
Sepulangnya dari kantor Alex, seorang pria terlihat mengikuti Angela dari belakang, curiga bahwa itu wartawan dia mempercepat langkah kakinya.
"Jangan-jangan itu paparazi, gawat. Aku harus cepat pergi dari sini."
Tap ... Tap ... Tap
Suara itu semakin dekat, sampai dapat dirasakan bahwa orang tersebut sudah memegang pundak Angela. Tidak ada cara lain kecuali ...
PLAK
Ditamparnya orang itu secara spontan, dan terdengar suara kesakitan.
"Aw, sakit tahu. Mengapa menampar ku," rintihnya kesakitan.
"What? Brother?" ucap Angela terkejut, "Kenapa kau masih di sini? Bukankah kau sudah pulang? Aku kira tadi sang penguntit, ternyata itu kau."
"Aku sengaja belum pulang, mana tahu kan ada sesuatu yang terjadi antara kau dan Alex di dalam sana," sahutnya.
"Kau gila ya? Tadi sok imut saat di depan Alex, aku pikir kakak sudah mengatakan sesuatu padanya."
"Kalau bukan karena dirimu, mana mungkin aku berani membuat Alex marah. Karena kelakuan mu juga banyak masalah yang terjadi antara kau dengannya," Steven memicingkan matanya. "Tadi aku sudah katakan padamu, kau sudah mendapat panggilan. Segera pulang dan jangan bersembunyi, ingat bukan kau saja yang geram dengan kejadian ini. Tapi hampir seluruh keluarga orang merasakannya, belum lagi 'Raja Monster' itu."
"Iya, iya aku akan pulang. Tapi apa kakak juga akan pulang?" Angela menelan saliva nya.
"Jika tidak kenapa?"
"Kau juga harus pulang, kau sendiri juga ada di sana saat kejadian itu. Mana mungkin aku masuk kandang singa sendirian," Angela bergidik ngeri, membayangkan siapa yang akan dia hadapi.
"Aku memang akan pulang, tapi aku tidak akan pergi bersama mu. Ajak Flo jika kau takut."
Sebenarnya bukan sebuah ketakutan saat kita bertemu hantu atau pembunuh, tetapi ketakutan ini lebih diartikan sebagai simbol rasa cemas menghadapi orang-orang yang mungkin saja selama ini bersembunyi dibalik diri kita sendiri.
"Aku mengerti, sudah aku mau pulang."
Pundak Angela sudah tidak terlihat, dari kejauhan Steven hanya menatap kepergian adiknya yang sering membuatnya pusing.
Seorang pengawal yang sedari tadi sedikit menjauh dari percakapan Angela dan Steven tersebut, mulai menghampiri Steven.
"Tuan, ini tempat dimana dia membuang orang-orang itu."
Baru saja sedikit tenang dan kali ini Steven sudah hampir naik darah lagi, "Punya adik dua-duanya aneh, dan sering cari gara-gara. Belum Angela kini giliran yang satunya lagi sudah cari ulah. Ayah, ibu kenapa kau suruh aku mengawasi mereka," Steven memejamkan matanya mencoba menenangkan diri sendiri. "Apa mereka semua masih hidup?" Tanyanya.
"Iya, tuan. Mereka semua masih hidup, hanya saja mereka tampak sudah babak belur. Maka dari itu kami langsung membawa mereka ke rumah sakit, tapi ... " ucapnya sedikit ragu.
"Tapi apa? Cepat katakan?" Gertak Steven.
"Alasan Bos kecil membuang orang tersebut, ternyata saat itu dia tidak sengaja mendengar mereka menghina Nona Angela dan mengatakan hal buruk mengenai nya. Jadi dengan sifat temperamental nya Bos kecil langsung saja menghajar dan membuang mereka dalam keadaan babak belur," pengawal itu menunduk tidak berani menatap orang yang ada dihadapannya.
"Kalau begitu buang kembali mereka, aku juga tidak sudi menolong orang yang menghina adikku. Cepat laksanakan!" Perintah Steven.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mereka yang niatnya tadi di tolong malah harus mendapatkan kembali sebuah nasib sial. Niat ingin menyalahkan sang adik malah ikut melakukan hal yang sama.
"Jika sudah kau lakukan perintah tersebut, nanti carikan aku seorang wanita. Sepertinya aku butuh sedikit bermain, untuk menghilangkan rasa penak ini."
Pengawal yang sedari tadi diam itu hanya menuruti perintah dari sang majikan, dia tahu jika semua itu tidak dilaksanakan mungkin saja dia yang kena imbasnya.
Takdir ku memang mengenaskan, belum lagi bekerja dengan keluarga Taylor, dan juga sering berurusan terhadap mereka yang membuat ulah dengan para hewan liar ini. Tn. Taylor kenapa kau bisa mempunyai anak-anak Trouble Maker. Arrrghh ... jika terus begini aku tidak akan bisa berkencan.
******
"Tuan muda, tuan muda ..." sahut seorang pria yang sedang terengah-engah.
"Peter kenapa kau berlari seperti itu, ada apa?"
"Tuan, tadi aku melihat Nona Angela bersama Tn. Steven di bawah."
"Apa? Bukannya Steven sudah pulang lebih dulu ketimbang Angela, jangan bilang dia tadi menunggu nya," Alex terlihat memukul meja geram.
"Dasar sialan, dia sendiri yang bilang tidak akan mendekati wanita yang sudah aku dekati. Dan sekarang malah mengingkarinya!"
"Maaf, tuan. Tapi aku sempat dengar nona Angela memanggil Tn. Steven dengan sebutan kakak."
Alex mengalihkan pandangannya, dia menatap Peter dengan rasa penasaran, "Benarkah?" alisnya sedikit terangkat. "Kalau begitu kau tahu apa yang harus kau lakukan Peter, cari tahu siapa Angela sebenarnya."
******
Di sebuah tempat tampak Angela sedang merayu Flo, "Ayolah Flo kau harus ikut dengan ku, kau adalah manajer ku, itu berarti kau juga harus berada disisiku, dimanapun dan kapanpun," rayunya memegang tangan Flo.
"Kau dengar ya Angela, aku bisa saja mengurus semua masalah ini. Tapi kalau untuk menghadapi mereka aku tidak sanggup, kau ingat tidak dulu saat kita masih kecil hanya karena kau menangis orang-orangmu itu menatapku dengan tajam. Bahkan ayahmu sendiri yang bilang 'Flo, apa yang kau lakukan dengan Angela? Kau sebagai teman tidak menjaganya dengan baik' dan anak-anak yang mengejekmu juga kena imbasnya." Flo mencoba menirukan suara Tn. Taylor, ayah Angela.
Mencoba mengingat masa lalu, saat itu jika dipikir-pikir semua perkataan Flo benar adanya.
"Pokoknya kau harus ikut denganku, mau atau tidaknya akan aku seret kau untuk ikut. Titik!"
Pasrah tidak bisa menolak, lagipula Flo juga sudah berjanji jika dia selalu akan menolong Angela.
"Huftt ... iya, aku akan ikut. Ada satu syarat, suruh ibumu buat masakan untuk ku. Aku sudah sangat rindu masakan Ny. Taylor, semua masakannya pasti enak."
"Tenang ibuku pasti akan masak makanan yang banyak untuk kita, tapi sebelum menikmati makanan tersebut kita harus menerima ceramah dari mereka semua. Hadehh ..."
"Angela aku jadi ragu sepertinya rencana mu pasti akan sedikit berubah, mengingat dia telah melakukan tindakan diluar batas."
Angela hanya menggelengkan kepalanya, dirinya sadar sesuatu telah dia lupakan bahwa Catherine mungkin telah merencanakan sesuatu yang lebih besar pada dirinya. Tapi dia juga sadar mungkin rencana sih 'Wanita rubah' itu juga akan sia-sia.
"Aku juga tidak yakin apa sih 'Wanita rubah' itu akan bertahan hidup lebih lama, sekarang bukan aku saja yang dia singgung. Tapi ...."
"Para hewan liar itu pasti juga akan memangsanya!!" Teriak kedua wanita itu bersamaan dan saling menatap.
******
Tempat itu sangat mewah, lebih tepatnya ini di sebuah restoran.
"Kita nikmati kemenangan kita saat ini, akhirnya dia dapat dipermalukan, haha."
Ketiga orang wanita sedang kegirangan menikmati sesuatu yang bagi mereka menyenangkan.
"Kau bekerja dengan baik, jika ada waktu lagi kau dapat kami andalkan."
"Terimakasih atas pujiannya nona Catherine, jika anda butuh bantuan maka panggil saja aku."
Seorang pelayan pria menuangkan bir ke gelas mereka, "Silahkan para nona, untuk menikmati bir terbaik ini." Mereka bersulang satu sama lain.
Baru saja meneguk satu tegukan salah satu diantara mereka berteriak.
"Kecoa! Kenapa ada kecoa di bir ini." Teriaknya ketakutan.
"Hei, pelayan apa yang kau lakukan. Kenapa sampai bisa pelayanan di restoran seburuk ini, sampai ada kecoa dalam bir!"
Ketiga wanita itu memaki pelayan tersebut, "Panggil manajer kalian, aku ingin protes masalah ini."
"Maaf nona-nona sekalian, manajer kami kebetulan sedang pergi. Lagian aku tadi sudah mengecek bir dan gelas yang anda pakai, semua itu bersih. Aku pikir kecoa hanya datang di tempat yang kotor, jadi mungkin nona-nona sekalian yang lupa menjaga KEBERSIHAN," setiap kalimat yang dia ucapkan penuh penekanan.
"Dasar pelayan sialan, kau harus ganti rugi semua ini."
Pura-pura tuli pelayan pria muda itu langsung pergi, tersirat sebuah senyum kemenangan tampak diwajahnya.
"Mudah sekali membuat mereka kesal, pantas saja kakak ingin melenyapkan nya. Cih, dasar para wanita tua."
******
Bersambung...
Jangan lupa Vote + like + comen + krisarnya ya 🤗