
Keesokannya saat Catherine telah kembali ke rumah yang dia tempati dengan Alex, dirinya tidak mendapati Alex saat di rumah. Padahal ada sesuatu yang ingin dia tanyakan, mengapa Alex sampai tidak membalas pesan dan bahkan nomor nya di blokir.
Para pelayan yang bekerja di rumah itu juga mengabaikan Catherine.
"Kemana Suamiku? Bukan nya jam segini dia belum berangkat kerja?" tanya Catherine pada para pelayan.
Mereka hanya menatap Catherine tanpa menjawab pertanyaan nya, hingga membuat wanita itu kesal dan mulai memarahi mereka.
"Kalian ini kenapa, dengar aku tidak?!" Bentak Catherine. "Aku adalah Nyonya di rumah ini, bisa-bisanya tidak menjawab pertanyaan ku. Aku tidak akan segan memecat kalian!"
Kemarahan Catherine bukan hanya lewat perkataan, bahkan dia menampar salah satu pelayan di rumah itu. Dengan keangkuhan nya dia juga memaki semua orang yang ada di sana. Sampai kepala pelayan Arthur datang mendekati Catherine.
"Nona Catherine anda sudah datang? Tuan Alex memang sudah pergi bekerja sejak tadi," ucap Arthur kepala pelayan di rumah tersebut.
"Arthur kau juga kenapa? Kenapa kau memanggilku dengan sebutan Nona, aku ini Nyonya bukan Nona!" teriak Catherine di hadapan Arthur.
Kepala pelayan tersebut hanya tersenyum, tidak menunjukkan rasa takut nya. Senyuman itu juga seakan mengejek Catherine.
"Seperti nya Tuan Alex tidak memberi tahu mu, mengenai sesuatu..."
Bingung akan ucapan kepalay pelayan tersebut Catherine seolah tidak mengerti akan perkataan tersebut.
"Maksud mu?" timpal Catherine.
Arthur sang kepala pelayan menyodorkan sebuah berkas pada Catherine, berkas itu tampak masih rapi dilapisi sebuah map.
Catherine tampak ragu saat ingin membuka berkas tersebut, wajahnya sedikit cemas. Belum berani harus seperti apa ekspresi nya saat membuka berkas itu.
SURAT PERNYATAAN CERAI
Wajah Catherine mulai berkeringat saat melihat judul kepala bagian surat tersebut, tangan nya bergetar ketika membaca isi dari berkas itu.
Benar, itu adalah surat gugatan cerai yang telah di ajukan Alex pada Catherine. Tidak di sangka Alex benar telah memutuskan hal tersebut dengan sangat cepat. Mata Catherine terlihat nanar ketika mengetahui bahwa Alex telah menggugat cerai dirinya.
"Tuan Alex sudah menandatangani surat tersebut, sekira nya Nona Catherine juga menandatangani nya," ucap Arthur yang juga menyodorkan Bolpoint pada Catherine.
"Tidak, tidak, ini tidak mungkin. Kau pasti salah Arthur. Alex tidak mungkin melakukan hal ini..."
Tubuhnya tidak kuat menahan semua ini, Catherine hanya bisa menahan agar tubuhnya tidak jatuh dengan memegang kursi yang ada di dekatnya. Kali ini seluruh tubuhnya bergetar, matanya tidak berkedip. Dirinya berharap ini hanya mimpi, kenyataan nya semua benar adanya.
"Maaf nona Catherine, tapi Tuan Alex sudah berpesan dengan saya secara langsung. Saya harap nona memahaminya."
Para pelayan yang tadi ditampar dan dimaki oleh Catherine, menatap dirinya tengah tatapan sinis. Seolah berkata 'Kau bukan siapa-siapa lagi disini, pergilah!' mereka juga kembali ke tempat masing-masing, mengabaikan Catherine yang tetap diam tak bersuara.
"Aku tidak terima semua ini... Alex, ya benar aku harus menemuinya," gumam Catherine yang kelabakan langsung pergi dari rumah tersebut.
Dia menyetir mobilnya dengan kecepatan maksimum, tidak perduli apa ada kendaraan lain yang lewat kini Catherine hanya ingin cepat menemui Alex di kantor.
Pegawa di kantor Alex menatap Catherine heran, bagaimana tidak saat ini Catherine seperti orang yang tidak karuan dia berlari tergesa-gesa menuju ruang kerja Alex. Sampai petugas keamanan di kantor Alex menahan Catherine.
"Maaf nona, anda tidak bisa masuk ke sini. Tuan Alex memerintahkan kami agar anda tidak datang menemui nya," petugas keamanan tersebut menghalangi Catherine dengan mencoba menahan tubuh wanita itu agar tidak bisa pergi lagi.
Brakk..
Pintu itu terbuka dengan suara yang keras, Catherine sudah ada di dalam sana. Napas nya tidak beraturan kini hanya ada dia dan Alex.
Sebuah berkas di lemparkan ke meja Alex, pria itu yang sedari tadi menatap komputer langsung mengalihkan wajahnya ke Catherine.
"Alex, katakan padaku semua ini bohong!" seru Catherine dengan suara seraknya yang menahan tangis.
Alex menghela napas nya sebelum akhirnya dia berbicara.
"Apa semua nya perlu di jelaskan? Aku rasa jika kau sudah melihat isi berkas tersebut, kau sudah memahami nya Catherine," Alex langsung berdiri tegak dan menekankan setiap perkataan nya.
"Lex, kenapa kau begini... kau bilang akan selalu bersama ku, dan tidak akan meninggalkan ku sendiri," ucap Catherine yang sudah mengeluarkan air matanya.
Tidak menjawab, Alex hanya diam. Mencoba agar Catherine memahami setiap kesalahan nya.
"Aku tidak akan bercerai dengan mu, tidak akan," disobek nyalah berkas yang berisi surat perceraian itu, dan Catherine langsung memeluk tubuh Alex. "Lex, aku sangat mencintaimu. Aku yakin kau tidak mungkin benar ingin menceraikan ku."
Alex mencoba melepaskan pelukan Catherine, dia menolak semua hal yang dilakukan wanita itu.
"Nanti akan kubuatkan berkas yang baru, tidak perlu khawatir jika itu di sobek. Nanti kau jangan lupa menandatangani nya."
Kalimat itu mematahkan hati Catherine, dia sungguh tidak percaya bahwa semua ini benar-benar telah di putuskan Alex seorang diri.
"Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa? Katakn Lex, katakan!"
Alex tersenyum tipis.
"Benar kata orang tuaku, dan beberapa kerabat terdekat. Rasa cinta ku padamu akan memudar dengan sendirinya," jawab Alex. "Aku sudah bosan dengan mu."
Bagaikan kertas yang di sobek akhirnya Catherine langsung terduduk mendengar ucapan dari pria yang selama ini baginya mencintai nya.
Sebenarnya itu bukan alasan Alex yang sesungguhnya, dia hanya mencoba mencari alasan agar dirinya seperti mencampakkan wanita yang pernah di cintainya. Alex hanya ingin wanita yang ada di hadapannya kini memberikan alasan kenapa dia ditinggalkan, tanpa perlu Alex sendiri yang menjelaskan mengapa dia memutuskan untuk meninggalkan Catherine. Mencoba untuk menyadarkan Catherine tentang semua kesalahan yang telah dia perbuat pada diri Alex dan keluarganya.
Mungkin Catherine berpikir kini Alex benar mencampakkan nya, padahal dia sendiri lah yang mencampakkan Alex. Dia tidak tahu bahwa kepedihan nya saat ini tidak seberapa dengan kepedihan Alex saat mengetahui semua keburukan nya.
"Bosan? Jadi kau bosan? Jangan bilang ada wanita lain di hati mu Lex," Catherine kini terlihat seperti tersungkur, tangannya menepuk-nepuk lantai diiringi Isak tangis yang dalam.
Alex tidak tega melihat semua ini ingin rasanya memeluk wanita itu, meski kini dia melihat wanita yang masih ada dalam hatinya, terlihat menyedihkan. Tetapi mau dikata apalagi semua ini adalah keputusan nya, keputusan yang terlihat berat tapi harus di lakukan nya demi rasa sakit yang dia alami.
"Kau tidak perlu tahu mengapa aku bosan, semua itu adalah kehendak ku. Aku sarankan kau segera pergi!" Seru Alex mengusir Catherine. "Aku tidak mau di ganggu, jika kau tidak pergi akan aku panggilkan petugas keamanan."
Sebelum Alex memanggil petugas keamanan, Catherine memilih untuk pergi sendiri dari ruangan itu. Langkah nya pelan keadaan nya kini lebih terlihat sangat, sangat menyedihkan.
Alex lihat saja nanti, aku tidak akan menerima semua ini. Akan aku buat kau kembali padaku.
******
Bersambung...