My Trouble Maker

My Trouble Maker
Permintaan Ayah



Suara itu terdengar nyaring di ponsel milik pria tua tersebut, raut wajahnya langsung berubah mengetahui orang yang menelepon nya. Senyum sumringah terpancar.


Pria tua itu segera menyuruh orang-orang yang mengikutinya dari belakang untuk segera pergi. Mata nya menatap tajam orang-orang tersebut, menandakan dia tidak mau diganggu saat menelepon.


"Cepat pergi!" Perintah pria tua itu.


Mereka sedikit menjauh agar tidak menggangu percakapan antara ayah dan anak itu, ya yang menelepon pria tua tersebut adalah anaknya.


"Ayah apa kabar? Aku merindukanmu." ucap suara wanita muda yang memanggil pria tua itu dengan sebutan ayah.


"Anakku yang manis, dan menggemaskan. Ayah baik-baik saja dan ayah juga merindukan mu, hanya saja beberapa hari ini perut ayah sedikit bermasalah. Akibat ulah ibumu yang memberikan susu basi, bilang nya karena harga promo jadi dia borong semua susu basi disebuah toko," pria tua itu mengubah suaranya yang tadi sedikit tegas kini agak lembut dan dia menceritakan masalahnya kini.


"Untunglah... untung ayah tidak mati karena ibu. Haha," wanita itu sedikit mengolok pria tua alias ayahnya sendiri. "Ayah dimana? Jangan bilang sedang melakukan pekerjaan aneh mu," wanita itu menebak apa yang sedang dilakukan pria tua tersebut.


"Uhmm ... ayah sedang dihalaman belakang rumah," pria tua itu sedikit berpikir untuk menjawab pertanyaan dari anaknya, dan dia mulai berbohong. "Ayah sedang menikmati teh hangat dihalaman belakang rumah, kau tahukan beberapa hari terakhir ini cuaca lumayan dingin."


Wanita itu sesungguhnya tidak benar percaya akan ucapan kalimat dari ayahnya tersebut, ia tahu pasti ayahnya sedang di suatu tempat dimana beberapa orang sedang mengikuti nya dari belakang. Tebakannya memang benar.


"Ya sudahlah, aku menelepon ayah hanya ingin menanyakan sesuatu. Besok kan ulang tahun ayah, jadi aku pikir untuk menanyakan langsung apa yang ayah inginkan untuk kado ulang tahun dariku?"


Merasa terharu pria tua itu sangat senang, anak perempuan nya ternyata ingat hari ulang tahun nya bahkan menanyakan hadiah yang dia inginkan.


"Halo? Ayah apa kau masih dengar aku," sahut wanita itu. "Aku tidak tahu hadiah apa yang harus aku berikan pada ayah, karena semua nya telah ayah miliki."


"Iya, ayah dengar. Sebenarnya hanya satu hadiah yang ayah harapkan baik darimu atau kakak mu ..." pria tua itu terdiam sejenak.


"Apa? Aku pikir kalau kakak akan memberikan hadiah berupa nuklir pada ulang tahun ayah kali ini, hehe."


"Kalau anak itu tidak perlu ditanya lagi, tahun kemarin saja mengirim granat. Dia pikir rumah kita tempat perang apa?!" Pria itu terlihat geram mengingat ulah anaknya setiap memberikan hadiah ulang tahun untuk nya.


Suara tawa wanita dari seberang telepon tersebut terdengar ditelinga pria tua itu.


"Baiklah, katakan hadiah apa yang ayah inginkan?"


"Kau dan kakakmu sudah dewasa, usia kalian sudah sangat matang. Dan di usia ayah yang sudah semakin tua, rindu mendengar suara tangis bayi. Apalah dayaku dan ibumu sudah menginginkan seorang cucu, jika ingin buat sendiri sudah tidak bisa lagi. Huaa ...Angela antara kau dan kakak mu kapan ada yang menikah, adikmu sendiri masih sangat muda belum sebaiknya menikah yang ada setiap hari dia meninggalkan rumah, pulang seminggu sekali saja sudah untung."


Sebuah permintaan yang sangat besar telah dikatakan pria tua itu, dialah Tuan Taylor. Ayah Angela Taylor.


Angela yang mendengar permintaan sekaligus penjelasan ayahnya tersebut hanya bisa heran, niat menanyakan hadiah berupa barang yang diinginkan ayah nya kini dia malah mendapat permintaan hadiah diluar kehendak nya.


"What? Sebaiknya ayah katakan hal tersebut pada kakak, dialah yang sudah seharusnya memberikan hadiah yang ayah inginkan. Kalau aku, ayah tenang saja jika sudah waktunya pasti akan aku kabari, tapi saat ini aku sedang berjuang dulu. Pokoknya besok terima atau tidak terima akan aku berikan ayah hadiah sesuatu yang besar, jadi jangan bahas itu lagi. Sudah, aku matikan dulu telepon nya. Bye."


******


Sedangkan di kediaman keluarga Wilton, tampak Alex dan ayahnya sedang duduk ruang keluarga.


"Lebih baik untuk beberapa hari kedepan kau tinggal disini saja, setidaknya ada mommy mu dan pelayan yang akan memperhatikan mu," ujar Tn. Wilton, dan Alex mengangguk. "Dulu ayah pikir jika kau sudah menikah, kebahagiaan keluarga kita akan bertambah apalagi jika ada tawa anak kecil yang mungkin sedang bermain kesana-kemari." Wajah Tn. Wilton terlihat sendu mengungkapkan hal tersebut.


"Daddy..."


Alex juga ikut sedih mengingat andai saja permintaan kedua orang tuanya saat itu dapat dikabulkan, tapi ternyata semua itu belum bisa ia berikan.


"Tidak usah dipikirkan, lagipula masih ada kesempatan dilain waktu. Aku yakin anakku Alex ini adalah seorang pria yang akan menjadi ayah yang hebat di masa depan," Tn. Wilton tampak tersenyum menyemangati anak semata wayangnya. "Kau pasti akan menemukan seseorang yang akan tetap bersama mu baik suka maupun duka, tidak peduli dia wanita seperti apa. Asal jangan yang seperti sebelumnya, hehe." tawa kecil keluar dari kedua mulut pria tersebut.


"Iya, tentunya." Tukas Alex.


"Oh, iya. Kau sudah dapat undangan pesta dari Tn. Xavier? Aku dengar dia merayakan keberhasilan putranya yang telah mengembangkan bisnis keluarga mereka dibeberapa negara."


"Ya, aku sudah mendapatkan undangan tersebut," jawab Alex.


"Bagaimana? Apa kau sudah memikirkan siapa wanita yang akan menemani mu ke pesta tersebut? Daddy lihat di undangan itu tertera wajib membawa pasangan, katanya akan ada pesta dansa. Jika belum terpikirkan Tn. Xavier menawarkan putrinya untuk menemani mu di pestanya kelak," terlihat Tn. Wilton menawarkan hal tersebut. "Putrinya juga cantik, dan pintar. Setidaknya semua orang tidak akan bicara hal macam-macam."


Alex hanya tersenyum kecil, dia tidak terpikirkan untuk menerima tawaran itu. Bukan berarti dia menolak, hanya saja sudah ada wanita dalam pikirannya yang akan dia ajak pergi ke pesta tersebut.


"Daddy, tidak perlu memikirkan hal tersebut, aku sudah memikirkan siapa wanita yang akan datang dengan ku kelak."


Lantas saja Tn. Wilton balik tersenyum melihat putra nya memiliki keputusan sendiri.


"Jangan bilang wanita yang sedang gencar diberitakan dekat dengan mu? Apa itu akan baik-baik saja mengingat awak media sangat mengincar kalian berdua?"


"Tidak perlu khawatir, untuk apa takut pada mereka. Toh aku Alex merasa tidak melakukan kesalahan pada mereka, aku telah memikirkan nya matang-matang," Alex berdiri dan menunjukkan senyum bahwa kini dia harus bangkit dari semua beban yang ada.


"Baguslah kalau begitu, jika kau yang sudah putuskan. Itu berarti adalah yang terbaik." ucap Tn. Wilton.


Tidak tahu mengapa, aku mengingatnya saat seperti ini - Alex.


******


Bersambung...


Jangan lupa Like+comen+vote ya pembaca ter-zeyenk biar kita semakin terdepan eyakkk dan tekan tombol favorit biar tahu Update-an berikut nya 🤭🤣🤣