My Trouble Maker

My Trouble Maker
Sebuah Tempat



Tidak lama menunggu akhirnya Angela telah sampai ke tempat yang di katakan Alex, lebih tepatnya tempat ini seperti sebuah taman meski terlihat tidak ada orang dan sedikit tidak terurus, tapi Angela tetap melangkah kan kakinya mencari keberadaan Alex.


"Yakin disini? Tempat ini sangat sepi, atau jangan-jangan ..." langkah kaki Angela sempat berhenti, memikirkan sesuatu yang mungkin saja membuat nya dalam bahaya. "Bagaimana jika itu benar bukan Alex dan menyamar sebagai Alex? Dan dia ingin melakukan niat jahat dengan ku, sebaiknya aku harus hati-hati. Belum tahu dia siapa Angela."


Mencoba melambatkan langkah kakinya, Angela berusaha tidak membuat kegaduhan agar tidak mengundang kecurigaan orang yang bisa saja berniat jahat padanya.


Angela merasakan ada seseorang yang mengikuti nya dari belakang, seseorang mencoba memagang pundak Angela. Sampai 'Bruk' sebuah tinju mendarat di pipi orang tersebut.


"Arghhhh, ternyata tinju mu sangat kuat," orang tersebut memegang pipinya yang sedikit sakit sehabis Angela tinju.


"Alex, oh my God!" teriak Angela kaget. "Sorry, aku tidak tahu itu dirimu, lagian sih kau ajak aku ke tempat seperti ini. Jadi aku pikir benar ada orang jahat yang menjebak ku."


Wajah Angela menunjukkan rasa bersalah nya di hadapan Alex, dia sadar saat ini dia melakukan kesalahan pada pria tersebut dengan 'Meninju nya' secara spontan.


"Tidak apa-apa, tidak usah minta maaf," ucap Alex. "Aku tadi pikir apa kau tersesat, jadi saat melihat mu aku langsung mendekati mu dari belakang eh ... ternyata langsung dapat pukulan, hehe."


Terlihat Alex yang tidak menyalakan Angela bahkan dia tidak merasa sakit saat kena pukulan tersebut.


"Itu pasti sakit, ayo cari tempat duduk," seru Angela.


Mereka telah duduk di kursi taman yang telah tersedia, kursi sedikit usang membuktikan bahwa tempat itu sudah lama tidak ada pengunjung.


"Apa sudah tidak sakit lagi? Kalau masih sakit, kita ke dokter saja," Angela masih terlihat cemas.


"Tidak perlu khawatir, pukulan seperti ini tidak terasa sakit. Ini biasa saja," jawab Alex.


"Oh iya, kenapa kita harus bertemu di tempat seperti ini? Apa tidak ada tempat lain? Jadinya tadi aku berpikir aneh, bisa-bisanya seorang Alex mengajak ku ketempat menyedihkan ini," mata Angela menyoroti setiap sudut taman tersebut dengan nanar.


"Tempat ini adalah tempat yang aku sukai, hening tidak ada kebisingan, orang-orang tidak bisa menggangu ku saat ingin meluapkan segala beban saat disini," jawab Alex tersenyum tipis.


"Begitu ya, apa kau tidak takut selama ini selalu datang sendirian? Bisa saja kan ada, emm ... makhluk lain atau orang jahat yang bersembunyi disini," Angela sedikit mengucapkan kalimat itu dengan nada menakuti Alex.


"Hahahaha, kau lucu Angela. Kau terlalu sering menonton film horor dan drama, mana mungkin ada hal seperti itu disini. Walaupun tempat ini sepi, dan sedikit usang nyata nya tempat ini bagus untuk kita menyampaikan semua masalah pada diri kita," gelak Alex melihat ekspresi Angela yang cemberut.


"Apa kau takut dengan semua itu? Kalau kau takut bisa jadi mereka benar ada?" kali ini Alex yang manakuti Angela.


"Hei, aku tidak takut ya. Tempat seperti ini belum seberapa dengan tempat yang pernah aku lihat. Bahkan hantu belum seberapa menakutkan oleh 'Mereka' yang aku kenal."


Belum puas menakuti Angela, akhirnya Alex mencoba membuat wanita itu terperanjat.


"Aku dengar kursi yang kita duduki ini dulu tempat seorang wanita dibunuh, bahkan dia sering menampakkan dirinya di kursi ini," wajah Alex dibuat seakan seram.


Angela hanya menelan saliva nya, dirinya sedikit bergidik ngeri.


"Angela, lihat siapa di belakang mu itu!" ucap Alex jahil


Seketika Angela terperanjat dan terkejut, dia tidak tahu apa yang terjadi sampai dia sadar kini tubuh nya dan Alex saling menindih. Kedua mata mereka saling bertemu, menatap satu sama lain. Angela yang semula merasa takut, kini hanyut dalam sorotan mata pria yang sedang menindihnya. Begitupun Alex kini dia hanya diam tidak tahu mau bicara apa, entah sebuah keuntungan atau kesalahan, ini semua karena dirinya lah yang mencoba menakuti Angela hingga mereka berada dalam posisi yang canggung.


"Ehem ..." Alex mencoba duduk ke posisi semula. "Ah, ayo kita pergi kesana ada yang ingin aku tunjukkan."


Alex mencoba mengalihkan pembicaraan, untuk menghilangkan rasa canggung diantara dirinya dan Angela. Ia kembali mengajak Angela menuju tempat yang ingin dia tunjukkan.


Angela hanya diam dan terpaku saja melihat tindakan Alex yang langsung menarik tangan nya, padahal tadi saat mereka saling menindih pikiran nya sudah mengarah kemana-mana.


Sampai lah tempat dimana Alex menarik tangan Angela.


"Bagaimana? Indah bukan," ucap Alex.


Seakan takjub, Angela terpanah akan pemandangan yang saat ini dia lihat. 'Bagaimana mungkin ada tempat seperti ini' batin nya.


"Woahh, indah sekali. It's amazing ini seakan surga duniawi," ucap Angela kagum.


Tempat itu lebih tepatnya bagian belakang taman, yang dimana menyoroti keindahan bukit dibalik taman tersebut. Bahkan bisa dilihat kota New York dari tempat tersebut.


"Maaf, tadi aku menakuti mu. Jujur tempat ini dulu banyak pengunjung yang berdatangan, saat itu lebih tepatnya aku masih kuliah S1. Sayangnya pemilik taman ini bangkrut, dan pada akhirnya tempat ini terbengkalai," penjelasan Alex membuat Angela mengerti.


"Lalu mengapa tidak ada yang ambil alih saja tempat ini, aku rasa jika di bangkitkan lagi. Tempat ini akan jadi sangat istimewa," Angela meyakinkan ucapannya. "Apalagi pasti taman ini akan lebih banyak pengunjung, sayang sekali jika di biarkan begitu saja. Jika aku sudah banyak uang lebih, pasti aku hidupkan lagi tempat ini."


"Benarkah? Kau ingin menghidupi taman ini? Apa tidak cukup uang mu sebagai top model jika ingin membeli semua ini."


"Alex kau kira uang dari top model itu banyak, aku saja terus menyisihkan uang hasil kerja ku demi masa depan, jika aku tidak jadi model lagi. Kau yang seharusnya seorang CEO bisa membeli semua ini," ucap Angela pada Alex.


"Dulu aku berpikir, juga ingin membangkitkan tempat ini. Sayangnya Catherine tidak setuju," setelah menyebut nama itu Alex sedikit murung.


"Catherine? Memang nya kenapa?" tanya Angela mencoba untuk lebih tahu.


"Dua tahun yang lalu aku mencoba untuk mengambil alih tempat ini, tapi saat itu Catherine tidak setuju dia bilang itu membuang uang dan waktu saja. Hanya demi sebuah taman yang katanya tidak berguna," Alex sedikit tertunduk.


Wanita rubah itu benar-benar ya, bilang ini tidak berguna. Padahal dia sendiri lah yang tidak berguna.


"Saat itu juga dia bilang lebih baik membiayai sebuah pusat perbelanjaan yang saat itu dia pegang, pada akhirnya bukan nya untung malah buntung," lanjut ucapan Alex. "Sejak saat itu juga aku menyuruhnya di rumah saja, tidak mengurusi bisnis atau sejenisnya. Bukan karena aku tidak yakin tapi mungkin itu bukan Passion nya."


"Pantas saja kau memilih berpisah dengan nya, jalan pikiran kalian saja sudah berbeda. Aku heran selama ini kenapa Alex yang katanya pintar dan bijaksana tidak bisa membedakan orang semacam dia golongan baik atau buruk," ungkap Angela sedikit kesal.


"Jadi maksud mu, kau tidak menyalahkan aku atas perpisahan ini?" tanya Alex.


"Tentu mana mungkin aku percaya pada 'Wanita rubah' itu, aku melihat dengan mataku sendiri dia bercumbu mesra dengan pria lain, cihhh sangat menjijikkan ... oops!" Angela tidak sengaja mengatakan bahwa dia juga melihat Catherine berselingkuh di hadapan nya.


"Angela, bagaimana kau bisa tahu semua itu?"


"Hufftt, aku tahu semuanya. Tapi aku janji kok tidak akan bilang pada siapapun." Angela mencoba diam.


"Syukurlah, kau mempercayai ku. Aku tidak menyangka kau juga melihat nya."


"Hehe, orang seperti itu jangan terlalu dipikirkan. Aku juga yakin kenapa sampai saat ini kau juga belum mengungkap semua itu, makanya aku juga tidak akan membocorkan nya," Angela mencoba tersenyum manis.


"Terimakasih Angela," kali ini Alex membalas senyum Angela, baru kali ini pria tersebut menunjukkan sebuah senyuman terbaiknya.


Alex, aku tidak sabar lagi melihat permainan Catherine. Maka dari itu aku akan terus bersamamu, mungkin jika Catherine melihat ini, permainan akan segera dimulai. Kita lihat seberapa besar dirinya ingin menjatuhkan Alex mungkin juga aku? Dia tidak tahu siapa aku sebenarnya, maka dengan ini aku juga mudah mempermalukan mu sang 'wanita rubah'. Ayo keluarkan semua pendukung mu maka Angela akan mengeluarkan semua yang ada pada dirinya.


Angela hanya bergumam dalam hatinya meyakinkan, bahwa sebentar lagi perang sesungguhnya di mulai.


******


Bersambung...