My Trouble Maker

My Trouble Maker
Membuat Perubahan



Trend fashion saat ini sangat berpengaruh bagi sekelompok wanita di seluruh penjuru dunia, biasanya tidak sedikit dari mereka yang mencoba banyak fashion yang sedang Hits, bisa dibilang mengikuti perkembangan zaman.


Sangat jarang saat ini kita melihat para wanita masih bergaya fashion tahun 70-an, jika itu pun ada biasanya mode tersebut merupakan hasil remake dari trend fashion sebelumnya. Contohnya saja celana Cutbray atau Kulot yang dulu pernah dipopulerkan Elvis Presley dan sekarang kembali menjadi trend fashion di era modern.


"Kira-kira saat New York Fashion Week nanti trend fashion apalagi yang akan menjadi perbincangan banyak orang ya?"


"Entahlah, akan banyak desainer yang akan turut andil. Dan mereka semua para desainer ternama, kita tidak bisa menebak yang mana akan jadi perbincangan."


Beberapa orang sibuk mempersiapkan segala hal, banyak model yang juga akan turut andil termasuk Angela. Karena sekitar seminggu lagi acaranya akan diselenggarakan.


Angela sedang bersama Freddy yang biasa dipanggil Fred, salah satu fotografer yang memang sudah akrab dengannya.


"Angela kau sungguh memiliki level kepercayaan diri yang luar biasa, disaat seperti ini kau masih mau tampil di depan publik. Bahkan kau juga ikut dalam pagelaran New York Fashion Week," Fred menepuk kedua tangannya seolah takjub dengan Angela.


"Lagian ini pekerjaan ku, untuk apa aku harus bersembunyi dan takut dengan mereka."


"Apa kau tidak takut, jika saat acara berlangsung banyak orang yang akan menatap mu sinis?"


"Aku sudah sering menghadapi orang seperti mereka Fred, jadi tolong kau tidak perlu bertanya lagi."


Saat itu juga Flo menghampiri mereka, membawa kentang goreng yang baru saja dia beli, "Kalian sedang membicarakan apa?" tanyanya langsung. "Ini aku bawakan kentang goreng," menyodorkan kentang goreng.


"Biasa, membahas sih Trouble Maker kita," Fred melirik Angela yang ada disampingnya.


"Kalian ini apa-apaan sih, tidak ada sebutan lain apa? Terus saja panggil aku Trouble Maker, akukan hanya gadis polos yang tidak tahu apa-apa," Angela memasang wajah innocent - nya.


'Tuk', Flo dan Fred menjitak kepala Angela bersamaan.


"Angela aku tidak tahu secara rinci masalah yang sedang terjadi antara dirimu dan sih Mr. Perfeksionis mu itu, kau tidak ingat apa? Saat ini popularitas mu sedang di atas, hanya karena masalah ini jangan membuat pekerjaan mu ikut-ikutan bermasalah."


Fred terus saja mengeluarkan kalimat-kalimat nasehat, sedangkan orang yang dia bicarakan terlihat tidak mendengar ucapannya dan sibuk makan kentang goreng.


Tangan Flo memegang bahu Fred, "Sudahlah bicara panjang lebar, aku yang bukan Angela saja tidak paham apa yang kau katakan. Angela juga tidak akan mendengar nya."


"Aku hanya memberi nasehat, demi kebaikan Angela. Lagian memang seberapa luar biasanya sih Alex itu?"


Seorang pria dengan tubuh tinggi tegap dengan setelan jas hitam, ditambah wajah tampannya seakan menyilaukan tempat tersebut.


Mata Fred terbelalak begitu juga Flo, "Ya, Tuhan. Pangeran darimana dia?" Kentang goreng yang masih ada isinya pun juga ikut terjatuh.


"Alex, sini aku di sini."


"Hah? Alex? Jadi itu sih Mr. Perfeksionis, selama ini aku hanya melihat dia di majalah atau televisi. Pantas saja kau bilang dia luar biasa."


Sebenarnya tadi tidak sengaja Alex menghubungi Angela, dan saat itulah dia mengatakan dimana dirinya saat ini. Tepatnya sedang berada di tempat biasa Angela, Flo, dan Fred berkumpul hanya untuk mengobrol atau sekedar membahas masalah pemotretan Angela.


"Alex, perkenalkan ini teman-teman ku. Mereka juga rekan kerja ku, kalau yang ini Flo teman sekaligus manajer ku, nah kalau yang satu ini namanya Fred dialah yang sering menjadi fotografer ku," Angela memperkenalkan mereka.


Fred yang semula menyepelekan siapa Alex, baru tersadar bahwa orang yang dibicarakan ternyata memang pria yang luar biasa dan banyak dikagumi orang.


"Wah, aku sangat senang bertemu dengan CEO I.S Grup. Tidak aku sangka kita bertemu disaat seperti ini," ucap Fred tertawa kecil.


"Hehe, iya. Aku juga sangat senang bisa bertemu dengan kalian."


Merasa di belakang Alex ada orang lain yang bersembunyi, Angela langsung saja penasaran.


"Siapa di belakang mu?"


Muncul seorang wanita yang mungkin Angela kenal. Lantas saja baik Angela, Flo, dan Fred sangat terkejut.


"Oh my God, manusia dari abad berapa ini?" ucap mereka serempak.


Wanita itu hanya tersenyum lebar tidak mengerti apa yang ketiga orang itu katakan, sampai mereka sangat terkejut.


"Isabella?" Angela langsung menyebut nama wanita itu, yang ternyata adalah pelayan yang saat itu Angela temui di rumah Alex.


"Hai, nona Angela. Kita akhirnya bertemu lagi."


Flo dan Fred menatap lekat Angela, "Kau mengenal wanita muda ini?" Bisik keduanya dan Angela mengangguk.


"Aku sebenarnya ada pekerjaan, jadi tidak bisa terlalu lama. Bolehkah Isabella ikut bersama mu?" Alex mencoba meyakinkan.


"Tentu saja, boleh."


Sebelum Alex pergi Angela mengantarnya keluar sampai mobil.


"Maaf merepotkan mu Angela, anak itu tidak ada teman. Jadi aku bawa saja dia bertemu dengan mu."


Angela mengerti maksud dari perkataan Alex, dia tahu Isabella sering berkunjung ke kota karena biasanya Tuan dan Nyonya Wilton, kedua orang tua Alex lah yang menyuruh nya untuk datang mengingat mereka sudah menganggap Isabella sebagai anak perempuan mereka.


"Aku akan menjaganya, lagipula dia juga sudah aku anggap sebagai adik. No problem."


"Kalau begitu aku pergi dulu, ada pekerjaan yang menunggu. Kebetulan aku akan ke perusahaan ADC Grup," ujar Alex.


"What? ADC Grup?"


Pantas saja saat aku ke perusahaan kak Steven aku sempat melihat Alex, ternyata mereka bekerjasama. Gawat jika Alex tahu hubungan ku dengan kakak saat ini. Bisa-bisa kakak mengatakan aku wanita aneh.


Senyum Angela sedikit dipaksakan, karena tahu saat ini Alex pasti akan bertemu kembali dengan Crazy Brother nya.


Sebelum masuk ke mobil tiba-tiba Alex mencium pipi Angela, rasanya ini seperti sebuah kesan yang manis. Kebiasaan Alex yang tidak sadar akan apa yang dia lakukan, seperti saat di restoran mencium bibir, dan saat ini mencium pipi mulus Angela. Sebuah kemajuan.


Hubungan mereka saat ini belum tampak jelas, karena seperti yang dikatakan Alex 'Mencoba saling mengenal terlebih dahulu' bukan berarti sebuah hubungan romansa yang didam-idamkan banyak wanita, apalagi status Alex yang baru saja bercerai.


"Bye, Angela. See you."


Rasanya meleleh, tubuh Angela merasakan sensasi panas yang sangat pekat. Baru saja pipi yang di cium, apalagi yang lainnya.


Semenit kemudian dirinya kembali masuk ke dalam ruangan yang dimana masih ada Flo, Fred dan bahkan Isabella.


Fred dan Flo yang sedari tadi masih terkejut sampai mengabaikan Alex yang sudah pergi, masih saja memperhatikan Isabella baik dari atas sampai bawah.


"Ya Tuhan, usiamu berapa nak?" Fred mengelilingi tubuh Isabella.


"Usia ku baru 18 tahun," jawab Isabella dengan polos.


"Oh, no. Wanita seusia mu menggunakan pakaian seperti ini? Ini sudah abad ke-21 nak."


Angela juga ikut-ikutan memandang Isabella.


"Bagiku ini bagus, bahannya juga nyaman dan tidak mudah sobek. Buktinya dari nenek ku sampai sekarang baju ini tetap layak dipakai," Isabella tampak cengir mengucapkan hal tersebut.


Tidak berkedip ketiga orang dihadapan Isabella hanya terperangah mendengar penuturannya. Bayangkan saja ini sudah tahun 2020 dan masih ada orang yang memakai pakaian yang sudah berumur, bagi Angela, Flo, dan Fred itu sama saja merusak seni dari Fashion itu sendiri.


"Sepertinya anak ini lebih aneh ketimbang Angela, bedanya yang ini terlihat polos yang satunya lagi sangat percaya diri."


Mendengar namanya juga disebut Angela hanya mengangkat bahunya,


"Kalian memang harus siap menghadapi anak ini, kelihatan nya saja polos aslinya juga sangat tengik," bisik Angela pada kedua temannya.


Risih dengan penampilan Isabella ketiganya memikirkan sesuatu, apa yang akan mereka lakukan? Mereka menyeringai menatap Isabella.


"Nak, kau sangat beruntung bertemu dengan kami. Akan kami beri sentuhan manja untukmu."


Sebenarnya apa yang akan mereka lakukan? Tentunya seperti sebuah kalimat 'Jika kau ingin ubah dunia, maka beri sentuhan terbaik untuk mengubah nya.'


******


Bersambung...