
"Bagaimana kau suka tidak dengan taman ini?"
"Iya aku sangat menyukai nya, lain kali ayo kita kesini lagi," jawab Angela riang.
"Jadi kau mau kesini lagi? Dengan ku?"
"Tentu saja, kan kau yang memberi tahu tempat ini sudah sewajarnya kita pergi bersama," ujar Angela.
"Baiklah," Alex kembali tersenyum. "Apa kau memang suka taman?"
"Saat aku kecil ayah ku membuatkan aku sebuah taman yang sangat luas, di halaman belakang rumah. Sampai saat ini taman itu masih tetap terjaga, taman itu hadiah ulang tahun ku," ungkap Angela menceritakan masa kecilnya. "Apalagi aku satu-satunya anak perempuan di keluarga ku, bisa dikatakan ayah sangat menyayangi ku."
"Wow, itu luar biasa," ucap Alex.
"Ya, benar itu luar biasa. Sayangnya taman di rumah ku itu bukan seperti taman, lebih tepatnya seperti penjara. Bagaimana bisa sebuah taman di jaga dengan ketat, oleh orang-orang yang bermuka seram," Angela seakan mengangkat alis nya.
"Memang nya kenapa?" Alex kembali bertanya.
"Orang tuaku berpikir bahwa aku bisa saja di culik musuh ayah ku atau kenapa-napa jika bermain sendirian saat kecil. Itulah sebabnya banyak sekali pengawal yang mengawasi ku," entah sebuah penjelasan yang masuk akal atau tidak, tetapi Alex seakan menyangkalnya.
"Hmm ... Angela, maaf sebelumnya. Aku tidak tahu seluk beluk mu, tapi yang aku pernah dengar kau dilahirkan dari keluarga yang jauh dari perkotaan, bahkan aku juga dengar kau tidak pernah membahas orang tuamu. Jadi maksud mu mengenai pengawal?" kali ini pertanyaan Alex sedikit membuat Angela hampir lupa akan sesuatu.
Alex sejujurnya masih ragu akan jawaban Angela, karena dia yakin penjelasan Angela yang tadi ibaratkan dia anak dari seorang terkemuka. Bahkan pengawal? Takut di culik musuh? Hanya golongan tertentu yang bisa memiliki pengawal, Alex saja yang sedari kecil sudah terlahir kaya raya tidak peduli masalah keamanan oleh orang tuanya. Walaupun tidak dipungkiri dia juga saat kecil memiliki beberapa pengawal, dan pengasuh. Hanya satu di benak Alex saat ini siapa Angela sebenarnya.
Hampir saja salah bicara, kalau tidak gawatlah aku. Aku tidak mau 'mereka' masuk dalam masalah ini, belum mulai permainan bisa-bisa Catherine di cincang oleh 'mereka' terlebih dahulu. Pokoknya kali ini aku sendiri yang harus menyelesaikan masalah sih 'wanita rubah' itu dan ingin sedikit bermain tanpa bantuan orang lain. Demi Mr. Perfeksionis ku My Alex.
"Tidak usah di pikirkan, hari sudah sore. Ayo kita pulang, takut nya nanti kemalaman," ucap Angela.
"Aku akan mengantar mu," ajak Alex.
"Tidak usah, aku tadi kesini juga bawa mobil. Sebaiknya kita berpisah disini saja, bye Alex." Tangan Angela melambai ke Alex.
Sebenarnya dia ingin menumpang dengan pria pujaan nya itu, dan mobil nya bisa dia panggil orang lain untuk mengambil nya tapi bila di ingat tadi saja dia hampir salah bicara takutnya nanti malah Angela yang lupa mengerem perkataannya bisa-bisa nanti dia salah bicara lagi.
Perpisahan di taman itu terasa sangat singkat bagi Alex dan Angela, terutama Alex yang memang sengaja melepas penat di otak nya di tambah kehadiran Angela, membuat dia lupa segala permasalahan yang sedang dia alami nya. Mungkin lain kali benar dia harus mengajak Angela kembali bertemu.
******
Bersambung...