
Desiran ombak, dan lembutnya pasir pantai membuat seorang wanita berlarian kesana-kemari menikmati semua itu. Senyum manis yang tersirat dari wajah cantiknya menambah perpaduan yang elok, antara indahnya pantai dan dirinya yang sudah seperti sebuah lukisan.
"Angela, jangan lari terlalu jauh. Nanti kau terseret arus."
"Aku bukan anak kecil lagi, Alex." jawabnya terus berlari-lari kecil. "Ayo, kejar aku Alex. Pasir pantai di sini sangat lembut, sangat enak ketika kita berlari."
Alex masih berjalan dengan santai, dia hanya dapat menikmati pemandangan yang dia lihat saat ini. Ketika Angela dengan senangnya berlarian kesana-kemari, ekspresinya saat ini sudah seperti anak kecil yang baru pertama kali ke pantai, hingga Alex terus terkekeh melihat tingkah Angela.
"Kadang terlihat elegan dan menawan, kadang juga terlihat manis, dan sekarang dia terlihat imut dan konyol. Dia benar-benar wanita langkah yang pernah aku lihat."
Entah sudah lelah berlari atau apa, seketika Angela memperlambat larinya, sampai kakinya tersendung oleh sesuatu.
BRAKKK
Tubuhnya terjatuh, untungnya dia terjatuh di tempat yang tidak terlalu keras seperti aspal, atau keramik. Ya, pasir pantai yang sangat lembut siap menerima tubuhnya terjatuh.
"Awww ..." Teriaknya, dengan sigap Alex berlari menuju Angela.
"Angela, kau tidak apa-apa? Sudah aku bilang jangan terus berlari, lihatkan kau jadi jatuh?! Sepertinya kau mudah tersandung, ingat saat kejadian di kamar?"
Jika diingat-ingat perkataan Alex memang benar, insiden saat Alex baru saja selesai mandi dan Angela tidak sengaja terjatuh akibat tersandung oleh sesuatu. Menjadikannya tontonan dihadapan salah satu pelayan hotel yang berpikir aneh tentang apa yang akan mereka lakukan. Tampaknya Angela harus jauh-jauh dari benda yang berserakan agar dia tidak terjatuh.
"Aku kan tidak sengaja," ucapnya mengelus-elus lutut yang sedikit memerah sembari menundukkan kepalanya.
Alex merasa bersalah karena sedikit membentak Angela, ya, dia sendiri memarahi Angela yang terus berlari. Bisa dibilang dia sebenarnya khawatir, takut terjadi apa-apa dengan wanita pemilik mata cokelat hazel tersebut.
"Sini, aku bantu berdiri. Jangan cemberut terus, wajah mu jadi tidak seperti malaikat lagi kalau terus begitu," Alex jongkok untuk menyetarakan tubuhnya dengan Angela, bahkan dia membujuknya seraya mencubit kedua pipi lembut itu.
Rayuan dan bujukan Alex tampaknya berhasil, raut wajah Angela kembali tersenyum. "Tapi, benda apalagi yang buat aku jatuh," mencari disekitar. "Wah, cangkang kerang yang besar? Jadi karena ini aku terjatuh."
Sebuah cangkang kerang berukuran besar itulah yang mengakibatkan Angela tadi terjatuh, siapa yang sempat berpikir mereka berada di pantai otomatis pasti akan banyak cangkang yang tidak ada isinya. Jika diperhatikan memang banyak cangkang kerang disekitar sana.
"Kata nenekku, jika bertemu sebuah cangkang kerang disekitar pantai, kita dapat memuat permohonan. Dia bilang selain bintang jatuh, cangkang ini juga sering digunakan beberapa orang untuk membuat permohonan," Alex tampak excited menjelaskannya.
"Haha, aku kira cuma di kartun Spongebob saja ada hal seperti itu. Jadi kita dapat membuat permohonan? Kalau begitu, ayo kita berdua langsung ucapkan permohonan bersamaan," meraih tangan Alex dan menggenggam cangkang itu dengan kedua tangan mereka yang saling bertautan.
"Ide bagus, bedanya dengan bintang jatuh kita dapat memohon dalam hati. Jadi kita harus ucapkan secara lantang mengenai apa permohonan kita, oke?" Angela mengangguk dan menyetujuinya.
Keduanya saling memandang satu sama lain, apalah yang ada dipikiran mereka, dan permohonan seperti apa yang mereka inginkan.
Dalam hati Angela,
Ini kesempatan bagus untuk saling mengetahui keinginan masing-masing, aku jadi gugup. Apa permohonan Alex akan sama denganku?
Sedangkan dalam hati Alex,
Padahal ini hanya permohonan, tapi rasanya sudah seperti ingin mengucap janji suci pernikahan, aku harap permohonan ku sama dengan yang dipikirkan Angela.
Mereka masih berkutik dengan pikiran masing-masing, sampai ingin mengutarakan permohonan. Seseorang telah mendahului mereka.
"Aku mohon agar jadi orang terkaya dan menguasai dunia. Biar aku tidak repot-repot memikirkan kehidupan ku di masa depan, hehe."
Sadar sudah ada orang yang mengucapkan permohonan terlebih dahulu, baik Alex dan Angela langsung menoleh ke sumber suara tersebut.
"David?" Alex mengerutkan keningnya.
"Bocah tengik?" dan Angela juga ikut tercengang siapa orang tersebut.
"Kalian lama sekali, jadi aku dulu yang buat permohonan," ucapnya tanpa menunjukkan rasa bersalah.
Rasa gugup dan penasaran itu seketika sirna, kedua orang yang baru saja ingin mengenyam manisnya romansa kebersamaan, dengan berpikir mungkin momen ini adalah momen yang tepat untuk mengetahui keinginan satu sama lain, tiba-tiba didatangi oleh David yang memasang wajah polosnya seakan berkata 'Aku tidak menggangu kok, aku cuma lewat saja.' Tanpa rasa bersalah.
"Sejak kapan kau di sini?" tanya Angela menyelidik.
"Sejak kakak jatuh, dan aku mengikuti calon kakak ipar dari belakang, lalu melihat adegan calon kakak ipar yang mencubit pipi kakak, sampai kalian berpegangan tangan untuk memohon sesuatu pada kerang itu. Dasar kalian yang terlalu sibuk, menganggap dunia ini hanya kalian berdua tanpa sadar aku sedari tadi juga ada di sini," ucapnya yang sedikit kesal, sadar dari tadi David hanya jadi racun nyamuk diantara kedua orang dewasa yang bersikap romantis dihadapannya.
"Aku tidak kenal siapa-siapa di sini, jadi aku ikut dengan mu ya kak?" menggelayuti tangan Angela, pura-pura bersikap manis.
Bukan Angela yang mengiyakan permohonan sang adik, tapi Alex sendiri yang langsung merangkul bahu David. "Bagus, lebih baik kita bertiga. Jangan menolaknya Angela dia adikmu, wajar kita harus menjaganya."
Angela hanya dapat menggerutu dalam hati,
Menjaga apanya? David sudah besar, wah Alex jangan percaya bocah tengik itu ...
Mereka bertiga jalan bersamaan, David yang berada ditengah-tengah mereka sudah seperti seorang anak yang dalam pengawasan orang tua. Bahkan sesekali orang yang tidak mengenal siapa mereka menganggap bahwa mereka orang tua dan anak.
"Hei, lihat ayah, dan ibunya masih sangat muda dan naknya juga sudah dewasa. Zaman sekarang banyak sekali ya orang tua awet muda. Aku harap kelak aku juga seperti mereka."
Berusaha tidak mendengar, Angela menatap mereka seperti anjing yang siap menerkam. Beda halnya Alex dan David yang memang mulai akrab. Selang beberapa meter berjalan, beberapa wanita cantik yang lewat mendapat kedipan dari David.
"Dasar genit, mereka mungkin lebih tua dari mu. Jangan lakukan hal seperti itu lagi, bisa gawat kalau kau jadi Casanova seperti kak Steven," Angela mengoceh sepanjang jalan.
"Umurku sudah mau 21 tahun, kalau dalam film dewasa sudah cukup untuk menggoda para wanita, haha."
Niat ingin menegur dan mengingatkan sang adik, tampaknya sia-sia. Alex juga hanya tertawa.
"Adik mu hanya bercanda Angela, jangan anggap serius. Iyakan David?"
Bercanda? Ya, Tuhan sepertinya Alex benar-benar terlalu mempercayai bocah tengik ini. Jelas-jelas dia sedang tidak bercanda, awas kau David kalau bukan karena Alex pasti sudah aku pukul bokong mu.
Bukan orang-orang yang berbisik, atau wanita cantik yang lewat, ketiganya tidak sengaja melihat seorang pria yang membuat mereka melupakan rasa kesal ataupun hal lainnya.
Bukannya pria itu yang sudah membuat Catherine berkhianat dengan ku? Jadi dia datang kesini bersama Catherine? - Alex.
Jadi benar yang aku lihat saat itu, pria itulah yang bersama Catherine? - Angela.
Lebih baik aku pura-pura tidak tahu siapa pria itu, wah ... kemunculan nya akan jadi lebih seru dan menegangkan. Tampaknya nenek tua itu benar-benar ingin bermain dengan kakak? - David
***
Tn. Wilton sedang menikmati secangkir kopi, tidak lupa sebuah buku disampingnya.
Ting ... Tong ...
Tn. Wilton ada tamu istimewa yang sedang menunggu anda, silahkan buka pintu.
Bel rumah kediaman keluarga Wilton memiliki dua versi yang berbeda, yang pertama hanya terdengar suara bel berbunyi itu berarti dari kalangan orang yang tidak terdeteksi siapa orangnya, dan yang kedua jika sudah ada suara khusus yang terdengar maka tamu itu dikategorikan tamu istimewa.
"Aku tidak mengundang siapapun hari ini, tapi kenapa ada tamu istimewa? Lebih baik aku cek dulu dari monitor," berjalan menuju pintu dan melihat monitor yang ada disamping pintu tersebut.
"Merepotkan saja, kalau tidak penting tidak akan aku buka kan pintunya," saat mengecek monitor mulutnya sedikit terbuka, dan matanya juga melotot. "Taylor? Untuk apa dia kesini? Bahkan membawa anak buahnya segala." Mengelus dadanya perlahan.
"Wilton? Kau di dalam? Ayo bukakan pintu untuk teman mu ini, atau aku dobrak pintu ini. Kau pasti tidak mau kan, pintu mahalmu rusak di tangan dewa seperti ku, hehe."
"Astaga, pria aneh ini masih sama seperti dulu. Datang sudah seperti ingin menagih hutang, ckckck ..."
Di luar Tn. Taylor dan beberapa bawahannya masih menunggu.
"Tuan, kenapa lama sekali pintunya dibuka? Apa perlu kita dobrak sungguhan?"
"Eitss ... jangan gegabah, aku tadi hanya bercanda mana mungkin kita mendobrak pintu ini. Bisa-bisa kau sendiri yang aku jadikan korban jika Wilton marah." ucap Tn. Taylor mengingatkan, "Tenang saja sebentar lagi pasti akan dia buka, mana mungkin dia menolak kedatangan ku."
Calon besan mu telah datang Wilton - Tn. Taylor
***
~AlBeGa~