
Jalan New York terlihat ramai, beberapa orang melakukan aktivitas seperti biasanya. Sebuah mobil BMW juga sedang melaju di jalan tersebut. Terdapat dua orang perempuan dimana satunya mengemudi dan satunya lagi sibuk memperhatikan jalan, dari yang terlihat kedua wanita itu menunjukkan ekspresi tegang walau ditutupi oleh penampilannya. Sang pengendara yang memakai kacamata hitam dengan pakaian yang casual, sedangkan wanita satunya lagi juga terlihat modis meski tidak semodis wanita yang mengendarai mobil.
"Emm ... Flo, coba kita hidupkan musik saja."
Musik pun dihidupkan, rencana ingin menghibur diri dengan mendengar musik malah wajah mereka lebih tegang. Bagaimana tidak musik yang didengar menceritakan kesedihan, dan ketakutan. Sontak keduanya menelan salivanya masing-masing.
"Ganti, ganti, coba putar lagu lain," seru wanita yang mengemudi.
Sepertinya Dewi Fortuna sedang tidak berpihak pada mereka, tetap saja musik yang diputar sama saja.
"Sial, matikan saja. Aku tidak mau dengar lagi, Huh!"
Wanita yang mengendarai mobil itu hanya menggerutu tidak karuan, pasalnya dalam keadaan seperti ini rasanya semua barang ingin dia hancurkan.
"Sabar Angela, sabar. Bukan hanya kau yang tegang, aku juga tahu."
Kedua wanita itu ternyata adalah Angela dan Flo, saat ini mereka akan pergi ke suatu tempat. Tempat dimana mereka akan jadi pusat pertanyaan dan penghakiman.
"Sebentar lagi kita sampai, sebentar lagi kita sampai," mengulang kalimat itu terus, Flo terlihat sangat cemas, kakinya juga sekali-kali dia goyangkan sehingga Angela yang disampingnya tampak risih.
"Bisa tidak diam dulu, dari tadi tubuhmu seperti cacing kepanasan. Ayolah Flo tenang sedikit, tadi kau sendiri yang mengingatkan ku."
Mencoba diam dan tenang kini Flo menutup mulutnya rapat, terlebih saat ini mereka memang akan sampai ketempat yang dituju.
Dari belakang tampak sebuah mobil sedang mengikuti mereka, karena jalan yang ramai membuat Angela tidak menyadari keberadaan mobil yang mengikuti mereka.
"Tuan, aku sudah mengikuti Nona Angela. Sepertinya dia akan pergi ke suatu tempat."
"Kabari aku jika sudah sampai, dan jangan lupa beri info secara rinci dengan siapa dia bertemu. Aku mempercayai mu Peter."
Orang yang mengikuti mobil Angela dan Flo ternyata sedang menelepon seseorang, tampak dia sangat fokus memperhatikan mobil yang ada di depan nya sambil mendengar suara orang yang di telepon.
"Baik Nona Angela, saatnya kita cari tahu siapa anda sebenarnya."
Entah ini suatu hal yang baik atau tidak, orang yang mengikuti mereka dari belakang tidak tahu bahwa saat ini dia mengikuti orang yang akan segera masuk ke kandang singa.
"Angela coba kau lihat, apa perasaan ku saja ya? Mobil itu sedang mengikuti kita?"
"Tidak usah dipedulikan Flo, jalan ini juga bukan hanya menuju rumah orang tuaku. Bisa jadi dia memang kebetulan satu jalan dengan kita, meski mengikuti kita pun apa dia yakin mau ikut masuk ke kandang singa?"
"Benar juga, jika dia wartawan sekalipun pasti nanti akan menyesal mengikuti kita."
Waktu berlalu begitu cepat, dan jalan pun semakin sempit menuntun mereka ke sebuah rumah yang sangat luar biasa besarnya, bahkan rumah itu sangat megah. Baru sampai saja sudah banyak orang yang mengelilingi rumah tersebut, ini bisa dikatakan sebuah istana, beberapa orang juga turut menjaga pagar besi yang sangat tinggi.
Memasuki rumah tersebut pagar itu terbuka lebar, mobil Angela dan Flo sudah siap memasuki pekarangan rumah nan megah itu.
"Ayo turun Flo," ujar Angela melepas sabuk pengamannya.
Orang yang diajak turun hanya menggeleng, dan tidak melepas sabuk pengamannya sama sekali. "Tidak ... aku tidak mauuuu," tolaknya yang memegang sabuk pengaman agar tidak dilepas Angela.
"Cepatlah Flo, lihat beberapa orang menatap kita," seru Angela berusaha melepas sabuk pengaman Flo.
Dari luar pintu mobil sudah ada yang orang yang berdiri menunggu kedua wanita itu keluar.
Mereka akhirnya keluar, "Eh? Kenapa kau berdiri di sana?" Tanya Angela pada orang tersebut.
"Sudah seharusnya kami menyambut kedatangan anda Nona, Tuan dan keluarga yang lainnya sudah menunggu di dalam," ujar pria yang tampak seperti pelayan dari rumah mewah itu.
Rasanya melebihi saat kita akan masuk ke rumah hantu, atau mencoba naik Rollercoaster. Baru setengah jalan masuk menuju rumah, suara petir seperti berteriak menyambut kedatangan mereka, sangat menggelegar yang menambah rasa kecemasan Angela dan Flo.
Angela hanya menatap Flo dengan perasaan yang sama, oke apa yang akan dihadapi kedua wanita itu di dalam nanti?
Dilain sisi pria yang mengikuti Angela adalah Peter dari tadi ternyata dia juga sudah turun dari mobilnya, sengaja dia memarkir mobilnya jauh dari banyak orang. Tapi apa mau dikata, tetap saja dia sudah masuk daerah teritorial sang penguasa daerah. Lantas saja dari kejauhan ada beberapa orang yang mendekati nya.
"Hei, kalian siapa? Kenapa menggenggam tangan ku dengan kuat?"
Saat menoleh wajah Peter sangat terkejut, dua orang pria bertubuh besar dan kekar kini memegang kedua tangannya.
"Kami yang seharusnya bertanya padamu, siapa kau sebenarnya? Beraninya masuk ke daerah ini dengan cara bersembunyi!" Ancam kedua orang itu bersamaan.
"A---aku, aku hanya tersesat, iya aku tersesat. Sebaiknya aku pergi ..."
Tidak bisa pergi lagi, kedua orang itu tetap menahan Peter dengan tatapan mematikan.
Bagaikan Dewi penolong, seorang wanita turun dari mobilnya. Sepertinya dia juga baru mau masuk kerumah itu.
"Hentikan, jangan sakiti dia," teriaknya pada mereka.
"Nona Adelia? Tapi pria ini berusaha masuk daerah ini, kita bahkan tidak tahu tujuannya apa."
Adelia akhirnya melakukan sesuatu, "Aku kenal dengannya, dia kekasihku. Benarkan sayang?" Pengakuan Adelia yang berbohong pada mereka.
Peter yang merasa tertolong langsung saja melihat siapa wanita itu, "Anda?" ucapnya pelan. Seolah memberi kode Adelia mengedipkan matanya, "Eh ... iya sayang kenapa mereka memperlakukan aku seperti ini?"
Kedua pria itu melepas genggaman mereka yang kuat, dan menatap satu sama lain.
"Maaf Tuan, kami tidak tahu kalau anda adalah kekasih Nona Adelia," mereka menunduk meminta maaf.
Spontan Adelia menarik Peter dan ikut masuk kedalam rumah, mobil Adelia maupun Peter langsung diserahkan pada kedua pria tadi.
"Kalian tolong parkirkan mobil kami, biar kami berjalan saja," menyerahkan kunci mobil begitupun juga Peter.
Peter yang masih penasaran kenapa bisa melihat Adelia di sini bahkan orang-orang tersebut juga menghormati nya, "Nona kenapa anda bisa di sini?" Tanyanya.
"Kau tidak perlu banyak tanya, turuti saja perintah ku. Ingat masih beruntung kau bertemu denganku, di tempat ini lalat yang masuk saja tidak akan pernah keluar lagi, apalagi orang seperti mu," Adelia memperingatkan Peter tentang apa yang akan dihadapi nya nanti.
Kedua orang yang menahan Peter tadi juga bergumam.
"Jadi itu alasan Nona Adelia menolak perjodohan, pantas saja dia sudah punya kekasih."
Saat Peter dan Adelia masuk, untuk kedua kalinya petir itu terdengar sangat nyaring terdengar. Baiklah ini pertanda yang kedua kalinya.
"Aku pikir hanya Angela yang akan disidang, sepertinya kita berdua juga akan menghadapi dewa kematian," ujar Adelia yang juga ikut cemas.
Sedangkan Peter hanya pasrah menghadapi apa yang akan terjadi.
Tuan Alex, tolong aku. Karena mu, aku masuk ke kandang singa. Arghhh ... Tidak!!!!
******
Bersambung...
Jangan lupa Vote + like + comen nya, karena satu like atau vote kalian sangat berguna bagi kemajuan novel author dengan imajinasi 'Absurd' ini 😂
~AlBeGa~