
Sehabis pesta di kediaman Tn. Xavier, akhirnya Alex dan Angela memutuskan untuk segera pulang. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sudah sangat larut. Ponsel Angela mendapatkan sebuah panggilan dari Flo.
"Angela kau dimana? Apa kau sudah pulang?" Tanya Flo.
"Hei, kau kenapa sih? Iya, aku baru saja mau pulang." Balas Angela.
"Sebaiknya kau jangan pulang dulu ke apartemen ... di bawah para wartawan sedang menunggu mu, tidak hanya satu atau dua tapi ini sudah kerumunan wartawan," ujar Flo yang sedikit cemas.
"Hah? Sudah larut seperti ini mereka datang ke tempat kita? Mereka sudah gila!" Ujar Angela mengetahui para wartawan sudah mengelilingi apartemen nya. "Aku tidak peduli, aku akan tetap pulang. Kau tunggu saja aku," Angela bersikeras untuk tetap pulang ke apartemen nya.
"Angela kali ini kau harus dengarkan aku!" bentak Flo di balik telepon,
"Ini sudah sangat malam, mungkin mereka tahu kau dan Alex pergi ke pesta bersama. Akan jadi masalah yang rumit ketika kalian bersama apalagi selarut ini, kau bisa melakukan hal apapun tapi awak media akan lebih membesar - besarkan sebuah berita. Kalian juga pasti lelah sehabis datang ke pesta tidak mungkin menghadapi mereka sebanyak ini, akan lebih baik cari dulu tempat yang lebih aman. Baru besok kau bisa pulang."
Saran Flo sesungguhnya bisa di anggap benar, Angela mungkin bisa mengusir para wartawan itu sampai ketakutan. Tetapi mereka juga sangat licik pastinya, siapa sih yang tidak tahu bahwa orang-orang seperti itu hanya bisa membesar-besarkan masalah.
"Baiklah, akan aku akan mencari tempat yang sementara tidak bisa mereka temukan. Kau juga hati - hati Flo, jika sesuatu yang buruk langsung hubungi aku," ujar Angela.
"Kau tidak usah khawatir, aku sendiri bisa menangani nya. Mereka juga bukan mencari ku, kaulah yang harus jaga diri dan jaga kesehatan agar bisa menghadapi mereka di lain hari" Flo memberikan semangat pada Angela, sahabatnya yang sedang incaran banyak orang.
Alex yang sedari sedikit menguping percakapan Angela dan Flo di balik telepon, penasaran perihal apa yang terjadi.
"Ada masalah? Sepertinya orang yang menelepon mu terlihat cemas," tanya Alex yang sedari tadi menyetir mobil.
"Flo bilang para wartawan sudah mengelilingi apartemen kami, aku tadi berpikir ingin menghadapi mereka. Tapi setelah di pikir-pikir ini akan menuai masalah yang lebih besar apalagi menghadapi orang gila berita seperti mereka."
Alex juga ikut tertegun, jika apartemen Angela sudah banyak wartawan apa mungkin, apartemen dimana mereka memotret Angela keluar dari apartemen nya juga sudah banyak dikelilingi para wartawan.
"Kalau begitu?" Alex dan Angela saling menatap,
"Jangan - jangan mereka juga sudah ada ..." Keduanya sudah menduga pasti apartemen Alex juga sudah banyak wartawan mengelilinginya.
"Ini gila, mereka benar gila. Ingin aku bom saja mereka rasanya," ungkap Angela yang mulai kesal.
"Baiklah kalau begitu aku tidak mungkin mengantar mu pulang kesana," ujar Alex yang langsung memutar arah laju mobilnya.
"Aku tidak tahu harus kemana? Semua orang yang aku kenal pastinya juga akan menolak, mereka juga pastinya tidak mau ikut campur jika tahu aku sedang di kejar para wartawan. Aku juga tidak mau merepotkan mereka," Angela sedikit menggigit-gigit jarinya, pertanda bingung mau kemana.
Jika aku ke rumah orang yang aku kenal, bisa-bisa aku dapat banyak pertanyaan. Ke rumah kakak? Oh, no. Alex nanti yang akan bertanya mengenai hubungan ku dengan kakak tengik itu, belum lagi ke rumah keluarga lainnya pastinya mereka sedang sibuk dengan dunia mereka malam ini.
Pikiran Angela sedikit ragu memutuskan akan pergi kemana saat ini.
Mata Angela sedikit terbelalak pasalnya, dari perkataan Alex itu artinya mereka berdua malam ini akan menginap di satu tempat yang sama. Walau Alex bilang tempat itu tidak diketahui banyak orang.
"Kita berdua? Ke tempat yang sama?" Kali ini Angela yang bertanya.
"Iya, kenapa? Apa kau tidak mau? Lagian aku pikir jika kesana kita lebih aman sampai besok pagi," ujar Alex.
Sampai dalam hati Angela sedikit membatin.
Oh my God, Alex kau polos atau apasih? Saat di apartemen mu saja kita hampir melakukan hal aneh, apalagi di tempat yang tidak banyak orang atau mungkin hanya kita berdua saja.
Sampailah mereka di sebuah rumah yang sederhana tapi terlihat klasik dan lumayan besar.
"Silahkan masuk, di rumah ini ada tiga pelayan. Nanti aku suruh mereka untuk mempersiapkan kamar mu," langkah kaki Angela mengikuti Alex dari belakang masuk ke rumah tersebut.
Dua diantara ketiga pelayan itu terlihat sudah berusia 50 tahunan ke atas sedangkan yang satunya lagi terlihat masih muda, mereka mungkin sudah lama bekerja di rumah itu.
"Ini Sir Henry, dia adalah kepala pelayan di rumah sepeninggal kakek ku ini. Aku juga sudah menganggap nya keluargaku sendiri, soalnya sejak kecil aku sudah mengenal nya. Yang satunya adalah istri pak Henry, dan disampingnya adalah cucunya, kebetulan mereka di percayakan untuk tetap menjaga rumah yang meninggalkan banyak kenangan," begitulah penjelasan Alex dan Angela mengangguk mengerti akan hal tersebut.
"Nona silahkan ikuti saya menuju kamar yang kami sediakan untuk anda," ujar salah satu pelayan yang merupakan istri Sir Henry.
Angela memandangi isi kamar yang akan dia tempati malam ini, kasur yang sangat empuk dengan tata letak beberapa furniture terlihat sangat tertata rapi. Sudah lama dirinya tidak merasakan suasana seperti ini, terakhir kali itupun saat dia masih tinggal di rumah orangtuanya.
"Fantastic, ini seperti kamar tuan putri dalam cerita - cerita dongeng. Baiklah Angela malam ini kau jadi Princess Belle dulu," singgung Angela mengatakan dirinya princess dari salah satu karakter Disney tersebut. "Tunggu dulu, aku tidak punya baju ganti? Aku tanya saja dengan para pelayan itu, mungkin saja ada baju wanita disini." Untungnya di rumah itu, masih ada beberapa pakaian khusus wanita. Dan salah satu pelayan tersebut mengantar baju itu ke kamar Angela.
"Nona, ini bajunya."
"Benar ini? Eh ... kok sedikit tipis ya?" Angela memperhatikan baju tidur yang terlihat sangat tipis itu, bisa dibilang itu cocok untuk pakaian wanita yang ingin menggoda seorang pria. "Tidak ada baju lain kah?" Tanya Angela lagi.
"Hanya itu nona, sedangkan yang lainnya itu baju pria. Inipun baju punya Ny. Wilton ibu Tuan Muda jika dia sedang berkunjung ke rumah ini bersama Tn. Wilton."
Tidak ada pilihan lain Angela terpaksa memakai nya.
Apa perasaan ku saja, nanti akan terjadi sesuatu. Sudahlah tidak usah di pikirkan, yang terpenting saat ini ada pakaian ganti - Angela.
******
Bersambung...