My Trouble Maker

My Trouble Maker
Kandang Singa?



Malam bagaikan siang, mata tak dapat dipejamkan. Malam ini bagi keluarga Taylor bukan waktu untuk istirahat, rasanya Peter ingin segera pergi dari kandang singa yang sedang dia singgahi. Sudah terlanjur masuk sepertinya perlu perjuangan untuk keluar dari sana.


Seperti seorang tahanan, kini Peter selayaknya pria yang ketahuan mencuri sesuatu, baik kakek, ayah, paman, maupun para pria dari keluarga Taylor sedang bersama Peter bagaikan mengintrogasi tahanan.


Dimulai dari kakek Angela yang bertanya, "Nak, kau bekerja dimana? Berapa gaji mu sebulan? Lalu sejak kapan kau mengenal Adelia anakku?" Beribu pertanyaan ditujukan pada Peter, yang ditanya pun bingung ingin menjawab apa.


Dalam hatinya Peter hanya bergumam.


Bagaimana ini, jika pertanyaan mengenai pekerjaan aku bisa menjawabnya. Tapi kalau tentang Adelia? Ya, Tuhan. Aku saja baru mengenalnya lalu sudah dianggap kekasih nya, keluarga ini benar-benar menakutkan, jika salah bicara bisa jadi aku benar akan dilempar ke kandang singa. Oh, tidak!


"Bagaimana nak kenapa kau tidak menjawab? Jangan bilang kau seorang pengangguran, dan coba mendekati anakku? Aku harap bukan seperti itu!" Kakek Angela sedikit memicingkan matanya, dengan sorot mata yang tajam.


Steven yang juga memperhatikan Peter memberi kode pada Peter untuk segera bicara, sebelum yang lain curiga dan Peter akan jadi daging cincang.


"Tidak seperti itu, aku bukan seorang pengangguran," ujar Peter meyakinkan mereka.


Sepertinya saat seperti ini dia juga harus mengarang cerita pertemuan nya dengan Adelia, "Aku bekerja di salah satu perusahaan besar, dan aku bertemu dengan Adelia saat ..." semua orang penasaran, apa kelanjutan dari ucapan Peter.


"Saat apa? Ayo segera cerita."


"Kami berdua bertemu di taman, saat itu aku tidak sengaja melihat Adelia sedang duduk dan aku menghampiri nya. Entah mengapa sepertinya kami berdua saling jatuh cinta pada pandangan pertama, senyum Adelia mengalihkan pandangan ku, matanya, rambutnya, semua seolah menghantui pikiranku. Jadi begitulah aku bertemu dengannya."


Bagaikan sebuah cerita romansa yang indah, seperti di novel ataupun sebuah film nuansa romantis, kali ini Peter patut diacungi jempol dia berhasil membuat cerita yang membuat orang mendengarnya ikut terkagum-kagum, hanya Steven yang terus menahan tawanya. Karena mungkin dia sendirilah yang mengetahui Peter berbohong dengan semua cerita itu.


Melihat semua orang mempercayai ceritanya, Peter tersenyum bangga.


Padahal semua cerita itu aku ambil dari sebuah adegan film, untung saja saat itu Tuan Alex merekomendasikan film tersebut, hahahaha.


"Sungguh luar biasa, pantas saja Adelia jatuh cinta padamu nak. Kalian sudah seperti Romeo dan Juliet."


Hampir terbawa dengan cerita karangan Peter, ayah Angela sontak mengalihkan pembicaraan.


"Eh ... kau belum cerita dimana kau bekerja, kau bilang di perusahaan besar?"


Mereka pun mengiyakan ucapan tersebut.


"Iya, aku lupa mengatakan dimana aku bekerja. Sebenarnya aku bekerja sebagai asisten pribadi di perusahaan I.S Grup, hehe."


Tn. Taylor sangat terkejut, kini dia tahu berarti Peter adalah bawahan Alex. Orang yang baru-baru ini dia anggap sebagai calon menantunya.


"Jadi kau bawahan Alex, calon menantu ku?"


Steven yang baru meneguk air minum, dengan spontan menyemprotkan air yang baru saja dia minum.


"Calon menantu?" Mereka berucap bersamaan, terutama Peter dan Steven.


"Ayah apa maksud mu? Alex calon menantu? Hah?!"


"Benar sekali Alex dari keluarga Wilton calon menantu ku, kenapa Steve? Dia akan jadi adik ipar mu. Haha."


Gawat jadi selama ini ayah sudah menganggap Alex sebagai calon menantu, aku pikir dia tidak akan memikirkan hal ini. Tidak, ini tidak mungkin!


"Kalau tahu begini, kenapa kau tidak mengajak Alex kesini? Ini sangat bagus orang-orang dari perusahaan milik keluarga Wilton akan menjalin hubungan erat dengan keluarga Taylor," ucap ayah Angela yang merasa senang, begitu juga dengan kakek Angela dan beberapa orang lainnya.


Peter yang mendengar penjelasan tersebut, hanya terheran-heran. Kalau ini benar sampai terjadi, maka bukan hanya dia yang akan masuk ke kandang singa. Sudah pasti Alex juga ikut terjerat dalam situasi ini.


"Sebenarnya kemarin aku mau ajak Tuan Alex, tapi berhubung dia sedang sibuk jadi dia tidak ikut."


Maaf tuan Alex, sepertinya kau harus merasakan bagaimana masuk ke kandang singa. Kau juga harus menemani ku, aku tidak mau sendirian menghadapi para singa ini. Arrgghh ...


"Kalau begitu jika ada waktu aja dia kesini, aku tidak sabar bertemu dengannya."


Kakek Angela juga berujar, "Bukannya Alex yang kau bilang itu baru saja bercerai? Bagaimana mungkin cucuku menikahi seorang duda."


"Benar, kata kakek itu benar," sahut Steven menyetujui ucapan kakeknya.


"Tidak masalah dia duda atau tidak, yang aku tahu Alex adalah pria yang hebat dan pastinya walau sudah duda aku jamin dia masih kuat untuk menghadapi Angela dan memberi cucu yang lucu padaku. Hehe." ujarnya sambil tertawa. "Steven anakku saja kalah dari Alex. Benarkan Peter?" sambil menyindir Steven.


"I---iya, benar tuan Alex adalah pria yang hebat."


Peter hanya mengiyakan ucapan ayah Angela, dan Steven sendiri menatap penuh ancaman terhadap Peter. Bagaimana tidak dia juga mengiyakan bahwa memang Steven kalah dari Alex.


"Sepertinya hari sudah malam. Peter, kau sebaiknya tidur nanti Steven yang menunjukkan kamarmu."


Melirik Steven yang masih menatapnya, "B-baik .." jawabnya singkat.


Steven berjalan di depan dan Peter mengikuti nya dari belakang, sudah banyak keringat yang keluar dari tubuhnya. Saat ini ketakutan nya bukan pada kakek, atau ayah Angela, tapi sekarang ketakutan nya tertuju pada Steven.


"Tn. Steven, maafkan aku ya, hehe ... aku tidak bermaksud mengiyakan ucapan ayah anda, kalau tidak nanti tuan tahu sendiri kan mungkin nyawaku akan hilang di sana."


Tidak peduli Steven tetap berjalan lurus dengan raut wajah dinginnya.


"Masuk! Ini kamarmu, disamping adalah kamarku. Ingat Peter kau tidak mungkin menjadi paman ku!"


BRAK


Pintu kamar yang ditunggu Steven terbuka dengan keras, sedangkan Peter masih terpaku di depan kamar yang katanya akan dia tiduri.


*******


Karena berkali-kali Peter tidak mengangkat teleponnya, tapi dia berusaha menelepon ulang untungnya kali ini diangkat.


"Peter? Kenapa kau tidak mengangkat telepon? Aku jadi ingin tahu apa maksud mu mengenai Angela, dan kenapa tadi kau menyebut 'Kandang singa'? Coba jelaskan padaku."


"Tuan, tuan, benar ini kandang singa. Bahkan tuan Steven salah satu singa tersebut."


Saat nama Steven disebut wajah Alex berubah merah padam, dia teringat Steven pernah mengatakan bahwa dia pernah satu rumah dengan Angela. Dalam pikirannya apa ini yang di maksud Steven?


"Apa?! Pria itu juga bersama Angela? Gila, ternyata dia benar-benar nekat menginginkan wanita yang sedang aku dekati!"


Peter sendiri bingung apa maksud ucapan Alex, "Tuan aku tidak tahu apa yang anda maksud, tapi tuan Steven itu adalah ..." Telepon kembali terputus.


Tut ...


Tut ...


Tut ...


"Halo? Halo? Kau masih mendengarkan aku Peter? Hei, astaga terputus lagi."


Ternyata eh ternyata kali ini ponsel Peter habis baterai nya, maka dari itu telepon dari Alex terputus.


"Baru saja ingin menjelaskan, tapi kembali terputus. Maaf tuan Alex, sepertinya harus kau sendiri yang melihat hubungan apa antara Tn. Steven dan nona Angela."


Rencana saat sudah menelepon Peter dia ingin tidur, ternyata ketika Peter ingin mengatakan siapa Angela dan apa hubungannya dengan Steven membuat nya cemas, pikirannya kemana-mana.


"Jangan bilang malam ini mereka tidur berdua. Ah, tidak, itu tidak mungkin. Tapi? Jangan juga mereka sedang bermesraan? Itu pasti juga tidak mungkin. Lebih baik aku menelepon Angela, siapa tahu dia belum tidur."


Mengambil kembali ponselnya, Alex berusaha menghubungi nomer telepon Angela.


Di kamar Angela sendiri, dirinya tengah asyik mengotak-atik ponselnya. Tiba-tiba Alex menelepon, membuat wanita yang juga merindukan pria itu sangat senang.


"Alex? Kenapa malam-malam begini menelepon ku?"


"Hmm ... maaf jika mengganggu, apa kau sendiri saat ini? Dan apa kau sedang dekat kandang singa?"


Seketika Angela tertawa mendengar pertanyaan Alex, apa maksudnya dengan kandang singa? Sampai dia tertegun dan ingat bahwa Peter juga ada di sini.


Aku rasa Peter lah yang bilang sedang dikandang singa, ihh ... aku harap dia tidak mengatakan banyak hal pada Mr. Perfeksionis.


Merasa tidak ada jawaban Alex pun kembali bicara pada Angela di balik telepon, "Kenapa tidak di jawab?" ujarnya ragu.


"Eh, iya aku sedang sendirian kok. Kandang singa? Haha, aduh Alex kau ada-ada saja," Angela berusaha tidak mengetahui maksud dari kandang singa.


"Kalau begitu aku lega, aku pikir kau memelihara singa. Jadi aku bilang saja apa ada kandang singa didekatmu. Hehe."


Pintu kamar Angela yang memang belum terkunci, terbuka dan menunjukkan seseorang.


"Kakak? Siapa yang kau telepon semalam ini? Ini aku mau kembalikan kunci mobilmu, tadi aku pinjam sebentar," menempatkan kunci mobil di meja hias Angela.


"Hus, David diam sedikit. Orang yang menelepon ku adalah orang penting, kecilkan suaramu."


Ternyata pria itu adalah David, adik Angela yang terkenal jahil, tengik, dan sering berbuat onar.


Jiwa jahil David kembali timbul, dia sudah menebak pasti yang menelepon Angela adalah seorang pria yang dia tahu itu adalah Alex.


"Sayang, ayo cepat di buka. Aku ingin melihat nya," ucap David yang sedikit membesarkan volume suaranya.


Alex yang masih menelepon, mendengar suara pria yang tidak dia kenal. Dalam hatinya apa mungkin itu Steven, bahkan sampai bilang buka? Buka apa maksudnya?


"Angela, suara siapa itu? Apa aku saja yang salah dengar?"


Rasanya Angela saat ini ingin melenyapkan sang adik dari dunia ini, bagaimana tidak karena dia mungkin Alex berpikiran aneh mengenainya.


"Kau?! Pergi sana!"


"Sayang, kenapa kau posesif seperti itu. Aku tahu, kau tidak sabar lagi kan?" kekeh David yang menahan tawanya. Ternyata dibalik Steven dan Angela yang juga jahil, masih ada yang lebih jahil lagi.


"Alex sepertinya kita akhiri dulu telepon ini, nanti aku telepon lagi. Aku harus mengurus hama dulu. Bye."


Tidak tahan lagi, amarah Alex sudah diambang batas, "Dasar Steven, pasti pria brengsek itu yang ingin menyentuh Angela. Akan aku cabik-cabik jika bertemu lagi dengannya," kesalnya membanting ponsel yang ada di tangan.


Hubungan nya dengan Angela memang belum bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih, jadi jika Angela mau memiliki hubungan dengan orang lain bebas saja. Tapi dengan ini api cemburu sudah membara dijiwa Alex, tidak bisa diam seperti janjinya dia yang akan memenangkan Angela bukan Steven.


Sedangkan di kamar Steven, "Hachimm ..." suara bersin terdengar dikamar nya. "Kenapa aku bersin? Padahal ini bukan musim dingin, hidungku jadi tidak enak," mengusap hidung yang sedikit tersumbat. Padahal ada orang yang sedang mengutuknya.


*******


Bersambung...


Nanti malam Up lagi, selamat menikmati ceritanya ya 😁


Jangan lupa Vote + like + comen ya, pembaca ter-zeyenk 😚