
Kerjasama Alex dan Steven adalah gerbang pembuka untuk sebuah cerita yang mungkin akan terjalin sampai waktu yang lama. Tidak tahu apakah ini suatu kebetulan atau tidak mereka mengenal satu orang yang sama, dengan ikatan yang berbeda.
Lain lagi orang-orang yang masih saja sibuk mengincar urusan pribadi Alex, mereka tetap bersikeras mendapatkan apa yang ingin mereka dapatkan.
Sudah lama tidak mendengar kabar Catherine bukan berarti dia kini sudah hancur, wanita itu semenjak melihat Alex dan Angela mulai memikirkan suatu cara, agar Angela menjauh dari Alex. Benar-benar wanita yang tidak tahu diri.
"Rey, aku tidak bisa begini terus!" Teriak Catherine dihadapan pria yang ternyata Rey. "Padahal aku sudah hampir sampai dengan tujuan kita sesungguhnya, tapi kenapa bisa begini Rey, kenapa?!"
Catherine melempar semua barang yang ada disekitarnya, bagaikan wanita yang sudah tidak tahu arah dan tujuan. Tapi masih ingin melakukan niat buruknya.
"Sayang, kau jangan gegabah begini. Bukankah bagus kau melihat wanita itu secara langsung bersama Alex, apalagi awak media kian terus memberitakan wanita itu."
Wajah Catherine yang semula tampak marah besar, kini mulai berubah dia langsung memeluk Rey pria yang notabenenya adalah orang yang dia cintai.
"Kau benar Rey, ini belum berakhir. Aku bisa memanfaatkan awak media tersebut untuk menyingkirkan wanita itu," Catherine tersenyum sinis dipelukan Rey.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya, nomor itu tidak dikenal tetapi dari isi pesan tersebut tampak sesuatu yang dinantikan Catherine hadir didepan mata.
"Aku harus pergi dulu, ada seseorang yang ingin menemui ku. Kau jaga anak kita, nanti akan aku kabari lagi," Catherine melangkah pergi meninggalkan Rey.
******
Ditempat yang dijanjikan oleh orang yang ingin bertemu dengan Catherine, kini mereka sudah saling bertemu.
"Kita bisa bekerjasama, dengan semua bukti ini kau bisa menyingkirkan wanita itu dan aku bisa mendapatkan untung yang banyak. Bagaimana?" ucap orang tersebut menawarkan sesuatu pada Catherine.
"Seperti nya ini hal yang menguntungkan, baiklah ayo kita mulai," sudut bibir Catherine menunjukkan senyum pembalasan, kini dia pikir dirinya akan segera menang.
******
"Hachimm ...." Suara bersin terdengar diruang televisi.
"Angela, apa kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit bersin."
Flo yang sedari tadi di dapur memasak sesuatu dan hanya memperhatikan Angela yang sedang fokus pada tontonan di televisi.
"Aku rasa awak media sudah tidak memberitakan mu lagi, apa ini bisa di bilang bagus atau tidak ya?" sahut Flo dari dapur yang hanya berjarak beberapa meter dari ruang televisi tersebut.
"Bukan tidak ingin memberitakan, aku pikir mereka sudah mulai beraksi dan si 'wanita rubah' itu pasti juga sudah menjalankan rencananya," jawab Angela santai dan masih fokus pada televisi.
"Benarkah? Kau seperti cenayang saja memprediksi sesuatu yang belum tentu benar, bisa saja kan mereka memang sudah tidak mau mengincar mu lagi. Bukankah itu baik, kau juga bisa segera jauh lebih dekat dengan Alex," ujar Flo yang sudah berada dekat Angela kini.
"Kau salah Flo, malah saat inilah mereka mulai beraksi. Lihat saja besok aku yakin drama apalagi yang akan Catherine mainkan," ucap Angela merasa yakin akan tebakannya.
"Ngomong-ngomong besok itu ulang tahun ayahmu juga kan? Jangan bilang kau lupa, aku sendiri saja ingat," Flo mengingatkan Angela besok hari istimewa ayahnya.
"Benar juga ya, aku akan membeli sesuatu untuk nya. Kira-kira hadiah apa ya? Harus sebuah hadiah yang besar," Angela memikirkan hadiah yang ingin dia berikan pada ayahnya besok. "Lebih baik aku telepon saja dia, menanyakan apa yang dia inginkan saat ini."
******
Di sebuah dermaga tempat beberapa orang juga ada yang sedang memancing, dan disana juga Kapal-kapal besar banyak berlabuh. Dari kejauhan terlihat beberapa pria sedang sibuk memancing, dan salah satu kapal yang sangat besar bertengger di dermaga itu, bisa dibilang kapal pengangkut barang. Dimana saat itu beberapa orang juga sibuk memasukkan barang yang dibungkus dengan rapi ke kapal tersebut.
"Bos, semua barang sudah hampir selesai dimasukkan ke dalam kapal. Katanya sebentar lagi ada polisi yang akan mengecek kesini," seorang pria yang berbadan besar mengajak bicara pria tua yang sedang memancing.
"Lakukanlah apa yang sudah aku katakan, kenapa kau kesini. Aku sedang ingin memancing. Mengganggu saja!" pria tua itu memarahi pria yang memanggil nya bos.
Tidak lama setelah pria berbadan besar itu pergi, ternyata benar ada tiga orang polisi datang ke dermaga demi mengecek apa yang sedang terjadi.
"Tuan, maaf mengganggu," tegur seorang polisi pada pria tua itu, "Tuan, apa kau mendengarkan ku?!" Suara polisi itu sedikit di keraskan.
Pria tua itu langsung membalikkan badannya mengarah polisi tersebut.
"Maaf, aku sedikit mengalami gangguan pendengaran. Jadi tidak bisa mendengar suara mu dengan jelas."
Ketiga polisi itu terlihat terkekeh mendengar jawaban pria tua itu, mereka pikir mereka salah sudah menghadapi orang yang benar tuli.
"Baiklah, jika anda sudah bisa dengar. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada anda."
Pria tua itu mengangguk, seolah dia sudah mendengar dengan baik.
"Apa anda lihat kapal disana?" polisi tersebut menunjuk kapal besar pembawa barang dan pria tua itu langsung menoleh kearah yang ditunjuk polisi itu. "Jika anda melihat nya, apa ada gerak-gerik aneh selama anda disini?" tanya polisi itu mencoba menyelidiki.
"Eh ... kalau yang aku lihat tidak ada yang aneh, lagian aku dengar mereka hanya membawa pasokan makanan untuk dikirim ke tempat lain. Apa ada sesuatu?" pria tua itu bertanya seolah tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Tidak ada Tuan, hanya saja kasus penyelundupan barang ilegal sedang marak, kami hanya memastikan nya saja."
"Aku pikir kenapa. Lagian jika mereka menyelundupkan barang ilegal tidak mungkin berani saat dermaga sedang ramai. Betulkan? Iyakan? Haha." Hanya pria tua itu yang tertawa akan penuturan nya, sedangkan ketiga polisi itu hanya memasang ekspresi datar.
"Yap, kami akan memastikan nya sendiri. Erick kau tunggu disini biar aku dan Dion yang melihat kapal tersebut," kedua polisi itu pergi memastikan isi dari kapal pembawa barang itu, sedangkan polisi satunya lagi mengawasi pria tua itu yang bagi mereka sedikit aneh.
Seolah memahami situasi, pria tua itu membuat sebuah tanda lewat tangan nya hanya beberapa orang saja yang paham tanda tersebut.
Polisi yang tetap tinggal dengan pria tua itu sama sekali tidak paham maksud gerakan dari pria tua yang ada dihadapannya, baginya saat ini pria itu sedang meregangkan badannya yang kaku karena terlalu lama duduk saat memancing.
Sepuluh menit kemudian kedua polisi tadi kembali menuju pria tua itu dan rekan polisi nya yang menunggu bersama pria tua tersebut.
"Semua nya tidak ada yang aneh, kalau begitu kami pergi dulu Tuan. Terimakasih atas kerjasamanya." Akhirnya ketiga polisi itu pergi tanpa kekhawatiran lagi, padahal ada sesuatu yang tidak mereka ketahui.
"Bos, semuanya sudah selesai." Lagi-lagi pria berbadan besar tersebut melapor pada pria tua itu.
"Kalau begitu ya sudah, aku mau pulang. Lain kali tanpa bantuan ku kalian harus lebih sigap menghadapi orang-orang seperti mereka," ujar pria itu sedikit mendelik. "Mereka mudah sekali dibohongi, aku rasa polisi itu kurang berlatih dengan baik. Ckckck," pria tua itu menggelengkan kepalanya, seumur hidupnya dia dengan mudah menipu para polisi tersebut.
Saat pria tua itu berdiri dan meninggalkan tempat tersebut, jejeran pria yang juga memancing sejak tadi juga ikut berdiri. Mereka bagaikan mengiringi seorang Bos dari belakang. Ini seperti adegan sebuah film dimana pemimpin melangkah maka para bawahan akan terus mengikuti nya, dan mendadak dermaga itu sepi tidak ada lagi yang memancing ataupun aktivitas lainnya.
Ember yang penuh dengan ikan, dan keberhasilan nya membohongi para polisi tadi menjadikannya seorang pria berkemampuan tinggi. Walau sudah tidak dibilang muda akal dan pikirannya benar-benar istimewa.
Suara ponsel dari saku celana pria tua itu berdering.
"Ayah apa kabar? Aku rindu padamu."
******
Bersambung...