My Trouble Maker

My Trouble Maker
Mereka



Dua hari setelah itu Alex bertemu dengan Peter di kantor, tidak biasanya Alex melihat Peter sangat lesuh bahkan dari yang Alex lihat Peter tampak lebih diam.


"Ada apa dengannya?" Menghampiri Peter.


Entah faktor kelelahan atau sedang banyak pikiran, dari yang dapat Alex tangkap. Sang asisten pribadinya tersebut sedang ada masalah.


"Hei, kau kenapa? Baru dua hari aku beri tugas, kau sudah seperti mayat hidup. Ayo ceritakan apa yang terjadi saat kau mengikuti Angela?"


Peter mencoba menstabilkan ingatannya, mengingat apa yang terjadi pada dirinya, "Tuan, kau yakin ingin aku ceritakan kisah horor itu? Kisah dimana aku hampir jadi korban keganasan para singa liar? Dan kau sama sekali tidak ada di sana dan malah mengorbankan asisten mu ini, kau tahu aku mungkin hampir lenyap di muka bumi tuan. Huaaa ..." Peter tampak histeris mengungkapkan segala kecemasan nya saat berada dikediaman keluarga Taylor, hanya satu yang membuat dirinya merasa senang.


"Tapi aku juga senang diantara singa itu, ada singa betina yang membuat ku merasa nyaman di kandang singa tersebut, hehe."


Tidak mengerti maksud perkataan Peter, rasanya dia sudah muak mendengar yang dimaksud 'Kandang Singa' itu apa.


"Dari kemarin hanya kandang singa yang kau bahas, aku jadi tidak tahu apa yang kau maksud. Cepat jelaskan semua hal itu, atau ..."


"Atau apa tuan?"


"Atau aku potong gajimu selama setahun!"


Sudah menghadapi keluarga Taylor, eh sekarang harus diancam akan dipotong gaji selama setahun. Mungkin nyawa Peter benar akan terancam, melihat dari sisi manapun dia yang jadi kelinci percobaan. Sad Boy.


"Baiklah akan aku jelaskan, sebenarnya ..." nasib ya nasib, seorang pria datang membuat Peter kembali tidak bisa menjelaskan apa yang ingin Alex dengar. "Tidak, salah satu singa sedang ada di sini," tunjuknya pada pria yang menghampiri dia dan Alex.


"Steven!" ujar Alex geram.


Pria itu ternyata Steven, "Hai, Lex. Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat mu."


Brukkk ...


Pukulan itu melayang ke wajah Steven, tidak tahu apa alasan Alex tiba-tiba memukulnya. Niat ingin menyapa malah harus menerima sebuah pukulan.


"Arghhhh, apa-apaan kau ini?!"


"Steve, pukulan itu untuk kau yang menggoda seorang wanita, dan ini ..."


Brukkk ...


Pukulan kedua kembali melayang diwajah tampan Steven, "Dan ini pukulan untuk kau yang tidak tahu malu, dengan brengsek nya melakukan hal yang tidak-tidak pada Angela," suara itu penuh penekanan.


Merasa tidak bersalah, Peter membalas pukulan Alex, "Kau tidak sadar Alex? Kau sendirilah yang telah menyentuh Angela tanpa sepengetahuan ku," balas Steven.


"Untuk apa aku memberi tahu tentang apa dan seperti apa aku memperlakukan Angela, kau sendiri yang tidak tahu malu menggoda wanita yang sedang aku dekati. Ada buktinya, Peter sendiri yang melihat secara langsung."


Terdengar namanya disebut Peter langsung kalut, bingung ingin bicara apa.


Bagaimana ini, yang satunya anak singa, dan yang satunya lagi anak harimau. Jadi aku harus bicara seperti apa? Nanti kalau aku mengiyakan sih anak harimau, sang anak singa yang siap menerkam ku. Tapi jika aku diam saja, sih anak harimau yang akan menerkam ku. Aduh, beginilah nasib jika menjadi seekor kelinci. Siap tidak siap harus menghadapi kedua hewan liar itu.


"Jadi begini anak harimau ... eh maksud ku tuan Alex, sebenarnya sih anak singa ... aduh kenapa lagi aku salah bicara, maksud ku tuan Steven. Dia itu bukan pria yang dipikirkan oleh anda tuan Alex, sebenarnya tuan Steven adalah ..."


"Aku kakak Angela," ucap Steven yang langsung pada intinya.


"Hah? Kau jangan melucu Steve," ucap Alex meyakinkan apa kalimat Steven itu benar adanya.


"Jadi maksud mu itu semua tidak benar? Tapi siapa pria yang aku dengar, saat Peter juga berada di sana?" Tanya Alex mencari tahu.


Sedikit flashback, Steven memejamkan matanya sejenak. Saat itu ..


Malam itu Angela terpaksa memutuskan panggilan nya dengan Alex, akibat ulah adiknya sendiri yang usil mengerjai Angela.


Sedangkan Steven yang sedari tadi bersin keluar dari kamarnya, mendengar beberapa orang berisik dari luar, "David? Anak itu kenapa bisa ada di kamar Angela?" gumamnya mendekati David.


"Kak Steve, lihat bocah tengik ini berulah lagi. Aku baru saja di telepon my lovely Alex, dia malah bicara tidak-tidak sampai Alex mungkin berpikiran aneh mengenai aku," ujar Angela yang sebal dengan adik bungsunya itu.


"Siapa bilang? Aku tidak melakukan apa-apa, kebetulan aku sedang mengulang dialog sebuah drama di televisi. Kebetulan kak Angela sedang menelepon, aku saja tidak tahu," balas David tidak mengaku salah.


"Ini sudah jam dua belas malam? Dan kalian masih ribut, ayolah ini waktunya adik-adikku tercinta," memasang wajah konyolnya.


Oke, ketiga orang yang di cetak dari satu produk itu kini sudah berkumpul. Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Angela memberi usul yang mungkin terdengar konyol, "Wah, kebetulan kita bertiga sedang bersama. Bagaimana jika kita main monopoli saja, kemudian main truth or dare? Itu pasti seru," ujar Angela bersemangat.


Apa Steven dan David akan menolak? Tidak mereka juga terlihat girang atas usul Angela, memang terlihat kekanaka. Ketiga saudara yang selama ini tampak menjaga image masing-masing ketika sudah berkumpul, sudah seperti taman kanak-kanak mereka banyak melakukan permainan.


"Berhubung aku belum mau tidur, ayo kita main itu saja," ujar Steven dan David bersamaan.


Dari kejauhan Peter juga merasa ada suara bising dari luar, dia mencoba melihat dari depan pintu siapa orang yang berisik itu. Tidak lama juga Adelia mengagetkan Peter yang menatap ketiga saudara itu sedang bermain monopoli maupun Truth or dare.


"What? Itu tuan Steven dan nona Angela?" gumamnya pelan.


"Benar, mereka sudah biasa seperti itu. Mungkin orang yang baru kenal akan heran melihat mereka, tapi mereka dari kecil adalah anak yang polos. Beginilah nasib menjadi seorang Aunty yang seumuran dengan keponakan sendiri, jadi melihat mereka yang sudah dewasa membuat ku juga ingin segera punya anak," timpal Adelia yang memegangi perutnya.


Peter sendiri hanya melirik Adelia secara diam, "Pantas saja ayah mu sangat senang, saat mengetahui aku kekasihmu. Bagaimana jika dia tahu kita berbohong?" tanya Peter tekihat takut.


"Kenapa harus takut? Kalau begitu kita jalani saja terus, jadi kau tidak perlu takut."


Tidak berkedip saat Adelia mengatakan hal itu, membuat Peter merasakan sebuah getaran yang aneh.


Jadi maksudnya dia benar ingin menjadi kekasih ku? Oh God, mimpi apa aku semalam. Singa betina yang cantik seperti ini menghampiri ku, kalau begini aku siap reinkarnasi menjadi singa jantan. Kalau singa betinanya saja seperti ini.


Sebenarnya Adelia juga aneh dengan kalimat nya, dan dia kembali ke kamarnya.


Astaga, kenapa aku mengatakan hal seperti itu? Nanti dia pikir aku benar menginginkan nya menjadi kekasih. Huftt ...


Begitulah flashback yang ada di ingatan Steven maupun Peter.


Steven sendiri menjelaskan mengenai hubungannya dengan Angela, tapi tidak untuk keluarga nya secara rinci. Peter yang juga ada di sana mengiyakan pengakuan Steven.


"Peter, kau mungkin sudah tahu siapa keluarga Taylor. Aku harap kau tidak menceritakan pada Alex lebih rinci, dia terlahir dari keluarga Wilton. Sudah pasti suatu saat dia tahu siapa keluarga Taylor, biar dia sendiri yang mengetahuinya," ancam Steven pada Peter.


Dari dulu hingga sekarang, ikatan ini benar tidak akan putus. Sayang sekali dia telat mengenal Angela, mungkin jika dari dulu mereka saling kenal tidak akan seperti ini. Catherine kau sedang menghadapi para penguasa, dari dua kubu yang terkenal ganas. Kami tidak akan tinggal diam jika hanya menghadapi wanita seperti mu, yang dari dulu memang selalu mencari masalah.


~AlBeGa~