My Trouble Maker

My Trouble Maker
Memilih Berpisah



Jika seorang pria menangis banyak orang bilang itu sebuah kebohongan, tapi bagaimana jika dia benar-benar menangis? Menahan semua beban yang dipikulnya, harapan dan impian musnah dengan sendirinya. Itulah yang terjadi pada Alex saat ini, rambut acak-acakan, wajah terlihat muram, baju yang tidak tertata dengan rapi.


Sudah beberapa botol bir dia minum sendiri, tidak perduli dia akan mabuk atau tidak karena saat ini dia berharap jika banyak minum bir akan membuat nya melupakan kejadian saat melihat Catherine bercumbu dengan pria lain. Tapi hal itu malah menambah keterpurukan nya, setiap satu gelas bir yang dia minum, tetes air matanya pun ikut mengalir.


Selama ini orang selalu melihat nya sebagai pria yang tangguh, dan sangat menjaga image nya di hadapan semua orang. Tapi kali ini pria itu terlihat menyedihkan, sangat tidak pantas di panggil Alex yang banyak orang kenal.


Kaki nya melangkah menuju kamar mandi, sehabis banyak minum bir dia ingin mendingankan tubuhnya. Di antara percikan air yang mengaliri setiap celah bagian tubuhnya, tangan nya meremas kepala nya sendiri. Raut kesedihan yang tertutup air tersebut hanya tampak samar, pikiran nya masih kacau untuk menerima kenyataan tersebut.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, mungkin sebentar lagi Catherine akan pulang. Alex yang sudah tampak lebih baik mencoba tidur lebih cepat, dia tidak ingin menyambut kepulangan sang istri yang dulu dia cintai tapi perlahan mulai menghilang.


"Dia sudah tidur?" gumam Catherine mengecilkan suaranya.


Catherine tidak tahu bahwa saat ini Alex sudah mengetahui rahasia nya, dia masih berpura-pura selayaknya Catherine yang Alex kenal.


Hari-hari berlalu jika sebelumnya Catherine sendiri yang tampak mengabaikan Alex, kali ini pria itu balik mengabaikan Catherine. Pria itu terus memasang wajah datarnya, saat di ajak bicara hanya ada jawaban singkat atau sebuah anggukan.


Meresa dirinya diabaikan, Catherine mulai merayu Alex.


"Sayang, liburan pekan ini ayo kita pergi berlibur. Sudah lama kan kita tidak pergi berdua," rayu Catherine yang memeluk Alex dari belakang.


Refleks tangan Alex menapis tangan Catherine yang memeluk dirinya, pria itu menunjukkan ekspresi kesal nya.


"Maaf, Cath. Aku masih ada pekerjaan akhir pekan ini, jika kau mau pergi. Aku perbolehkan pergi sendiri," Alex menjawab ucapan Catherine dengan ketus. "Kau juga boleh mengajak seseorang jika mau. Untuk mengantikan ku."


Catherine hanya terdiam membeku, tidak biasanya Alex seperti ini. Selama ini dia tahu pria itu memang sangat dingin dan cuek pada siapapun, tapi tidak dengan dirinya. Tapi kali ini Alex menunjukkan sifat itu ke istri nya sendiri, bahkan perkataan Alex yang terakhir membuat Catherine sedikit terpojokkan.


"Lex, apa kau marah karena beberapa hari lalu aku mengabaikan mu? Ayolah kita berbaikan, buktinya sekarang aku tidak cuek lagi dengan mu."


"Aku pergi berangkat kerja, dulu."


Bukan nya mendapatkan jawaban yang dia inginkan, malah Alex pergi begitu saja dia juga tidak mengucapkan kalimat cinta seperti biasanya.


"Alex. Kenapa ini, apa yang terjadi pada dirinya," Catherine menggigit jarinya seakan cemas mengkhawatirkan sesuatu.


******


Tok..


Tok..


Tok..


Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Alex, seorang pria menghampiri nya membawa sebuah berkas.


"Tuan ini segala sesuatu mengenai pria yang bernama Rey itu."


Di bacanya lah seluruh isi berkas yang dia inginkan, senyum getir tersirat di wajahnya. Tidak mau bilang apalagi, kini dia tahu bahwa Rey adalah orang yang Catherine juga cintai.


"Peter, ini foto anak siapa? Apa ini anak Rey itu?" tanya Alex mengangkat alis nya sebelah.


"Apa dia seorang single parent? Bisa-bisanya Catherine mencintai orang seperti ini," Alex hanya mengolok pria yang ada di foto itu.


"Aku dengar juga, dia memiliki istri Tuan. Tapi orang disekitar tidak tahu jelas istrinya seperti apa."


"Mungkin selama ini Catherine lah yang telah dibohongi oleh pria ini, jangan-jangan dia memanfaatkan Catherine untuk mendapatkan uang saja," Alex masih meyakini dirinya bahwa wanita yang dicintai nya, pasti orang yang juga telah di tipu pria tersebut.


Peter melihat bahwa Alex masih menaruh harapan untuk Catherine, berbeda dengan pikiran Peter sendiri, dia menganggap bahwa setelah menyelidiki semua ini puncak kepercayaan Alex pada Catherine akan benar-benar musnah.


"Tuan ada baiknya anda sendiri yang melihat siapa Rey sebenarnya, karena bukan bermaksud apa-apa. Ada sesuatu yang mungkin anda layak tahu," Peter memberi saran pada Alex, entah hal ini akan baik atau buruk tapi sudah saatnya dia menolong Alex dari cengkeraman rubah betina tersebut.


Dengan kepercayaan nya Alex pun menuruti perkataan Peter, dia benar harus memastikan sendiri kebenaran itu dengan baik.


"Nanti kau antar aku ke rumah Rey." perintah Alex.


"Baik Tuan."


Peter mengganggap dia memang harus ikut, karena mungkin ada sesuatu yang lebih besar akan terjadi nanti nya.


Sesampainya di dekat rumah Rey, terlihat pria itu sedang bersama anak kecil. Wajah keduanya terlihat sangat bahagia.


Sebuah mobil juga terhenti di depan rumah Rey, mobil yang Alex kenal dan ternyata itu adalah Catherine.


"Hore momy pulang," anak kecil itu bersorak riang melihat wanita yang dipanggil momy tersebut datang.


Catherine memeluk anak kecil tersebut, Rey yang juga ada disana terlihat juga ikut memeluk terlihat seperti sebuah keluarga.


Alex hanya diam, lalu sebuah tawa renyah nya keluar dari mulutnya.


"Hah... Peter bisa kau jelaskan semua ini? Ini terlihat lucu," wajah Alex kembali memerah meski dia tertawa, tapi tawanya tersebut bagaikan sebuah kemarahan.


"Tuan... Aku sangat minta maaf, seharusnya aku katakan ini pada anda saat tadi. Bahwa anak kecil itu adalah anak dari Nyonya Catherine dan pria yang ada di sampingnya," Peter terlihat gugup. "Aku juga tidak percaya sebelumnya, tapi setelah diselidiki lebih lanjut benar DNA mereka 99% sama."


Terkuak sudah, semuanya benar sudah terkuak. Tidak ada satupun hal yang tidak Alex ketahui saat ini, kini dia tahu mengapa Catherine tidak menginginkan seorang anak karena saat ini kebahagiaan wanita itu semuanya sudah dia miliki. Jadi untuk apalagi dia menginginkan Alex? Sudah pasti semua orang akan tahu alasannya.


Saat pertama kali bertemu tidak pernah ada sedikitpun kebohongan di wajah wanita itu, dia benar pandai menutupi segalanya. Segala hal yang tidak mau di ungkapkan ke semua orang, Alex merasa bodoh selama ini dia terperangkap di lingkaran iblis. Ya, iblis yang banyak memasang muka, semua hal telah dia berikan tapi kini hanya ada sebuah penyesalan untuk nya. Dulu dirinya sangat di segani semua orang dan di kagumi akan kecerdasan nya, tapi setelah kejadian ini dia merasa semua itu sia-sia. Harta, ketampanan, kemapanan ternyata saat seperti ini tidak berguna lagi untuk nya.


"Peter... siapkan semua berkas perceraian untuk ku dan Catherine," seru Alex pada Peter.


"Baik Tuan, apa kita langsung pulang saja?"


"Nanti aku mau singgah ke Cafe terlebih dahulu, berhenti saja disana." ucap Alex memilih untuk pergi ke Cafe. " Oh, iya kau juga sudah membeli parfum yang aku inginkan? Soalnya saat ini parfum itu sudah habis, mungkin dengan aroma parfum itu pikiran ku sedikit tenang."


Jika tahu begini, bukan lagi parfum yang aku berikan. Tapi wanita itu, ya wanita yang memiliki ciri khas aroma parfum yang selama ini Tuan Alex sukai. Aku rasa jika tahu wanita itu siapa mungkin dia akan menjadi obat kepedihan Tuan Alex selama ini.


******


Bersambung...