My Trouble Maker

My Trouble Maker
Steven



Tidak mendapatkan momen saat Alex mencium singkat Angela, para paparazi itu tidak kehabisan akal mereka masih bisa mempublikasikan foto Alex dan Angela ketika makan malam di restoran. Semua berita yang mereka inginkan akhirnya didapatkan.


"Akhirnya kita dapat secara langsung menciduk merek berdua saat berkencan," ucap salah satu paparazi yang menguntit Alex dan Angela.


Salah satu paparazi lainnya merasakan hal aneh, "Apa mereka tidak takut ya jika kita mengikuti mereka secara diam-diam. Kenapa perasaan ku tidak enak, dengan mudahnya mereka menunjukkan kemesraan di depan orang banyak?" ujarnya. "Biasanya jika orang lain ketahuan selingkuh akan menjaga privasi tersebut, tapi kali ini mereka malah terlihat mengumbar nya."


"Sudahlah Erick jangan dipikirkan, itu artinya mereka tidak berpikir panjang. Dengan berita ini kita dapat menaikkan rating majalah StarGirl, dan akhirnya kita dapat komisi lebih."


"Begitu ya? Baiklah kalau begitu," sedikit menggaruk tengkuknya. "Aku harap perasaan buruk ku, tidak akan terjadi."


******


Setelah makan malam itu pula Alex mengantar Angela pulang, selama perjalanan mereka terlihat canggung terutama Alex.


"Selamat malam, see you Alex. Hati-hati dijalan." ucap Angela melambaikan tangannya pada Alex yang telah mengantar nya, dan Alex hanya membalas dengan senyuman.


Flo yang sudah pulang setelah urusan nya selesai, terlihat melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia kini tengah menunggu Angela yang belum saja pulang dan lupa memberi nya kabar, kemana dia pergi.


"Aduh, kemana sih anak itu."


Pintu apartemen pun terbuka memperlihatkan Angela yang baru saja pulang.


"Hei, kau darimana saja? Lihat ini sudah pukul sepuluh malam, kenapa baru pulang? Kalau ada apa-apa aku juga nanti yang repot!" Flo terlihat seperti ibu Angela yang memarahi anak gadisnya saat pulang malam.


"Aku ini sudah dewasa Flo, kau tidak perlu seperti itu. Mau aku kemana juga bukan urusan mu." timpal Angela menjawab ucapan Flo.


"Kau ini ya ... sudahlah daripada berdebat dengan mu, cepat katakan kau kemana? Jarang-jarang pergi ke suatu tempat tidak mengabari ku?," kali ini Flo lebih lembut bertanya pada Angela.


"Biasa, aku tadi berjumpa dengan Mr. Perfeksionis. My lovely Alex," ujar Angela yang senyum-senyum sendiri.


"Kau?!"


Flo hanya terpaku melihat Angela, ingin marah tapi dia tahu itu akan membuat dirinya sendiri yang akan terpojokkan oleh Angela.


"Tadi itu kami makan malam bisa dibilang juga sedang berkencan, sekaligus membuat sebuah perjanjian."


"Perjanjian?" tanya Flo.


Angela menceritakan pertemuannya dengan Alex tadi, sampai saat Alex tiba-tiba menciumnya.


"Alex mencium mu? Kau pasti sedang mengarang," Flo tidak percaya mendengar cerita Angela.


"Sayang saja tadi paparazi yang mengikuti kami tidak sempat memotret adegan romantis tadi, mungkin saja jika sempat besoknya sudah ada di sosial media maupun surat kabar," ujar Angela yang bangga menceritakan hal tersebut.


"Aku tidak gila dan otakku juga tidak bergeser, semua ini aku sudah rencanakan," Angela langsung menyingkirkan tangan Flo dari kepalanya. "Sudahlah aku mau tidur, malam ini aku ingin memimpikan Mr. Perfeksionis ku dulu. Good night Floria Gultom."


Flo hanya bisa geleng-geleng melihat Angela, lagian juga mau dikata apalagi Angela tetaplah Angela yang seperti itu.


******


Paginya di sebuah kamar hotel bintang lima, dimana kita dapat melihat pemandangan kota New York dari dinding yang terbuat dari kaca yang sangat besar.


Di kamar itu tepatnya ada pria dan wanita yang sedang tidur dibalik selimut tebal tersebut, mereka tampak pulas. Mungkin bisa dibilang kelelahan setelah melakukan rutinitas malam yang mereka lakukan, tubuh keduanya terlihat tidak memakai sehelai benang pun alias *****.


Sampai keduanya mulai bangun, wanita yang berada di samping pria itu masih memeluk erat pria tersebut.


"Stev ... kau sudah bangun, jangan pergi dulu aku masih ingin bersamanya," suara lirih wanita itu memohon pada pria yang ada disampingnya.


Seolah tidak mendengar pria yang ternyata adalah Steven itu langsung melepaskan pelukan wanita itu dari tubuhnya.


"Rose, aku harus segera pergi. Soalnya pagi ini ada pertemuan bisnis dengan rekan kerja ku," Steven berucap di telinga wanita yang dipanggil Rose itu.


"Tapi, kau janji ya nanti kita bertemu lagi," suara manja dari wanita itu membujuk Steven.


"Tentu, aku janji. Lagian aku sangat senang dengan dirimu tadi malam, kau luar biasa baby..." sebuah kecupan manis diberikan Steven pada wanita itu.


Seakan terlena dengan penuturan Steven, wanita mengangguk berpikir pria itu akan menepati janjinya kelak.


"Baiklah, aku pergi dulu. Pekerjaan sudah menunggu ku, akan aku tinggalkan kartu ini jika saja kau memerlukan sesuatu gunakan kartu ini, dan nanti ada sekretaris ku yang akan membawakan mu baju. Lihat bajumu tadi malam sudah sobek," ujar Steven lagi.


Baju wanita itu memang sudah sobek akibat kegarangan Steven yang tadi malam sedikit bermain dengan wanita itu.


Steven pun akhirnya lekas pergi, beberapa anak buahnya menunggu di depan pintu kamar hotel.


"Tuan, bagaimana dengan wanita yang ada di dalam?" tanya salah satu pengawal.


"Aku sudah mengurus nya, biarkan nanti dia pergi sendiri. Kau segera siapkan mobil, kita akan pergi ke perusahaan I.S Grup milik Alex." Titah Steven pada pengawal nya tersebut.


"Siap Tuan."


Dasar wanita tidak tahu malu, mana mungkin aku akan menemui nya lagi. Semua orang tahu aku Steven tidak pernah memakai barang yang sama untuk kedua kalinya. - Steven.


******


Bersambung...