
Matahari mulai menampak kan diri nya di upuk timur, semburat kuning keemasan menerangi gelap nya pagi.
Sepasang suami istri yang sedang tidur tidak terusik sama sekali dengan muncul matahari yang sudah menerangi kamar mereka.
Tiba tiba saja ada di antara mereka mulai membuka mata nya, lalu dia menoleh ke belakang dan menemui suami nya tengah memeluk nya dengan fosesif.
Dengan perlahan dinda menurun kan tangan suami nya yang tengah bergeger di pinggang ramping nya, setelah selesai dinda pun turun dari kasur nya dan pergi menuju pintu lalu membuka nya.
Dengan langkah pelan dinda mulai menuruni satu persatu anak tangga, setelah selesai menuruni semua tangga dinda pun melangkah kan kaki nya menuju dapur, karena saat ini yang ada di fikiran nya adalah makanan.
Dia semalam tidak makan malam karena saking lelah nya akibat perjalanan dari maldives ke tanah air lagi.
Sesampai di dapur dinda mendapati bi ani dengan beberapa pelayan rumah lain nya.
" Bii." Panggil dinda saat bi ani sedang menumis bawang merah.
" Eh non, udah bangun." Bi ani terkejut saat melihat majikan nya sudah bangun, padahal sekarang masih cukup pagi.
" Sudah." Jawab dinda dengan singkat, karena dia tidak terlalu tertarik dengan pertanyaan ART nya tersebut, yang di fikiran nya adalah makanan.
" Bi, apa sudah ada masakan yang matang ?" Tanya dinda sambil mengedar kan pandangan nya keseluruh dapur untuk mencari masakan yang sudah matang.
" Ada non." Ucap bi ani masih sibuk dengan kegiatan nya.
" Bibi di mana nyimpen nya ?" Tanya dinda saat tidak menemui makanan yang di maksud bi ani.
" Saya sudah simpan di meja makan nona." Ucap bi ani sambil nenunjuk je arah makanan nya.
" Ouh makasih bii." Setelah itu dinda pun pergi menuju meja makan dan melihat nya.
Ternyata bi ani baru selesai memasak ayam kecap dan sayur brokoli kesukaan dinda semua.
Dengan semangat dinda pun mengambil piring dan mengisi nya dengan nasi setelah itu dinda mengambil menu makan nya secukup nya.
Tiga puluh menit, dinda sudah selesai dengan makan nya. Lalu dia pun segera pergi kembali ke kamar nya untuk membersih kan tubuh nya dan membangun kan suami nya yang tengah tertidur pulas.
Selesai mandi dinda menghampiri suami nya yang masih berada di bawah selimut itu.
" Mas." Panggil dinda dengan lembut.
" Ya sayang." Sahut daniel dengan suara khas bangun tidur.
" Bangun mas, ini udah siang loh " Ucap dinda dengan mengguncang kan tubuh kekar suami nya.
" Sebentar sayang." Bukan nya bangun, daniel malah membuat dinda berbaring lagi bersama nya.
" Mas." Petik dinda karena suami nya membuat dia berbaring lagi dan memeluk nya dengan erat.
" Stt." Ucap daniel menaruh telunjuk nya di bibir istri nya itu.
Sementara dinda langsung diam dan tidak berontak lagi untuk minta di lepas kan dari pelukan suami nya.
Lima belas menit mereka berbaring dengan posisi seperti tadi. Dinda yang melihat jam di ding ding sudah menunjuk angka tujuh pagi pun langsung membangun kan lagi suami nya. Karena daniel bilang kemarin kalau dia akan kembali lagi ke kantor karena banyak sekali pekerjaan yang harus dia kerja kan dengan asisten nya.
" Mas, bangun kata nya mau ke kantor." Panggil dinda lagi.
" Sebentar sayang." Sahut daniel masih dengan mata terpejam.
" Ayo mas bangun!!" Ucap dinda dengan menarik salah satu tangan suami nya agar terbangun.
Dan benar saja, daniel langsung terbangun walaupun masih dengan mata sayu nya.
" Emang sekarang jam berapa sayang ?" Tanya daniel sambil menempel kan kepala nya pada perut buncit dinda.
" Sekarang udah mau jam tujuh lewat mas." Ucap dinda mengelus surai milik suami nya dengan lembut.
" Sana gih mandi, aku mau nyiapin baju nya dulu." Perintah dinda menjauh kan kepala suami nya dari perut buncit nya.
Sedang kan daniel menurut saja apa yang di perintah kan oleh sang istri.
Dua puluh menit daniel sudah selesai dengan mandi nya, dia pun memakai pakaian yang sudah istri nya siap kan.
Setelah selesai dia nenyusul istri nya yang sudah lebih dulu turun ke lantai bawah.
" Sayang." Panggil daniel saat mereka sudah duduk di ruang makan.
" Apa mas." Jawab dinda tanpa menoleh ke arah suami nya, karena dia sedang menyiap kan makanan untuk suami nya.
" Kita pindah kamar yuk." Ucap daniel.
" Loh kenapa ?" Tanya dinda menyerit heran.
" Kan kandungan kamu udah besar sekarang, mas takut terjadi apa apa nanti kalau kamu naik turun tangga terus. Di pikir pikir mending kita pindah aja ke kamar bawah supaya kamu gampang kalau mau ke dapur atau mau keluar tanpa naik turun tangga dulu" Ucap daniel panjang lebar.
Sedang kan dinda hanya mengagguk ngagguk saja mendengar penjelasan suami nya, dia tau apa yang jadi keputusan suami nya itu berarti yang terbaik untuk nya.
" Baik lah mas, aku ngikut kamu aja." Ucap dinda dengan patuh.
" Ya udah berarti besok kita pindah." Ucap daniel membuat dinda kaget.
" Besok ?" Tanya dinda memasti kan.
" Iya besok." Ucap daniel dengan santai.
" Tapi mas, itu terlalu mendadak." Perotes dinda.
" Hal baik jangan di tunda tunda sayang." Jawab daniel gak nyambung.
Sedang kan dinda hanya berdecak kesal pada suami nya yang selalu saja mengambil keputusan tanpa ada persetujuan diri nya.
Setelah selesai sarapan dinda pun mengantar suami nya sampai teras rumah.
" Kamu hati hati ya di rumah, jangan melakukan hal aneh aneh yang membahaya kan kamu dan baby kita." Pesan daniel sebelum pergi ks kantor.
" Iya mas."
Lalu daniel mengusap perut istri nya dan mencium nya sebelum pergi.
" Sayang daddy kerja dulu, jangan nakal di perut mommy ya." Pesan daniel pada calon anak nya nya dan mendapat tendangan dari calon anak nya.
Setelah itu daniel pun pergi ke kantor, sedang kan dinda masuk kembali ke dalam rumah nya.
Jangan lupa vote, like, komen dan jangan lupa gift nya.