
Jika semalaman mereka tidur di satu kamar yang sama, pagi harinya saat matahari mulai bersinar, mereka yang masih bergelut dengan dunia mimpi kini menggeliatkan tubuhnya.
Mengumpulkan semua nyawa dari tidur panjang, Steven merasa posisi tidurnya saat ini sangat aneh.
"Shitt ... kaki siapa sih ini," memindahkan kaki David yang berada di atas kepalanya.
Sadar di kasur yang dia tiduri, tinggal dirinya dan David. Lalu dimana Alex?
Masih setengah sadar saat menoleh ke samping ternyata Alex sudah pindah satu kasur dengan Angela, posisi mereka berdua saat ini dalam keadaan berpelukan. Menanggapi hal itu sontak saja dengan kesadaran yang sudah berangsur pulih Steven turun dari atas ranjang, dan menghampiri Alex dan Angela yang masih nyaman dengan posisi mereka saat itu.
Dibalik semua itu sebenarnya Angela sudah bangun, hanya saja dia masih tidak ingin melepas pelukan Alex dari tubuhnya.
"Astaga, bangun-bangun. Ayo, kalian berdua bangun," seru Steven menyibak selimut yang menutupi mereka berdua.
Pura-pura baru bangun, Angela sesekali menggosokkan matanya. "Enggg ... sudah pagi ya," begitu juga Alex yang memang baru bangun, ikut membuka matanya.
Agar kepura-puraan nya tidak diketahui sang kakak, Angela seolah terkejut melihat Alex sudah memeluknya.
"Alex, kenapa kau ada di sampingku? Akukan sudah bilang kau satu kasur dengan kak Steven, dan David," mengedipkan sebelah matanya, memberi kode pada Alex.
Tahu semua itu hanya akting, dengan gesit Steven memisahkan pelukan mereka.
"Aku tahu pasti kau sengaja kan tidur satu kasur dengan adikku? Wah, mulai main kotor ternyata kau ya?!"
"Aku tadi malam tidak sengaja mengigau, dan baru sadar ternyata sudah satu kasur dengan Angela," sebuah alasan klasik yang sering kita dengar.
"Mengigau? BOHONG!" Mata bulat Steven menatap tajam.
Sudah pada titik kejenuhan, melihat sang kakak terus berusaha memojokkan Alex kali ini Angela sendiri turun tangan.
"Kak, Alex bilang dia mengigau dan kakak terus menuduh yang tidak-tidak. Sebaiknya kakak cepat keluar, aku tidak mau ada pengganggu dalam kamar ini!"
Melirik kesamping dimana David masih pulas tertidur, mengabaikan mereka yang pagi-pagi sudah ribut. Dengan kekuatan dalamnya, Angela menyeret sang adik turun dari kasur dan membawanya keluar dari kamar.
"Sekarang juga kakak dan David keluar!" membuka pintu lebar-lebar, "Atau akan aku buat kalian dalam masalah," ancam Angela.
David sudah seperti orang mati, meski telah diseret Angela sampai keluar dirinya masih bertahan dengan mata yang masih terpejam. Sedangkan Steven hanya terdiam di depan pintu kamar dengan adik kecilnya yang terbujur kaku dalam posisi terlentang.
"Anak ini masih bisa tidur? Kedua adikku memang tidak ada yang masuk akal," membangunkan David dengan segala cara, "David kau ini mumi, apa manusia? Ayo cepat bangun!"
Dalam kamarnya, Alex dan Angela sudah tidak dapat gangguan dari kedua makhluk aneh tersebut, mereka saling memandang dan tersenyum satu sama lain. Kali ini kebebasan berpihak pada mereka.
"Emm, sebenarnya kau tidak perlu mengusir mereka seperti tadi."
"Jadi kau mau diganggu terus dengan mereka? Kitakan ingin liburan berdua tanpa ada gangguan orang lain," Angela memasang wajah cemberutnya.
"Bukan begitu, mereka juga sudah ada di sini untuk berlibur. Tidak baik jika kita mengabaikan mereka, sangat bagus liburan kali ini kau dapat berkumpul dengan mereka? Bukankah begitu?" Suara lembut itu menyentuh hati Angela, dia juga tidak bermaksud melakukan hal itu pada kedua saudaranya. Tahu sendiri kedua pria itu memiliki sisi jahil, dan sering mengganggu Angela wajar saja dia takut liburan nya kali ini akan gagal total.
"Iya, aku mengerti ..." Angela mengembungkan pipinya dengan wajah natural tanpa make-up, membuat Alex melihat Angela seperti anak kecil yang tidak diberi mainan.
Tangan itu membelai lembut rambut Angela, sesekali memainkan rambut wanita yang sedang memasang ekspresi innocent, kepalanya pun juga ikut terangkat. Mata mereka saling bertemu, mungkin jika malam tadi kedua pengganggu itu tidak datang rasanya malam penuh romansa akan menyelimuti perasaan mereka masing-masing.
Kembali terbuai dengan rasa candu itu, hasrat seorang pria yang melihat bibir mungil, tipis membuat jiwa Alex bergetar. Langsung saja dia menarik tengkuk Angela semakin dekat dengan wajahnya, bibir mereka saling bertemu. Sebuah ciuman lembut tanpa napsu yang berlebihan membuat mereka saling terbuai.
Berbeda saat kejadian di rumah Alex, kini ciuman itu bukan berarti menunjukkan rasa hasrat yang membara. Anggap saja ini morning kiss, ya walaupun morning kiss ini tidak seperti dalam drama atau sebuah film, tapi bagi orang yang melihatnya pasti menganggap ini sangatlah manis.
Kembali dengan posisi semula keduanya saling tersenyum, entah mengapa perasaan seperti ini sudah sangat lama mereka nantikan. Baik Angela yang memang berpikir Tuhan telah mentakdirkan dia dengan Alex, begitu juga Alex yang berpikir hanya Angela wanita yang bisa membuatnya candu tanpa henti, seolah dunia kelamnya di masa lalu musnah jika terus bersama wanita yang penuh pesona, dan menggairahkan itu.
"Aku belum mandi, dan gosok gigi. Lalu kau sudah mencium ku sepagi ini. Uhhh ... menyebalkan."
"Hahaha, kau sangat imut jika seperti ini," mencubit kedua pipi mulus Angela. "Tidak mandi pun bibir mu sudah sangat manis," goda Alex.
Tidak berapa lama menikmati adegan romantis itu, kali ini dering telepon terdengar dari ponsel Angela.
Kring ...
Kring ...
Kring ...
"Tidak bisakah jangan ada yang menggangu?" gerutuh Angela mencari dimana ponsel itu berbunyi.
"Angkat saja, mungkin itu penting," saran Alex.
"Mommy?"
"Mom? Kenapa sepagi ini menelepon?"
"Kenapa memangnya, tidak boleh? Ini sudah akhir pekan, rencananya mommy ingin mengajakmu shopping. Sudah lama bukan kita tidak jalan bersama?"
"Sorry, mom. Aku sedang tidak bisa, soalnya aku sedang pergi liburan ..."
"Hah? Jadi kau liburan tidak mengajak mommy mu ini? Dengan siapa dan dimana?" Tanyanya penasaran.
"Hemm ... aku bersama teman-temanku, kebetulan Flo juga ikut," ungkapnya berbohong.
"Seriously? Kalau begitu dimana Flo?"
"Flo, Flo, oh iya Flo tadi keluar sebentar," kedua kalinya berbohong. "Mommy ajak saja daddy untuk pergi."
"Daddy mu? Fix, dia sangat sibuk dengan segala pekerjaan anehnya. Mana sempat dia mengajak liburan, kalau di ajak selalu saja ada alasan."
Mau bagaimana lagi beberapa bulan terakhir ini Tn. Taylor memang sedang sangat sibuk, ada beberapa urusan rumit yang sedang dia kerjakan.
"Karena kau sedang liburan, baiklah tidak apa-apa. Selamat menikmati liburan mu, my princess."
"Baiklah, kalau begitu, lain kali akan aku atur waktu untuk pergi dengan mommy. Bye," menutup teleponnya langsung.
Alex tahu itu pasti mommy nya Angela yang menelepon, "Mommy mu?" Angela pun mengangguk.
******
Bukan keluarga Taylor jika yang satunya menelepon anak perempuan, kali ini giliran Tn. Taylor yang menelepon anak laki-lakinya.
"Steve, kau dimana? Ada sesuatu yang ingin Daddy bicarakan padamu."
Ternyata ponsel Steven sedang tidak dengannya, "Tuan besar, sebenarnya bos kami sedang tidak memegang ponsel. Kalau ada yang ingin dibicarakan, nanti akan saya sampaikan."
"Katakan saja padanya, ini masalah tentang penyelundupan senjata beberapa waktu yang lalu. Kemarin dia bilang akan mengirim beberapa senjata ke Italia, tolong kau ingatkan lagi dia tentang itu." titah Tn. Taylor, "Tapi, ngomong-ngomong kemana anak itu sepagi ini? Apa dia sedang sibuk dengan para wanita?" Tn.Taylor mencoba menebak apa yang sedang Steven lakukan.
"Bos, sedang berlibur Tuan. Saya juga lihat di sini ada nona Angela, bos kecil, dan Tn. Alex dari keluarga Wilton," ucapnya sedikit berbisik.
Belum sampai ketelinga kanannya, ucapan orang itu membuatnya tersenyum gembira.
"Jadi di sana juga ada calon menantu ku? Jangan lupa sampaikan salam ku padanya, awas kalau tidak kau sampaikan."
Sudah menutup teleponnya, Tn. Taylor sesekali menggoyangkan tubuhnya seperti orang gila. Istrinya yang juga melihat merasa aneh, apa suaminya sedang tidak sehat?
"Kenapa kau melakukan gerakan aneh itu? Apa kau sedang sakit suamiku?" memegang kening, menguji apa suhu tubuh suaminya normal.
"Aku baru saja menelepon Steven, ternyata dia sedang berlibur. Tentunya bukan hanya dia, ketiga anak kita sedang bersama untuk liburan."
Angela mengatakan pada mommy nya dia sedang berlibur dengan teman-temannya, tidak mengatakan ada kakak dan adiknya yang juga berada di sana.
"Dia tidak mengatakan Steve, dan David bersama nya," masih penasaran. "Tapi kenapa kau sangat senang seperti itu?"
"Pengawal Steve sendiri yang mengatakan mereka sedang bersama, kenapa aku sangat senang? Karena ternyata di sana juga ada Alex calon menantu ku, aduh hatiku berbunga-bunga rasanya."
Bukannya ikut senang, Ny. Taylor merasa terkejut. Dia tahu anak perempuannya telah membohonginya.
"Pantas dia mengatakan teman, jadi maksudnya teman ranjang. Oh my God, dia telah membohongi ku. Aku harus menyusul kesana ..."
Tn. Taylor mencegat sang istri yang ingin pergi, "Ayolah sayang, jangan ganggu liburan mereka. Ini urusan anak muda, kita tidak perlu ikut campur. Hehe," seru Tn. Taylor memegang tangan istrinya.
"Kau ini ya? Dasar suami yang menyebalkan!" Berbalik arah tidak jadi menyusul.
"Ahhhh ... walaupun menyebalkan kau tetap sayang padaku, buktinya kita telah memproduksi tiga orang anak yang lucu-lucu dan menggemaskan," deskripsi Tn. Taylor mengenai anaknya, lucu? Menggemaskan? Mungkin saat mereka masih kecil, kalau sudah besar yang ada kebalikannya. "Bahkan tadi malam kau menggoda ku, masa sepagi ini sudah marah, cup ... cup ... cup," rayunya agar sang istri tidak kesal.
Bukan membuatnya lebih senang, malahan Ny. Taylor tambah aneh saja, kenapa dia bisa memiliki suami yang aneh seperti Tn. Taylor. Mungkin orang yang pertama kali melihatnya akan takut, mengingat Tn. Taylor sang penguasa yang disegani, tapi semakin kesini istrinya tahu bahwa suaminya tidak seperti yang dibayangkan. Pantas saja ketiga anaknya, menuruni Tn. Taylor.
"Cihhh, aku membenci mu. Malam ini kau tidur di luar!"
"Ehh ... sayangku, jangan begitu. Gawat sepertinya aku salah bicara."
*******
IG : @al.be.ga_ / @yzzhra_
~AlBeGa~