My Trouble Maker

My Trouble Maker
Parfum Yang Sama



"Aku di Cafe biasa kita minum Coffee disana," ucap Angela dalam telepon.


"Aku tidak bisa kesana, mendadak William mengajak ku pergi ke rumah orangtuanya," Flo menjawab telepon Angela.


"Kau ini suka mendadak sekali meninggalkan aku sendirian, kalau begitu pergi saja sana dengan kekasih pujaan mu," Angela langsung mematikan ponselnya.


Cafe yang selama ini sering dia kunjungi terlihat ramai, beberapa orang sudah mengambil tempat duduk masing-masing. Angela tidak bisa menemukan tempat duduk yang masih kosong, sampai pelayan cafe mendekati nya.


"Nona Angela, aku kira kau tidak datang hari ini. Dimana manajer mu itu?" pelayan itu sudah mengenal Angela, mengingat bahwa Angela dan Flo sering kesana berdua.


"Kebetulan aku sendiri, tapi aku lihat tempat duduk sudah penuh. Apa tidak ada lagi satu kursi yang tersisa?" Angela mencoba melihat apa masih ada satu tempat duduk lagi untuk dirinya.


"Sini ikut aku, ada satu lagi tempat duduk. Kebetulan tempat duduk itu juga ada seorang pria yang duduk disana." seru pelayan tersebut.


"Seorang pria? No!" Angela langsung menolak untuk duduk disana. "Kau tahukan biasanya jika ada seorang pria, dan disana ada aku otomatis mereka pasti merayuku. Jadi aku tidak mau."


Pelayan itu hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia tahu bahwa Angela banyak dirayu oleh para pria tapi kali ini dia hanya ragu apa pria itu akan merayu Angela.


"Kalau begitu jika nona tidak mau, tunggu sampai Tuan Alex pergi dari tempat duduknya lalu..."


"Apa? Alex? Jadi pria yang duduk itu Alex? Kalau begitu ayo antar aku kesana," Angela menarik tangan pelayan tersebut. "Dimana tempat duduknya?"


"Itu nona, kebetulan Tuan Alex juga baru datang. Tapi nona jangan banyak bicara dengan nya ya," pelayan tersebut memperingati Angela.


"Halah, untuk apa kau memperingati ku. Kau harus tahu, aku sangat mengenal nya. Akukan Angela, hahaha." kepercayaan diri Angela benar sudah di tangguh kan, bahkan pelayan Cafe pun hanya bisa geleng-geleng melihat wanita itu mengucapkan hal tersebut.


Akhirnya Angela mendekati meja tempat Alex sedang duduk.


"Ehem... maaf menganggu, boleh aku duduk di sini? Soalnya tempat duduk yang lain sudah penuh," Angela terlihat melembutkan ucapannya.


Alex yang tertegun, sejenak melihat siapa wanita yang sedang menegur nya itu. Dia ingat bahwa itu Angela yang pernah bertemu dengannya di Toko perhiasan milik sepupunya beberapa minggu yang lalu.


"Silahkan." jawab Alex singkat.


Angela langsung duduk di tempat tersebut, mata nya sedikit bersinar melihat pria yang membuat jantung nya berdetak sudah ada di hadapannya.


"Kau Alex kan? Kita pernah bertemu di toko Via dan mungkin di suatu tempat," ucap Angela yang juga menekankan setiap kata-katanya.


"Suatu tempat? Aku rasa kita hanya pernah bertemu sekali, dan kedua kalinya disini," timpal Alex.


"Benarkah? Aku pikir kita pernah bertemu bahkan mungkin lebih dari dua kali, mungkin kau saja yang lupa," ucap Angela yang kedua tangan nya di tupangkan di dagunya.


Alex tidak menatap secara langsung wajah Angela saat bicara, dia bahkan memalingkan wajahnya mengarah ke luar kaca. Tapi mata nya sedikit melirik wanita yang sedang dihadapannya tersebut.


"Aku sering bepergian kemana-mana nona Angela, jadi mungkin saja kau memang pernah melihat ku. Tapi tidak dengan ku."


"Aduh, kau ini kaku sekali sih. Tidak tahu cara orang ingin mengajak mu bicara, lagipula itu hanya guyonan ku. Ya, meski sedikit garing, aku lihat kau sedikit murung," Angela hanya ingin memecahkan keheningan antara Alex dan dirinya, karena dia tahu saat ini pria itu pikiran nya sedikit kacau.


Alex sebenarnya sangat membenci orang yang terlalu banyak bicara, apalagi tidak terlalu mengenal nya. Lain dengan saat ini pikiran nya yang memang sedikit semrawut, mendengar Angela bicara sedikit menambah mood baik nya.


Pada akhirnya Alex tidak memalingkan wajahnya, saat ini dia benar berhadapan dengan wajah Angela. Ada sesuatu yang membuatnya terdiam, mata Angela seakan menghipnotis nya.


"Kau sudah pesan Coffee?" pertanyaan Angela membuyarkan pikiran Alex.


"Kalau begitu, aku yang akan pesankan," Angela memanggil pelayan cafe tersebut. "Aku pesan dua Coffee yang biasa aku pesan, oh iya jangan lupa harus manis."


Tanpa bertanya pada Alex Coffee apa yang ingin dia pesan, Angela memilih untuk memesan Coffee yang sama.


"Aku tidak terlalu suka manis," ucap Alex.


"Lalu kenapa? Bukan nya manis itu baik, jika rasa nya hambar itu tidak baik bahkan jika mencoba Coffee pahit. Huweek menjijikkan," ekspresi Angela membayangkan rasa tersebut. "Kau harus sering coba sesuatu yang manis, pantas wajah mu terlihat murung. Ini pasti keseringan merasakan hal yang pahit."


Angela mencoba untuk mengartikan kalimatnya, mengenai permasalahan yang Alex hadapi.


Alex hanya tertunduk seakan ucapan Angela benar adanya, sudah banyak kepahitan yang dia rasakan.


"Nah, maka dari itu mulai saat ini pilihlah dan cobalah sesuatu yang manis. Contohnya diriku ini... manis bukan, hahahaha." Bukan Angela jika tidak memuji dirinya sendiri yang sambil tertawa, lagian toh kali ini dia hanya ingin menghibur Alex yang sedang banyak pikiran dengan guyonan ala dirinya.


Alex hanya mengernyitkan dahinya, seolah bingung dengan ucapan Angela.


"Ahh... aku hanya bercanda, benar ya CEO grup besar seperti mu ternyata kurang mengerti tentang humor. Ckckckck." ucap Angela yang juga menepuk bahu Alex tanpa sadar.


Walaupun guyonan Angela sedikit renyah, dan tidak di mengerti oleh Alex. Dirinya tetap mencoba terlihat lebih ceria agar menutupi awan hitam yang sedang mengelilingi pikiran Alex. Anggap saja Angela adalah matahari yang timbul saat hujan turun di malam hari.


Alex memang sulit menangkap humor yang Angela buat, tapi dirinya sedikit melupakan beban yang ada saat Angela banyak mengatakan sesuatu.


"Ngomong-ngomong, apa yang tangan mu genggam?" tanya Angela penasaran.


"Oh, ini hanya parfum," jawab Alex singkat.


Saat melihat parfum tersebut Angela sedikit terkejut.


"Inikan parfum yang sama dengan yang aku pakai, coba cium aroma tubuh ku. Samakan dengan wangi parfum ini?" ucap Angela.


Alex hanya diam, dia mencoba mencium apa benar wanginya sama.


Benar aromanya sama, pantas saat aku bertemu dengan nya waktu itu sangat familiar dengan aroma di tubuhnya.


Alex hanya bergumam dalam hati nya.


"Kau sudah lama memakai parfum ini?" Alex juga mulai bicara.


"Iya, sudah sangat lama. Parfum ini aku tahu juga dari ibuku, karena kau harus tahu parfum ini sebenarnya banyak dipakai para orang tua. Karena aromanya yang lembut, dan cocok di hidung orang seusia mereka," Angela menjelaskan.


"Dari ibumu?" Alex kembali bertanya sekali lagi.


"Iya, kira-kira saat aku duduk di sekolah menengah pertama sudah pakai parfum ini. Meski aku TOP Model dan bisa membeli parfum yang lebih mahal, tapi aku pikir hanya parfum ini yang cocok denganku. Dan juga hanya satu toko yang menjualnya, jangan bilang kau juga beli di tempat yang sama," Angela terlihat menunjukkan jari nya seakan tahu dimana Alex membeli parfum itu.


Seketika wajah Alex tampak berubah, otak nya sedang mengelolah pikiran nya.


Angela siapa kau ini sebenarnya? - Alex


******


Bersambung...