
Liburan musim panas mungkin tidak akan sepanas dengan perasaan Angela kali ini, bagaimana tidak mungkin. Niat untuk berlibur dan bersenang-senang bersama Alex, harus melewati rintangan dari beberapa hama yang siap mengganggu nya.
"Wanita rubah itu ternyata juga ada di sini, menjengkelkan. Pasti dia akan berusaha mendekati Alex selagi ada kesempatan, aku harus berada di samping Mr. Perfeksionis agar tubuhnya tidak ternodai oleh Catherine yang bermuka dua," Angela tampak geram dengan semua insiden yang terjadi hari ini. "Berarti aku tidak salah penglihatan bahwa wanita sore kemarin itu benar Catherine, tapi ... kalau tidak salah ada pria disampingnya?"
'Klek' pintu kamar terbuka, menampilkan Alex yang baru saja mandi dan setengah badannya dibalut dengan handuk.
"Angela? Apa ada yang sedang kau pikirkan?" Sambil mengelap rambutnya yang basah.
Ekspresi nya sedikit kesal, sembari memalingkan wajahnya yang tidak melihat Alex. "Aku masih memikirkan kenapa Catherine bisa ada di sini, kau tahu ..." Angela tidak dapat melanjutkan ucapannya saat menoleh ke Alex, "Wow, sexy man." ucapnya terpanah.
Kedua kalinya Angela melihat Alex sehabis mandi dan menggunakan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya, pertama saat di apartemen Alex dan yang kedua saat ini, dimana mereka sedang liburan.
"Apa ada yang salah?" tanya Alex yang tidak sadar bahwa Angela telah memperhatikan nya sangat lekat.
Sadar kenapa Angela terus memperhatikan nya dengan lekat, langsung saja Alex bertingkah aneh. "Handuk di hotel ini sangat pendek, meski hanya menutupi sebagian tubuh tetap saja singkat kalau aku yang pakai," ujarnya.
Kalau dipikir-pikir tubuh Alex yang tinggi tegap itu dan memakai handuk yang sangat pendek, membuatnya terlihat sangat menggoda.
"Hehe, tidak masalah kau tampak bagus kok seperti ini," ucap Angela yang tidak sengaja ...
GEDUBRAKK
Kakinya tiba-tiba tersandung oleh sesuatu, dengan sigap langsung memegang handuk yang masih terpasang di tubuh Alex.
"Opsss ..."
Seorang pelayan hotel juga sedang berada di delan pintu kamar mereka. "Permisi, tuan, nona apa ada orang di dalam? Katanya kalian butuh pengharum ruangan, jadi saya mengantarnya." Tidak mendapatkan balasan dari dalam, pelayan itu langsung saja membuka pintu kamar tersebut, "Wah, pintunya tidak terkunci. Kalau begitu aku langsung masuk saja."
Sang pelayan memasuki kamar dengan senyum ciri khas pelayan hotel, pelayan itu langsung tercengang melihat apa yang sedang dia lihat. Angela dalam keadaan posisi jongkok dihadapan Alex yang sedang berdiri, dan handuknya pun hampir lepas saat dipegang Angela. Bagi yang melihatnya, ini seperti sebuah adegan absurd yang sering dilakukan oleh pasangan yang ingin memadu kasih 'Konyol'.
"Ulala ... maaf saya tidak lihat, aduh mungkin salah kamar. Saya akan pergi, silahkan lanjutkan tuan dan nona," langsung membalikkan tubuhnya.
Alex dan Angela yang sadar posisi mereka saat ini terlihat memalukan di depan pelayan hotel itu, mereka segera membenarkan posisi masing-masing.
Angela mengumpat dalam hatinya,
Sialan, gara-gara benda ini aku jadi tersandung.
"Jangan pergi, kau tidak salah kamar. Aku tadi yang minta dibawakan pengharum ruangan."
"Ohh, saya pikir salah masuk kamar, soalnya tuan, dan nona sedang ingin main. Takutnya saya menggangu. Hehe," ucap pelayan itu tersenyum lugu.
"Tidak, yang tadi bukan apa-apa kau jangan salah paham. Sini mana pengharum ruangannya," seru Angela.
Pelayan itu memberikan pengharum ruangan itu ke tangan Angela, "Tuan, dan nona jangan takut. Saya tidak akan bicara pada siapapun, kalau ingin diteruskan silahkan. Saya jamin demi kepuasan pelayanan hotel, semua yang ingin kalian lakukan pasti tidak ada yang bisa mengganggu. Oke, saya pergi dulu." berjalan menuju depan pintu, ternyata pelayan itu kembali menoleh pada Alex dan Angela. "Tuan, semangat. Saya sarankan anda harus melakukan pemanasan terlebih dahulu, fighting!"
Entah apa yang dipikirkan pelayan itu, sepertinya dia sudah berpikir aneh.
"Kenapa semua pelayan yang pernah aku temui aneh-aneh? Tidak pelayan rumah, atau pelayan hotel mereka semua sama saja," gumam Angela yang tahu apa yang dipikirkan pelayan tadi.
Senyum pelayan itu terus merekah, sehabis dari kamar Alex dan Angela. "Padahal masih pagi, tapi mereka sudah sangat bersemangat. Yang wanita tidak sabar ingin makan pisang, eh yang prianya sudah tidak sabar mengocok adonan kue. Ckckck, musim panas ini benar-benar hot wajar saja banyak pasangan muda merasa kepanasan. Aku jadi rindu masa muda," ucap pelayan itu yang mengingat masa mudanya.
Alex dan Angela merasa malu, bagaimana tidak mereka sudah seperti kepergok melakukan hal aneh. Padahal semua itu terjadi dengan tidak sengaja.
"Pakailah baju, nanti ada orang lain." Angela menundukkan kepalanya.
Sebenarnya jika tidak ada pelayan hotel yang tiba-tiba masuk, bisa saja hal aneh itu akan benar terjadi, mengingat keduanya sudah saling candu. Jika sedikit saja kelepasan, mungkin hewan liar di jiwa Alex kembali muncul. Mau bagaimana lagi keadaan tidak mendukung, bukan lagi malam yang panjang tapi pagi yang panjang tidak dapat terjadi hari ini.
******
Sebuah ruangan yang tertutup dan sangat gelap, hanya terdapat satu cahaya yang menyinari sebuah meja dimana ada dua orang pria saling duduk berhadapan. Salah satu pria itu tampak masih sangat muda daripada pria dihadapannya. Di atas meja juga ada papan catur, tampaknya kedua pria itu sedang bermain catur.
"Skak, kau kalah Tn. Taylor," pria muda itu tersenyum tipis.
"Kau memang hebat Robert dalam urusan ini. Sudahlah daripada berlama-lama, ini barang yang kau butuhkan. Transaksi kali ini sudah selesai, aku pergi dulu ..."
"Cepat sekali pergi? Kau tidak mau main lagi Tn. Taylor?"
"Taruhan? Bagus juga, bagaimana jika kita taruhan putrimu jika kau kalah dia untuk ku?"
Rasa percaya diri Tn. Taylor memudar, dia tidak menanggapi lagi ucapan lawan bicaranya. Dirinya langsung berdiri dan ingin meninggalkan tempat tersebut.
"Jadi kau takut?" pria itu kembali berujar.
Mata Tn.Taylor melirik pria bernama Robert itu dengan tajam, "Kau masih menginginkan Angela? Sudah aku katakan sejak dulu, dirimu tidak cocok untuknya dan dia hanya menganggap mu sebagai orang asing, menyerahlah." menaikkan intonasi suaranya.
"Tidak cocok? Hemm ... aku tampan, kaya, dan memiliki segalanya, aku bisa membuatnya bahagia. Apa karena pria dari keluarga Wilton sialan itu aku kalah darinya? Bukankah kau tahu karena pria itu Angela ku yang manis terseret dalam sebuah masalah, aku tidak menginginkan hal tersebut terjadi padanya."
"Aku ingatkan sekali lagi padamu Robert, kita hanya memiliki hubungan transaksi jual beli. Tidak ada yang lain, di luar semua itu jangan pernah kau berharap. Dan satu lagi, kau bilang Angela terseret masalah? Seharusnya kau yang berpikir, jika putriku dekat dengan mu akan banyak masalah yang menyeretnya. Camkan itu!" ucapnya tegas penuh penekanan.
"It's okey, jika itu yang kau pikirkan ..." ucap pria itu lembut.
"Ayo semua kita pulang, aku tidak ingin lama di sini," perintah Tn. Taylor pada bawahannya.
Tn. Taylor telah pergi dan pria itu memegang kepalanya.
"Tuan, jangan anda pikirkan perkataan Tn. Taylor."
"William? Katakan padaku berita apa yang kau bawa?"
"Aku dengar mereka liburan ke suatu tempat, sudah ada mata-mata yang aku kirim untuk mengawasi mereka, tuan."
Bibirnya mungkin tersenyum manis, tapi dalam hatinya ada sesuatu yang dia sembunyikan. Seorang pria yang haus akan sesuatu.
"Bagus, kekasihmu sangat dekat dengannya. Manfaatkanlah dia sebaik mungkin, dengan dirinya aku dapat mengetahui bagaimana keadaannya, atau sedang apa malaikat kecilku. Angela."
"Iya, tuan. Tapi ... yang kau hadapi adalah keluarga Wilton, walaupun mereka sudah tidak pernah muncul ke permukaan, tetap saja nama dan kekuasaan mereka jadi perbincangan setiap orang dalam pasar gelap, dan juga merekalah yang telah menghancurkan keluarga mu?"
"Untuk apa aku takut? Alex dari kecil tidak mungkin di didik sebaik diriku oleh keluarganya, kau tahu sendirikan semenjak keluarga Wilton memutuskan untuk mundur, mereka tidak mungkin melatih dirinya dengan baik. Dia hanya pria lemah, bagaikan butiran debu aku dapat langsung melenyapkannya, kali ini aku yang akan menang," senyumnya penuh kesinisan.
Sedangkan Tn. Taylor yang sudah keluar dari tempat tersebut menendang ban mobilnya, "Arrgghh ... dasar Robert, sudah aku peringatkan tapi tetap saja tidak peduli!"
Para pengawal itu hanya diam dan tertunduk jika Tn. Taylor mulai marah-marah.
"Kalian lihat? Dia sangat angkuh, dari dulu keluarganya memiliki image yang buruk. Penuh kekerasan dan arogan, mana mungkin aku menyerahkan putriku padanya," kembali menendang ban mobilnya.
Alex lawan mu kali ini sangatlah berat, aku harap hadiah yang aku berikan saat itu akan berguna untuk mu nanti.
******
Angela memperhatikan Alex yang sudah memakai bajunya, "Tubuh mu sangat bagus, aku jadi tidak tahan melihatnya terus."
"Hehe, ini hasil dari olahraga ku tiap hari. Kebetulan juga aku belajar ilmu bela diri."
"Huaaa ... kau juga belajar ilmu bela diri? Itu bagus, memang ilmu beladiri apa?" tanya Angela penasaran.
Bagus Alex bisa bela diri, daddy pasti senang kalau calon menantunya punya bakat seperti itu.
Alex tersenyum manis, melihat Angela sangat antusias saat tahu dia bisa bela diri.
"Aku mempelajari semuanya, kakek dan daddy ku yang menyarankan aku harus mempelajarinya. Jujur saat kecil aku menolak, tapi lama-kelamaan aku menyukainya. Mereka mengatakan akan sangat berguna jika aku mempelajarinya, di rumahku bahkan ada lapangan tembak khusus. Setiap tahun ada banyak orang yang datang ke kediaman kami, mereka adalah orang-orang hebat karena beberapa diantara mereka ada guruku," ucap Alex panjang lebar.
Takjub dengan semua cerita Alex, Angela teringat dulu kakaknya Steven dari kecil juga sudah melakukan hal seperti itu. Tapi bedanya, Angela tahu bahwa Alex dari keluarga yang tidak memiliki latar seperti keluarganya.
"Wow, aku baru tahu ternyata kau dari kecil sudah di didik seperti itu."
"Aku juga tidak mengerti, seperti yang aku sudah katakan keluarga ku menganggap itu penting. Kau ingat Sir Henry? Pelayan di rumah tempat kita pernah menginap? Kakek Isabella? Dulu dia salah satu penembak jitu, dia juga yang mengajariku menembak. Sampai akhirnya pensiun dan mengabdikan diri dengan keluarga kami."
Hanya menganggukkan kepalanya, Angela jadi penasaran selama ini dia menyukai Alex tanpa tahu latar belakang keluarganya. Yang dia tahu keluarga Wilton terkenal hanya dalam dunia bisnis, jika disangkut pautkan dengan dunia keluarganya? Baginya itu mustahil, Angela tahu dari kecil dia tidak pernah mendengar nama keluarga Wilton dalam dunia yang keluarganya geluti. Apa dia meninggalkan bagian penting dalam buku catatan sejarah para penguasa kegelapan terdahulu?
*******
~AlBeGa~