
"Tuan, dan Nona, sudah saya katakan tidak ada lagi kamar yang kosong, semuanya telah dipesan."
Resepsionis itu tetap bersikukuh mengatakan hal yang sama secara berulang.
"Aku sudah bilang, orang yang memesan seluruh kamar ini telah mengizinkan kami untuk menempati dua kamar," seru Alex yang kesal sejak tadi resepsionis itu mengulang ucapannya.
"Siapa yang tahu jika anda berbohong? Lagipula para wanita yang dibawa Tn. Steven sudah menunggu setiap kamar yang dia pesan, masih ada tersisa satu kamar. Itupun tidak akan kami berikan pada kalian, sebelum ada bukti!" Resepsionis itu mulai menunjukkan amarahnya.
Tidak sampai disitu, amarah resepsionis tersebut belum seberapa dengan dua orang yang sedang dia hadapi. Dia tidak tahu bahwa orang yang dia hadapi mungkin akan mengobrak-abrik seluruh isi hotel.
"Jadi kau ingin bukti?" Mengangkat kerah baju sang resepsionis.
"Nona, apa yang ingin anda lakukan ..." tubuhnya mulai gemetaran.
"Aku? Aku sedang mengancam nyawa mu. Berani sekali kau menantang kami? Kau tidak tahu pria yang ada disamping ku ini siapa? Dia Alexander Wilton dan aku Angela Taylor, apa kau idak tahu sedang menghadapi kedua hewan buas!" Ancamnya bertubi-tubi.
"I---iya, akan saya berikan kunci kamarnya ..."
Alex sudah menjulurkan tangannya, mengambil kunci kamar hotel.
"Kalau begitu, terimakasih nona resepsionis," ujar Alex seolah tersenyum licik.
Para pelayan hotel lainnya mendekati resepsionis yang baru saja mendapat serangan hewan buas.
"Kau tidak apa-apa? Mereka berdua mengerikan."
Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai di depan pintu kamar. Sebelum masuk Alex memuji Angela.
"Sangat jarang menemui wanita seperti mu, sudah energik, cantik dan pemberani. Hahaha ... kau benar-benar memukau Angela," puji Alex menggosok kepala Angela dengan lembut, yang mungkin membuat bahu Angela sedikit terangkat.
"Ahhhhh ... kau bisa saja memuji," tersipu malu.
Saat pintu ingin di buka, wajah Angela sedikit janggal.
"Eh? Jadi kita benar satu kamar?"
Semulanya Angela hanya memanasi sang kakak, dengan mengatakan akan satu kamar dengan Alex. Berhubung tinggal satu kamar yang tersisa, tidak bisa di elak lagi mereka memang akan satu kamar. Jika tahu ini terjadi sepertinya magma dikepala Steven benar akan keluar, sebenarnya salah dia sendiri yang memesan semua kamar dan sudah di isi oleh wanita-wanita penghibur itu.
Tidak paham akan situasi seperti ini, rasanya kecanggungan sudah menyelemuti mereka berdua, "Emmm, jika kau tidak mau, tidak masalah aku bisa cari tempat lain. Tapi ..." bingung ingin melanjutkan kalimat apa, "Tapi kita juga pernah tidur bersama, bahkan lebih. Aku rasa tidak masalah!"
Perlu keberanian untuk Alex mengatakan semua itu, tentu saja jika bukan karena mereka pernah tidur bersama dan mungkin melakukan hal yang lebih jauh, Alex tidak akan berani untuk satu kamar dengan Angela.
Krik ...
Krik ...
Krik ...
"Hoho, kalau begitu ayo masuk," seru Angela menarik Alex untuk segera masuk. "Kita akan berbagi ranjang lagi, Alex." Bisiknya ditelinga Alex yang sudah memerah.
Apa ini pertanda baik atau buruk? Apa mungkin malam yang panjang season tiga akan terjadi lagi, tunggu sampai Alex memantapkan dirinya dalam hati.
Aku harus menahan semua ini, ya harus. Tapi bagaimana? Wanita itu Angela, yang akan kembali berbagi ranjang dengan ku. Sungguh aku tidak bisa, rasanya dehaga ku akan terus bergejolak jika terus dekat dengannya. Apa aku tidur di sofa saja ya?
"Alex? Ayo masukkan barangmu ke dalam," pikiran Alex kembali buyar setelah suara itu membuyarkan nya.
******
"Bos, bos ..."
Pinggang Steven masih sakit setelah jatuh dari kursi yang dia duduki.
"Ada apa? Oh iya, apa Alex dan Angela sudah masuk kamar mereka masing-masing?"
Napas mereka tidak beraturan, "Begini bos, tadi saat kami coba cek ke dalam hotel nona Angela dan tuan Alex sedang memarahi resepsionis hotel dan mengancamnya. Resepsionis itu tidak percaya bahwa anda sendiri yang menyuruh mereka menempati kamar yang telah anda pesan."
"Jangan bicara panjang lebar, katakan intinya mereka sudah masuk kamar masing-masing atau tidak?"
Pengawal Steven mencoba merangkai kalimat yang dia ucapkan. "Mereka memang sudah masuk kamar, tapi resepsionis bilang hanya tersisa satu kamar ..." ujarnya.
Mata Steven seperti akan keluar.
"Apa maksud mu? Jadi mereka benar satu kamar, woahhh ..." memegang kepalanya yang tidak pusing.
"Semua kamar yang Anda pesan sudah di isi oleh para wanita yang sengaja anda bawa ke sini, jadi mau tidak mau nona Angela dan tuan Alex harus satu kamar."
"Kalian bodoh atau apa sih? Kalian kan bisa menyuruh salah satu dari para wanita itu untuk satu kamar dan kamar itu bisa Angela yang isi?!"
Kenyataannya walaupun itu dilakukan, tetap saja Angela tidak akan mau menempati kamar yang pernah ditempati oleh wanita seperti mereka.
"Tuan apa anda tidak ingat, saat keluarga Taylor berlibur dan nona Angela juga ikut saat itu, dan memesan kamar untuknya? Dia pernah bilang 'Kamar ini tidak steril, pasti orang yang mengisi sebelumnya tidak menjaga kebersihan'," bawahan itu menirukan suara Angela.
"Benar juga ya?" Steven mencoba untuk mengingat.
"Nah, kalau begitu tidak mungkin nona Angela mau tidur dikamar bekas wanita lain. Bisa tujuh hari tujuh malam, atau sampai tiga puluh kali bulan purnama membersihkan kamar itu agar steril bagi nona."
Baik Steven ataupun anak buahnya hanya bisa mengelus dada masing-masing, sifat Angela yang konyol, aneh dan banyak kemauan memang tidak bisa dielak kan.
Pernah saat Angela masih kecil, Steven yang hanya berjarak usia empat tahun dari Angela. Harus mengalah saat Angela kecil ingin menukar kamarnya dengan kamar Steven. Dengan alasan 'Kamar kak Steven jauh lebih besar dari kamar ku.' Mungkin Steven bisa mengiyakan hal itu dan menurutinya. Tapi juga harus menerima kenyataan kamar yang dia tukar dengan kamar Angela memiliki nuansa yang sangat girly, yaitu semua isi kamar Angela berwarna pink. Sampai pernah temannya datang berkunjung menertawakan Steven, dengan mengatakan bahwa dia pria feminim. Untungnya saat beranjak dewasa kamar itu direnovasi, Steven bisa malu jika kamar itu tetap berwarna pink.
"Ayah dan ibu dari dulu selalu menuruti kemauan Angela," ujarnya. "Allan, apa aku ini anak kandung ayah dan ibu. Huaa ..." tanya Steven pada pengawalnya tersebut dengan ekspresi merasa paling menyedihkan.
"Tentu tuan, hanya saja mungkin anda sedikit sial jika dekat nona Angela. Hehe."
Bukannya memahami Steven, pengawal itu malah mengatakan apa yang akan membuatnya kena masalah.
"Lama-lama akan aku pecat kalian, bekerja saja tidak becus. Huh!"
******
"Badanku pegal sekali," Angela meregangkan tubuhnya.
"Hari sudah petang, sebaiknya mandi dulu jika ingin istirahat. Biar besok kita bisa menikmati liburan ini."
"Mandi?"
"Iya, mandi."
"Kita mandi bersama?"
"Iya, kita mandi bersama. Ehh, maksud ku ..."
Suara gedoran pintu diluar sangat kencang sebelum Alex melanjutkan kalimatnya, tampaknya ada orang yang datang.
"Hei, hei kalian berdua cepat buka pintu," suaranya semakin kencang.
Pintu pun terbuka menampakkan siapa orang yang ribut itu.
"Steve? Kenapa kau ke kamar ini?"
"Hehe, malam ini aku juga akan tidur di sini. Bolehkan? Angela kakak sangat rindu padamu, jadi malam ini aku tidur di sini ya. Tidur di sofa pun tidak masalah," menerobos masuk tanpa mempedulikan kedua orang penghuni kamar.
Alex kali ini kau tidak akan bisa menyentuh adikku, hahahaha.
******
Keributan kembali terjadi di bawah tepatnya masih bersangkutan dengan sang resepsionis.
"Aku katakan, aku ingin menginap di sini. Pokoknya tidak ada pengecualian, serahkan kunci salah satu kamar itu padaku."
Malangnya nasib resepsionis itu harus menghadapi banyak orang aneh dan menakutkan hari ini.
Ya, tuhan. Aku ingin berhenti saja dari pekerjaan ini. Kenapa harus menghadapi para makhluk seperti mereka ...
Jelas saja kejadian hari ini banyak mendapat pusat perhatian, salah satunya seorang wanita dan pria yang berpapasan dengan pria muda yang membentak resepsionis.
"Sepertinya aku kenal dia?" gumam wanita itu.
"Cath, cepatlah kita harus segera mandi. Badanku sudah sangat pekat," seru pria itu.
Sedangkan pria muda itu tersenyum sinis.
Ternyata wanita itu juga ada disini, ini akan jadi hal yang menarik.
******
"Kak, kau kan bisa tidur dengan salah satu wanita mu. Kenapa harus tidur di sini?"
Mata Steven terus berbinar, minta dikasihani sang adik agar tidak di usir.
Lagi-lagi pintu kamar terbuka, tidak seperti Steven yang mengedor pintu. Kali ini pintu terbuka dengan baik.
"Ini siapa lagi sih ..." baru ingin menoleh, "Bocah tengik? Kenapa kau juga ada di sini?!"
"Wah, ternyata kalian semua sudah berkumpul. Kebetulan aku dapat kamar ini, dan ternyata sudah ada kalian. Cukuplah untuk kita berempat kasurnya juga ada dua. Sepertinya aku telat datang."
Alex yang tidak tahu apa-apa menegur orang tersebut, "Kau siapa? Jangan masuk sembarangan ke tempat orang, anak muda," Alex ingin mengusir pria itu.
Dengan sigap Steven dan Angela menarik tangan Alex.
"Jangan, jangan dia itu adik bungsu kami," ucap Angela pelan memainkan tangannya.
Merasa terkejut Alex terus menatap David penuh tanda tanya.
Mereka benar-benar pengganggu, aku dan Alex ingin menikmati liburan berdua. Bukan merasakan gangguan makhluk aneh seperti mereka, ihhh ... menyebalkan.
Plot twist
"Malam ini kalian bertiga tidur di kasur satu lagi," titah Angela.
"Hah? Bertiga? Bersama?"
"Ayolah Angela, aku bisa tidur di sofa atau dilantai. Tidak mungkin kami bertiga satu ranjang," keluh Alex.
"Tidak ada kalimat penolakan, atur posisi, David di tengah, kak Steve di pinggir sebelah kiri dan Alex di pinggir sebelah kanan. Cepat laksanakan dan jangan ganggu aku tidur!"
"Baik," ujar mereka bersamaan.
"Semua ini salah mu Steve," Alex menyalahkan Steven.
"Kok aku? Aku hanya ingin menjaga adikku dari harimau seperti mu."
"Sudahlah kak Steve, dan calon kakak ipar ayo kita tidur, jangan berisik."
Di kasurnya sendirian Angela terus menahan kekesalannya, "Seharusnya malam ini Alex tidur disamping ku, karena mereka berdua jadi gagal. Malah aku harus jadi pengasuh mereka bertiga."
Inilah definisi satu kamar, menempati kamar yang sama untuk beberapa orang. Sehingga kamar yang tadinya baik-baik saja menjadi tempat berkumpulnya anak hewan liar. Untung induknya tidak ikut bisa gawat jadinya.
Mungkin akan ada hari-hari yang seru nantinya, saat mereka bangun. Ngomong-ngomong anak kucing liar, yaitu Catherine juga sedang ada di sini? Hari yang luar biasa akan segera tiba.
******
~AlBeGa~