
Malam telah tiba Alex yang juga telah kembali ke rumahnya langsung menuju kamarnya, hanya untuk melihat istrinya Catherine sedang apa.
Terdengar di dalam kamar suara Catherine sedang menelepon seseorang.
"Rey, dengarkan aku. Ini hanya sementara, sebentar lagi aku akan berhasil..."
Krett..
Pintu kamar terbuka Alex sudah didalam kamar, dan Catherine tiba-tiba memutuskan telepon tersebut.
"Lex, kamu sudah pulang," ucap Catherine mencoba tenang.
"Sayang, siapa yang menelepon mu malam begini?" tanya Alex yang juga melonggarkan dasinya.
"Oh, itu tadi teman... teman ku yang menelepon," Catherine menjawab dengan ragu.
"Kenapa malam-malam begini menelepon, apa itu sesuatu yang penting?" tanya Alex lagi yang masih ragu.
"Tadi dia mendadak menelepon ku, katanya besok mau mengajak ku belanja. Dia bilang besok ada tas keluaran terbaru, jadi dia telepon aku malam begini agar aku ingat," Catherine mencari jawaban yang tepat.
Tidak mau panjang lebar membahas hal itu Alex hanya mempercayai ucapan istrinya tersebut.
"Aku mandi dulu, nanti kita bicara lagi." ucap Alex yang menuju kamar mandi.
Tidak lama setelah mandi Alex langsung saja mendekatkan dirinya ke Catherine, tampak dia memeluk wanita itu dengan erat.
"Cath, aku rasa akan sangat menyenangkan jika ada suara anak kecil di kamar kita ini. Apalagi saat mereka ingin tidur bersama kita karena takut tidur sendirian," ucap Alex yang mengelus lembut rambut wanita dipelukan nya tersebut.
Catherine tahu maksud dari ucapan suaminya itu, seketika wajah nya terlihat datar. Tidak tahu ketika membahas hal tersebut dirinya sangat membenci hal itu.
"Bagaimana kalau kita lebih berusaha lagi?" Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Catherine.
"Lex, tolong hentikan..." ucap Catherine seraya menolak apa yang akan di lakukan Akex.
"Why? Aku tidak melakukan kesalahan, kenapa kau seperti ini Cath," Alex memperhatikan wajah memelas nya dan sedikit manja.
"Alex bagaimana jika kita mengangkat anak saja, atau kita punya anak dari bayi tabung saja? Bukankah itu lebih baik?" ucap Catherine yang menawarkan hak tersebut pada Alex.
Wajah Alex yang semula baik-baik saja, seketika wajah nya mulai memerah mendengar tawaran istrinya tersebut. Dia tidak habis pikir jika wanita yang sangat dicintainya itu mengatakan hal tersebut.
"Apa maksud mu Cath?"
"Kau tahu aku sudah tidak bisa hamik lagi, Lex. Jadi saranku tersebut cukup baik," Catherine dengan santai mengatakan hal tersebut.
"Aku sudah bilang pada mu Cath, aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun. Bahkan usia pernikahan kita baru dua tahun, hanya karena kata dokter kau tidak bisa hamil bukan berarti kita harus menyerah. Cath aku yakin kita bisa melakukan nya, mereka hanya omong kosong saja. Pasti kita akan punya keturunan sendiri," jelas Alex panjang lebar yang menunjukkan emosi nya.
"Aku tidak seperti mu Lex, jika kau tidak suka, tidak apa-apa..." Catherine membalikkan badannya ke arah berlawanan Alex.
Melihat sifat istrinya tersebut, Alex yang tadi rencananya ingin bermanja dengan sang istri. Kini hanya terdiam mendengar penuturan Catherine, dia juga mencoba untuk memejamkan matanya tidak berani lagi menyentuh wanita tersebut.
Meski berusaha untuk tidur Alex tetap tidak bisa memejamkan matanya, sampai sebuah ingatan terbayang di otaknya.
Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan sama seperti malam itu, bahkan jika itu istriku yang aku cintai, mengapa tidak pernah aku menemukan hal tersebut. Aromanya, sentuhan nya, bahkan suara nya masih bisa aku ingat. Tapi kenapa sangat sulit mengingat siapa dia...
Alex hanya terus mengingat apa yang bisa menenangkan pikiran nya ketika sang istri mulai bersikap sensitif.
"Cath, aku harap kau tidak melukai ku karena aku sudah berjanji tidak akan melukai mu," suara Alex pelan entah didengar atau tidaknya oleh sang istri.
******
Bersambung...