My Trouble Maker

My Trouble Maker
Ajakan Bertemu



Kedatangan Tn. Taylor membuat Tn. Wilton berpikir sejenak untuk membukakan pintu rumahnya, sebenarnya bisa saja dia langsung membuka pintu tersebut dan menyambutnya. Tapi hal seperti itu tidak dapat dia bayangkan dengan mudah, pasalnya yang datang bukan sembarang orang.


"Tidak mungkin aku harus mengusir sih Taylor yang aneh itu, dan tidak mungkin pula aku menyambutnya dengan suka hati?" Tn. Wilson masih memikirkan bagaimana caranya menghadapi ayah Angela. "Huftt, daripada pusing memikirkannya. Lebih baik aku bukakan saja pintu untuknya."


KRETT ...


Pintu itu terbuka dengan lebar, sudah seperti adegan film India. Tangan Tn. Taylor ingin memeluk Tn. Wilton dengan sigap, naas nya orang yang ingin dia peluk langsung menghindar dengan sekejap mata.


"Hei, aku kan sudah rindu denganmu. Kenapa kau menghindar?"


Tn. Wilton melipat kedua tangannya, matanya juga ikut melirik pria yang tadi ingin memeluknya. "Why are you here, Taylor?" tanyanya tanpa basa-basi lagi.


"Menurut mu kenapa aku harus kesini?"


"Huftt ... ayo, silahkan masuk. Jangan berdiam saja, kalau tidak mau aku usir."


"Hehe, iya-iya. Ayolah bung, jangan menunjukkan sikap sinis mu. Kita kan sudah lama tidak bertemu."


Memasuki ruang tamu, tampak kediaman keluarga Wilton yang sangat megah. Tn. Taylor langsung saja duduk, matanya terus berbinar memperhatikan Tn. Wilton.


"Taylor? Kau sakit? Kenapa menatap ku seperti itu?"


"Perfecto, dari dulu sampai sekarang wajahmu masih saja tampan. Pantas Michelle rela kabur dari rumahnya, hanya karena ingin menikah dengan mu. Hahahaha ..."


"Jangan bahas masa lalu Taylor, cepat katakan kenapa kau kesini ingin menemui ku?!"


Ekspresi Tn. Taylor berubah, yang tadinya bercanda kini terlihat serius. "Ckckck, kau memang tidak bisa diajak bercanda. Aku datang kesini hanya ingin memberitahu, kau harus berhati-hati dengan pria muda bernama Robert Scott. Kau pasti tahu siapa dia?" senyum itu sedikit menyungging.


"Jangan bilang dia ingin balas dendam atas kematian orang tuanya? Hah, konyol. Semua itu memang kesalahan mereka, jadi untuk apa dia ingin balas dendam?"


"Ya, aku tahu semuanya. Tapi, tetap saja anak itu menganggap kau lah yang berperan atas kematian kedua orang tuanya. Dan bukan hanya masalah itu saja ..." Tn. Taylor tampak ragu untuk mengatakan kalimat selanjutnya.


"Masalah lain? Apa? Aku sudah lama pensiun dari dunia kegelapan, dan jika dipikir-pikir aku tidak ada sangkut pautnya lagi mengenai dunia itu."


"Masalah ini mengenai anakmu, hmm ... juga anakku."


Pikirannya masih mengelola apa yang dikatakan Tn. Taylor, sekiranya perlu benda yang cukup besar untuk memukul kepalanya agar dapat berpikir. "Anakku, dan anakmu?"


"Apa Alex calon menantu ku tidak pernah cerita siapa wanita yang dekat dengannya?"


"Eh, Alex calon menantu mu? kau ..."


Tunggu dulu, kalau tidak salah Taylor memiliki anak perempuan? Jangan-jangan ...


"Itu anak perempuan ku, hehe," ucapnya yang terkekeh. "Wilton, sadarilah kita memang ditakdirkan menjadi satu keluarga. Walaupun anakmu sudah pernah menikah, tapi tidak masalah yang penting masih kuat, dan top cer aku setuju-setuju saja, hahahaha"


PLETAK


Asyik-asyiknya mengoceh sendirian, Tn. Wilton langsung memukul kepala sang teman dengan koran yang tadi dia baca.


"Jangan berbelit-belit, jadi apa hubungannya Alex, anakmu, dan Robert mengenai masalah tadi?!"


Dengan ketabahan hati untuk tidak membalas pukulan itu, Tn. Taylor langsung duduk dengan tenang dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Robert juga menginginkan putriku, saat dia tahu putriku dekat dengan Alex, ia jadi tambah kesal dan marah. Bahkan saat aku tidak sengaja melakukan transaksi bersamanya, dengan beraninya dia ingin bertaruh mendapatkan putriku. Wilton, aku mohon hanya putramu yang dapat melindungi Angela, aku sudah mempercayakan nya."


Sejenak Tn. Wilton memejamkan matanya, dan mengurut pelipisnya yang agak tegang mendengar penjelasan Tn. Taylor.


"Jadi maksud mu, Alex harus turut andil atas masalah ini? Kenapa tidak kau berikan saja putrimu itu pada Robert, lagian toh masalah akan cepat selesai bukan?"


Tangan Tn. Taylor mengepal dengan kuat. "Kau benar-benar munafik Wilton, pantas saja kau mundur dari semua ini. Kau tidak memikirkan putra mu? Apa kau juga tidak memikirkan orang-orang disekitar mu? Sebodoh-bodoh nya aku, dan sejahat-jahat nya aku. Diriku masih punya cinta, dan perasaan, seharusnya kau belajar dari pengalaman mu sendiri ketika kau memperjuangkan Michelle." Dirinya langsung pergi tanpa mengucapkan kalimat 'Sampai jumpa'.


Ny. Wilton yang baru muncul menyapa Tn. Taylor yang melewatinya, "Taylor apa kabar? Kok cepat sekali perginya?"


Lantas saja orang yang dipanggil membalikan tubuhnya. "Hei, Michelle." Menyapa balik. "Aku hanya rindu dengan Wilton, teman imutku. Tolong sampaikan padanya, putriku itu wanita yang Cantik, dan hebat pasti saat bertemu dengannya Wilton akan mengganggap putriku menantunya," tujuannya bicara seperti itu bukan untuk Ny. Wilton, tapi sengaja menyindir sang teman yang masih diam mematung sendirian duduk di sofa.


"Maksudnya?" Ny. Wilton kebingungan.


"Tanyakan saja pada suamimu, Michelle."


Disadari ucapannya tadi terdengar jahat, bahkan Tn. Taylor yang suka bercanda menganggap itu terdengar serius. Sejauh ini hubungan mereka sebenarnya baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan pertemanan dua kerabat dekat yang berteman dari muda sampai sekarang. Hanya saja emosi Tn. Wilton mudah tersulut jika Tn. Taylor selalu menjahilinya atau bercanda dengannya, tahu sendiri bukan kalau Tn. Taylor adalah orang yang susah ditebak. Bisa jadi hari ini dia terlihat humoris, dan besoknya bisa terlihat menyeramkan.


Taylor, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengucapkan kalimat tersebut, aku tahu pasti putrimu wanita yang dididik dengan hebat. Sekali lagi maafkan aku Taylor ...


Ny. Wilton yang masih kebingungan menghampiri suaminya. "Sayang kenapa Taylor buru-buru pergi? Lalu maksudnya calon menantu itu apa?"


Tidak menjawab pertanyaan sang istri, ia meraih ponsel yang ada di atas meja.


"Benar aku sendiri yang harus bertemu dengannya."


Tut ...


Tut ...


Tut ...


"Halo, nak. Kapan kau pulang?"


"Daddy? Kenapa menanyakan kapan aku pulang? Sekitar tiga hari lagi aku akan pulang, memangnya kenapa?"


"Saat kau pulang nanti bawa wanita itu kerumah."


"Wanita?" Tanya Alex.


"Iya, wanita yang kau ceritakan saat itu. Wanita yang menarik perhatianmu? Pokoknya bawa dia pulang. Jangan sampai tidak!"


***


"Siapa yang menelepon?"


"Orang tuaku." Alex melirik wanita disampingnya.


Membawa Angela? Apa daddy dan mommy sudah tidak sabar lagi menyuruh ku menikahi Angela? Oh tidak, aku belum mempersiapkan apapun.


"Orang tuamu? Kenapa? Apa mereka sedang dalam masalah?" sontak saja Angela ikut terkejut, takut-takut ada sesuatu yang terjadi dengan orang tua Alex.


'Glek', Alex menelan salivanya bingung ingin memberi tahu Angela seperti apa.


"Mereka bilang menyuruhku untuk membawa mu pulang, jadi ..."


"Aku siap, tentunya aku mau bertemu dengan mereka. Hehe," Angela menjawab penuh semangat. Belum juga Alex menanyakan Angela bersedia atau tidak, eh wanita itu sudah menjawab siap lebih dulu.


Kesempatan emas, aku akan bertemu keluarga Wilton. Ini akan jadi titik acuan ku, Catherine lihat tidak ada kesempatan kau kembali dengan Alex ...


****


Sorry, sorry pembaca semuanya author 5 hari belakangan gak up, jujur author lagi enggak mood nulis beberapa hari ini. Daripada dipaksain dan tulisannya jelek, jadi author putusin buat ngebenerin mood author yang lagi buruk, dan untungnya tiba-tiba sore ini langsung ngehalu lagi dan bisa nulis lagi. Mood pun kembali membaik, jangan lupa dukung terus author ya biar tambah semangat lagi 🤗


~AlBeGa~