
Sudah tiga hari berlalu dan hari ini Angela akan pergi ke salah satu tempat, dimana dia akan menemui Steven sang kakak, di perusahaan ADC Grup.
Saat ke perusahaan Alex mungkin dirinya sangat percaya diri dan menunjukkan penampilan terbaik, berbeda saat ke perusahaan kakaknya sendiri. Angela lebih terlihat seperti pencuri, yang mengendap-endap dari kerumuman orang. Agar tidak ada satupun orang yang tahu siapa dirinya.
"Hufftt ... akhirnya aku bisa mengelak dari banyak orang."
Perusahaan ADC Grup sangatlah besar, ini ketiga kalinya Angela datang ke perusahaan itu. Selama ini dirinya tidak terlalu peduli dengan urusan kakaknya, lagian juga orang-orang tidak tahu bahwa Angela adalah adik dari Steven Taylor. Seorang pria yang sejak muda memprakarsai salah satu perusahaan besar di negeri Paman Sam.
Ketika orang bertanya mengenai masalah keluarga, Steven sangatlah tertutup. Tapi dibalik itu, perusahaan yang dia pimpin saat ini tidak seutuhnya hasil jerih payahnya, ada beberapa orang dibalik layar yang mungkin tidak mereka ketahui. Kedok sebagai perusahaan dibidang persenjataan sepenuhnya juga tidak benar, percayalah setiap ketenaran ada suatu rahasia besar yang disembunyikan. Contohnya sang adik dan keluarganya sendiri atau dialah yang sedang disembunyikan.
Angela sudah berada di lantai atas ia harus melewati beberapa orang yang terlihat berdiri tegap, menjaga setiap jalan yang mungkin akan dilewati orang bisa dikatakan mereka adalah pengawal Steven yang setia menjaga setiap sudut lantai itu. Lantai itu hanya bisa dilewati orang tertentu saja, termasuk Angela dirinya sudah tidak bersembunyi seperti tadi.
"Selamat datang Nona Angela," sapa mereka bersamaan yang sedikit membuat Angela terkejut.
"Kalian ini? Hah, bisa tidak menyapa orang lebih lembut?"
Langkah demi langkah Angela menyusuri lorong perusahaan itu, sekali-kali dia berhenti hanya untuk mengejek para pengawal yang diam seperti patung.
"Philip, kepalamu masih saja plontos. Apa tidak ada niat menumbuhkan rambut? Hehe," tidak ada jawaban, mereka hanya diam.
"Kalian manusia atau robot sih? Ditanya hanya diam saja. Huh, menyebalkan!"
Dipercepat nya lah langkah kakinya untuk segera sampai keruangan yang ingin dia tuju.
Seorang pria dengan setelan kemeja warna putih, dan kerah sedikit terbuka sedang duduk disinggasana nya. Pria itu sedari tadi memainkan bolpoint yang dia pegang dan sesekali memijat pelipisnya, sampai seorang wanita masuk ke ruangannya.
"Ayolah, aku sedang tidak ingin bermain Vanesha," pria itu menggerutu tidak tahu siapa yang datang.
"Vanesha? Wanita mana lagi itu?"
Suara itu tidak asing, sadar siapa yang datang pria itu langsung saja menoleh ke arah sumber suara.
"Ternyata kau tidak berubah, tetap mempertahankan gelar Casanova mu. Ckckck."
Pria itu langsung menatap tajam, dirinya sudah diejek oleh adiknya sendiri.
"Angela?!"
Angela tersenyum lebar melihat Steven terkejut akan kehadirannya.
"Akhirnya kau datang juga, baru datang sudah mengejek kakak sendiri!"
"Bagaimana tidak aku mengejek mu, kau sendiri tadi menyebut nama seorang wanita. Hei, jangan bilang wanita itu salah satu korban mu? Aku perkirakan hari ini sudah banyak wanita yang meloroti celanamu. Haha."
"Dasar adik tidak tahu diri" Steven langsung berdiri mendekati Angela.
Sebuah sentilan mengenai dahi mulus milik Angela, "Aww ... sakit tahu," dielus dahinya yang kesakitan akibat sentilan Steven.
"Hei, masih untung aku mau datang kesini. Kau malah memarahi ku."
"Sekarang kau harus duduk di sana!" Perintah Steven.
"Kau suruh aku duduk?"
"Iya, duduk di sana. Jangan diam saja, cepat sana!"
Tidak mau melawan dan Angela menuruti perintah sang kakak. Steven bukan hanya menatap sang adik dengan tatapan tajam, kali ini dia mengelilingi kursi yang Angela duduki.
Merasa sedang di interogasi, Angela hanya memicingkan matanya mengartikan apa maksud semua ini.
"Sejak kapan kau mengenal Alex?"
Sepertinya inilah yang dimaksud Steven, dia ingin menggali lebih dalam mengenai hubungan Angela dengan Alex.
Angela tersenyum tipis, dan langsung menjawab pertanyaan itu. "Kira-kira dua tahun yang lalu," dan mulai mengangguk.
"Apa? Jadi kau sudah lama mengenal nya, jangan bilang sebelum dia menikah kau sudah mengenalnya?"
Kedua kalinya Angela kembali mengangguk.
"Oh Tuhan, dosa apa yang aku lakukan sampai adikku sendiri melakukan hal hina seperti ini."
"Apa-apaan sih? Memangnya kesalahan apa yang aku lakukan, akukan hanya bilang sudah mengenal nya dua tahun yang lalu," Angela terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Itu berarti kau sudah berselingkuh dengan Alex selama dua tahun, aku sudah dengar dari media bahwa kau menjadi selingkuhan Alex."
"Hahaha, jadi kau lebih percaya awak media ketimbang adikmu sendiri? Cih ... Bukannya kau sendiri yang bilang bahwa orang-orang seperti itu adalah orang penuh kepalsuan, lalu kau percaya aku orang seperti itu? Kau bukan seperti Steven yang aku kenal."
Dari dulu hingga sekarang bila mereka berdua sudah berdebat, tetap Angela yang menang begitu pula saat ini karena berdasarkan prinsip kehidupan 'Wanita selalu benar'. Steven mencerna kalimat yang diucapkan Angela, seharusnya dia tahu walau Angela orang yang sangat susah ditebak dan sering mengambil tindakan diluar nalar, tapi Angela tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu, apalagi merebut suami orang.
"Kak, kau pria yang baik masih sempat memikirkan adikmu yang cantik ini. Tapi aku ingatkan sekali lagi, aku dan Alex tidak akan terpisahkan. Karena apa? Aku dan dia sudah sangat terikat," nyali Angela memang besar dengan mudahnya dia mengatakan hal itu dihadapan kakak nya sendiri, dan penuh percaya diri.
Sedikit ragu Steven menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dia tanyakan, "Apa dia sudah menyentuh mu?" ucapnya ragu, berharap sebuah jawaban 'Tidak' keluar dari mulut Angela.
1 ... 2 ... 3
"Sebenarnya iya, kami bahkan sudah menikmati malam yang panjang kedua kalinya," wajahnya sedikit tersipu malu saat menjawab pertanyaan itu.
Bolpoint yang terus dipegang Steven langsung saja patah, "Apa?!" Meja disampingnya pun ikut dipukul. "Jadi pria itu sudah menyentuh mu, dasar pria brengsek!" sebuah umpatan tertuai dimulut Steven.
'Plak' tangan itu menampar pelan wajah Steven.
"Maksud kakak, Alex brengsek? Kau sendiri tidak sadar diri apa? Jelas-jelas kaulah yang brengsek, buktinya sudah banyak wanita yang kau coba dan kau buang. Malah bilang Alex brengsek, dasar tidak tahu diri."
Bagaikan busur panah yang tajam meleset di dada pria bermata cokelat hazel itu, kali ini dia kalah lagi melawan ucapan Angela. Mau membantah kenyataan nya semua itu benar, mau diam saja itu artinya dia benar-benar kalah.
"Itu urusan ku, kau jangan bawa-bawa hal itu," Steven memperbaiki kerah bajunya, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kita di produksi dari satu produk, dan satu mesin yang sama. Tapi aku heran kenapa aku bisa punya kakak seperti mu ya? Sepertinya ayah dan ibu salah mencetak mu, hmm ..."
Perdebatan demi perdebatan terus terucap diantara mereka berdua, sampai tidak sadar ada orang yang masuk.
"Tuan, ada sesuatu yang ingin aku katakan itu ..."
"Diam!" sahut mereka berdua membentak orang tersebut.
"Tapi Tuan, ini mangenai ..."
"Sudah aku katakan diam!" ucap mereka bersamaan lagi.
Sungguh malang orang tersebut yang ternyata sekretaris pribadi Steven, rencana ingin menyampaikan sebuah kabar malah dapat serangan dari dua orang yang sedang berdebat.
"Ini akibatnya jika Tom and Jerry kembali dipertemukan, untung yang satunya sedang tidak ada disini bisa jadi Trio Gulat. Dan mungkin gedung ini akan hancur dengan mereka jika terus bertengkar. Beginilah nasib hanya menjadi bawahan terus dibentak, padahal aku tidak salah," gumam nya pelan agar tidak di dengar Steven dan Angela.
Akhirnya Angela memutuskan pergi, daripada terus meladeni sang kakak yang juga terus berceloteh, "Sudahlah aku mau pulang, kak Steve kau harus menerima kenyataan. Bahwa Alex akan jadi adik ipar mu," ucapnya di depan pintu. "Huweek," dan kembali meejek Steven.
"Sampai jumpa lagi Nona Angela," ucap sekretaris pribadi Steven seolah tidak terjadi apa-apa.
Di luar tepatnya dimana Angela kembali melihat para pengawal itu masih bertahan dengan posisi mereka, sifat jahilnya muncul kembali.
"Tadi saat aku baru datang kalian menyapa ku, maka saat aku pergi dari sini aku perintahkan kalian membungkuk. Ayo cepat laksanakan perintah ku."
Mereka memandang satu sama lain, jika menolak mereka tahu siapa Angela dan berakibat fatal jika perintah tersebut tidak di turuti.
"Baik Nona, akan kami lakukan."
Bukan Angela jika belum puas menjahili orang lain, saat berjalan dia seperti slow motion yang membuat para pengawal itu lama membungkuk. Anggap ini seperti dalam film-film kerajaan dimana sang putri sedang disambut oleh para pengawal istana.
"Kenapa lama sekali, dan kenapa Nona Angela sangat lambat berjalannya," bisik mereka pelan.
Merasa Angela sudah pergi mereka kembali berdiri tegap, "Eh, siapa yang menyuruh kalian berdiri? Aku bilang tadi kan membungkuk, jadi terus membungkuk. Atau aku lupa katakan ayah bilang beberapa pengawal tidak bekerja dengan baik, apa perlu ya aku laporkan kalian juga?"
"Tidak, jangan Nona. Kami akan tetap membungkuk."
"Tunggu sampai kakak ku keluar, baru kalian boleh berdiri."
Setidaknya lewat pengawal tersebut dia dapat menyalurkan kekesalan nya terhadap Steven.
Lihat kak Steve, semua pengawal mu akan aku buat encok. Angela mana bisa di lawan, hehe.
Alex hari ini ada janji dengan perusahaan ADC Grup kebetulan kembali membahas kerjasama mereka, kali ini dia yang datang ke perusahaan milik Steven.
Hampir berpapasan, selintas dia melihat Angela baru keluar dari gedung itu.
"Angela?" gumamnya, "Apa itu benar dia? Sepertinya mana mungkin, lagipula untuk apa dia kesini. Sepertinya aku saja yang terlalu memikirkan nya."
Kembali ke ruangan Steven, dirinya kini mencoba menenangkan diri sehabis berdebat dengan adik perempuan satu-satunya di keluarga Taylor.
"Kau tadi mau katakan apa?"
"Begini Tuan, apa anda lupa hari ini akan ada pertemuan anda dengan Tuan Alex dari I.S Grup?"
"Alex? Tadi Angela, dan kini Alex. Sepertinya memang Tuhan mengutuk ku atas segala kesalahan yang telah aku perbuat, aduh ... mana mungkin Alex jadi adik ipar ku," Steven menepuk-nepuk keningnya tidak habis pikir seandainya Alex yang lebih tua satu ahun darinya akan jadi adik iparnya. Ini memang konyol.
******
Bersambung...