
Beberapa orang sudah berkumpul dalam suatu ruangan. Ruang itu cukup luas sampai terlihat banyak orang berada di sana, Angela dan Flo yang baru saja ingin melangkahkan kakinya merasa ragu untuk bergabung dengan orang-orang tersebut, sampai ketika salah satu diantara mereka mendapat tatapan untuk segera masuk.
"Baiklah Flo, aku hitung sampai tiga. Maka kita melangkah bersama menuju ruang tamu."
Flo sendiri hanya mengangguk, dan menyiapkan mentalnya, "Oh Tuhan, lindungilah kami saat ini," ucapnya yang komat-kamit sedari tadi.
"Oke, siap. Satu, dua ..."
Tiba-tiba seseorang menghentikan mereka saat ingin melangkah.
"Tunggu!"
"Aduh, ini kenapa lagi sih," ujar Angela yang sedikit kesal.
Ternyata dibelakang mereka ada dua orang yang menghentikan Angela saat ingin menghitung.
"Tunggu kami, ayo kita melangkah bersama."
Sontak saja Angela dan Flo terkejut melihat siapa yang ingin menghentikan mereka, terutama Angela. Dirinya merasa sangat heran kenapa bisa sang Aunty tercinta bersama seorang pria yang ia kenal.
"Aunty? Eh Peter, kenapa kau bisa kesini?"
Adelia menatap Angela dan Peter bergantian.
"Apa kalian saling mengenal?"
"Justru aku yang harus bertanya, kenapa bisa Aunty bersama pria ini? Peter jangan bilang kau yang dari tadi mengikuti kami dengan mobil sport mu itu?"
Merasa curiga Angela langsung menebak saja, bahwa benar Peter lah yang membuntuti dirinya dan Flo sedari tadi.
Peter hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung ingin menjawab apa. Karena saat ini dirinya sudah merasa akan diterkam segerombolan singa, belum lagi harus menghadapi Angela. Wanita yang tidak mau kalah dalam urusan berdebat.
"Sudah cukup, daripada banyak tanya dan berdebat. Lebih baik kita segera kesana, lihat mereka dari jauh saja sudah melirik kita," Flo berusaha memperingatkan mereka.
Pada akhirnya ke empat orang tersebut jalan berbarengan, ini seperti sebuah adegan super hero dimana para tokoh dengan empat kekuatan berbeda datang melangkah bersama untuk membasmi kejahatan, sayangnya itu tidak berlaku untuk Angela, Flo, Adelia, dan Peter. Justru mereka datang kesini seperti seorang tahanan yang pasrah untuk diberi hukuman.
Kini keluarga Taylor sudah banyak berkumpul, seorang pria tua yang sedang memegang tongkat duduk di tengah-tengah banyak orang. Mungkin dialah yang memimpin saat ini.
Tok ... Tok ... Tok ... Tok ...
Empat kali pula tongkat itu dipukul ke dasar lantai, menandakan kedatangan orang yang sedang di tunggu.
Terlihat banyak mata yang menatap kedatangan empat orang tersebut, beberapa keluarga Taylor ada yang berbisik.
"Lihat Adelia, dia bilang tidak akan pulang ke rumah hanya karena menolak untuk dijodohkan. Sekarang malah menggandeng seorang pria yang tidak dikenal."
Merasa sedang dibicarakan Peter melihat para wanita yang sedang menggunjing dia dan Adelia, mereka kemungkinan saudara Adelia yang seayah tapi beda ibu. Jika dipikir-pikir keluarga Angela terutama sang kakek memang memiliki tiga istri, membuat keluarga Taylor yang biasanya disebut 'Mother of Gangster' ini memiliki banyak keturunan. Sampai kekuasaan mereka yang banyak tidak diketahui publik sebenarnya sudah sangat meluas, terutama ayah Angela yang memang pewaris dari hampir seluruh kekayaan keluarga Taylor. Membuatnya disegani oleh keluarga yang lain.
Pria tua yang memegang tongkat ternyata Kakek Angela, wajah yang tadi datar langsung saja berubah cemas.
"Kalian berempat silahkan duduk," perintahnya.
Ayah Angela memberi kode pada anaknya untuk menuruti perintah sang kakek.
"Aku langsung pada intinya," suaranya sedikit direndahkan. "Angela, kakek tidak pernah mengurus kehidupan mu. Selama ini ayah dan ibumu lah yang kakek percayakan untuk mengatur mu, tapi ..." ucapnya tertahan sedangkan ayah Angela yang sedikit di singgung hanya mengernyitkan dahinya.
Seorang pelayan memberi air minum pada sang tetua sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Tapi, kali ini kakek sudah tidak tahan melihat semua ini. Kau banyak di hina orang lain, kau di tuduh yang tidak-tidak. Ingat kaulah satu-satunya cucu perempuan di keluarga ini, rasanya bukan ayah dan ibumu saja yang geram tapi satu keluarga juga ikut-ikutan merasa kesal."
Sekitar satu menit suasana kembali hening, dari sudut ruangan juga tampak Steven yang duduk menyaksikan sidang hari ini.
"Bukan maksud membuat kalian kecewa. Hanya saja ... kalian kan tahu aku Angela tidak mungkin melakukan hal seperti itu."
Tn. Taylor selaku ayah Angela juga angkat bicara, "Kami tahu nak, ayah juga tidak mempercayai mereka. Tapi jika sudah dalam keadaan yang benar sulit, kami tidak akan segan-segan mengobrak-abrik New York ataupun negara ini, mencari tahu siapa saja orang yang berani dengan keluarga Taylor. Belum tahu mereka rasanya masuk kandang singa." ucapnya penuh penekanan
'Glek' rasanya sudah banyak Saliva yang tertelan di tenggorokan ke empat orang yang sedang di sidang, mendengar penuturan ayah Angela. Bukan hanya itu mereka yang juga sedang berkumpul juga menuturkan kalimat kekesalan.
"Jika saja aku tahu orang yang berani mengusik 'Gadis Kecilku' akan aku cabik-cabik dia," ujar paman John yang tak mau kalah merasa kesal.
Dilanjutkan lagi oleh bibi Je yang sedang mengepalkan tinjunya, "Kalau aku, sudah aku pastikan akan aku sumpal mulut mereka dengan makanan beracun, yang berani mengatakan hal buruk pada salah satu keluarga Taylor. Apalagi dia ponakan ku sendiri," ujarnya penuh amarah.
Kebisingan demi kebisingan terdengar di ruang tamu, ujaran kekesalan banyak dilontarkan oleh mereka.
"Angela, katakan pada kami siapa yang berani mengganggu mu? Biar kami buat hidupnya bagai serpihan debu!"
Angela tidak menjawab, dia berusaha menahan bibirnya untuk tidak berucap, dari kecil dia sudah banyak mengandalkan keluarga nya terutama dia anak dan cucu perempuan satu-satunya di keluarga Taylor. Saat ini baginya sudah cukup mereka ikut campur, lagian dipikiran nya kini dia ingin berusaha sendiri mengatasi masalah yang dia hadapi, bukan Angela kalau tidak memikirkan rencana yang lebih epik.
Steven yang juga sedari tadi diam hanya tersenyum menatap sang adik penuh arti.
Aku tahu kau pasti akan menyembunyikan dari mereka, tapi tidak aku Angela.
"Untuk apa aku banyak bicara, kalian juga tahu aku lebih suka bertindak daripada bicara. Lagian toh jika ada yang berani mengganggu adik cantikku ini, sudah pasti bom nuklir siap mendarat kerumahnya. hehe," Steven dengan santai mengucapkan hal tersebut, dan sebuah kebiasaan baginya sedikit mengejek Angela dengan kalimat 'Adik cantikku' selama ini tidak pernah dia memuji Angela kalau bukan hanya untuk mengejek.
Saat seperti ini beraninya dia mengejek, awas kau ya Crazy Brother.
"Sudah, sudah hentikan pembicaraan kalian. Dengan adanya Angela saat ini tidak harus membuat kita khawatir," ujar kakek Angela.
Merasa lega akhirnya para singa itu sepertinya sudah tidak berniat menerkam Angela dan Flo, eh ... kita lupa masih ada Peter dan Adelia, mereka juga pikir seperti nya semua ini sudah berakhir.
"Tunggu dulu, ehem ... Adelia, apa kau tidak mau mengenalkan siapa pria itu pada kami?"
'Duarr' petir itu kembali menyambar, hal yang tidak diinginkan akhirnya benar terjadi.
"Dia, dia, dia ini ..."
Tiba-tiba kedua pria yang menahan Peter tadi datang, "Nona ini kunci mobil anda dan kekasih anda." Serunya memberi kunci mobil.
Tidak tanggung-tanggung, mereka yang mendengar Peter adalah kekasih Adelia langsung saja tersenyum lebar, bahkan beberapa orang tertawa riang.
"Hahaha, akhirnya adik kita memiliki seorang pria. Aku pikir selama ini dia tidak berminat pada pria manapun, kini dia sendiri yang membawa pria ke rumah. Amazing," ucap ayah Angela tidak tanggung-tanggung, membuat Adelia tidak bisa bicara lagi.
Kakek Angela juga ikut tepuk tangan, dulu dia bersusah payah mencari jodoh untuk anak bungsunya dan selalu menerima penolakan. Akhirnya kini dia tahu pria seperti apa yang diinginkan Adelia.
"Kalau begitu, nak sini mendekatlah," titahnya pada Peter.
Saat mendekat bukannya menerima sebuah kesan yang baik bagi Peter, mendadak 'Bruk' sebuah tinju mengenai perutnya. Sakit? Ya, memang sakit tapi Peter mencoba menahan.
"Wah, dia memang pria yang kuat. Lihat? Pukulan tadi tidak membuat nya sakit, haha. Kau lulus nak, kau memang cocok masuk keluarga ini. Aku bangga padamu," tadi sebuah pukulan kini bahu Peter dipegang dengan kuat.
Hanya mengangguk dan memegangi perutnya, Peter hanya pasrah dengan semua ini.
"Kalau begitu kau bermalam lah sehari di sini, dan ayo ikut kami. Masih banyak yang harus dibicarakan."
Ditariknya Peter dan para pria lain juga mengikuti dari belakang termasuk ayah Angela dan Steven.
"Steve, tolong kau jaga pria itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti," Adelia memohon.
"Aunty, kau sendiri yang membawa nya masuk, maka kau juga yang harus menolongnya, sudah tradisi setiap pria yang datang sebagai menantu di keluarga ini harus di uji seberapa tangguhnya dia. Jadi kau tidak perlu takut jika kekasihmu itu mengalami hal aneh oleh kakek atau bahkan ayah ku," Steven menggoda Adelia sekaligus mengejeknya.
"Tapi, dia bukan ..." terlambat Steven sudah pergi sebelum dia mengungkapkan sesuatu, "Dia bukan kekasihku, oh tidak. Aku membuat pria itu dalam masalah."
Steven sendiri hanya tersenyum tipis, "Peter, aku tahu kau korban di sini. Pasti Alex yang menyuruhmu kesini, kau harus bersabar nanti Alex juga akan merasakannya. Sayangnya mungkin Alex akan lebih kuat dari mu, huft ..." gumamnya bicara sendiri, memikirkan nasib Peter.
Angela dan Flo sudah merasa lega, saat ini rasanya perut mereka lapar.
"Kau bilang ibumu akan memasakkan sesuatu untuk kita, apa jadi?"
"Tenang Flo, ibu ku pasti akan menepatinya."
Tangan Flo yang baru ingin mengambil Apel di meja, seketika sebuah tangan merebut apel tersebut.
"Apa aku ketinggalan? Sepertinya aku telat datang ke penghakiman mu kak," ujar seorang pria yang mengambil Apel dari tangan Flo.
"Wah, bocah tengik pulang?!" sahut Angela terkejut.
Berbeda dengan Flo yang senang melihat siapa yang datang, "Adik manis sudah lama aku tidak melihat mu, wah aku sangat rindu," tangan Flo mencubit kedua pipi pria itu.
"Hei, Angela Taylor kau seharusnya menyambut ku dengan baik. Lihat kakak Flo dia sangat baik padaku."
"Kurang ajar, kalau Flo kau panggil kakak. Sedangkan kakak kandung mu sendiri malah tidak, awas kau ya bocah tengik!"
Pria itu langsung lari, "Kenapa memangnya? Kau hanya bisa mengomel, sudah seperti nenek-nenek," ejeknya yang sangat membuat Angela kesal.
"DAVID TAYLOR, terkutuk kau mengejek kakakmu sendiri!"
*******
"Kenapa Peter belum juga mengangkat telepon? Apa dia baik-baik saja?"
Alex terus menghubungi nomer Peter, rasanya ada sesuatu yang mengganjal baginya.
"Tadi dia sempat bilang 'Kandang singa' tapi langsung terputus, apa maksudnya ya? Apa keluarga Angela pawang singa? Atau rumahnya dekat kandang singa? Aduh seperti nya aku sendiri yang harus mengecek nya langsung."
*******
Bersambung...
Maaf ya hari ini telat update, author ada tugas lain yang lebih penting, jadi belum sempat up. Besok bakal ada beberapa bab yang author up biar kalian puas bacanya. Hehe.
Jangan lupa Vote + like + comen ya pembaca ter-zeyenk 😚