuruti apa kata Andy dengan memesan apa saja secara online atas nama suaminya, Anita kini merasakan betapa mudahnya hidup sebagai orang kaya.


Tinggal pilih, pesan, bayar dan akan diantar tanpa Anita harus memikirkan tagihan setiap bulannya. Masih ada waktu beberapa hari sampai hari itu tiba.


Tak peduli Hardianto tidak pernah menyukainya , Anita tetap tahu diri. Ia tidak akan mengingkari apapun nantinya. Sandiwara ini akan tetap berjalan selama beberapa bulan ke depan.


Sementara Anita sendiri duduk memeluk mejanya. Andy mendekat, ternyata Anita ketiduran.


Dipergelangan tangannya bahakan masih ada beberapa puluhan jarum pentul yang tertancap pada gelang busa yang dipakainya.


“Ckk,dasar! mau bikin apa juga sampai ketiduran kayak gitu. Beli saja kan bisa, ribet!” Andy melepas gelang busa itu dan melemparnya sembarangan.


“Dasar ceroboh!”


Andy terlebih dahulu membersihkan diri sebelum membawah tubuh Anita dalam gendongannya menuju kamar utama.


Setelah memastikan Anita tidur nyaman di ranjangnya, Andy kemudian pergi ke balkon untuk menyalakan sebatang rokok. Namun sejurus kemudian ia mematikan kembali pemantik apinya mengingat ucapan Anita soal bahaya asap rokok terhadap bayi mereka.


“Hehh, daripada nanti mandi lagi”


Andy kemudian memilih menaikkan tubuhnya disamping Anita dan mengambil posisi meletakkan tangan di atas kandungan Anita.


DIlihatnya Anita masih pulas tertidur meski ada pergerakan ditempat tidur ini, Andy memperhatikan betul wajah istrinya itu. Begitu cantik dan polos bahkan Andy tahu Anita tidak pernah mengenakan riasan wajah.


“Kamu ini sebenarnya anak siapa, Anita. Kenapa begitu meisterius?” gumam Andy resah karena belum menemukan jawaban apa hubungan Anita dengan Ratih.


Dan mengapa Victor begitu keras bertindak hanya untuk mengikuti patah hati putrinya saja. Andy kini dibuat pusing sendiri buntut dari perbuatannya menyiksa dan menghamili Anita seperti ini.


“Mengapa Victor sampai menargetkan mu? Ada berapa banyak bahaya yang mengintai mu, Anita? Semoga aku bisa terus melindungi kalian”


Andy mengelus pipi Anita dengan ujung jari telunjuknya. Begitu halus dan pria itu jelas tidak pernah seperti ini dengan beberapa wanita.


“Apa yang aku rasakan ke kamu saat ini sebenarnya?” Entah sadar atau tidak kini tangan Andy bahkan sudah melingkar ke leher belakang Anita yang masih belum terasa apa-apa.


Napas Andy tetiba menderu kasar, mengingat kembali apa yang pernah ia perbuat untuk kedua kali pada Anita, ada sebuah desir yang seolah menjalar tanpa permisi ke ubun-ubun nya.


“Anita, apa aku…mengapa saat melihatmu begini…”


Tangan Andy pun mengelus perut Anita yang terdapat kehidupan didalamnya. Menahan nafasnya sejenak, Andy kini mencengkram tangannya sendiri lalu memejam erat.


“Owhh,sial!” umpatnya dengan rahang menggertak. Selama Anita masih membawa janinnya, Andy seolah memiliki rambu-rambu larangan setiap kali akan melakukan apapun terhadap istrinya sendiri.


Anita kemudian membuka mata saat merasakan napas Andy menderu cepat didekatnya.


“Andy? Kenapa kamu?”


Anita lantas menutup hidungnya dan Andy refleks membangunkan dirinya mengira Anita akan muntah lagi malam ini.


“Mau muntah?”


“Kamu bau alcohol!”


Andy mengerjap lalu mengingat lagi, Ia baru ingat telah minum satu gelas minuman beralkohol milik Victor tadi.


Dan Anita pun memaklumi karena Andy memang punya koleksi minuman yang tersimpan rapi dilemari kaca.


“Tidak boleh mendekat?”


...Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...


...Apa jawaban dari Anita, semoga saja nasib Andy tidak sial lagi?...


...Nantikan di bab selanjutnya…....