
Pagi yang cerah, hari ini tepatnya akhir pekan. Banyak orang menghabiskan waktu bersama keluarga masing-masing. Berbeda dengan Angela saat ini.
"Angela, kita sudah lama tidak pergi ke salon? Bagaimana jika hari ini kita pergi ke sana?"
"Ayo, siapkan semuanya. Kau yang bawa mobil Flo."
Para wanita zaman sekarang memang sangat suka berdandan, terlebih lagi mereka tidak mau kalah cantik dengan wanita lainnya.
"Kita akan ke salon Madam Tya, let's go."
Seperti yang sudah diketahui, bahwa ini akhir pekan itu berarti akan banyak wanita selain Angela dan Flo yang datang ke salon, mereka memutuskan pergi ke salon langganan mereka.
"Hari ini sangat ramai, ayo kita ke ruang VIP. Biar tidak terlalu ramai," Angela dan Flo berjalan masuk ke dalam salon.
Salon Madam Tya sendiri salah satu salon ternama di kota New York, wajar saja banyak pengunjung yang berdatangan. Angela sendiri memutuskan memesan kelas VIP, dengan pelayanan terbaik.
Baru saja masuk ke dalam salon, sama seperti saat pesta di rumah Tn. Xavier. Beberapa wanita menatap Angela tajam, sebuah tatapan kebencian.
"Berani sekali dia pergi ke salon ini, wanita tidak tahu malu. Masih mau menampakkan mukanya dihadapan banyak orang."
Sindiran demi sindiran ditujukan pada Angela, merasa sudah kebal tetap saja yang mereka hadapi adalah Angela, dia tetap berjalan melenggangkan pinggang yang ramping dengan santainya.
"Aduh Flo, kau dengar tidak tadi ada suara radio rusak? Atau itu mahkluk tak kasat mata ya? Kenapa aku tidak melihat keberadaan mereka," mengedarkan pandangan ke sekitar dan pura-pura tidak melihat orang lain.
"Aku malah tidak mendengar apapun," jawab Flo yang juga ikut berakting.
Para wanita itu sangat geram, bukannya melihat Angela marah, malah mereka di anggap tidak ada.
"Ayo Flo, kita ke atas. Hawa di sini sangat panas, aku tidak tahan."
Saat di atas masih saja ada golongan wanita yang suka bergosip, bedanya mereka hampir satu profesi dengan Angela. Di ruang VIP itu dapat dilihat banyak aktris, maupun TOP Model yang sedang memanjakan dirinya di salon.
"Angela, kali ini kau bukan saja berhadapan dengan para anjing yang menggonggong. Di ruang ini banyak serigala wanita, jadi ayo kita bertingkah selayaknya saja," bisik Flo ditelinga Angela.
"Kenapa takut? Bukannya di bawah tadi kau sangat berani? Mereka sama saja ayo kita tunjukkan taring kita pada mereka."
Para wanita itu sedang duduk di kursi salon, ataupun berbaring menikmati pijatan dari para pelayan. Sampai Angela melangkahkan kakinya, mereka menolehkan kepala.
"Oh, no. Sih Trouble Maker itu datang," gumam mereka bersamaan.
"Madam Tya, Princess Angela datang," suaranya sengaja dibuat melengking, menandakan sang Lady Trouble Maker sudah datang.
"Bisa tidak jangan teriak, dasar kampungan!"
"Hello, memangnya kenapa? Toh, tidak ada yang melarang. Di sini adalah ruang VIP dan aku sudah banyak mengeluarkan uang untuk bisa menikmati ruangan ini, jadi terserah aku mau seperti apa," jawab Angela tersenyum lebar.
Tidak mau kalah wanita yang lumayan cantik ikut menimpal ucapan Angela.
"Kau yakin sudah mengeluarkan uang mu? Atau uang yang kau hasilkan dari menggoda pria lain," mereka menertawakan ucapan tersebut, seolah menghina Angela. "Katanya TOP Model yang sudah banyak menghasilkan uang, ternyata masih kekurangan sampai tega menggoda pria milik wanita lain."
Flo menyikut tangan Angela, merasa mereka sedang terpojokkan.
"Kau bertanya seperti itu untuk apa? Kau juga tidak tahu isi uang di rekening ku? Lalu kau bilang uangku hasil dari perilaku jahat macam itu? Ayolah kalian jangan munafik, aku rasa kau salah mengatakan hal itu padaku. Coba tanya pada semua orang yang ada diruangan ini, aku yakin sebagian dari kalian semua melakukan hal itu. Dasar menjijikkan," Angela melirik para wanita itu, yang semula tertawa terbahak-bahak kini hanya tertunduk. Mereka sudah kena jebakan mereka sendiri.
Dapat dilihat mereka menjilat ludah mereka sendiri, "Benarkan Viona?" Tanya Angela lagi melihat Viona ternyata juga ada di sana.
Viona tidak menjawab, cukup saat pesta seminggu yang lalu dia dipermalukan oleh Angela dihadapan banyak orang. Kali ini dirinya menyerah dan hanya mengangguk.
"Lihat Viona saja mengangguk, ayolah Girls kita di sini untuk menikmati akhir pekan. Jadi tolong ya, mulutnya di kunci dulu atau perlu aku belikan kunci? Hehe." Sindir Angela lebih pedas,
Melebihi guncangan gempa bumi, kata-kata yang keluar dari mulut Angela sudah seperti ledakan bom nuklir. Mematikan dan menyayat hati, membuat orang disekitarnya harus diam atau menyerah dengan sendirinya.
******
"Lex, kau tidak pergi keluar? Ini akhir pekan bersenang-senang lah, daripada diam terus di rumah."
"Aku sedang ada kerjaan dad, meski akhir pekan pekerjaan ku sudah menumpuk."
Alex sedang menghadap komputer nya, belakangan ini semenjak perusahaan miliknya giat bekerjasama dengan perusahaan lain, dirinya lebih menyibukkan diri untuk bekerja. Memang melelahkan tapi mau bagaimana lagi, agar semuanya selesai dengan cepat dia dengan giat menyelesaikan semua pekerjaan itu.
"Oh iya, daddy baru ingat. Tadi ada sebuah kiriman, kata mommy mu kiriman itu untuk mu. Coba kau cek, kiriman itu ada di ruang tamu."
Tiga menit kemudian Alex kembali dari ruang tamu, membawa sebuah kotak yang sangat besar, yang katanya untuk dirinya.
"Hei, nak. Ayo buka daddy juga penasaran apa isinya."
Di atas kotak besar itu terdapat selembar kertas seperti sebuah pesan. Di sana tertulis ...
"Untuk calon menantu ku Alex, hadiah ini aku berikan khusus untuk mu. Sebuah hadiah istimewa yang pasti berguna untuk mu kelak, jaga dengan baik-baik. Aku harap kau bisa menggunakan nya, karena tidak mungkin anak dari keluarga Wilton tidak bisa menggunakan nya. Semoga kau menyukai nya nak, jangan lupa sampaikan salam ku untuk ayah-mu."
Kira-kira begitu lah isi pesannya, yang sangat aneh tidak tertera siapa sang pengirim ataupun datang darimana.
"Wow, kau luar biasa nak. Baru beberapa waktu menjadi pria lajang, sudah ada yang menginginkan mu menjadi menantu nya bahkan rela mengirim sebuah hadiah besar," gumam Tn. Wilton.
Alex sendiri sedikit mengernyitkan dahinya, dia tahu sekarang banyak wanita yang mengincar nya. Sayang seribu kali sayang skandal nya dengan Angela membuat sebagian wanita geram, bagi mereka seandainya bisa menggantikan posisi Catherine mungkin mereka sudah menyombongkan dirinya, tapi lihatlah mereka harus menghadapi lawan yang lebih kuat dan mungkin harus mundur sebelum berperang, yaitu Angela dan buktinya candu Alex hanya pada wanita itu.
Dibukalah kotak itu, sampai Alex maupun Tn. Wilton terkejut.
"Ini ... seperangkat alat persenjataan lengkap, siapa yang mengirim benda seperti ini pada mu?!" langsung saja Tn. Wilton mengambil salah satu pistol yang ada dalam kotak itu. "Walau kecil, daddy yakin pistol ini bisa membidik orang dari jarak yang sangat jauh."
"Dad, kau mengetahui itu darimana?" Tanya Alex penasaran.
Ragu untuk menjawab apa Tn. Wilton hanya menggeleng. "Daddy hanya menebak saja, hehe."
Sangat jelas semua benda ini tidak ditemukan ditempat biasa, ini adalah barang ilegal dan hanya ditemukan di pasar gelap. Siapa orang yang berani mengirim semua ini, entah ancaman atau memang hadiah. Tapi tidak mungkin Alex berurusan dengan orang-orang seperti mereka, apalagi mengaku sebagai calon mertua. Hanya satu orang yang bisa mengirim hadiah seperti ini ...
"Dad, kenapa kau diam saja? Tidak masalah lagipula hadiah ini cukup bagus, aku juga sudah lama tidak melatih kemampuan menembak ku."
******
"Bagaimana barang itu sudah kau kirim ke tempat yang aku suruh?"
"Siap bos, sudah pastinya. Pasti kini barang nya sudah dibuka."
"Bagus kau luar biasa, aku harap dia menyukai nya."
Seorang wanita menghampiri mereka.
"Kali ini barang apa yang kau maksud? Dan di kirim dengan siapa?" Tanya wanita itu pada kedua pria yang sedang berbicara.
"Aduh, istriku. Hanya hadiah kecil untuk calon menantu ku," kedua pria itu saling membalas senyum.
"Calon menantu? Hadeh ..."
******
Bersambung...