My Trouble Maker

My Trouble Maker
Perjanjian



Angela kini sudah berada di sebuah restoran, seorang pria melambai kan tangannya ke Angela.


"Apa kau sudah lama menunggu?" Angela duduk di kursi yang sudah di pesan oleh Alex.


"Tidak juga, baru beberapa menit yang lalu," jawab Alex.


Malam ini Angela terlihat elegan, dandanan nya pun tidak berlebihan. Mata Alex terpaku melihat Angela saat ini. sampai dia membatin dalam hatinya.


Kenapa aku baru sadar dia sangat cantik, matanya, tubuhnya, semuanya sangat sempurna. Tidak, tidak aku tidak mungkin jatuh hati padanya, lagi pula aku juga baru mengenal nya. Jujur aku masih belum melupakan semua kenangan itu, tidak mungkin aku mudah jatuh cinta pada wanita lain.


Sadar Alex tidak berkedip Angela membuyarkan imajinasi pria itu dengan menjentikkan tangannya di wajah Alex.


"Apa ada yang salah?" tanya Angela.


"Tidak, aku hanya sedikit melamun saja," jawab Alex sedikit gugup.


Mereka memesan makanan pada pelayan, menunggu untuk beberapa saat.


"Hmm ... Angela aku mengajak mu makan malam karena ada sesuatu yang ingin aku katakan," Alex memulai kembali pembicaraan tersebut. "Maafkan aku jika karena akulah, kau masuk dalam masalah ini. Beberapa media juga hampir mengetahui siapa dirimu, padahal kau dan aku hanya sekedar saling mengenal tidak lebih dari itu."


Angela tertegun atas penuturan Alex, ia sadar Alex belum sepenuhnya menerima keberadaan nya.


"Tidak masalah, aku bisa pahami itu," ujar Angela.


"Maksud ku, apa tidak baik jika kita selalu bertemu baik sengaja ataupun tidak di sengaja. Aku pikir kita tidak harus bertemu lagi setelah ini, agar menjagamu dari gangguan paparazi," kali ini Angela sangat terkejut saat Alex menyuruh nya untuk menjauh darinya.


"Aku tidak mengerti pemikiran mu Alex, tapi apa kau yakin mereka akan berhenti sampai disitu?" Angela menupangkan dagunya. "Come on, semua itu tidaklah benar."


"Aku pikir jika kita mulai menjauh, kau bisa bebas dari semua itu sebelum mereka mengetahui siapa dirimu sebenarnya," ujar Alex.


"Mereka sudah tahu siapa aku."


Kalimat yang di langsung terucap dibibir Angela membuat pria yang ada dihadapannya itu kini yang balik tertegun.


"Alex coba kau lihat sekitar kita," Angela mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Mereka semua ada disini, kita tidak bisa mengelak lagi."


Ucapan Angela benar adanya, jika dilihat lebih teliti beberapa orang yang mungkin saja adalah pengincar berita alias paparazi sudah mengelilingi mereka.


"Aku hanya ingin menolong mu Alex, aku tidak mau kau kalah dengan 'wanita rubah' itu. Ya ... sih Catherine itu."


"Maksud mu?" Alex terlihat bingung.


"Dengan adanya berita ini Catherine akan menyerah dengan sendirinya, dia mungkin sedang berusaha memikirkan cara untuk menyingkirkan ku. Itu artinya aku telah berhasil menggiring nya ke jebakan ku, agar di saat seperti itu kau bisa buktikan kepada semua orang dirinyalah yang bersalah, memanfaatkan demi dirinya sendiri," penjelasan Angela masuk di akal, Alex hanya terdiam tidak tahu mau bicara apalagi.


"Kita lanjutkan semua ini, apa yang telah terjadi harus diselesaikan dengan tuntas," bibir Angela sedikit dimiringkan mencoba mengartikan setiap kalimat yang dia tuturkan. "Ayo kita buat perjanjian, bagaimana kalau kita benar berpura-pura selayak nya sepasang kekasih sampai semua ini mereda dengan sendirinya. Setelah semua itu telah selesai kau bisa katakan kita putus atau ya ... melupakan ku, bagaimana?"


Alex masih tampak berpikir, dia belum bisa memahami sepenuhnya jalan pikiran Angela. Tapi yang dia yakini sekarang mungkin ini keputusan yang baik untuk dirinya kelak.


"Baiklah, aku setuju. Tapi ada satu syarat ..." Alex menahan perkataan nya.


"Apa? Akan aku turuti."


"Kita hanya berpura-pura di depan orang banyak saja, setelah itu berprilaku seperti biasanya."


"Oke, deal." senyum Angela langsung mengembang.


Kau yakin Alex? Selama kita melakukan drama ini, aku berpikir ini tidak akan seperti drama. Boleh dikatakan semuanya akan menjadi kenyataan.


Angela bergumam dalam hatinya, merasa semua ini bukan tentang apa yang dia pikirkan tapi tentang apa yang sedang Tuhan rencanakan pada mereka berdua.


"Jadi mulai saat ini, ayo kita mencoba untuk saling memiliki," ucap Angela lembut. "Sebaiknya kita perlu panggilan manis saat di depan semua orang, kira-kira apa ya?" Angela tampak berpikir.


Entah angin apa yang berhembus di dada Alex, dia langsung menggenggam tangan Angela.


"Kau bilang mulai saat ini bukan? Maka dari itu ..."


CUP


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir mungil Angela. Setan apalah yang merasuki Alex saat ini, hingga Angela tidak mengira jika pria itu melakukan hal yang tidak dia duga.


"Eh, maaf aku tidak sengaja," Wajah Alex memeerah bak tomat yang sudah masak, dirinya juga tidak sadar kenapa dia melakukan hal itu pada Angela.


Beberapa orang yang memata-matai mereka bukan nya sempat memotret malah juga ikutan terkejut terhadap reaksi Alex. Sampai terucap di mulut mereka 'WAH'.


"Kau ini kenapa tidak di potret?!" bisik paparazi yang memarahi rekan kerjanya. "Tadi itu momen yang tepat untuk di publish, kau malah bengong."


"Kau sendiri kenapa memarahi ku, kenapa tidak kau saja yang potret." mereka saling menyalahkan.


Pertengkaran antara paparazi itu sedikit terdengar di telinga Angela.


Sudah aku katakan, kalian sia-sia saja mengikuti ku. Dasar paparazi aneh.


******


Bersambung...