My Trouble Maker

My Trouble Maker
Let's Do It



Selama Angela liburan Flo sendiri berdiam diri di apartemen, suasana apartemen juga sangat suntuk dan sepi. Banyak orang memilih liburan, sehingga hanya tersisa beberapa orang saja di sekitar apartemen.


Tidak seperti orang lain yang pergi keluar hanya untuk mencari tempat yang segar selagi musim panas ini berlangsung. Berbeda dengan Flo, dia masih bertahan dengan AC dalam kamarnya.


"Cemilin sudah, majalah sudah, baik tinggal hidupkan AC."


Bak malapetaka AC yang selama ini menemaninya tidak mau hidup, "What is wrong? " tangannya terus memencet remote AC. "Dalam keadaan seperti ini, AC rusak? Aku harus panggil bagian service AC," mencari ponsel disekitar kasur.


Baru saja ingin menghubungi tukang service AC, kekasihnya William sudah menelepon duluan.


"Flo, apa kau masih di apartemen? Aku sudah menunggu di bawah, coba lihat dari jendela." sahut William.


Dengan sigap Flo menyibakkan jendela apartemen, dan benar ternyata William sudah ada di bawah.


"Hei, kenapa mendadak datang? Tunggu sebentar, aku akan segera turun."


Tidak butuh waktu lama Flo sudah di bawah, kekasihnya William adalah pria yang tidak banyak bicara dan agak tertutup. Sangat jarang dia langsung menemui Flo di apartemen, selama ini jika mereka selalu membuat janji jika ingin bertemu. Misalnya disebuah Cafe atau tempat pasangan sering bertemu.


"Wil? Tumben sekali datang langsung ke sini? Hmmm ... pasti rindu dengan ku, ya?" Flo memeluk kekasihnya dengan erat.


Yang tadinya kesal akibat AC rusak, Flo tidak memikirkan hal itu lagi. Terlebih sang kekasih datang menemuinya.


"Bisa dibilang begitu, hari ini aku ingin mengajakmu keluar? Ayo, segera naik mobil."


Wajah Flo sedikit mengkerut pasalnya dia tidak pernah melihat William tiba-tiba datang dan langsung mengajaknya pergi.


"Really? Aku ganti baju dulu kalau begitu ..."


Tanpa aba-aba William mencegahnya, "Tidak perlu, cukup dengan pakaian seperti itu."


"Hah? Tapi ... aku terlihat acak-acakan saat ini, nanti malu di lihat orang," ujar Flo melihat penampilan nya yang memang seperti orang yang suka bermalas-malasan. Dia tadi tidak berpikir William akan menemuinya, apalagi tadinya dia hanya ingin menghabiskan waktu untuk nonton televisi, dan makan cemilan di apartemen.


"Kau sudah cantik dengan penampilan mu saat ini, ayo kita pergi."


Mau dibawa kemana Flo, dia juga hanya pasrah. Soalnya hal ini juga tidak terlalu buruk, di apartemen AC sedang rusak lalu William mengajaknya pergi. Setidaknya dia bisa menikmati waktu bersama sang kekasih yang dirindukan.


Tepatnya saat ini Flo dan William berada di sebuah Cafe dengan tampilan minimalis, tempat ini bukan Cafe yang sering Angela dan Flo kunjungi. Bahkan ini untuk pertama kalinya Flo datang ke Cafe ini bersama William.


Keduanya sudah saling duduk berhadapan, Flo yakin William sengaja mengajaknya kesini karena rindu, tapi ternyata saat memulai percakapan ada sesuatu yang mengganjal.


"Apa Angela belum pulang?" Tanya William dengan serius.


"Angela? Dia baru tiga hari liburan, mana mungkin cepat pulang. Paling tidak butuh waktu seminggu lebih untuknya berlibur."


"Benarkah? Berarti dia tidak memikirkan mu, sampai liburan tidak mengajak mu."


"Ayolah, Wil. Kau tahu sendirikan Angela tidak bermaksud melakukan hal itu, aku juga tidak ingin mengganggunya bersama Alex katanya dia juga sekamar dengan Alex. Lagian beberapa hari yang lalu aku juga mengajak mu, tapi kau bilang tidak bisa."


William tetap tersenyum penuh arti, dan fokus mendengar apa yang dikatakan Flo.


"Kau tahu baru tiga hari saja sudah banyak berita mengenai Angela dan Alex, aku pikir jika Alex terus dekat dengannya hidup Angela tidak akan baik," ucapnya santai.


Rasanya Flo ingin marah dengan penuturan William, kekasihnya sendiri. Dia tahu William sudah mengenal Angela saat pertama kali Flo resmi berpacaran dengannya, dan selama ini pula terkadang dia sedikit risih jika William selalu memberi pendapatnya dengan perkataan yang pedas, terlebih lagi saat ini dia menyinggung teman baiknya yaitu Angela.


"Apa maksud mu? Jadi kau berpikir sama seperti netizen itu? Aku dan Angela sudah berteman sejak lama, jadi aku tahu sifatnya seperti apa dia tidak mungkin melakukan sesuatu diluar kemampuannya, Wil aku tidak suka kau berkata seperti tadi!"


"Flo, sayangku. Aku tidak mengatakan Angela seperti yang dikatakan banyak orang, hanya saja aku memberi saran cobalah Angela jauhi Alex pria sepertinya tidak akan mampu membuatnya bahagia. Kau sebagai teman harusnya mengerti," sambil menghirup Coffee yang dia pesan.


Karena hanya tuanku yang layak untuk nona Angela, bukan Alexander Wilton itu. Cih ...


Terus berpikir jernih, Flo memahami kenapa William mengatakan hal tersebut. Tapi, bukan berarti dia layak mengatakan sesuatu yang tidak dia pahami.


"Sudahlah jangan bahas itu lagi, kau berniat mengajakku keluar atau hanya ingin membahas Angela saja? Angela adalah wanita yang tidak dapat kau pahami, seluk beluknya juga tidak perlu kau tahu Wil, lebih baik kita jangan mengurusi urusannya. Bagiku sudah sangat baik keadaan Angela saat ini, dapat bertemu dengan Alex."


William ada apa dengan mu? Dari dulu setiap membahas Angela kau seperti ingin mengorek lebih dalam, ada apa sebenarnya?


William tidak lagi menanggapi ucapan Flo, hanya sebuah senyum tipis yang dia tunjukkan. Dirinya menganggap sudah cukup untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan, itupun arahan dari seseorang.


Aku tahu siapa Angela dan aku tahu mengenai seluk-beluk nya, maaf Flo aku hanya ingin menyembunyikan siapa diriku sebenarnya. Hanya untuk seseorang yang sedang membutuhkan ku, tuan Robert aku pasti akan melaksanakan semua perintah mu.


******


Sepuluh tahun lalu ...


"Hei coba kalian lihat apa itu Angela? Wah, dia sangat cantik."


Rambut wanita itu terurai dan matanya fokus melihat ke depan, wajahnya yang sedingin es memberi kesan yang dalam.


Seluruh penjuru sekolah banyak membicarakan nya, sepertinya Angela sejak dulu sudah sangat terkenal. Yang berbeda dulu dia terlihat jutek pada orang lain, hanya satu sifat yang terus bertahan yaitu sifat Trouble Maker nya.


"Flo, cepat sebentar lagi bel masuk," seorang wanita memanjat pagar sekolah.


"Aku tidak bisa naik, tolong aku Angela."


"Kau payah sekali sih, lihat Fred dan Jack sudah melambaikan tangannya pada kita, pertanda Sir Edward akan segera masuk kelas, ayo sini tangan mu."


Usaha itu berhasil, berhubung langkah pria yang mereka panggil Sir Edward hampir sampai kelas. Mereka mencoba memikirkan bagaimana agar mereka yang terlebih dulu masuk kelas, diam-diam mereka mengikuti Sir Edward dari belakang secara perlahan agar tidak didengar.


"Bagaimana ini? Tidak mungkin kita mengiringi nya dari belakang, Sir Edward adalah guru killer."


"Huss ... kau diam saja, aku akan memikirkan cara lain," melihat ke sekitar.


Keberuntungan sedang berpihak pada mereka, seorang pria muda dan tampan yang membawa sebuah berkas ditangannya jalan berarah di belakang mereka juga.


Tanpa basa-basi, Angela mendorong pria itu menuju Sir Edward.


"Hmm, nak apa ada yang ingin kau katakan?" Sir Edward berhenti ketika pria itu tiba-tiba ada di dekatnya.


Pria itu yang tidak tahu apa-apa menatap Angela dan Flo, sedangkan mereka memberi kode untuk pria itu menunda Sir Edward sementara agar mereka bisa masuk lebih dulu ke kelas.


"A---aku, aku hanya ingin bilang dompet anda hampir terjatuh Sir," ucap pria itu.


Dengan rasa lega Angela mengelus dadanya, "Flo, ayo kita segera masuk. Mumpung pria itu menunda Sir Edward menuju kelas."


Pada akhirnya semua itu berjalan dengan lancar, sampai bel istirahat berbunyi. Pria yang tadi membantu Angela menjalankan misinya menunggu nya diluar pintu kelas.


"Hei, nona. Berhenti ..."


Angela menghentikan langkah kakinya, karena merasa dirinya yang dipanggil. Dia menolehkan kepalanya, "Ada apa?" ucapnya cuek.


"Kau berhutang denganku, tadi aku membantu mu. Jadi ..." mendekati Angela. "Aku ingin menagih utang atas pertolongan ku pagi tadi."


"Hanya seperti itu kau menagih utang? Oh my god, memangnya apa yang kau inginkan?"


"Aku hanya ingin tahu namamu, perkenalkan namaku Robert Scott," menjulurkan tangannya dan tersenyum manis.


Tidak membalas juluran tangan itu, Angela dengan wajah dinginnya hanya membalas singkat. "Angela," pergi berlalu meninggalkan pria tadi.


"Angela, nama yang cantik. Seperti malaikat, persis dengan wajahnya," senyum pria itu kembali merekah.


"Tuan ..." sebuah tangan mengejutkannya. "Dia Angela Taylor, sudah pasti dari keluarga Taylor. Jangan jatuh cinta dengannya," ucap seseorang mengingatkan.


"Begitu ya? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya William ..."


Hanya sebuah kenangan yang berkesan, bagi sebelah pihak. Sepertinya sesuatu yang telah lama di pendam terus berkembang seiring waktu.


******


Siapa Robert? Boomerang akan segera di mulai, tidak hanya dengan Catherine sepertinya ujian Alex dan Angela akan semakin menarik. Sementara api yang sudah membara akan semakin berkobar, satu sisi orang akan menganggap ini rumit tapi sebuah sisi yang tidak kita ketahui terlihat mudah bagi Alex apalagi Angela, sang Lady Trouble Maker. Let's do it.


******


Bersambung ...


Hai, hai, My Trouble Maker udah masuk Part 62 nih. Seperti yang pernah author bilang kemungkinan MTM bisa jadi ending di Part 90-an atau tembus 100 lebih atau kurang, bisa kalian kira-kira berapa part lagi kalau ini bakal tamat, hehe 😅 Nah kebetulan konflik dari inti cerita udah mulai keluar jadi persiapkan diri buat dibikin gereget, dan seneng dalam waktu bersamaan karena Finally bagian yang author tunggu-tunggu bakal tiba, mau ngejambak Catherine berjamaah wkwkwk 🤣 eh ... itu juga ada karakter yang baru muncul, pasti mau ngehancurin pasangan Alex dan Angela 🤔? 😔 Tenang, author emang pengen ada masalah tapi pengen juga buat mereka yang jaharah ngerasain penyiksaan cerita yang author buat, jadi pantengin terus ya cerita ini agar kalian dibuat candu oleh Alex dan Angela, eyakkk 🤭😬


~AlBeGa~