My Trouble Maker

My Trouble Maker
Anak Kecil



"Angela lihat ponsel mu, ada berita hangat pagi ini."


"Apalagi sih? Berita tentangku, ayolah Flo aku sudah biasa tentang itu," jawab Angela malas melihat ponselnya.


"Memang mengenai dirimu, tapi ini bersangkutan dengan kejadian saat New York Fashion Week waktu yang lalu."


Karena penasaran akhirnya dia melihat ponselnya, tertera dalam sebuah artikel tertulis 'Pelaku sabotase' , dalam artikel itu tertulis bahwa seorang asisten stylish lah yang melakukan nya, tidak ada keterangan orang lain yang turut andil. Pelaku itu mengaku bahwa dia sendirilah yang merencanakan semuanya, tanpa suruhan dan bantuan orang lain. Angela mempercayai bahwa semua itu bohong.


Pasti dia telah diancam sebelum ditangkap, ternyata begini cara main kalian tikus-tikus kecil.


"Syukurlah kalau begitu, ini berarti Stelin tidak bersalah. Padahal dia sudah kena getahnya, tapi Angela aku juga kesal para netizen itu terus mengatakan bahwa semua itu kesengajaan yang kau perbuat. Beberapa kolom komentar penuh dengan tuduhan kau yang sengaja melakukannya," Flo menekan ponselnya penuh kekesalan.


"Biarkan saja, itu tidak penting. Mereka terus mencari kesalahan orang lain, dan kesalahan sendiri mereka lupakan. Abaikan saja Flo."


Mobil sport warna merah tepat berhenti di depan apartemen Angela, orang disekitar hanya tercengang melihat mobil tersebut. Sudah dipastikan orang kaya yang memiliki nya.


"Nah, Alex sudah menunggu ku dibawah. Aku pergi dulu ya Flo, bye."


Penampilan Alex dengan kemeja lengan pendeknya yang kancing kerahnya terbuka, disertai celana santai setinggi lutut. Ditambah kacamata hitam melekat diwajahnya, menambah rasa kagum banyak orang akan dirinya.


"Bukan kah itu Alex yang sering dibicarakan itu? Wah dia sungguh tampan."


Bisik beberapa wanita yang melihatnya, tidak hanya itu ada pasangan dan anaknya yang masih masih kecil, merupakan salah satu penghuni aparteman tidak sengaja lewat dihadapan Alex.


"Sayang, sepertinya itu Alex yang dikabarkan dekat dengan Angela? Iyakan?"


"Benar, istriku. Sangat tampan, wajar saja banyak wanita mengagumi nya."


Saat sibuk memperhatikan Alex pasangan itu tidak sadar bahwa anaknya sudah tidak ada.


"Mana Tiffany? Anak itu kebiasaan hilang mendadak."


Ternyata eh, ternyata anak kecil bernama Tiffany itu sudah di bawah kaki Alex. Tangan kecilnya menyentuh kaki tersebut. Senyum ciri khas anak kecil yang imut membuat Alex menatap anak itu dengan gemas.


"Hei, siapa namamu nak?" Tanya Alex yang berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan anak kecil itu.


Bukan menjawab pertanyaan Alex dengan suara yang menggemaskan anak kecil itu mengucapkan kalimat lain, "Paman yang tampan," memegang pipi Alex dengan mata berbinar.


"Haha, aduh kau sangat menggemaskan. Sini paman yang tampan ini menggendong mu," rasanya perasaan ini yang sudah lama Alex inginkan menggendong seorang anak, tentunya yang dia inginkan suatu saat anaknya nanti juga menggemaskan.


Sudah seperti Hot Daddy, Alex dan anak kecil itu tersenyum ceria, mungkin kalau orang lain lihat mereka sudah seperti sepasang ayah dan anak yang ingin pergi liburan.


"Kau belum mengatakan siapa namamu nak?"


"Nyama ku Tiffany," jawabnya dengan aksen yang masih belum lancar mengucapkan kalimat tertentu.


"Oh, Tiffany. Kau sangat menggemaskan, hehe," sesekali Alex mencubit pipi anak itu lembut.


Dari kejauhan Angela melihat Alex menggendong seorang anak kecil.


"Eh, siapa anak kecil yang digendong Mr. Perfeksionis ku?"


Begitu pula kedua orang tua anak kecil itu, mereka langsung saja menghampiri Alex untuk mengambil anaknya.


"Maaf tuan, anakku memang sedikit lancang dengan orang yang baru dikenal."


Angela yang juga mendekat tersenyum ceria mengetahui siapa mereka dan anak yang digendong Alex.


"Ternyata, ada Tiffany di sini. Sudah lama bibi Angela tidak melihat mu."


Merasa diabaikan kedua orang itu yang berniat mengambil Tiffany dari gendongan Alex, bersiap menyaksikan bahwa Alex dan Angela sudah seperti kedua orang tua dari anak mereka. Sedangkan mereka saja seperti tidak dianggap dengan anak sendiri.


"Sayang, orang tua Tiffany itu kita atau mereka sih? Tampaknya kita seperti pengasuh di sini."


"Sudahlah, cepat ambil Tiffany. Lihat mereka mau pergi nanti anak kita mengganggu," perintah sang istri.


Ayah dari anak kecil itu mengambil Tiffany dari gendongan Alex, "Aduh, jadi merepotkan. Padahal kalian mau pergi, gara-gara anak kami jadi menunda waktu kalian."


"Tidak kok tuan, justru aku senang melihat anak anda yang menggemaskan ini," ujar Alex yang terpaksa melepas pelukannya.


"Kalau begitu, kami pergi dulu. Untuk kalian selamat menikmati waktu liburan ya, dan Angela kau benar beruntung, hehe." Goda kedua pasangan tersebut.


"Jajah Paman tampan dan bibi Angeya," anak kecil itu ikut berpamitan.


Baru setengah jalan meninggalkan Alex dan Angela, anak itu kembali berujar. "Daddy kenyapa kau tidak tampan ceperti paman itu? " sang ibu hanya tertawa mendengar penuturan anaknya.


"Andai saja Paman tampan dan bibi Angeya oyang tuaku."


Kali ini bukan ingin tertawa tapi kedua orang tua itu, rasanya tertegun mendengarnya.


"Huaaa ... lihat ini karena mu yang selalu mengajaknya menonton drama, jadi mulutnya tidak bisa di rem."


Tiffany hanya terkekeh melihat orangtuanya, hanya karena dia mengatakan kalimat tadi. Orangtuanya jadi berdebat hal sepele, namanya anak kecil semua yang diucapkan memang lucu, dan kadang membuat jengkel.


Kembali lagi dengan Angela dan Alex mereka sudah masuk ke mobil yang dibawa Alex.


"Tadi aku lihat kau seperti tidak ikhlas melepas Tiffany? Haha."


"Aku memang menyukai anak kecil, jadi saat melihat nya. Terlintas dipikiran, jika aku memiliki seorang anak pasti akan selucu dan menggemaskan seperti anak tadi."


Sedari dulu Alex memang menginginkan buah hatinya sendiri, dulu saat dengan Catherine dia yakin semua itu akan tercapai. Tapi kenyataannya boro-boro punya anak, Catherine sendiri sudah mengkhianati nya dan memiliki anak dengan pria lain.


Sosok seorang ayah dalam diri Alex memang sudah sangat didambakan nya, menggendong, bermain, atau sekedar mengganti popok jikala sang istri sedang tidak ada di rumah, terbayang dalam angannya. Baginya tidak lengkap suatu keluarga tanpa kehadiran seorang anak, jika dulu Catherine tidak berbohong mengenai dirinya yang tidak bisa hamil dan melakukan kesalahan dia rela mengangkat anak dari panti asuhan. Hanya demi kehangatan dalam sebuah keluarga.


"Jadi kau menginginkan seorang anak? Nikahi saja seorang wanita dan buatlah anak yang banyak," sahut Angela tidak tanggung-tanggung.


"Haha, kau lucu Angela. Saat pertama kali mengenal mu aku sudah sangat senang, jangan berubah tetaplah seperti Angela yang aku kenal. Lalu kau menyuruhku menikah?"


"Ho'oh." Angela mengangguk.


"Kalau begitu kau saja yang menikah denganku? Apa perlu waktu yang tepat untuk mengutarakan nya? Hahaha."


Pipi Angela memerah, sepertinya ini melebihi saat Alex mencium nya tiba-tiba.


"Kenapa diam? Apa aku salah bicara, maaf aku hanya bercanda kok."


"Eh? Iya tidak apa-apa, Lex."


Bercanda? Hah? Aku kira dia mengatakan yang sebenarnya. - Angela.


Apa yang telah aku perbuat, sungguh aku mengatakannya dengan kesungguhan. Tapi kenapa aku akhiri dengan kalimat bercanda? Sungguh aku mengutuk diriku sendiri yang bodoh ini, aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Aku harap kau sabar menunggu Angela. - Alex


******


IG : @al.be.ga_ / @yzzahra_


~AlBeGa~