
Hari sudah mulai petang dan mereka memutuskan untuk segera pulang, melihat awak media juga sudah tidak mencari mereka lagi saat ini. Setidaknya untuk hari ini mereka bebas dari awak media tidak tahu untuk hari esok dan seterusnya. Tapi Angela sudah tahu taktik para pengincar berita tersebut, sehingga dia juga sudah siap menghadapi mereka jika mereka terus mengincarnya.
Tidak banyak barang penting yang saat itu mereka bawa ke rumah tersebut, karena malam itu juga mereka mendadak saja mengunjungi rumah itu yang tidak banyak diketahui orang, itupun mencari tempat aman selama wartawan mencari mereka.
"Dimana Alex?" Tanya Angela pada para pelayan.
"Tadi aku lihat Tuan muda pergi ke ruang baca Nona, mungkin anda bisa kesana untuk melihatnya," jawab pelayan tersebut.
Kaki Angela langsung saja melangkah keruangan tersebut, sebuah pintu kayu yang sangat besar dengan ukiran yang sangat menakjubkan, tampak bahwa ruangan itu mungkin saja sangat besar. Baru pintu saja sudah seperti disebuah kastil.
"Wow, Amazing. Jadi ini ruang bacanya? Baiklah aku masuk saja dulu," gumam Angela mencoba membuka pintu itu.
Krett ...
Suara pintu terbuka terdengar lumayan nyaring, mata Angela semakin takjub. Ini bukan sekedar ruang baca biasa, tapi ini sudah seperti perpustakaan dimana banyak buku berjejer tiap rak nya. Buku-buku itu tertata sangat rapi, disusun berdasarkan topik. Ada buku mengenai bisnis, sejarah, novel, antalogi, biografi, dan lainnya. Bisa dikatakan seluruh buku itu sangat lengkap sesuai apa yang ingin kita baca.
Di sudut ruangan itu terlihat Alex yang sedang menghadap jendela mengarahkan pandangannya ke keluar jendela, disampingnya juga tampak meja kecil yang diatasnya sudah ada secangkir teh dan sebuah buku yang mungkin baru saja dia baca.
Angela berjalan pelan menuju Alex, ia tidak mau mengganggu pria yang sedang fokus dengan dunianya tersebut.
"Hemm ..."
Suara Angela membuyarkan Alex yang sedari tadi diam terpaku menatap keluar jendela.
"Angela? Maaf aku tidak sadar kau sudah berada di sini," Alex sedikit menggaruk tengkuknya.
"Tidak masalah, aku juga tidak bermaksud mengganggu mu. Ngomong-ngomong ruangan ini bukan sekedar ruang baca, tapi lebih tepatnya perpustakaan," Angela mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Keluarga ku adalah orang yang suka mengoleksi buku dan membacanya, untuk itu semua buku ini sudah lama dikumpulkan. Mungkin sejak kakek dan nenekku masih muda beberapa buku ini sudah ada," ujar Alex sembari tersenyum lebar. "Terutama nenekku adalah seorang penulis, mungkin kau sudah tahu itu."
Benar nenek Alex adalah salah seorang penulis ternama, wajar jika ruangan ini sudah seperti sebuah perpustakaan. Dunia sastra juga sudah melekat pada keluarga Wilton, dari dulu hingga sekarang mereka memang banyak dikenal orang.
"Luar biasa, beda sekali dengan keluarga ku. Boro-boro punya ruang baca sebesar ini, masih untung tersedia buku di rumah. Mereka hanya mengoleksi benda antik dan mungkin sedikit aneh. Huftt ... " Angela membandingkan keluarganya sendiri dengan keluarga Alex.
"Tentu saja, aku sangat suka membaca buku terutama Novel romansa. Apalagi ..." Angela mendekatkan kepalanya ke telinga Alex. "Apalagi jika itu Novel dewasa," bisiknya di telinga Alex.
Wajah Alex sedikit tegang, langsung saja Angela tertawa terbahak-bahak. Menjahili Alex sepertinya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Angela, lihat saja kini wajah Alex kembali merah padam.
"Hahaha, aku bercanda. Ya, walaupun sebenarnya buku seperti itu bagus juga dibaca, lagipula begini-begini aku juga sangat suka membaca buku mengenai bisnis dan hukum akukan lulusan sarjana Hukum," ucap Angela yang masih ingin tertawa dan sesekali memuji dirinya sendiri. Melihat Alex masih diam Angela mencoba balik bertanya pada Alex. "Kalau kau sendiri buku apa yang sedang kau baca?" Matanya tertuju pada buku di meja.
"Oh, ini buku karya Paulo Coelho -The River Piedra I Sat Down and Wept, beberapa isi dari buku ini sangat menggambarkan diriku saat ini," ujar Alex yang menatap Angela dengan sendu bahkan sesekali terlihat kebingungan akan sesuatu.
"Benarkah? Aku juga tahu buku itu, memangnya bagian atau kalimat mana yang menggambarkan dirimu saat ini?" Tanya Angela penasaran.
"Aku pernah jatuh cinta sebelumnya. Rasanya seperti narkotik. Mula-mula mendatangkan euforia penyerahan diri, lalu berikutnya kau menginginkan lebih banyak. Kau belum kecanduan, tapi kau menyukai sensasinya dan kau masih bisa mengendalikan semuanya. Kau memikirkan orang yang kau cintai selama dua menit dan melupakannya selama tiga jam.Tapi kemudian kau terbiasa dengan orang itu, dan mulai bergantung sepenuhnya pada mereka. Sekarang kamu memikirkannya tiga jam dan melupakannya selama dua menit. Kalau ia tak ada, kau merasa seperti pecandu yang selalu membutuhkan morfin. Dan seperti halnya pecandu yang akan mencuri dan mempermalukan diri sendiri demi memenuhi kebutuhan mereka. Kau pun bersedia melakukan apa saja demi cinta." Sebuah kalimat yang mendalam langsung keluar dari mulut Alex. "Paulo memang sangat bisa merangkai kata tersebut, dia bahkan seperti menebak keadaan ku saat ini," ujar Alex.
Kalimat yang dituturkan Alex merupakan salah satu bagian yang paling terkenal dari novel karya Paulo Coelho, dan dari kalimat itulah dia mengekspresikan dirinya saat ini.
Semula wajah Angela terlihat santai, kini bola matanya menunjukkan rasa yang tidak dapat di definisikan. Mendengar Alex menuturkan kalimat tersebut sesuatu seperti sedang berputar di kepalanya.
"Candu adalah ketergantungan yang banyak di rasakan setiap orang, Lex. Aku pikir jika candu mu sudah terlewat batas itu juga tidak baik. Tapi ... Anggaplah candu-mu sebagai obat atas rasa pedihmu dan rasa keresahan hatimu, aku memiliki keyakinan setiap cinta adalah candu dan bukan hanya sekedar rindu, tapi juga bukan sekedar jatuh cinta. Seperti saat dirimu dibuat cinta oleh Catherine dan kemudian kau juga yang jatuh akibat dirinya sendiri," baru pertama kali Alex melihat Angela tidak seperti yang dia kenal, kini wanita itu menunjukkan jati dirinya yang lain.
"Sudahlah, daripada membahas hal tidak penting. Sebaiknya kita segera pergi, kau bilang bukannya petang ini kita pulang?" Angela mengalihkan pembicaraan.
Baru saja berbalik untuk keluar dari ruangan itu, tubuh Angela sudah ditarik oleh Alex. Dipeluknya Angela dari belakang.
"Angela, sebenarnya kau ini siapa? Kenapa diriku merasakan candu itu padamu? Kenapa kau baru datang saat ini? Apa yang sebenarnya terjadi pada kita, mungkinkah kaulah wanita itu selama ini? Katakan Angela, katakan." Suara Alex terdengar serak, dipeluknya Angela sangat erat dan wanita itu tidak bergeming.
"Aku yang harusnya bertanya? Kenapa kau baru menanyakan hal itu, apa kau baru ingat Alex?"
Terkadang sesuatu yang baru kita sadari memang datang terlambat.
******
Bersambung...