
Dibalik ruangan tertutup itu, tampak seorang pria dan wanita sedang melakukan aktivitas nakal mereka. Tidak peduli apa ada orang di luar ruang tersebut, yang mereka yakini saat ini adalah waktunya bersenang-senang. Dikala musim panas seperti ini, rasanya kedua orang yang sedang 'Bermain' itu merasakan sensasi panas yang luar biasa. Jika orang lain mencari tempat sejuk, tidak dengan mereka yang mencari suasana yang lebih mendebarkan dan menambah kegiatan yang cukup 'Hot'.
Beberapa orang dari luar hanya bisa menahan telinga mereka, pura-pura tidak mendengar kegiatan yang dilakukan oleh pria dan wanita di dalam sana. Suara desahan demi desahan terdengar nyaring.
"Ahh ... Steven jangan gigit bagian itu."
Nama pria yang disebut merupakan Steven dan ternyata sudah dapat kita ketahui, sang Casanova mungkin sedang bermain dengan salah satu wanita yang mungkin mencoba bermain dengannya.
"Fantastic Baby, kau luar biasa. Jangan berhenti lakukan terus," ujar Steven yang terdengar sedang menikmati permainan itu.
Steven bahkan beberapa kali mengecup bibir wanita itu, dan menyisakan suara erangan membuat orang yang mendengarnya ingin menghentikan rutinitas mereka di dalam. Itu terlalu ekstrem.
"Hmmmm, manis, bibirmu benar-benar manis."
Tidak berselang lama seorang pria mencoba masuk keruang tersebut, dia membawa beberapa berkas ditangannya. Para pengawal yang memang menjaga didepan pintu dan sepanjang koridor mencekal pria itu masuk.
"Maaf, tuan anda tidak bisa masuk." Cegat mereka.
"Why? Aku hanya ingin menyerahkan berkas ini padanya, kenapa tidak boleh masuk? Atau jangan-jangan ..."
Diterobos lah para pengawal tersebut, merasa sudah tahu apa yang dilakukan Steven di dalam. Sebelum masuk dia berhenti sejenak didepan pintu.
"Arghh ... arghh ... Steve aku sudah hampir klimaks," suara wanita didalam.
Pria yang tadi ingin menyerahkan berkas hanya terdiam dan memasang ekspresi kesalnya, dia berpikir bisa-bisanya Steven melakukan hal tersebut selama masih bekerja, dan yang lebih mengherankan nya lagi ini masih di kantor.
"Dasar Casanova, tidak bisakah dia menahan sampai malam tiba. Tengah hari panas begini, dengan entengnya dia mengajak seorang wanita bermain? F*ck boy, ckckck." gumamnya.
Tidak tanggung-tanggung pria itu tidak mengetuk pintu, langsung saja dia menerobos masuk ke dalam ruangan Steven. Hal pertama yang dia lihat adalah sebuah adegan konyol antara pria dan wanita, memang sih tidak sepenuhnya itu adegan yang saklar. Steven bahkan masih memakai celana dan baju dengan lengkap, hanya saja memang sedikit berantakan. Bagian kancing kemejanya sudah terbuka. Begitu juga dengan wanita itu, kalau diperkirakan mereka baru saja ingin bermain.
"Arthur, kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu," Steven langsung menjauhkan dirinya dengan wanita yang sedang bersamanya.
"Hei, hei, bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan menyerahkan berkas ini padamu. Sesuai jadwal yang kau inginkan," ujarnya mendekati Steven.
Steven langsung melihat arloji ditangannya, dia baru ingat bahwa Arthur salah satu karyawan dan temannya itu akan menyerahkan berkas sesuai dengan jadwal yang dia perintahkan.
"Iya, aku baru ingat. Maaf."
"Steve, untung saja aku yang datang. Seandainya orang lain, atau wanita mu yang lain, kau sendiri yang akan kena batunya. Itulah cepat cari wanita pendamping hidup mu, agar kebiasaan mu itu hilang."
Hanya mengangguk Steven membetulkan kancing bajunya, wanita yang sedari tadi bersamanya hanya terdiam merasa tidak senang bahwa permainan nya dengan Steven harus berhenti sebelum selesai.
Wanita itu mencoba merayu Steven, "Steve, ayo kita lanjutkan lagi," bujuknya.
"Sorry, baby. Sepertinya sampai di sini saja dulu, ada pekerjaan yang harus aku urus."
"Tapi kan, kau bilang hari ini kau akan bermain bersama ku," keluh wanita itu.
Arthur juga ikut menimpal, "Maaf nona, aku tidak tahu anda siapa dan darimana. Sebaiknya anda segera pergi." Titahnya.
"Kau ini siapa mengatur ku? Asal kau tahu ya, aku adalah wanita Steven, benarkan sayang?"
Bukannya membela wanita itu, Steven juga ikut mengusir nya. "Yang dikatakan Arthur benar, sebaiknya kau segera pergi."
Dengan penuh kekesalan wanita itu pergi dengan keadaan yang mungkin dia tidak sadar, bahwa penampilan nya sudah acak-acakan.
Sepertinya masih ada sesuatu yang ingin Arthur katakan pada Steven, "Aku tadi melihat Angela sedang berada di sebuah Cafe, dan dia bersama Alex." Steven yang fokus melihat berkas langsung terkejut.
"Alex? Sudah aku duga mereka pasti akan bertemu," ucap Steven yang tidak heran lagi.
"Aku juga sempat menguping, bahwa mereka akhir pekan ini akan berlibur ke pantai untuk menikmati musim panas berdua," Arthur mengangkat bahunya.
"What? Berdua? Sudah berani ternyata Alex ya, aku tidak akan segan-segan mengikuti mereka walaupun sampai ke ujung dunia. Pasti dia ingin menyentuh adik perempuan semata wayang ku!"
Sebuah senyum sinis tersirat di wajah Arthur.
"Kenapa kau harus marah? Alex adalah pria yang baik, meskipun mereka melakukan hal aneh bagiku itu wajar," ucapnya yang menganggukkan kepalanya. "Yang tidak wajar itu kau Steve, wanita mana saja berani kau sentuh. Hei, Angela juga sudah dewasa." ucapnya menyindir Steven
"Tidak, akhir pekan ini aku juga akan pergi ke pantai. Seberapa besar nyali Alex ingin menyentuh adikku," gumamnya yang sedikit gusar.
"Aku yang akan bertaruh padamu Steve, mungkin kau akan jadi racun nyamuk diantara mereka. Huh!"
*******
"Baju santai sudah, pakaian dalam juga sudah, parfum sudah, dan beberapa perlengkapan untuk berlibur semuanya sudah siap. Oke, akhir pekan ini pasti akan sangat menyenangkan."
Angela merapihkan beberapa perlengkapan untuk dia berlibur bersama Alex nanti, sudah seperti ingin pindahan dia membawa koper yang sangat besar.
"Kau ingin pindah atau berlibur sih? Kenapa bawa barang sebanyak ini?" Flo membelalakkan matanya, melihat persiapan Angela untuk berlibur.
"Tentunya berlibur, memangnya kenapa? Aku rasa ini tidak masalah."
"Iya, iya terserah dengan mu Angela," ujar Flo yang mengalah.
Tangan Angela masih sibuk merapikan pakaiannya yang akan dibawa.
"Giliran ke rumah orang tuamu kau ajak aku, ehh ... giliran berlibur kau tinggalkan aku sendiri di apartemen," Flo terlihat menggerutu.
"Liburan kali ini hanya aku dan Alex, kalau kau mau ikut ajak saja William kekasihmu itu."
Flo hanya mendengus kesal, setiap kali hal yang menakutkan pasti Angela selalu bersama Flo. Dan kali ini saat waktu bersenang-senang dia lupa dengan Flo, beginilah jika seseorang sedang mabuk kasmaran.
"Selamat bersenang-senang Angela, semoga kau dan Mr. Perfeksionis mu bahagia."
Tertawa kecil dengan kalimat yang Flo katakan, Angela hanya tersenyum lebar. Ia tahu Flo sedang jengkel dengannya, baginya itu hanya sesaat. Nanti juga Flo tidak akan jengkel lagi.
******
Jangan lupa bantu like+comen nya ya, kalau sempat bantu vote juga ya pembaca ter-zeyenk 🤗😚
~AlBeGa~