My Trouble Maker

My Trouble Maker
Pencarian Yang Sia-sia



Seorang wanita sedang mondar-mandir dalam sebuah ruangan, wanita itu adalah Flo. Sedari tadi dia mencoba untuk menghubungi Angela, sayangnya tidak diangkat. Ada sedikit kekhawatiran apa saat ini Angela dalam keadaan baik-baik saja atau ada sesuatu yang terjadi padanya.


"Kenapa tidak diangkat sih?" Flo sesekali menggigiti jarinya pertanda dia sedang khawatir. "Apa aku hubungi saja ..." Flo mencoba menelan Saliva nya, entah siapa orang yang dia maksud.


Suasana di sekeliling apartemen kini sudah mulai kondusif, seperti nya para wartawan itu sudah muak menunggu dan tidak mendapatkan hasil apa-apa. Begitu juga di apartemen milik Alex, hanya saja masih ada orang yang gila untuk mencari tahu dimana keberadaan Alex dan Angela saat ini bahkan mereka mendatangi rumah orangtua Alex. Mereka berpikir siapa tahu kedua orang itu ada disana, dan hasilnya nihil. Sedikit bodoh, tidak ingatkah mereka bahwa Alex adalah orang ternama dan kaya raya yang memiliki banyak rumah, pastinya akan sangat sulit mencari keberadaan mereka saat ini.


"Kita sudah lama menunggu tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka, perutku juga sudah lapar. Ayo kita pergi saja," salah satu wartawan itu sedari tadi memegangi perutnya yang lapar.


"Jika kita pulang tanpa membawa apa-apa nanti atasan akan marah, sebaiknya kita menunggu sebentar lagi," ujar salah satu wartawan yang masih bersih keras menunggu.


"Benar kata Brian, sebaiknya kita pergi makan dulu. Dari tadi malam kita sudah menunggu, tapi batang hidung mereka tidak terlihat sama sekali, atau tidak kita cari ketempat lain misalnya rumah Angela, kitakan baru ke apartemen nya." Usul wartawan lainnya.


"Hei, kau tidak pernah dengar? Angela itu dulunya adalah orang yang sangat susah, orang tuanya saja mungkin tidak memiliki rumah. Bahkan tidak tahu seluk-beluk dia terlahir dari keluarga seperti apa dan dimana, itulah mengapa sifatnya seperti itu orang tua saja tidak punya, jadi wajar tidak ada didikan sama sekali dan berani merebut suami orang lain," ungkap wartawan itu seolah mengolok siapa Angela.


Seorang pemuda yang sedang berada disekitar mereka tidak sengaja menguping percakapan tersebut.


"Dasar orang bodoh, mengatakan sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Aku kerjai saja mereka, hehe." Gumam pemuda itu, ia adalah orang yang sama yang pernah membanting ponsel milik orang lain dan menggantinya dengan uang yang sangat banyak.


Pria itu menghampiri beberapa orang wartawan tersebut.


"Maaf mengganggu, aku dengar kalian mencari informasi mengenai tempat tinggal model ternama itu ya?"


"Kau siapa? Benar, sayangnya kami tidak tahu itu dimana," jawab wartawan yang memakai kacamata. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau mengetahui sesuatu nak?"


"Sebenarnya aku sedikit tahu dimana rumah orang yang sedang kalian cari, tapi aku ragu mengatakannya," Pria muda itu terlihat melipat kedua tangannya.


"Benarkah? Kau sungguh tahu tempatnya? Cepat katakan dimana?!"


"Kalian benar-benar yakin ingin mengetahui nya? Aku takut nanti akan terjadi sesuatu pada kalian," ujar pria muda itu sedikit menakut-nakuti para wartawan itu.


"Ayolah nak, kami semua sudah biasa menghadapi masalah besar. Janganlah kau menakuti kami, segera lah katakan dimana tempat itu."


Pria muda itu langsung saja sedikit berbisik mengatakan tempat itu dimana, seakan mengerti para wartawan itu mengangguk dan sedikit senang. Seperti mendapatkan informasi penting, mereka menganggap ini adalah hal bagus.


"Baiklah ayo kita segera berangkat kesana," seru mereka bersamaan.


Sedangkan pria muda yang memberikan informasi tersebut hanya menyeringai menatap kepergian para wartawan itu.


"Selamat bersenang-senang," teriak pemuda itu dari kejauhan ketika para wartawan itu sudah pergi. "Semoga kalian pulang dengan selamat. Haha."


Sebuah tempat dipenuhi dengan orang-orang yang sedang menatap tajam para wartawan tersebut. Tempat itu bisa dibilang sedikit tidak layak tapi sangat ramai, beberapa orang lalu lalang bahkan terlihat beberapa orang juga menjajakan jualannya.


"Kau yakin ini tempat nya?" Salah satu wartawan itu menelan saliva nya 'Glek'.


"Diamlah, anak itu bilang ini tempatnya. Dilihat juga sepertinya daerah kumuh ini memang tempat tinggal Angela sebelum sukses."


"Tapi tempat ini sangat menyeramkan, lihat tatapan mereka seperti akan menerkam kita," ujar wartawan lainnya yang bersembunyi dipunggung temannya.


"Daripada diam saja, sebaiknya kita tanya dengan orang itu saja?" Tunjuk itu mengarah pada seorang penjual daging.


Berjalan dengan perlahan mereka terus mendapatkan pandangan menakutkan dari orang sekitar, 'Bruk' seseorang menabrak salah satu wartawan tersebut. "Sialan, hati-hati kalau jalan," umpat wartawan tersebut. Bukannya mendapatkan permintaan maaf pria yang menabrak malah menunjukkan sebuah pisau yang berarti,


'Seharusnya kau yang berjalan dengan baik, atau kau akan mati.'


"Pencuri, pencuri ... cepat kejar pria itu dia telah mencuri barangku," teriak orang yang sedang berlari. "Tangkap dia, kalau dapat segera habisi dia." Perintah orang itu.


Tidak tahu apa yang terjadi para wartawan itu tetap berjalan seolah tidak tahu apa-apa bisa saja jika mereka ikut campur sesuatu akan terjadi.


Penjual itu tetap fokus memotong daging yang siap dijual.


"Ehem ... Tuan apa anda mendengar pertanyaan saya tadi?"


PRANK...


Suara pisau itu terdengar nyaring saat memotong daging, penjual itupun menoleh dengan siapa dia diajak bicara.


"Aku tidak tahu, disini tidak ada orang yang namanya kalian sebut tadi. Apalagi keluarga Taylor. Tidak ada!"


Mereka sedikit heran apa mungkin penjual itu berbohong, dan mereka masih penasaran.


"Tapi aku dapat informasi dari seseorang benar inilah tempatnya, jika anda mencoba menutupi hal tersebut itu tidaklah baik untuk anda," wartawan itu sedikit mengancam.


"Kau mengancam ku? Jika hanya mencari seseorang yang bernama Angela disetial sudut dunia pun pasti ada, aku hanya meladeni orang yang ingin bertransaksi denganku. Aku kira kalian ingin menawarkan ginjal, jantung atau organ tubuh lainnya untuk kalian jual padaku," penjual itu tampak memasang senyum menakutkan.


Tubuh bergetar, wajah sudah pucat, bahkan diantara mereka ada yang tidak sengaja kencing di celana.


"Kalian tidak lihat nama tempat ini? Sepertinya kalian buta," penjual itu kembali berucap.


"Teman aku rasa tempat ini adalah tempat yang dikatakan sebagai Pasar Gelap itu, ayo sebaiknya kita per-per-pergi ..."


Mereka lari tidak karuan, rasa takut telah menyelimuti mereka. Tidak mendapatkan berita, malah mendapatkan sebuah ketakutan yang besar.


"Kenapa kita harus lari? Bukannya bagus jika mengetahui itu tempat seperti apa?" sahut wartawan yang lari itu.


"Kau gila ya? Belum mendapatkan berita mungkin saja nyawa kita yang sudah melayang duluan, lebih baik lari daripada digantung disana."


Sedangkan penjual tadi hanya bergumam, "Bodoh, mana mungkin aku menjual organ tubuh mereka, padahal semua ini daging sapi dari peternakan asli."


******


Kembali lagi dengan Flo, saat ini dirinya sedang menelepon seseorang.


"Kak Steve, ini aku Flo."


"Flo, tumben sekali kau menelepon ku? Ada apa?" Ternyata yang ditelepon Flo adalah Steven kakak Angela.


"Aku ingin tahu, apa Angela pergi ketempat kak Steve? Soalnya tadi malam banyak wartawan mengelilingi apartemen kami, jadi dia tidak pulang semalaman," ujar Flo.


"Tidak, anak itu mana mungkin menemui ku. Bukannya tadi malam dia sudah diantar Alex pulang. Jangan bilang ...."


"Mereka menginap ditempat yang sama?!" Steven dan Flo menjawab secara bersamaan.


Telepon pun terputus.


"Anak itu ... rasanya aku jantungan, pelayan ambilkan aku air minum," titah Steven pada pelayan nya. "Alexxxxxxxxx, jangan sampai kau menyentuh adik perempuan ku!!"


Inilah kejadian sesungguhnya, sang kakak yang terkenal Casanova saja masih sangat memikirkan adik perempuan nya. Apa ini karma? Tidak, mereka memang kakak, adik yang kompak. Memiliki pesona untuk menaklukkan sesuatu.


******


Bersambung...