
Mobil yang di kendari oleh Daniel sampai di tempat tujuan yaitu, taman kota Jakarta.
Daniel terlebih dulu turun dan mengitari mobil untuk membuka kan pintu untuk sang istri dan juga anak nya.
"Makasih Mas." Ucap Dinda sambil tersenyum manis, sedang kan Daniel hanya membalas dengan anggukan dan senyuman saja.
Mereka pun melangkah menuju tempat yang agak teduh untuk mereka tempati. Sesampai nya di salah satu pohon yang agak lebat Daniel dan Dinda pun memutus kan untuk menggelar kan tikar mereka di sana.
"Sini yank biar sama Mas aja." Ucap Daniel pada Dinda yang sudah siap siap ingin memasang tikar, padahal Dinda sedang menggendong Al.
"Ini Mas." Dinda pun menyerah kan semua nya pada Daniel, dia hanya menatap suami nya yang tengah sibuk merapih kan dan menurun nurun kan barang mereka yang tadi di bawa ke atas tikar.
"Ayo duduk sini." Titah Daniel saat sudah menyelesaikan mengelar tikar nya dan juga merapih kan semua barang barang nya.
Dinda pun melangkah dan membuka sandal nya, lalu dia duduk di dekat suami nya sambil memangku anak nya yang berada di gendongan nya.
"Sini biar Al sama Mas aja." Ucap Daniel dengan merentang kan tangan nya agar Al perbindah ke dalam gendongan nya.
Dinda pun memberi kan Al pada Daniel.
"Kita sudah lama tidak melakukan piknik ya Mas." Ucap Dinda tiba tiba.
"Iya. Kalau tidak salah terakhir kali kita piknik saat kita pengantin baru dulu." Balas Daniel.
"Iya. Saat itu juga Mama ingin ikut, tapi kamu larang." Ucap Dinda sambil tertawa di ujung kalimat nya, Daniel ikut tertawa saat mengingat kembali kejadian satu tahun yang lalu.
Flashback.
Saat itu Dinda dan Daniel sedang merasa bosan di rumah, mereka pun memutus kan untuk pergi piknik ke danau. Mereka pergi untuk menyegar kan pikiran mereka, karena mereka selalu di sibukan dengan pekerjaan kantor. Saat itu juga Dinda belum hamil dan belum keluar dari perusahaan Daniel.
Setelah semua nya siap Dinda dan Daniel pun turun ke lantai bawah, tapi belum sempat menginjak kan kaki mereka pada anak tangga. Suara Mama Daniel mampu membuat langkah Daniel mau pun Dinda berhenti.
"Kalian Mau ke mana? Kok pada rapih sih pagi pagi gini. Mana pakai pakaian santai lagi." Tanya sang Mama menghampiri anak dan menanti nya.
"Kami mau piknik Ma." Jawab Daniel sambil memamerkan paper bag yang berisi barang barang mereka.
"Piknik? Kenapa mendadak sekali?" Tanya Mama nya
"Iya nih Ma. Tadi kita ngerasa bosan di rumah terus, jadi kami memutus kan untuk pergi piknik aja." Ucap Dinda yang juga ikut menimpali.
"Terus kalian cuma mau pergi berdua aja?" Tanya Mama nya mengkode pasangan suami istri itu untuk mengajak nya ikut.
Daniel yang mengerti kode itu langsung menjawab.
"Iya lah." Balas Daniel dengan cepat.
"Kalian gak ada niatan gitu buat ngajakin Mama ikut piknik?" Tanya Mama nya to the point.
"Ya enggak lah, Daniel hanya ingin piknik berdua aja sama Dinda. Dan gak boleh ada satu orang pun yang ikut termasuk Mama sendiri." Ucap Daniel membuat Mama nya cemberut.
"Kau tega sekali pada Mama." Ucap Mama Daniel dengan wajah di buat memelas agar anak nya mengizin kan diri nya untuk ikut dalam piknik itu.
"Mas ajak aja Mama, kasian tuh mau nangis." Bujuk Dinda yang tidak tega melihat wajah memelas mertua nya.
'Yes, berhasil.' Teriak Mama nya dalam hati saat melihat menantu nya mendukung diri nya.
"Tapi sayang dia hanya pura pura sedih aja." Bisik Daniel pada istri nya.
"Jangan suudzon Mas, gak baik loh." Ucap Dinda sambil mencubit pinggang suami nya dengan kencang.
"Aww... Sakit yank." Ringis Daniel membuat Mama nya mati matian menahan tawa saat melihat anak nya memelas pada menantu nya.
"Maka nya jangan suka suudzon, apa lagi pada Mama yang udah melahirkan kamu." Ucap Dinda dengan pelan nyaris berbisik.
"Janji?" Tanya Dinda sekali lagi, sedangkan Daniel hanya mampu mengangguk saja dengan muka yang masih menahan sakit.
Dinda pun melepas kan cubitan nya dan kembali menatap Mama mertua nya.
"Kalau Mama mau ikut, ikut aja dengan kita. " Ucap Dinda pada mertua nya membuat Daniel melotot ke arah istri nya.
Sedang kan Mama Daniel dalam hati nya bersorak kesenangan karena keinginan nya terwujud. Tapi baru saja merasa senang, Mama Daniel langsung kembali murung saat mendengar ucapan anak nya.
"Ayo lah Ma, masa Mama mau ikut kita piknik. Waktu Mama muda juga, aku selalu tidak ikut piknik dengan Mama."Ucap Daniel.
" Kan waktu itu belum ada kamu bodoh." Ucap Papa Daniel yang tiba tiba datang dari kamar nya.
Daniel yang mendengar ucapan Papa nya hanya bisa berkekeh pelan.
"Sudah kalian pergi saja, urusan Mama biar Papa aja yang urus." Ucap Papa nya kembali.
"Papa memang yang terbaik." Puji Daniel sambil melangkah meninggal kan orang tua nya.
Daniel pergi dengan menggunakan sepeda motor, karena waktu itu Dinda mengingin kan nya. Jadi Daniel hanya bisa menuruti nya saja.
Kembali ke realita.
"Kamu mau beli sesuatu gak yank?" Tanya Daniel menatap sang istri nya seperti nya mengingin kan sesuatu.
"Aku ingin beli es cendol Mas." Ucap Dinda pada suami nya, tapi mata nya mengarah pada orang yang berjualan es cendol yang ada di taman itu.
Daniel pun mengikuti arah mata Dinda dan akhir nya Daniel mengerti kalau istri nya saat ini sangat mengingin kan es cendol.
"Ya udah kamu diam dulu di sini, biar Mas yang beli es nya." Ucap Daniel membuat Dinda langsung mengambil Al dari gendongan suami nya.
Daniel pun melangkah pergi meninggal kan istri dan anak nya, menuju tukang es cendol.
Sesampai nya di sana Daniel harus sedikit bersabar karena harus menunggu beberapa orang yang masih mengantri untuk membeli es cendol juga.
"Mang es cendol nya satu." Ujar Daniel pada tukang es cendol nya.
"Siap den." Balas tukang es cendol nya.
Tak membutuh kan lama, es cendol yang Daniel ingin kan pun sudah jadi.
"Ini den." Ucap tukang es cendol nya dengan menyondor kan es nya pada Daniel.
"Berapa Mang?" Tanya Daniel sambil menerima es nya dan mengambil dompet di saku celana nya.
"Sepuluh ribu den."
Daniel pun memberikan uang dua puluh ribu karena dia sedang tidak memiliki uang sepuluh ribuan.
"Ini kembalian nya den." Ucap tukang es cendol itu.
"Tidak usah di kembalian Mang, itu buat Mamang aja." Ucap Daniel sambil tersenyum sebelum dia meninggal kan tukang es cendol itu. Sedang kan tukang es cendol itu hanya membalas nya dengan senyuman juga.
"Ini es nya yank." Ucap Daniel sambil menyerah kan es nya pada istri nya.
"Makasih ya Mas." Ucap Dinda dengan menerima es nya.
"Sama sama."
Mereka menghabis kan waktu dengan bercanda dengan anak mereka di taman kota itu, hingga sore menjelang akhir nya Daniel dan Dinda memutus kan untuk pulang karena mereka takut saat di perjalanan pulang senja sudah mulai datang.
Jangan lupa terus tinggal kan jejak dengan cara vote, like, komen dan jangan lupa juga gift nya. Agar author tambah semangat lagi nulis kelanjutan cerita tentang mereka bertiga.