My Trouble Maker

My Trouble Maker
Terulang Lagi



Belum selesai mengganti pakaiannya, tiba-tiba lampu mati. Hal ini membuat Angela terkejut pasalnya baju yang ia pakai memiliki resleting dibelakangnya, itu sangat menyulitkan tangannya untuk menarik resleting tersebut apalagi saat ini lampu mati mendadak.


"Shit, kenapa saat seperti ini lampu mati sih. Ini bagaimana aku menarik resleting nya," tangan Angela mencoba menarik resleting itu dengan kesal. "Hah? Resleting nya copot, huaaa ... Ya Tuhan kenapa aku sangat sial disaat seperti ini. Dimana ya ponsel ku, aduh di sini sangat gelap."


******


"Kenapa ponsel ku jadi dua?" Alex menghidupkan ponsel nya, mencoba menyinari kamar nya yang gelap saat ini karena mat lampu. "Inikan ponsel Angela, apa dia baik-baik saja saat ini? Aku harus segera ke kamarnya, takutnya dalam keadaan gelap seperti ini dia tidak dapat melihat apa-apa."


Angela mencoba menenangkan dirinya, saat ini dia meraba-raba daerah sekitarnya mencari pintu keluar mencoba memanggil pelayan untuk menyediakan senter atau apapun agar dia bisa melihat.


"Aku rasa tidak apa-apa keluar sebentar, daripada mati dalam kegelapan. Huh, aku sangat tidak suka," ujar Angela.


Terdengar suara tangga yang dimana ada seseorang berjalan di sana.


Krett ... Krett ... Krett


Langkah itu kian mendekat, dan Angela sedikit tersigap mengetahui ada orang menuju kamarnya.


"Aku rasa itu pelayan wanita tadi. Oke, aku harus segera mendekati nya juga,"


Brukk ...


Ketika pintu telah di buka kepala Angela tidak sengaja menabrak dada seseorang.


Nyaman sekali, dadanya juga bidang. Andai saja ini Alex, ehhh ... tunggu dulu jangan bilang ini benar-benar dia.


Dalam kegelapan tersebut hanya ada seberkas sinar dari ponsel yang di pegang oleh orang tersebut. Saat Angela mencoba memastikan apa itu benar seorang pelayan atau ...


"Alex!"


Mata mereka saling bertemu, menatap satu sama lain. Sinar ponsel tersebut hanya menyinari sebagian dari tubuh mereka, hingga kini yang terlihat hanya wajah mereka yang saling memandang.


"Aku kesini khawatir kau kenapa-napa, jadi aku pergi ke kamar mu dan ingin mengembalikan ponsel mu. Mungkin tadi terbawa dengan ku," ucap Alex yang sedikit gugup dan masih dalam keadaan posisi dimana Angela masih dalam dekapan nya.


Ada sebuah perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan oleh Alex. Saat menyentuh kulit Angela pria seperti Alex yang sudah lama tidak bersentuhan dengan seorang wanita setelah bercerai, merasakan sebuah desiran di dadanya yang kian mengguncang. Entah apa itu jati dirinya sebagai lelaki perlahan muncul, wangi aroma tubuh Angela yang sangat lekat dan aroma itu jugalah yang mengingatkan Alex tentang kejadian Cinta Satu Malam dua tahun silam membuatnya candu untuk terus mendekap wanita yang sedari tadi bersandar di dadanya.


Klap


Lampu kembali hidup, sangat jelas menunjukkan keadaan sekitar. Angela yang mencoba membetulkan posisinya mendapatkan tatapan penuh arti dari Alex.


"Wah, untung lampu nya sudah hidup kembali," ujar Angela yang terlihat senang, tanpa dia sadari dirinya lupa bahwa pakaian yang saat ini dia pakai sangat mengekspos seluruh bagian tubuhnya.


Alex beberapa kali menelan Saliva nya, ingin pergi tapi mata dan raga nya masih ingin menikmati pemandangan tersebut, lain dihati nya yang kini ingin segera menjauh dari tempat itu sebelum hewan liar di jiwanya bangkit.


Ayolah Alex, kenapa kaki ku tidak bisa di gerakkan. Oh mommy, anak lelakimu idak dapat menahan semua ini.


Bukannya pergi Alex kembali menarik Angela dalam dekapannya, seketika mencium bibir Angela dengan perlahan sampai beberapa detik kemudian sempat berhenti.


Suara dengusan napas kedua orang tersebut terdengar sangat jelas di telinga mereka masing-masing, mereka kembali menatap satu sama lain sampai Alex sedikit berucap.


"Maaf Angela, aku tidak bisa menahannya lagi. Aroma tubuh mu, sudah membuat ku benar-benar candu untuk segera mendekap mu."


Pintu kamar itu sudah terkunci dari dalam, kini hanya mereka berdua yang berada dalam kamar tersebut. Direngkuhnya lagi tengkuk Angela oleh Alex melanjutkan ciuman yang sempat tertunda tadi, jika tadi ciuman itu dimulai dengan perlahan lain lagi saat ini. Ciuman itu semakin dalam menyisakan separuh dari napas mereka, tidak sekali-kali Alex menggigit bibir mungil nan merah merona milik Angela. Sampai terdengar sedikit erangan dari mulut wanita tersebut.


"Arrghh .."


Mendengar suara erangan Angela bukannya berhenti sampai disitu, kenyataan nya hewan liar itu sudah merasuki jiwa Alex. Tidak peduli apa yang dia lakukan saat ini yang dia tahu malam ini harus menuntaskan apa yang telah membuatnya candu dengan wanita yang kini ada dihadapannya.


Baju Angela yang memang semulanya terlihat tipis ditambah bagian belakang terbuka dengan lebar, hanya satu di pikiran Angela saat ini.


Sepertinya aku akan dimakan oleh hewan buas malam ini.


Tidak puas dengan ciuman tersebut Alex langsung menggendong Angela untuk segera direbahkan ke kasur yang terlihat nyaman itu. Angela sudah terlihat berantakan, bajunya sedikit melorot. Alex yang menatap tubuh Angela dari atas kasur hanya menyeringai, siap memangsa Angela malam ini.


Tidak tanggung-tanggung Alex ikut melepas bajunya tidak mau kalah melihat Angela yang sudah acak-acakan dan kini Alex hanya terlihat memakai celana pendek sebatas lutut, dan dia sudah menindih tubuh Angela.


Alex menyusuri setiap bagian tubuh wanita yang kini hanya pasrah akan apa yang terjadi padanya, sampai akhirnya benar Angela sudah tidak memakai baju sehelai benangpun. Mau tidak mau hewan liar yang kini ada dihadapannya sudah mencabik-cabik baju tersebut. Tangan Alex yang lebar membelai rambut Angela.


"Kita akan mulai dengan pelan, jika sudah teratur ikuti saja alurnya ... lady," bisik Alex di telinga Angela.


Permainan benar dimulai, rintihan demi rintihan kecil terdengar dari suara seorang wanita. Lama kelamaan rintihan itu terdengar menjadi sebuah desahan yang menggairahkan, tidak hentinya Alex mencoba meleburkan permainan itu dengan beberapa hentakkan membuat wanita yang sedang bersama nya merasakan surga dan neraka secara bersamaan. Terkadang menyejukkan bagaikan surga dalam bayangan nya, dan terkadang memanas bagaikan api neraka yang sedang berkobar. Itulah sebuah permainan yang sesungguhnya.


Sedikit melelahkan tapi jika sudah mengenai hal tersebut orang manapun akan merasakan lelah tersebut sebagai kebahagiaan tersendiri. Alex benar-benar pria sejati, permainan nya bukan hanya tentang nafsu belaka tapi dia memahami lawan mainnya juga, tidak sekali-kali dia mencoba Angela untuk memimpin permainan tersebut. Membuat nya benar sudah candu dan terlena dengan wanita itu, ya wanita itu adalah Angela. Sang Lady Trouble Maker.


"Kau luar biasa lady, aku benar jatuh dalam permainan mu," ujar Alex yang keringat nya ikut bercucuran menandakan bahwa permainan malam ini sungguh luar biasa.


Kejadian ini terulang lagi, jika dulu terjadi dengan tidak sengaja. Maka kini kejadian ini terjadi dengan kesengajaan antara mereka berdua, dan Alex mengingat semua hal itu malam ini.


*****


Di luar kamar beberapa orang terlihat menguping.


"Tuan muda benar sudah dewasa, dulu aku selalu menemaninya bermain kejar-kejaran saat ia masih kecil dan sekarang setelah dewasa dia sudah mengerti permainan lain dan menemukan lawan mainnya. Aku jadi terharu," ucap Tn. Henry salah satu pelayan di rumah itu. "Hei, nak pergi sana. Kau tidak boleh dengar, ini urusan orang dewasa."


"Kakek aku juga sudah dewasa tahu."


******


Bersambung...