One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 33



“Ganti baju dulu, sebelum kedinginan. Setelah itu pulanglah bersama Jimmy” Andy yang masih mengenakan pakaian balap kini memberikan baju ganti untuk Anita yang masih tertunduk.


Melihat Andy yang tidak berganti pakaian meski juga sudah basah, mendadak Anita cemas.


“Kamu tidak ganti? Mau balik ke arena lagi?”


Andy tak menjawab. Sejujurnya ia masih belum puas jika harus mematikan bara di otaknya begitu saja.


“Kalau mau mati kenapa tidak dari dulu saja! Kamu mau buat anak ini nantinya lahir jadi anak yatim!” sembur Anita hingga membuat Andy terhenyak.


Andy tak menyangka Anita akan bereaksi sekeras itu. Anita yang kesal pun berdiri dan melempar baju ganti itu ke tubuh Andy hingga pria itu kemudian menahan pergelangan tangannya.


“Maaf, aku pulang, Kita pulang sama-sama”


Jadilah Andy kini pulang bersama Anita yang sudah berganti pakaian stelan training lengan panjang yang kedodoran namun cukup menghangatkan. Tidak memiliki tim sirkuit wanita membuat Anita mengenakan pakaian pria seadanya.


Di dalam kendaraan kini mereka bersama dalam keheningan. Andy yang mengemudikan sendiri mobilnya di kawal Jimmy yang berbeda kendaraan di belakangnya.


Anita pun duduk diam tak bicara selama perjalanan. Baju lengan panjangnya ini cukup nyaman dan hangat meski kepalanya kini sedikit pusing karena rambutnya yang basah.


Karena jarak sirkuit dengan kediaman mereka cukup jauh, Anita akhirnya tertidur meski sesekali bersin.


“Ukhhuuk!”


Anita terbatuk dalam tidurnya hingga membuat Andy merasa bersalah. Diulurkan pucuk tangan kirinya menyentuh pipi Anita yang menghangat. Andy mempercepat laju mobilnya dengan perasaan makin bersalah karena sudah membuat Anita sampai demam seperti ini.


Andy mengirim pesan ke Bi Umi saat mereka hampir sampai di waktu yang menginjak malam.


“Anita demam, Bi” ucapnya saat membopong masuk Anita menuju rumah.


Bi Umi berjalan cepat membukakan pintu kamar Anita, namun Andy malah membawa istrinya memasuki kamar pribadinya, Sekian detik Bi Umi dibuat melongo karena salah membukakan pintu.


Andy meletakkan dengan sangat pelan tubuh Anita ke tempat tidur miliknya dan menarik selimut untuk nya, Mengambil sebuah thermometer, Andy menekan tombol dan mengarahkan ke dahi Anita yang kemudian menunjukkan suhu badan Anita yang memang demam.


Bi Umi datang membawa perlengkapan kompres hangat yang langsung diraih oleh Andy yang meletakkan sendiri kain handuk kecil itu ke dahi istrinya.


Anita menggeliat saat merasakan di kepalanya ada sesuatu yang menempel panas.


“Apa Anita boleh minum obat pereda demam, Bi?”


“Beresiko , Tuan Muda. Bibi tidak berani”


“Kalau begitu saya bawa ke rumah sakit saja” ucap Andy langsung panik.


“Nyonya muda hanya kehujanan, kan? Kita kompres dulu saja, bibi buatkan minuman hangat. Besok pagi pasti sudah mereda.”


Andy masih mengusap kain kompres ke dahi dan bagian leher istrinya. Perasaan bersalah masih menggelayutinya saat ini, Ya hanya sebatas perasaan bersalah lantaran membuat Anita nekat menghadangnya di tengah rintik hujan.


“Kamu mau buat anak ini nantinya lahir jadi anak yatim!”


Kalimat yang diucapkan Anita kembali menggema di telinganya. “Anak Yatim?” ulang Andy dalam hatinya.


Bagaimana sejak usia sepuluh tahun dirinya juga sudah menyandang gelar sebagai anak Yatim dan itu sangat tidak mengenakkan. Kehilangan seorang ayah benar-benar membuatnya terpukul.


“Apa aku harus mengulangnya pada anak yang dikandung Anita saat ini?” Batin Andy meracau.


Anita kembali dibiarkan tertidur sementara Andy memilih merebahkan tubuhnya di sofa depan tempat tidurnya. Sekian waktu Andy tak bisa tidur memikirkan takut suhu badan Anita makin naik.


Di cek lagi suhu tubuh yang sudah mengalami penurunan meski hanya sebatas dua angka dibelakang koma, Sedikit lega, Andy akhirnya tertidur di sofa tanpa selimut,


Pagi harinya, Anita merasakan ada sesuatu yang mengganjal di keningnya. Sebuah handuk kecil diambilnya dan Anita masih mengembalikan kesadarannya. Melihat bentuk langit-langut ruangan yang berbeda, Anita merasa asing, terlebih lagi selimut yang menutupi sebagian tubuhnya juga berbeda.


Wanita itu membangunkan dirinya dan melihat ke sekeliling. Sosok Andy yang tertidur di sofa menjadi pemandangan tersendiri, Anita mengingat terakhir kali ia berada di dalam mobil bersama suaminya itu.


“Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa di sini?” gumam Anita lantas memilih menyingkap selimut lalu menurunkan kakinya.


Namun baru saja ia berdiri, kepalanya berdenyut, Anita tidak bisa mengimbangi tubuhnya sendiri.


Bruukk!


Anita ambruk dengan posisi berlutut. Andy yang seolah mendapat sinyal kuat itu langsung membuka mata dan melihat Anita yang menahan tubuh dengan lutut dan tangannya.


“Anita!”


Andy beringsut membangunkan tubuh Anita yang lemas. Namun Anita masih berusaha menangkis raga Andy yang mendekatinya, sampai kemudian serangan rutin datang dan Anita tak bisa menahan untuk melompat ke kamar mandi dan meladeni gejolak mual dan muntah yang selalu menyerangnya setiap pagi.


Anita mengernyit menahan perih di perutnya lalu mengusap kasar wajahnya dengan emosi. Tak ingin Anita merasakan sendiri penyiksaannya, Andy kini membalikkan tubuh Anita menghadap dirinya kemudian memeluk sebisanya.


“Maafkan aku, Anita. Maaf telah menyiksamu tanpa henti. Maaf!”


**


“Anita, sayang. Kata Bi Umi semalam kamu demam?”


Anita langsung menggeleng cepat begitu Harlina datang dan langsung mencecarnya, Wanita tua itu lantas meletakkan pucuk tangannya ke dahi Anita yang masih menghangat.


“Anita baik-baik saja, Oma. Oma sendiri bagaimana?”


“Melihat Andy sudah kembali, oma langsung sehat. Oh ya dimana dia?” Harlina menyisir sejauh pandangannya dan tidak mendapati cucunya pagi ini.


“Sudah berangkat” jawab Anita mencoba biasa saja.


Harlina pun menggelengkan kepala lalu mendudukkan tubuhnya ke kursi ruang tamu “Dasar anak gila kerja! Sabar ya, Anita. Kalian sampai belum sempat berbulan madu. Nanti oma yang bicara sama dia”


Anita hanya memasang senyum kecutnya dan tidak berani membantah apapun.


“Oh ya, Anita, Kemarin Andy pergi dari rumah dengan emosi. Apa saat pulang dia melampiaskannya ke kamu, Nak?”


Deghh!


Anita memutar otaknya dengan cepat “Apa oma tidak tahu kalau Andy pergi ke sirkuit?” pikir Anita kemudian hanya menggeleng kecil tak berani berucap apapun soal kejadian semalam.


Harlina lantas mendengus penuh sesal. Dicarinya jemari Anita untuk digenggamnya kali ini.


“Semua yang terjadi pada diri Andy saat ini salah kami, Anita. Andy tumbuh dalam tekanan psikologis keluarga. Susah payah oma menjadikan dia lelaki yang memiliki kasih sayang karena opa mendidiknya harus menjadi pria yang kuat. Tolong terima Andy sepenuh hati ya, Nak. Oma paham kalian sedang menyesuaikan diri, Yang terpenting dikemudian hari apapun yang terjadi jangan mudah bicara kata perpisahan”


Bagaimana kelanjutan kisah ini?


Nantikan di bab selanjutnya…….