My Trouble Maker

My Trouble Maker
Cemburu



Dua hari setelah kejadian itu, Angela tampak berpikir keras. Bagaimana caranya untuk mengumpulkan bukti pelaku sebenarnya.


"Ini pasti ulah sih 'Wanita rubah' itu, awas kau Catherine!"


Tidak mau terlalu pusing Angela memutuskan pergi ke dapur seperti nya ada makanan yang ingin dia buat.


"Sebaiknya aku buatkan dia bekal saja, mungkin saat ini dia belum makan. Daripada terus memikirkan hal yang membuat ku pusing."


******


Kedua pria sedang duduk berhadapan di sebuah ruangan, saling duduk menyilang kan kakinya. Salah satu diantara mereka memberi tatapan penuh seribu pertanyaan.


"Apa kau mengenalnya?"


Pria dihadapannya pun mengangguk.


"Darimana kau mengenalnya?"


Untuk pertanyaan kali ini membuat pria yang ditanya hanya tersenyum tipis.


"Untuk apa kau tahu kenapa aku bisa mengenalnya, atau darimana aku mengenalnya? Aku rasa itu bukan urusanmu."


Pria yang sedari tadi bertanya sedikit kesal mendengar jawaban tersebut, "Aku tidak tahu apa hubungan mu dengan Angela, aku harap kau tidak mendekatinya hanya karena ada tujuan lain!" Sedikit mengancam.


"Jika aku katakan hubungan ku dengannya, aku takut akan membuat mu khawatir."


"Angela tidak mungkin terjatuh dalam jeratan mu Steve, tidak akan aku biarkan selagi aku masih ada di dunia ini," ancamnya blak-blakan.


Ternyata kedua pria itu adalah Alex dan Steven, sangat lucu. Saat ini terdengar Alex mengancam Steven hanya karena Cemburu.


Sedangkan Steven hanya menahan gelak tawanya, melihat Alex sang rekan kerja sekaligus temannya yang tidak tahu hubungan kakak, adik antara Steven dan Angela.


Barangkali ini kesempatan Steven untuk menguji Alex, "Hubungan ku dengan 'Gadis Kecil' itu sangatlah spesial, tidak ada orang yang hubungannya sangat kontras seperti kami." Mendengar kalimat 'Gadis Kecil' Alex sedikit menggertakkan giginya, dia tidak habis pikir hubungan seperti apa yang Steven maksud, sampai Steven melanjutkan kalimatnya.


"Kami bahkan pernah tinggal satu rumah, dengan waktu yang cukup lama. Mungkin jika ada waktu kami akan kembali tinggal satu rumah."


Merasa Api sudah keluar dari seluruh tubuhnya, Alex sangat gerah mendengar penuturan Steven.


"Mana mungkin. Dia bukan wanita yang mau dekat dengan Casanova seperti mu, itu mustahil!"


"Ya, sudah kalau tidak percaya. Lagipula kau baru mengenalnya, aku sudah dulu mengenal nya lebih lama. Oh, iya aku baru ingat. Kami juga pernah mandi bersama."


DUAR, bagaikan tersambar petir.


Kesekian kalinya Alex dibuat terkejut dengan ucapan Steven, ingin rasanya dia membuat lawan bicaranya tersebut diikat dan di jahit mulutnya.


Sedangkan Steven tersenyum merasa tidak bersalah, lagian toh semua ucapannya itu memang benar.


Iya aku memang pernah mandi dengannya, tapi saat masih kecil. Hahahaha, kena kau Alex.


Baru saja dibicarakan, sebuah pesan masuk ke ponsel Alex.


Angela :


Aku sedang menuju kantor mu, kebetulan aku buat bekal, mungkin kau belum makan siang. Kau bilang ingin mencicipi makanan buatanku lagi, jadi aku menyamar agar wartawan tidak kembali membuntuti. Tunggu sebentar lagi aku sampai, see you Alex.


Wajah Alex langsung berubah, tapi saat ini masih ada Steven dia takut ketika Angela datang sang Casanova itu mengganggu waktunya bersama Angela.


"Dari siapa? Wajah mu langsung sumringah begitu?" Tanya Steven penasaran.


"Tidak, bukan dari siapa-siapa. Steve aku rasa pertemuan kita kali ini sudah cukup, kau bisa pergi sekarang."


"Kau mengusir ku? Aku curiga pasti ada sesuatu, tidak mau. Aku tidak akan pergi. Huh!"


KRETT


Pintu terbuka menampakkan seorang wanita yang menenteng sebuah bekal.


"Oh, jadi ini yang membuat mu sumringah brother."


Gawat, ada kak Steve. Arghhh ... tidak, padahal aku ingin menghabiskan waktu bersama Mr. Perfeksionis.


Akhirnya Steven tidak pergi dan Angela tetap datang membawa bekal, kini dalam ruang kerja Alex mereka sudah duduk bertiga. Menatap satu sama lain, Steven ingat Angela pernah mengerjai para pengawal-nya dan berdebat dengan dia, baginya dalam situasi ini dia harus membalasnya.


"Gadis kecil ku, kau ternyata juga datang kesini? Kau bahkan juga membawa bekal? Kebetulan sekali aku juga belum makan siang," mengambil bekal dari tangan Angela.


"Eh ... bekal ini buat Alex," cegah Angela.


"Padahalkan aku juga sedang di sini, jadi tidak boleh mencicipinya?" wajahnya tampak memelas.


Angela hanya dapat menggerutu dalam hatinya, dan Alex juga menahan kekesalannya.


Ada apa ini? Kenapa kakak sok imut begitu, uhhh ... menjijikkan sekali, kenapa pula dia pura-pura akrab denganku? Apa dia sudah menceritakan semuanya pada Alex. Tidak, itu tidak mungkin, Alex saja memasang ekspresi kesal pasti ada yang salah dengan Crazy Brother ku ini.


"Tidak masalah kau boleh ikut makan juga bersama kami," ujar Alex yang masih kesal melihat Steven dekat dengan Angela.


Dasar Casanova, dengan beraninya dia mendekati Angela. Awas kau Steve.


Bekal yang dibawa Angela sudah tersaji di atas meja, tampak sudah ada sendok dan garpu.


"Ayo, silahkan makan."


Kedua pria itu bersigap segera mengambil makanan itu.


"Jangan ambil terlalu banyak, aku juga mau itu," tangan Steven menghalau Alex yang mengambil makanan dalam bekal.


"Kau sendiri jangan terlalu banyak makan, nanti kau gendut Steve dan pesona mu akan hilang," tukas Alex yang tidak mau kalah.


Angela yang melihat mereka seperti itu hanya bingung, lalu dia sendiri yang mengambil sendok dan berniat menyuapi Alex.


"Alex ini buka mulut mu, aaaa ..."


'Hap' makanan itu masuk ke mulut, tapi bukan pada orang dituju. Sedangkan Alex yang sudah bersiap menerima suapan itu hanya melototi Steven yang dengan tenangnya mengambil suapan tersebut.


"Wah, makanan ini tambah enak saat Gadis Kecil yang langsung menyuapinya," tangan Alex mengelus kepala sang adik, yang mulutnya masih sibuk mengunyah.


Kian memanas wajahnya memerah dan tangan Alex refleks menarik Angela duduk disampingnya, dia juga tidak segan menarik bekal makanan dari tangan Steven.


"Kau bilang mau menyuapi ku? Ayo sekarang lakukan," melirik Steven.


Aku menang Steve, kau menyerahlah sekarang.


Jika sudah seperti ini Steven hanya dapat diam, tapi bukan berarti dia berhenti disitu.


"Sepertinya aku mengganggu kalian, sebaiknya aku pergi saja," ujar Steven dan langsung berdiri.


Bukan lagi sepertinya, tapi kau benar mengganggu ku. Dasar kakak tidak tahu diri.


Pikir Angela sang kakak sudah mau pergi, mendadak 'Cup', sebuah ciuman mendarat di kening Angela. Tidak hanya itu sepertinya ada sesuatu yang Steven bisikan.


"Akhirnya aku bisa membalas mu," Steve tersenyum jahil. "Ingat kau sudah disuruh pulang, jika tidak pulang bersiaplah beberapa orang akan datang menjemput mu secara paksa." Angela mengerti ucapan tersebut dan hanya mengangguk.


Bagi Angela dan Steven ciuman di kening itu wajar saja untuk mereka sebagai kakak dan adik, tapi tunggu dulu ... lihat Alex sudah terbakar api cemburu, sontak saja dia mengelap kening Angela dengan tisu, baginya untuk menghilangkan bekas ciuman Steven.


"Hilangkan bekas ciuman Casanova di kening mu, kau jangan mau tergoda olehnya. Lihat aku saja."


Sebuah keberuntungan atau kesialan bertemu dengan sang kakak dihadapan Alex, tapi Angela juga ikut tersenyum. Berkat kakaknya juga dia dapat melihat Alex sangat cemburu jika dia didekati pria lain.


Mr. Perfeksionis ku benar-benar menggemaskan jika cemburu - Angela


******


Bersambung ...